Jumat, 27 Maret 2015

Legenda Batu Langkup




LEGENDA
BATU LANGKUP
DAYAK AHI KAMPUNG TEMBUDAN
KECAMATAN BATU PUTIH
KABUPATEN BERAU KALTIM

o
l
e
h

SAPRUDIN ITHUR

A.      PERKAMPUNGAN DITENGAH HUTAN
Perkampungan ditengah hutan adalah sebuah perkampungan yang sangat aman, tentram, dan damai dengan daerahnya yang sangat indah, tanahnya subur. Perkampung yang makmur itu dikenal dengan  Tulung Jantui atau kampung Jantui. Kampung Jantui berbeda dengan kampung-kampung Dayak lainnya dipedalaman. Kampung-kampung Dayak selalu berada ditepi sungai, sungai jadi jalan raya dengan naik perahu kehulu, kehilir, menyeberang, berkunjung ketetangga. Sungai tempat mandi, mencuci, dan buang hajat, sedangkan kampung Jantui berada jauh dari tepi sungai, tetapi tempatnya aman, tentram, subur, dan makmur. Kemakmuran kampung Jantui ditandai dengan setiap tahun diadakan pesta panen dengan mengundang puluhan kampung tetangga untuk hadir dalam perayaan pesta panen, jumlah orang yang hadir sampai seribu orang. Kemeriahan ditengah hutan yang dihadiri oleh seribu orang itu sudah tidak terbayagkan. Seribu orang tumpah ruah dalam satu tempat di Kampung Tulung Jantui. Disekeliling Kampung masih ditumbuhi oleh hutan belantara terdiri dari pohon-pohon raksasa yang tampuknya sampai sepuluh meter keliling. Pohon terdiri dari pohon kayu kapur, berbagai jenis pohon meranti, pohon keruing, pohon ulin, pohon kayu hitam, pohon bangris dan masih banyak jenis pohon lainnya. Pohon-pohon itu menjulang tinggi, besar-besar. Diantara pohon-pohon itu tumbuh berbagai jenis rotan, dan palm, pohon buah seperti buah lahung, buah karantungan, pohon buah keledang, pohon buah rambutan, pohon buah petai, pohon buah tiwadak, pohon buah dupar atau kelengkeng hutan, pohon buah rambai, pohon buah langsat, pohon buah palung, pohon buah wanyi, pohon buah tarap. Pohon buah ini semua tinggi dan besar-besar, ada yang sampai tampuk tiga meter keliling. Tampuk adalah garis keliling lingkaran pohon diukur dengan meteran. Tempat mereka menanam padi terpisah dari kampung, disana mereka membuat rumah kecil yang dikenal dengan pondok. Pondok itu dijadikan tempat untuk beristirahat setelah berjam-jam bekerja, dibawah pondok dijadikan tempat menanak nasi, memasak sayur, memasak air, dan tempat tidur anjing. Setelah makan mereka beristirahat santai sambil minum kopi lalu berbaring menghilangkan penat didalam pondok. Pondok dibuat dari kayu yang disusun sedemikian rupa, semua sambungan dan pertemuan kayu yang ditata dan disusun diikat dengan rotan. Kayu dan rotan itu tersedia dan banyak dihutan disekitar kebun. Lantai pondok terbuat dari kayu-kayu bundar yang lurus dan rapi sebesar pergelangan tangan orang dewasa disusun rapi, atapnya diambil dari daun palm yang lebar, daun palm tersebut dikenal juga namanya dengan daun biru atau daun saung, daun itu disusun sedemikian rupa membujur pada saat hujan air jatuh mengikuti tinggi rendah atap itu, sedangkan waktu panas tidak diterpa panas dari langit. Dinding terbuat dari, ada yang dari kulit kayu, ada yang dari bambu yang dipecah dan diratakan, tidak dianyam seperti di Jawa, ada pula dari susunan kayu bundar kecil-kecil yang diikat rapi dengan tali rotan. Dinding pondok biasa tidak tertutup keliling, sebagian terbuka agar mudah melihat sekeliling kebun atau padi yang menghijau. Pokoknya pondok itu nyaman tempat santai duduk-duduk, nyaman tempat beristirahat menghilangkan lelah, Nyaman tempat makan dan minum kopi, dan nyaman untuk tempat mengobrol dan berbincang-bincang tentang sekitar alam, padi, berburu, hama yang menyerang, babi dan monyet yang nakal memakan padi dan lain-lain. Menanam buah-buahan seperti rambutan, rambai, langsat, dupar, durian dan elai sebagian disekitar rumah tempat tinggal mereka masing-masing dan menanam buah-buahan disekitar pondok tempat menanam padi. Tahun depan tempat menanam padi itu ditinggalkan ketempat menanam padi yang baru, pohon buah yang mereka tanam sudah mulai besar berfungsi sebagai tanda bahwa beberapa waktu yang lalu mereka pernah menanam padi dan berkebun ditempat itu. Lima tahun kemudian buah-buahan yang mereka tanam sudah siap panen. Tempat yang mereka tinggal itu setelah enam tujuh tahun kembali mereka jadikan tempat menanam padi yang baru. Artinya siklus perpindahan menanam padi bagi orang Dayak enam tujuh tahun kemudian kembali ketempat semula dan terus seperti itu. Jadi tidak benar kalau orang Dayak dituding sebagai pengrusak hutan atau perambah hutan. Mereka menanam padi dan berkebunpun terbatas, dengan kemampuan dan tenaga yang ada, paling luas dalam satu keluarga empat hektar, tidak mampu tenaganya untuk menggarap sampai ratusan hektar. Setiap tahun berpindah-pindah memang, tetapi siklusnya setelah tujuh sampai sepuluh tahun kembali ketempat semula yang pernah mereka garap dan berkebun dulu.
Dalam perkampungan di Tulung Jantui penduduknya tidak kurang dari tiga ratus orang dengan puluhan rumah yang berdiri dibatasi masing-masing kebun disekitar rumah penduduk. Dikampung Tulung Jantui memiliki sebuah rumah adat yang disebut mereka dengan Sanggarahan. Rumah adatnya sangat sederhana. Sanggarahan berfungsi sebagai tempat pertemuan, sidang adat, rapat kampung, rapat persiapan dan menentukan tempat menanam padi, menampung tamu yang datang, dan tempat pelaksanaan pesta adat, pengobatan, belian, serta pesta panen. Panjang kampung Jantui tidak kurang dari dua kilometer disepanjang kampung berdiri rumah-rumah penduduk, ditengah perkampungan berdiri sebuah rumah adat seperti yang telah diceriterakan diatas. Disudut-sudut kampung masih terlihat pohon-pohon raksasa sangat besar dan menjulang tinggi keangkasa. Perkampungan ditengah hutan semacan ini adalah salah satu upaya suku Dayak Ahi untuk menghindari serangan musuh dari suku-suku lain yang masih mengayau atau memotong kepala dan berkumpul dalam kelompok satu keturunan sebagai upaya menjaga dan mempertahankan kelompoknya. Apabila kampong mereka sudah dianggap tidak aman dan terancam oleh kelompok-kelompok mengayau, mereka akan segera angkat kaki dan pindah ketempat baru yang jauh dan aman.
Suku Dayak Ahi sebelum mengenal rumah, mereka masih tinggal banir-banir kayu besar, dilubang-lubang batu, dan di gua-gua. Ditempat itu mereka berkumpul dalam keloni dan keturunan yang sama, dalam keloni itu mereka kawin mawin dan beranak pinak. Keturunan mereka pada zaman dulu sangat sulit berkembang, pertama seringnya serangan kelompok lain baik untuk mengayau maupun untuk melebarkan wilayah kekuasaan. Disebabkan oleh serangan penyakit yang sangat mematikan, seperti cacar, kolera, malaria, muntah berak, koloni mereka hampir habis dan penyakit lain seperti gatal-gatal dan campak, mati melahirkan sudah menjadi hal yang biasa. Yang lebih unik ada beberapa Dayak yang tinggal dipesisir pantai Berau sangat takut dengan bersin, apabila ada orang baru yang baru mereka kenal bersin-bersin mereka langsung lari masuk hutan takut mendengar bersin-bersin dan takut terjangkit. Wabah itu sangat mereka takuti dan mereka hindari. Karena mereka belum memiliki sistem kesehatan yang baik, kebersihanpun mereka belum memahami. Anjing, binatang peliharaan menyatu dalam rumah atau gua tempat tinggal, buang kotoran dan lain-lain semuanya sembarangan saja. Saat melahirkan saja ibu atau bayi yang baru lahir pada zaman dahulu bisa dimakan babi atau anjing.  Hutan sekitar perkampungan Tulung Jantui masih terpelihara dengan baik. kampung Jantui bertahan sampai ratusan tahun.

B.      BERBURU
Orang Dayak pada umumnya ahli berburu. Dihutan lebat dan semak belukar mereka berburu babi, berburu rusa, berburu kijang, berburu monyet, berburu ular, berburu macan dahan, berburu badak, berburu kancil, bahkan beruang dan bantengpun mereka tangkap dan bunuh. Babi dalam bahasa berau disebutnya dengan bai’ ada pula yang menyebutnya dengan babui, rusa bisa disebut dengan payau, sedangkan kijang adalah menjangan, kijang lebih kecil dari rusa dan tanjuknya tidak bercabang. Monyet atau kera dikenal juga dengan nama warik, karra, dan berangat, macan dahan dikenal dengan nama rimaung daan, kancil disebut juga dengan pilanduk atau pelanduk. Orang Dayak berburu ada yang perseorangan, ada yang berkelompok. Peralatan yang digunakan untuk berburu memakai tumbak, sumpit, Mandau, dan beliung, dibantu dengan anjing-anjing pemburu yang lincah dan pemberani.
Nama tombak sudah sangat pamilier dimasyarakat Indonesia. Mata tombak terbuat dari besi baja yang sangat tajam dan lancip. Mata tombak itu disatukan dengan anak kayu ulin pilihan, lurus panjang antara dua sampai dua setengah meter. Mata tombak disatukan dengan gagang ulin diikat dengan tali rotan yang telah diraut dan dihaluskan. Model tombak seperti itu agar mudah dilempar lurus kedepan sesuai dengan keinginan sang pengguna….seperti melempar lembing. Tajamnya mata tombak langsung menusuk dalam ketubuh sasaran seperti babi, rusa, kijang dan lain-lain. Mengapa gagang tompak harus panjang, supaya saat dilempar kearah binatang buruan larinya cepat, kencang, lurus dengan mata tombak tetap didepan.
Sumpit atau sumpitan juga sangat populer dan pamilier diseluruh tanah air. Sumpit orang Dayak menggunakan bahan dari kayu ulin yang sangat keras, kayu ulin sepanjang dua meter dibuat bundar, ditengahnya dibuat lubang untuk masuknya mata sumpit. Setelah lubang tengah jadi dan lurus sudah bisa dilewati mata sumpit bagian luarnya dihaluskan dengan lingkaran kurang lebih 14 sampai 17 centi meter. Bagian luar gagang sumpit dibuat halus agar nyaman dan mudah dipegang ketika membidik buruan. Mata sumpit dibuat dari bambu  yang diraut dan dihaluskan dengan panjang sekitar 25 centi meter. Mata sumpit biasanya diberi racun. Racunnya diambil dari pohon kayu racun yang tersedia disekitar hutan perkampungan Dayak. Racun yang digunakan sangat mematikan, mata sumpit tersebut terkena manusia, maka dalam waktu tiga puluh menit tidak diobati langsung meregang nyawa. Obat sebagai pertolongan pertama ternyata tidak sulit, cukup dengan minum air kelapa hijau. Tetapi kalau kena sumpit ditengah hutan tidak mungkin ada buah kelapa, resikonya adalah kematian. Ujung depan gagang sumpit biasanya dipasang mata tombak, jadi gagang sumpit bisa berfungsi ganda selain untuk menyumpit, bisa juga untuk menombak buruan. Cara membuat lubang tengah sumpitan yang dijadikan sebagai tempat meluncurnya mata sumpit ketika ditiup sang pemburu sangat sulit. Lubang tengah itu harus lurus agar mata sumpit yang melesatpun keluar dengan cepat, kencang, dan lurus. Cara membuat lubang itu biasanya mereka menggunakan aliran sungai kecil yang deras, ulis yang siap dilubangi diikat kuat sedemikian rupa agar tidak bergerak kemana-mana, besi kecil berbentuk bor sangat sederhana ditancapkan diujung kayu yang sudah dihaluskan sedemikian rupa sebesar lubang sumpit yang direncanakan, panjangnya sama dengan panjang gagang sumpit, diikat lurus benar-benar lurus , diujung atas dibuarkan semacam kincir, saat didorong air kayu yang kecil panjang dengan diujungnya mata bor yang sudah ditajamkan mulai berputar melubangi gagang sumpit. Lubang pada gagang sumpit itu bisa tembus dengan memakan waktu satu sampai tiga bulan. dengan  
Mandau berbeda dengan tombak dan sumpit, Mandau adalah parang yang model mata parangnya miring sebelah, tujuannya supaya ketika dibacokkan ke batang kayu atau kebatang apa saja langsung masuk dengan dalam. Mandau selain digunakan untuk senjata berburu juga digunakan untuk menebas rumput semak belukar, memotong kayu, senjata perang, dan untuk menari. Mandau adalah senjata kebanggaan orang Dayak. Mandau tidaj berdiri sendiri ketika dibawa atau disimpan, Mandau diberi gagang yang diukir indah, dengan berbagai motif,  seperti motif binatang, bercabang yang telah dihaluskan dan dirapikan bagian belakangnya agar tidak mudah lepas dari genggaman tangan saat digunakan menebas semak belukar atau memotong kayu, rotan dan lain-lain walaupun kena basah keringat. Menyatukan besi Mandau dengan gagangnya direkatkan dengan kalapiai dan diikat dengan anyaman rotan. Kemudian Mandau dibuatkan sarungnya, sarung terbuat dari kayu yang dihaluskan membungkus sepanjang besi Mandau yang tajam. Mandau dalam sarungnya itu diikatkan kepinggang. Waw gagah sekali. Saat ini Mandau dengan hulu/gagang dan sarung yang berukir dan dihias manik-manik dijual sebagai oleh-oleh pelancong.
Sedangkan Beliung adalah kampak yang bentuknya sedikit berbeda dengan kampak biasanya. Mata beliung terbuat dari besi baja, bagian matanya yang tajam lebar seperti kampak, sedangkan bagian atas kecil pipih disatukan dengan gagang kayu ulin bundar yang masih muda dengan lingkaran sekitar sepuluh centi meter atau menggunakan gagang dari rotan. Menyatukan gagang dengan besi diikat dengan tali rotan yang sudah dihaluskan. Beliung dijadikan salah satu alat untuk berburu yang sekaligus berfungsi sebagai pemotong tulang binang buruan, beliung juga digunakan untuk menumbang pohon saat berladang. Beliung popular dan masih digunakan samapi tahun delapan puluhan. Sekarang beliung sudah tersingkir digantiak dengan kampak yang mudah dibeli ditoko-toko besi, sedangkan beliung tidak dijual belikan.
Berburu binatang dengan sumpit biasanya dilakukan oleh perorangan, berangkat sendiri dengan membawa sumpit lengkap dengan anak sumpit, Mandau digantung dipinggang, dibelakangkan dipunggungnya menggendong anjat. Didalam hutan lebat telinga dan mata dipasang dengan baik, telinga mendengarkan suara gerakan binatang buruan, mata harus cergas melihat dimana keberadaan binatang buruang. Apabila telah ditemukan, anak sumpit dimasukkan kelubang sumpit dan untuk ditiup sekuat tenaga agar anak sumpit lepas dengan cepat mengenai sasaran. Binatang seperti burung, monyet, kancil, kijang yang tertembus anak sumpit segera lumpuh dan siap dibawa pulang. Ada pula berburu babi yang menyeberang sungai yang dikenal dengan babi malangui. Pemburu mengejar babi dengan menaiki perahu, babi yang sedang berenang menyeberang sungai. Menangkap babi yang sedang menyeberang ditebas dengan mandau atau ditusuk dengan tombak. Berburu babi malangui dilakukan perorang dan bisa dilakukan beramai-ramai.
Berburu binatang besar seperti babi, rusa, beruang, atau banteng dilakukan beramai-ramai. Anjing yang sudah terlatih dilepas lebih dahulu disekitar hutan buruan. Anjing mengendus mengikuti jejak binatang buruan, setelah buruan ditemukan disalak atau digonggong oleh anjing dengan suara anjing yang nyaring memburu binatang buruang kesana kemari sampai lelah. Mendengar suara anjing yang menggonggong para pemburu bersiap menghadang disemua arah, begitu binatang buruan seperti babi, banteng, atau rusa berlari kearahnya, tombak yang dipegang pemburu melayang dilempar kearah buruan, kemudian ditebas dengan mandau yang dicabut dari sarungnya. Berburu dan mengejar buruan ditengah hutan dan semak belukar bisa sampai setengah hari baru berhasil, karena luasnya hutan dan gunung-gunung terjal menghadang pemburu. Apabila salah satu pemburu sudah menumbak binatang buruan yang sangat besar seperti banteng, rusa, atau babi hutan raksasa, pemburu lain segera datang membantu dan menombak buruan yang sama agar segera lumpuh dan mati. Buruan dapat tidak bisa diangkat seorang diri dan tidak bisa digotong dipikul beramai-ramai disebabkan oleh semak belukar yang lebat, pohon-pohon besar menghalang, naik turun gunung yang tinggi dan terjal, mau tidak mau binatang buruan harus dipotong-potong agar bisa dibawa perseoangan, maka mandau dan beliung adalah alat pemotong yang paling handal ditengah hutan. Mandau untuk me-motong-motong daging, sedangkan beliung untuk memotong tulang yang sangat keras. Anjing-anjing pemburu mendapat bagian daging lebih dahulu, dengan irisan daging yang diberikan kepada anjing adalah hadiah istimewa buat anjing pemburu. Setelah lebih dahulu kenyang anjing-anjing itupun bermalas-malasan dengan berbaring disekitar para pemburu yang masih bekerja memotong-motong hasil buruan. Tidak jarang rombongan pemburu pulang membawa tangan hampa, tidak ada seekor buruanpun yang berhasil mereka tangkap.
Berburu juga ada yang dilakukan dengan cara memasang jerat. Jerat dipasang selalu dijalur bekas jalan binatang yang sering dilalui, dengan melihat bekas jalan yang sering dilalui itu kemungkinan besar jerat diinjak oleh binatang buruan yang melintas ditempat itu. Binatang yang terjerat salah satu kakinya tergantung tinggi. Binatang yang kena jerat itu berteriak-teriak kesakitan, akhirnya tidak berdaya. Jerat yang dipasang itu sangat kuat dan berbahaya, apabila diinjak oleh manusia, kaki manusiapun tergantung keatas dan bisa mati kalau tidak ditolong.
Orang Dayak pada umumnya termasuk Dayak Ahi dahulu sebelum mereka mengenal agama memakan semua binatang buruan, yang penting bisa ditangkap hidup atau mati, baik itu monyet, ular, babi, rusa, kijang, banteng, badak, macan dahan, beruang, ikan, tupai, landak, trengiling, kukang, kalong, musang, burung dan lain-lain. Setelah mereka beragama Muslim, Kristen, dan Katolik ada binatang tertentu yang tidak boleh dimakan. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat, pencinta lingkungan, pencinta binatang, serta kaitan dengan semakin berkurangnya binatang tertentu, mereka juga mengikuti tren dunia itu. Saat ini mereka sudah melarang menangkap dan membunuh binatang yang dilindungi, contohnya seperti Orang Utan,Bekantan, Uat-Uat, Beruang, Rimaung Daan (Macan Dahan), Trengiling, burung elang, burung aruai, burung kalibarau (cocokrowo), burung enggang dan lain-lain. Yang sangat disayangkan Badak Kalimantan bercula satu yang pernah ada dan hidup di hutan pedalaman  Kabupaten Berau sekarang sudah tidak ada lagi, sudah punah. Mudah-mudahan dengan kecintaan masyarakat pedalaman khususnya orang Dayak terhadapap kehidupan binatang dan pohon-pohon asli bisa melestarikan dan mempertahankan binatang dan tumbuhan atau pohon yang sudah semakin langka dan sulit ditemukan. Perembahan hutan juga jangan lagi dilakukan, karena akibatnya nanti pasti manusia juga yang menjadi korbannya.

C.      MEMBANGUN RUMAH ADAT SANGGARAHAN

Setiap perkampungan orang Dayak selalu berada ditepi sungai, sangat berbeda dengan perkampungan Dayak Ahi di Tulung Jantui. Kampung tersebut tidak berada ditepi sungai, kampung Jantui terletak jauh ditengah daratan, tidak kurang dari lima puluh kilometer dari bibir pantai selatan Kabupaten Berau antara sungai Kalindakan sampai sungai Nek Lenggo. Dari Tulung  Jantui tidak kurang dari seratus kolimeter tembus kesungai Sangkulirang. Daratan Jantui terdiri dari hamparan batu karang yang sangat keras, dikenal juga dengan hamparan pegunungan kars, sebagian besar pohon-pohon besar dan semak belukar itu tumbuh diatas hamparan kars putih yang istimewa. Batu kars tidak sama dengan batu gunung kebanyakan seperti cadas atau batu besi. Batu kars banyak lubang-lubang kecil dan lubang-lubang besar, bahkan lubang besar itu membentuk gua yang sangat indah, gua-gua gunung kars membentuk stalaknit dan stalaktit yang sangat indah, gua-gua gunung kars menjadi lebih indah manakala dijadikan sarang burung wallet dan sarang jutaan kelelawar khas Kalimantan. Dibawah sarang wallet dan tempat tinggal kelelawar tinggal puluhan ular berbagai jenis, paling banyak ular piton yang dikenal orang Kalimantan dengan nama ular sawa’. Pohon-pohon besar yang tumbah dihamparan batu kars itu akarnya masuk di lubang-lubang batu. Lubang batu itu dijadikan sebagai penopang dan pengikat bagi akar pohon yang sangat kuat untuk menahan pohon dari terpaan angin, serta dalam batu itu tersedia banyak air sebagai makanan dan minuman pohon yang besar dan menjulang tinggi sampai menggapai awan.
Untuk tempat acara, tempat pertemuan, dan menerima tamu Dayak Ahi membutuhkan tempat khusus selain rumah-rumah mereka yang ada. Tempat pertemuan itu adalah Rumah adat Sanggarahan. Ketika orang suku Dayak Ahi merencanakan mengadakan pesta panen, maka mereka siapkan lebih dahulu adalah Sanggarahan atau rumah adat.
Membangun rumah adat dimusyawarahkan dirumah ketua Adat. Dalam musyawarah tersebut diwajibkan semua laki-laki dewasa harus hadir, ditambah dengan beberapa orang perwakilan perempuan atau ibu-ibu. Dalam rapat merencanakan membuat rumah adat untuk upacara pesta panen besar-besaran yang dikenal dengan istilah Tarintingan, semua dilakukan dengan sukarela dan gotong royong. Pertama yang dikerjakan adalah menyiapkan lokasi rumah adat, selanjutnya pergi kehutan meramu bahan bangunan. Menumbang beberapa pohon ulin untuk dijadikan tiang rumah panggung, meramu rotan untuk dijadikan tali pengikat yang menghubungkan kayu satu dengan kayu lain pada bangunan Sanggarahan. Menumbang pohon kayu meranti yang lurus-lurus untuk dijadikan gelagar latai yang disela dengan gelagar kayu ulin. Kayu bundar panjang dan lurus itu juga dibutuhkan untuk tiang-tiang dinding dan penyangga atap dibagian atas rumah adat. Tahap ketiga gotong royong mendirikan rumah adat. Setelah semingu rumah adat jadi, tetapi belum ada lantai, dinding dan atapnya. Mereka kembali bergotong royong meramu bahan untuk dinding dan lantai. Beberapa pohon besar yang kulitnya tebal ditumbang, kulit pohon yang sudah tumbang itu dikuliti dengan hati-hati. Kulit kayu yang sudah dikupas digulung baru dipikul ramai-ramai. Sebagian para pemuda mengambil daun biru, daun yang biasa dibuat topi atau dikenal dengan seraung atau tudung. Lantai dipasang dengan rapi dilanjutkan dengan memasang dinding. Untuk perekatnya semua menggunakan tali rotan yang sudah diraut dan dihaluskan, dilanjutkan dengan memasang atap rumah adat. Pekerjaan membuat rumah adat yang dilakukan dengan gotong royong ini tidak kurang memakan waktu selama satu bulan. Semua perabot rumah seperti kayu ulin, kayu meranti dan kapur, kulit kayu, rotan dan daun biru diambil dari hutan sekitar Tulung Jantui. Rumah adat Sanggarahan Tulung Jantui sudah selesai.
Selama gotong royong ibu-ibu dan remaja wanitanya bertugas memasak air membuat minuman dan merebus umbi-umbian seperti singkong dan talas/keladi, serta merebus jagung. Oleh karena itu wanita dilibatkan dalam pertemuan rapat tersebut, tetapi tidak kalah pentingnya kaum perempuan juga boleh menyampaikan pendapat, saran dan masukan dalam rapat di rumah ketua adat tersebut. Banyak ibu-ibu Tulung Jantui yang memberikan saran dan masukan yang baik dan diterima dalam pertemuan dan rapat-kampung. Artinya wanita Tulung Jantui sejak nenek moyong sudah member andil dalam setiap kegiatan dan pembangunan di kampungnya.

D.      PESTA PANEN DAN BELIAN
Pesta panen kali ini dilaksanakan besar-besaran di Tulung Jantui, yang dikenal dengan istilah Tarintingan. Tarintingan kali ini dilaksanakan selama tujuh hari tujuh malam, mengundang kampung-kampung dekat dan kampung jauh untuk datang ke Tulung Jantui bersama-sama bersukaria, syukuran, memeriahkan pesta Tarintingan yang meriah. Di kampung Tulung Jantui benar-benar makmur, padi melimpah, buah-buahan melimpah ranum masak memerah dan menguning dimana-mana disekeliling kampung dan dihutan luas…pokoknya melimpah. Dengan banyak buah yang masak tersebut banyak binatang seperti babi, rusa, kijang, beruang, dan lain-lain juga berpesta makan buah-buahan yang berhamburan disekitar pohonnya. Binatang itu tidak liar seperti biasanya, mudah ditangkap untuk dijadikan lauk hidangan pesta. Ada daging, ada nasi baru, ada nasi ketan yang dibuat lemang menjadi santapan mewah, kueh yang mereka buat sebagai santapan ringan ditambah dengan makan buah yang ranum manis dan segar. Teh asli yang dibuat dari rebusan kulit kayu dicampur dengan gula asli pula. Gula mereka terbuat dari perahan tebu merah dan tebu abu-abu yang sangat manis. Pemanisnya juga ada dari madu asli yang baru dipungut dari pohon bangris. Orang-orang tua tidak minum teh, tapi minum kopi asli yang dambil dari kebun yang tidak jauh dari perkampungan. Buah kopi dipilih yang sudah masak saja yang dipetik, kopi yang baru dipetik itu langsung ditumbuk dilesung, sebagian kulitnya terkelupas tetapi tidak mau habis masih melengket karena basah oleh kulit kopi yang sudah masak. Lalu dijemur barang sehari dua hari dipanas matahari, kulitnya yang menempel dibiji kopi sudah kering baru ditumbuk lagi. Setelah ditumbuk ini kulitnya sudah terpisah dari biji kopi, baru ditampi untuk memisahkan biji kopi dengan kotoran kulitnya, selanjutnya biji kopi sudah siap untuk digoreng diwajan tanpa minyak atau air. Biji kopi  yang digoreng sampai menjadi hitam, biji kopi yang sudah hitam tersebut langsung dimasukkan kedalam lesung ditumbuk lagi sampai halus. Untuk memisahkan yang sudah halus dengan yang masih kasar mudah sekali……ya dengan cara diayak, yang masih kasar ditumbuk kembali. Tapi waktu perayaan pesta panen oleh ibu-ibu kopi yang sudah halus itu tidak diayak lagi, kopi yang telah ditumbuk halus itu langsung diseduh dengan air panas dicampur dengan madu, gula aren, atau gula tebu. Waw….cita rasanya kopi ini berbeda sekali…sungguh…sulit dibayangkan, diseduh atau diminum waktu masih panas aromanya menyebar kemana-mana….pokoknya sulit untuk menceriterakan nikmat dan harum cita rasanya kopi kampung asli Tulung Jantui tersebut.

Proses menanam  padi di Tulung Jantui sangat unik dan memakan waktu cukup lama, mereka menanam padi gunung. Tahapan untuk dapat menanam padi gunung tidak mudah. Pertama membuka hutan dengan merintis semak belukarnya dilanjutkan dengan menumbang pohon sampai bersih. Merintis semak belukar tersebut adalah cara untuk mempermudah saat menumbang pohon, akar yang bergelayutan, rotan yang merangkai dan mejalar menaiki pohon dipotong sampai bersih, kayu-kayu kecil sampai sebesar lengan orang dewasa dipotongi agar tidak menghalangi saat menumbang pohon yang besar-besar, pohon besar yang ditumbang rebah dengan mudah tidak ada tali-temali rotan dan akar yang menahan saat pohon tumbang. Setelah pohon tumbang semua, dahan-dahan pohon yang tumbang dipotongi, supaya ranting, dahan dan daun rata. Pohon yang tumbang dan sudah diratakan itu dibiarkan selama satu bulan agar menjadi kering. Setelah kering baru dibakar. Saat membakar tumbangan kayu besar-besar itu maka api menyala sampai membumbung tinggi menjulang empat lima meter menjilat-jilat mengikuti tiupan angin. Waktu membakar tersebut angin tidak kencang api tidak membesar  dihawatirkan api tidak memakan seluruh daun, ranting, dahan, dan batang. Anginpun dipanggil oleh pemilik lahan yang sedang membakar dengan cara bersiul-siul khusus memanggil angin….maka anginpun datang dan apipun menjilat-jilat menjulang tinggi dengan membakar semua yang ada ditempat itu. Setelah selesai dibakar tiga empat hari kemudian lokasi bakaran itu baru dingin dan baru bisa diinjak, tetapi disana sini masih banyak asap dan bara api yang sangat panas. Dahan ranting, dan daun yang belum terbakar habis dikumpulkan untuk dibakar kembali. Setelah bersih baru dilakukan penebaran benih padi dengan cara menugal. Tanah dilubangi dengan tugal, dilubang sedalam tiga sampai lima centi meter itu dimasukkan benih padi sebanyak tiga sampai tujuh bulir padi dan ditutup untuk menghindari dimakan burung yang ada disekitar hutan tersebut. Saat hujan datang bulir padi basah, tumbuh menyembul keluar dipermukaan tanah. Selama empat bulan batang padi itu bertumbuh sampai setinggi orang dewasa. Padi bunting dan kemudian mengeluarkan buah lengkap dengan tangkainya dibagian pucuk padi. Dua bulan kemudian atau usia padi enam bulan buah padi sudah menguning masak siap untuk dipanen. Jadi proses menanam padi dari merintis, menumbang, membakar, menugal sampai panen padi tidak kurang memakan waktu selama Sembilan bulan. Wajar setelah panen untuk melepas lelah diadakan syukuran dan bersuka ria, orang Dayak mengadakan acara pesta panen yang mereka sebut dengan Tarintingan.

Pesta panen di Kampung Dayak Ahi Jantui ada tiga tingkatan ada yang kecil, sedang, dan meriah. Pesta panen yang kecil atau yang paling rendah dilaksanakan hanya satu hari saja namanya Tutung Gagang. Tutung Gagang dirayakan hanya satu hari dengan memanjatkan doa kepada penguasa alam semesta agar panen tahun depan lebih baik dari yang sekarang, kampung dijauhkan dari bala dan penyakit, dilanjutkan dengan makan-makan dan petuah para tetua adat, selesai. Tidak mengundang kampung lain dalam acara pesta panen tersebut, hanya dirayakan dalam satu kelompok atau satu kampung saja. Sedangkan yang tengah atau yang sedang dilaksanakan satu sampai tiga hari namanya Kosokan, acara ini mengundang kampung-kampung tetangga yang dekat dekat saja. Dalam acara hampir sama dengan pesta panen yang kecil ditambah dengan acara kesenian pada malam hari, siang hari dimeriahkan dengan olah raga gasing dan logo. Acara yang besar dirayakan dengan sangat meriah namanya Tarintingan. Pada acara Tarintingan mengundang semua kampung yang serumpun dan kampung lain yang dekat dan yang jauh-jauh. Pada acara pesta panen semacam ini dihadiri sampai ribuan orang. Selama perayaan manusia tumpah ruah memenuhi kampung Jantui yang menyelenggarakan pesta. Masing-masing rumah penduduk yang dekat dengan rumah adat menjadi wadah penampungan para tamu, selebihnya tamu ditampung dirumah sederhana yang dibuat dan dibangun khusus untuk acara. Rumah adat dipersiapkan sedemikian rupa dengan hiasan dan dekorasi tradisional yang sangat khas. Kampung Jantui juga berhias. Sepanjang Kampung Jantui  bersih, rumah-rumah yang disiapkan sebagai tempat penampungan para tetamu juga disiapkan dan dihiasi dengan berbagai hiasan yang terbuat dari irisan tipis kayu yang memanjang seperti mi yang keriting. Pokoknya kampung Jantui menjadi meriah dan cantik. Rumah yang ada di kampung Jantui semua rumah panggung dengan lantai papan, dinding kulit kayu meranti, dan atap dari daun biru dan daun nipah. Rumah adat juga sama, berbentuk rumah panggung yang tinggi dan lebih besar dari rumah-rumah orang sekampung, dengan perbedaan tersebut, setiap orang yang melintasi rumah adat Sanggarahan semua tahu itu adalah Sanggarahan. Setiap dilaksanakan acara pesta panen yang dikenal dengan Tarintingan itu membuktikan bahwa hasil panen, buah-buahan dan binatang buruan melimpah.
Pada siang hari dan malam hari sangat ramai, semua orang terkonsentrasi pada tempat-tempat keramaian tertentu. Siang hari mereka berkumpul semua ditanah lapang tempat lomba belogo, begasing atau begalah, sedangkan pada malam hari berkumpul dipanggung hiburan menari bersama dan menari bergantian dari masing-masing kampung, setelah tarian selesai aplus dengan tepuk tangan terdengar gemuruh. Mereka sangat menyukai dan mencintai keseniannya sendiri. Mereka bangga dengan kebudayaannya sendiri, sebagai bukti ya seperti sekarang ini, mereka mengadakan acara pesta budaya Tarintingan dengan mengundang kampung-kampung menunjukkan bahwa mereka memiliki kebudayaan yang patut dipertontonkan sekaligus sebagai upaya pelestarian budaya mereka.  Acara pesta panen semacam ini adalah wahana silaturahmi, kekerabatan, kekeluargaan, dan persaudaraan. Kesempatan semacam ini mereka jadikan sebagai tempat bertukar pikiran, bertukar informasi dan bertukar pengetahuan selain sebagai hiburan relaksasi. Mereka benar-benar hanya bergembira, bersukaria, tertawa dengan kemeriahan yang ada, melupakan semua pekerjaan yang melelahkan. Hari ini dalam acara Tarintingan upacara budaya pesta panen yang meriah. Pertemuan ini juga kesempatan bagi para muda mudi berkenalan dan bercengkrama yang akhirnya sampai menyatu dalam kepelaminan. Perkawinan adalah alat pemersatu yang sangat kuat diantara mereka dan mendekatkan sanak keluarga yang sudah jauh dan terpisah-pisah. Jadi Pesta adat atau upacara adat seperti pesta panen bukan sekedar hanya untuk ramai-ramai, tapi maknanya lebih dari itu. Luar biasa….itulah cara orang Dayak untuk membangun persatuan dan kesatuan sejak jaman nenek moyang.

Malam berikutnya acara kesenian dilaksanakan di rumah adat, yang dikenal dengan nama Sanggarahan. Persembahan kesenian saklral khusus dilaksanakan dirumah adat yaitu kesenian Belian. Kesenian yang bernilai sakral yang dikenal dengan Belian itu tidak boleh dilaksanakan disembarang tempat, dilaksanakan hanya boleh dirumah adat. Upacara adat belian ada dua macam yaitu : yang pertama namanya Belian Kinyambat, belian ini dilaksakan setiap acara pesta panen, jadi dilaksanakan biasanya setahun sekali bertepatan dengan acara pesta panen; yang kedua namanya Belian Kuwaro, Belian ini adalah belian pengobatan tradisional Dayak Ahi dilaksanakan sesuai kebutuhan, boleh sekali setahun, boleh dua kali setahun dan boleh lebih dari tiga kali setahun. Apabila terjadi musibah penyakit yang menimpa masyarakat Dayak Ahi Tulung Jantui harus dilakukan pengobatan secara khusus atau beramai-ramai, maka Belian Kuaro dilaksakan dirumah adat. Apabila terjadi hal-hal diluar kemampuan manusia, seperti diserang atau diganggu makhluk gaib atau diserang musuh secara gaib, diserang dengan penyakit yang tidak seperti biasanya, maka pengobatan tradisional Belian Kuwaro dilaksanakan sebagai penyembuh yang paling efektif.

Sebelum Belian dilaksanakan harus disiapkan terlebih dahulu antara lain daun pinang muda, daun kelapa, daun tuak atau daun enau. Semua daun tersebut diikat menjadi satu dibuat sedemikian rupa, ada yang dibentuk seperti manusia lalu digantung ditengah Sanggarahan. Sebelum matahari tenggelam sampai senja usai, sebelum acara belian dimulai pada malam hari, dukun didamping orang pintar yang menguasai belian juga melakukan ritual awal dengan berdiri tegak diteras depan Sanggarahan melakukan prosesi awal dengan Mandau terhunus diangkat tinggi-tinggi seolah menjolok atau menusuk langit, lalu digerak-gerakkan seperti menari diudara menyampaikan hal ikhwal dilaksanakannya upacara adat Belian dengan Bemamang. Bemamang adalah berkata-kata yang bernilai sastra tinggi dan sakral seolah menyanyikan nyanyian yang panjang dengan bait-bait yang sangat teratur  dengan bahasa dewa-dewa untuk menyampaikan apa saja niat dilaksanakannya Belian tersebut kepada Dewa dan Jin sahabat sang dukun, serta kepada arwah nenek moyong yang terpandang jaman dahulu. Bemamang tersebut cukup lama dilakukan oleh sang dukun. Bahasa yang digunakan dalam bemamang adalah bahasa asli Dayak Ahi disebut mereka dengan bahasa Gait Dewa-Dewa. Saat bemamang pendamping menyalakan api yang ditaburi harum-haruman seperti irisan tipis kayu gahru atau api ditaburi dupa, disekitarnya ditaburi minyak wangi. Asap yang menyebar disekitar sanggarahan beraroma mistis yang sangat harum, menjadikan bulu kuduk berdiri merinding.…..Nuansa malam Belian tersebut menjadi berubah dengan malam-malam lain yang diisi dengan pertunjukan tari bersama, tari tunggal dan tari masing-masing dari grup yang dibawa dari kampung para tetamu ada tari Lembu Tutung, tari pailukan, tari Sa’latan, dan tari Pelanduk.
“Sa’ke….ling kutirajung teleng ngeliyanan akunyiban tangatakute, ikam segala bamaya ulun balianan ulun ruh ulun balianan kama dawan tigenit e….ling ku nya’ling ngeteling salung sam em.. mata’ ulun balian seren balian parago……”ini salah satu bait bemamang. Lalu dukun menyiram-nyiramkan air disekitar ia bemamang. Membasuh muka, kaki, atau tangan semua yang tadi siang bekerja kena miang, kena gatal agar tidak merasa gatal dan miang lagi. Dilanjutkan dengan menari berputar-putar mengelilingi gantungan daun pinang muda, daun kelapa muda, dan daun tuak sambil masih bemamang diiringi alunan musik yang terdiri dari gendang, gong, suling dan takung. Tarian itu nanti pelan, lambat, berikut kencang dan cepat, sang dukun menghentak-hentakkan kaki kelantai yang terbuat dari kayu/papan, suara hentakan kaki itu terdengar sampai jauh, terdengar disekeliling sanggarahan dimana banyak tamu yang berada diluar saja.
Daun tuak adalah daun enau, disebut daun tuak karena air enau yang disadap bisa dibuat tuak yang memabukkan, oleh karena itu suku Dayak Ahi menyebutnya dengan pohon tuak, daunnya juga disebut dengan daun tuak. Belian dilakukan semalam suntuk dengan menari dan bemamang. Dukunnya satu saja yang lainnya bisa ikut-ikutan menari mengelilingi daun-daun yang digantung mengikuti dukun. Penabuh musik apabila lelah digantikan dengan yang lain, agar alunan musik tetap mengalun. Pada tengah malam biasanya ada yang kerasukan jin atau makhluk halus, makhluk gaib. Yang kemasukan jin itu ada yang sampai lari masuk hutan, mencabut pohon, mencabut pohon yang berduri, menarik rotan yang berduri sangat tajam, lalu ditariknya sampai kedekat rumah adat. Kemudian masuk lagi ke rumah adat menari-nari dengan gagah dan lincahnya. Yang kemasukan jin itu kemudian disembuhkan oleh dukun Belian. Setelah sembuh tidak luka sedikitpun walau tadi dia memegang dan menarik rotan yang berduri halus dan sangat tajam

Belian pengobatan atau Belian Kuwaro tidak jauh berbeda dengan Belian Kinyambat seperti yang telah diceriterakan diatas, yang berbeda adalah ketika Bemamang awal untuk menyampaikan niat melaksanakan Belian menceriterakan tentang hal ikhwal penyakit yang diderita oleh si pulan dari awal mulai sakit sampai sekarang saat. Setelah selesai bemamang dilanjutkan dengan pengobatan. Penyakityang ringan cukup dieluskan kencur atau kunyit yang telah disiapkan pada tempat yang terasa sakit, apabila sakitnya berat menggunakan ayam atau babi. Kalau sakitnya karena keturunan, maka keluarga wajib melakukan ritual khusus yaitu ritual keturunan seperti memberi makan buaya atau member makan jin dipohon besar dengan media telur, beras kuning dan lain-lain sesuai dengan adat.   

Pada acara pesta panen besar yang dikenal dengan nama Tarintingan ini dilaksanakan selama satu bulan, puluhan kampung dan puluhan rombongan yang datang ke Tulung Jantui. Rumah penduduk Jantui yang ada disekitar rumah adat atau Sanggarahan dijadikan tempat penampungan rombongan tamu, satu rumah dengan satu rombongan. Satu rombongan dari satu kampung ada yang datang hanya sepuluh orang, tetapi tidak sedikit yang datang lebih lima puluh orang dalam satu rombongan satu kampung. Satu rumah tidak muat, sebagian ditampung dirumah khusus penampungan tamu yang dibuat orang Jantui sebelum upacara pesta panen dilaksanakan. Pesta Tarintingan kali ini, Tulung Jantui dihadiri para tetapu tidak kurang dari seribu orang. Kampung Tulung Jantui menjadi sebuah kota yang sangat ramai dalam waktu lima belas hari. Tulung Jantui memang hebat dan sangat makmur yang didukung daerahnya sangat subur. Padi yang ditanam dengan hasil panennya melimpah ruah. Semua lumbung padi disepanjang kampung penuh dengan padi yang sudah kering dan sudah dibersihkan. Untuk makan tamu satu minggu belum menghabiskan satu lumbung padi yang ada disepanjang kampung. Begitu pula dengan buah-buahan, terlihat dimana-mana disepanjang kampung, dihutan sekitar kampung semua sudah ranum dan masak siap untuk dimakan. Orang Tulung Jantui tidak mampu menghabiskan buah-buahan yang ada dan banyak tersebut, dengan diadakannya pesta semacam ini buah-buahan bisa dimakan dengan beramai-ramai. Pada masa itu padi dan buah-buahan tidak ada yang dijual, karena tidak ada yang membeli. Kalau tidak dimakan buah yang sudah masak itu  jatuh bergelimpangan dibawah pohonnya sebagian dimakan oleh beruang, babi, rusa, kijang, monyet, orang utan, tupai, musang, burung, kalong, kelelawar dan lain-lain. Yang lainnya hanya busuk begitu saja. Yang dimakan oleh binatang dibawa pergi jauh, saat buang kotoran sebagian bijinya masih utuh ditinggalkan ditanah yang lembab. Biji-biji buah-buahan tersebut tumbuh lagi, lima tahun kemudian berbuah juga seperti yang ada dikampung Jantui. Penyebaran buah-buahan banyak yang dilakukan oleh binatang melalui kotoran binatang.

E.       PAK ANA  BERBURU MENDAPAT MONYET BERANGAT
Pesta panen Tarintingan sudah berjalan lima belas hari. Siang dan malam Tulung Jantui selalu ramai, ditanah lapang yang disiapkan untuk adu ketangkasan seperti begasing dan belogo meriah dengan sorak sorai dan tepuk tangan. Dimalam hari demikian pula, panggung pertunjukan masing-masing kampung dengan berbagai tarian yang dibawakan juga meriah, penuh canda tawa ria, sorak sorai dan tepuk tangan. Sekian hari pula keluarga pak Ana menyaksikan keramaian dikampungnya sampai kehabisan ikan, keluarga pak Ana kehabisan lauk pauk untuk makan beberapa hari kedepan. Pagi sekali pak Ana sudah meminta ijin kepada istrinya berangkat kehutan berburu binatang. Niat pak Ana dalam hatinya binatang apa saja yang didapat tidak masalah yang penting cepat pulang, dibersihkan dan dimasak istri tercintanya, malam masih sempat menyaksikan pertunjukan beberapa kampung yang datang kekampungnya. Padahal musim buah, buah elai, buah durian, buah rambai, buah langsat, buah lahung, buah kerantungan, buah tarap, buah keledang yang sudah kelewat masak jatuh berserakan dibawah pohonnya. Seharusnya binatang banyak yang asyik memakan buah-buahan tersebut, tapi ketika pak Ana berburu saat ini tidak ada satu binatangpun yang berkeliaran memakan buah-buahan baik yang ada diatas pohonnya maupun yang berhamburan dibawahnya. Binatang-binatang itu seolah sudah tahu kalau pak Ana datang untuk menangkapnya, mereka sudah pergi dan bersembunyi disemak belukar semuanya. Satu jam sudah berjalan ditengah hutan tidak menemukan binatang buruan, dua jam berjalan memutar dan berbelok-belok tidak ditemukan juga binatang buruan, entah sudah berapa jam sudah pak Ana berjalan dengan menenteng sumpit dan anak sumpitnya, dengan madau terselip dipinggangnya, gagang sumpit selain untuk menyumpit buruan juga bisa untuk menumbak buruan karena ada mata tumbaknya, tetapi masih sia-sia belum digunakan. Tiba-tiba diatas pohon rambai ada seekor monyet yang dikenal oleh orang Dayak Ahi monyet Berangat. Melihat berangat yang lagi asyik makan buah rambai, pak Ana menyiapkan sumpitnya yang bermata paling tajam dan beracun. Dengan cekatan pak Ana langsung meniup sumpitnya.....dan tepat mengenai belakang monyet berangat. Berangat seolah tidak merasakan apa-apa, tetapi beberapa waktu kemudian makan ditangannya jatuh satu persatu, makanan yang didalam mulutnya juga jatuh satu persatu, berangat itu terkulai lemah dan jatuh. Racun pada mata sumpit yang mengenai monyet berangat berpungsi dengan baik dan dalam waktu cepat sudah menjalan keseluruh tubuh monyet. Monyet jatuh ketanah langsung diambil oleh pak Ana. Dengan gembira pak Ana membawa pulang hasil buruannya langsung menuju kerumah. Rumah pak Ana hanya berjarak sekitar lima ratus atau tujuh ratus meter saja dari rumah adat.
Walaupun tidak ada acara khusus rumah adat tetap ramai tempat berkumpulnya tokoh-tokoh adat yang mengikuti acara pesta Tarintingan di kampung Jantui. Saat ini ada acara basusuran yaitu tokoh-tokoh adat berceritera tentang nenek moyang mereka jaman dulu, satu sama lain saling sambung menyambung bergantian. Ibu-ibu, bapak-bapak, remaja putra dan putri yang belum pernah mendengar basusuran  berdesakan mendengar ceritera basusuran nenek moyang mereka tempo dulu. Para pendengar asyik mendengarkan kisah yang sambung menyambung diceriterakan tokoh-tokoh adat masing-masing kampung. Ceritera mereka dibumbui dengan lelucon, senda gurau, dengan gerakan tangan, kaki, berdiri dan berjongkok, bahkan dibumbui dengan lantunan lagu seperti nyanyian belian dengan syair-syair bahasa yang sudah sangat kuno. Sulit  meninggalkan tempat duduknya masing-masing kalau ceriteranya belum selesai....ya seperti terhipnotis begitu oleh kisah tokoh-tokoh adat yang piawai.
Sesampainya pak Ana dirumah istrinya tidak ada, makanan tidak ada, nasi ataupun sayur tidak ada, maka dipanggilnya keponakan untuk memanggil istrinya. Istri pak Ana dipanggil tidak mau pulang, dipanggil kedua kali tidak mau pulang, dipanggil ketiga kali juga tidak mau pulang. Istri pak Ana ada dirumah adat di Sanggarahan. Tidak ada pesan dan tidak ada alasan yang disampaikan melalui keponakannya. Istri pak Ana tetap tidak pulang asyik sekali didalam rumah adat. Saat yang bersamaan melintas ular yang sangat berbisa ular berwarna kuning yang dikenal dalam bahasa Ahi ular Kunyit dihadapan pak Ana, dengan sigap pak Ana memukul ular kunyi itu sampai mati, lalu dililitkannya dipinggang monyet berangat yang sudah terkulai mati. Antara marah, dongkol, lapar, kesal dengan istrinya yang tidak mau pulang, tetapi hatinya yang mendidih itu tidak diperlihatkan dengan keponakannya yang masih kecil. Dengan pikiran yang macam-macam, melayang-layang jauh sampai kelangit antara sadar dan tidak sadar monyet yang sudah mati dililit ular kunyit pinggangnya yang juga sudah mati ditariraikannya. Seolah monyet berangat itulah yang menari-nari, pak Ana menari menarikan monyet berangat sampai terguncang-guncang, ikat pinggang ular kunyit dipinggang monyet juga bergoyang-goyang, terguncang-guncang mengikuti gerakan monyet. Pak Ana menarikan monyet tersebut sampai berputar-putar.....tiba-tiba terdengar ledakan yang sangat dahsyat dari dalam perut bumi, bumi meledak, bumi berguncang-guncang, bumi bergetar-getar. Air keluar dari mana-mana, kelaur dari pohon kayu, keluar dari tiang rumah, keluar sampai diatap rumah. Semua orang histeris, semua orang berteriak ketakutan. Ada yang berlari tidak menentu arah, berpegangan di pohon kayu, berpegangan dimana saja agar tidak rubuh oleh guncangan bumi yang meledak beberapa kali. Pak Ana sadar dan menghentikan tariannya bersama monyet ditangan, ia kaget dengan kejadian aneh tersebut, pak Ana sempat terpental dan terguling dan berdiri lagi. Tiba-tiba rumah adat Sanggarahan dilihatnya dari kejauhan bergerak turun bersama tanah disekitarnya, bersama pohon-pohon disekitarnya, lingsap, belebui, lungsur, masuk kebumi. Setelah runtuh masuk kedalam bumi tempat itu langsung digantikan air yang sangat deras keluar dari perut bumi. Rumah adat bersama ratusan orang didalamnya hilang tenggelam ditelan bumi dan kemudian ditutup oleh air hingga rata. Air terus menyembur dimana-mana lingsap semakin luas, runtuh masuk kebumi semakin luas, satu persatu rumah kampung hilang dan tenggelam, rumah yang dibuat untuk menampung para tamu juga tenggelam. Suara teriakan orang meminta tolong terdengar dimana-mana, teriakan anak-anak meminta tolong ibunya, tangisan anak-anak terdengar sangat nyaring, orang semua menjadi histeris, kemudian tenggelam hilang ditelan bumi. Orang-orang tua, ibu-ibu, remaja putra dan remaja putri lari berhamburan kesana kemari tidak tentu arah dan tujuan ingin menyelamatkan diri, kemudian jatuh masuk kedalam lobang yang mengngangnga lebar dan sangat besar itu bersama semua yang ada diatasnya. Suara gemuruh bercampur dengan suara teriakan histeris terus terdengar semakin kencang, bumi diseluruh Jantui bergetar, runtuh, talungsur, lingsap, lebui semakin luas, sudah seluas mata memandang, Sudah ratusan meter tanah  tenggelam dengan membawa material dan semua yang ada diatasnya, ayam, anjing, kucing, pohon-pohon, manusia, rumah adat, rumah orang Dayah Ahi, batu, tanah, semua ikut masuk kedalam bumi dan tenggelam, lingsap. Wah wah....  kejadian ini sangat mustahil, kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya, kejadian yang luar biasa, orang Dayak Ahi sudah mendiami Jantui dan sekitarnya selama ratusan tahun belum pernah merasakan, belum pernah tahu, belum pernah mendengar kejadian yang luar biasa semacam ini sebelumnya, kutukan apa yang menimpa orang Dayak Ahi tiba-tiba terjadi tanah tenggelam masuk kedalam bumi langsung ditutup air serata tanah dan dataran yang ada.  

F.       DIKEJAR AIR
Air mengejar mengarah kerumah pak Ana, dengan sigapnya pak Ana langsung mengambil beliung, tugal dan tanaman rumput induk padi langsung lari meninggalkan rumahnya. Beliung adalah sejenis kapak tradisional orang Dayak, tugal adalah kayu sepanjang dua meter dengan ujungnya yang ditajamkan sebagai alat untuk menusuk bumi sedalam tiga sampai lima senti meter lalu lubangnya dimasukkan benih padi, sedangkan rumput induk padi adalah rumput seperti padi yang biasa ditanam orang Dayak sebelum menugal atau menanam padi sebagai raja atau induk padi, pindah kemana saja induk padi juga dibawa serta pindah dan ditanam.
Dengan membawa beliung, tugal, induk padi dan menggendong keponakan, pak Ana lari meninggalkan rumahnya untuk menghindari air yang mendekati rumahnya, rumah yang dibangunnya dengan jerit payah, rumah yang disayanginya kemudian lingsap longsor seketika masuk kedalam bumi seperti rumah adat dan rumah semua milik orang kampung Jantui. Kemanapun larinya pak Ana air yang keluar dari dalam bumi mengejarnya, bersamaan dengan itu tanah yang dilintasi juga runtuh masuk kedalam bumi menjadi sungai disepanjang jalur yang dilalui pak Ana. Lebih satu kilo meter pak Ana lari, air terus mengejarnya dari belakang. Akhirnya pak Ana tidak sanggup lagi lari, badannya sudah kecapean yang luar biasa, lelah yang tidak tertahankan. Ia sadar dirinya juga akan mati dan tenggelam bersama air yang mengejarnya, lingsap kedalam bumi. Bersama orang sekampungnya, bersama pengunjung yang datang merayakan pesta panen dikampungnya, bersama istrinya yang tidak mau pulang walaupun sudah dipanggilnya,  dan masuk kedalam bumi. Mata beliung ia hantamkan ketanah yang keras bagaikan batu padas, beliung menancap ke bumi,  tugal ia hantamkan kepermukaan tanah menancap juga kebumi. Yang terjadi adalah suatu keajaiban bagi pak Ana, air yang bagaikan bah yang mengejarnya  berhenti seketika tidak mengejarnya lagi. Seolah air tersebut menunggu perintah majikannya yaitu pak Ana. Karena girangnya pak Ana melihat kejadian itu, ia langsung menari-nari ditempat itu, berputar-putar, meliuk-liuk, berteriak melengking keras sekali, dengan menghentak-hentakkan kaki kebumi. Tarian yang ditarikan pak Ana adalah tarian kolaborasi dari tarian Lembu Tutung, tari sa’latan, tari tradisional Dayak Ahi dan tarian Belian yang berputar-putar dengan lincah. Ia menari cukup lama dilakukannya sendirian, keponakan hanya diam menyaksikan pamannya yang mabuk dan kerasukan jin tersebut. Sekitar tempat ia menari berputar-putar tersebut menjadi kolam yang airnya tidak dalam, dalamnya hanya selutut. Sekeliling kolam tertata rapi. Melhat kejadian itu pak Ana sangat gembira lalu ia naik keatas batu dan disana ia terus menari-nari dan berputar-putar. Batu yang pipih lebar yang menjadi pijakan itu juga seolah menari mengikuti gerakan pak Ana. Tempat ia menari terakhir batunya menjadi rata, rapi, licin seperti diketam berlapis-lapis. Setelah puas menari pak Ana kelelahan yang luar biasa, ia duduk dan istirahat bersandar pada pohon kayu yang sangat besar dan dilihatnya disekitar itu menjadi kolam yang sangat indah, airnya bening tempatnya menari-nari itu kemudian hari diberi nama Batu Langkup. Kampung Jantui sudah menjadi danau yang sangat luas, seluas lapangan bola. Tempat pak Ana berlari dan dikejar air menjadi sungai yang lebar dan dalam sampai ketempat ia menari terakhir di Batu langkup.

G.     LARANGAN
Banyak pantangan ketika berada dalam hutan belantara Kalimantan, khususnya hutan ditanah Berau : yang pertama, saat berada dalam hutan, sudah selesai membuat pondok untuk beristirahat tidak boleh membakar sesuatu yang berbau sangat menyengat, seperti membakar ikan kering peda dan membakar terasi. Apabila dilakukan dalam waktu tidak lama akan datang imbut atau angin kencang lokal, hanya terjadi ditempat itu saja. Angin kencang itu menerbangkan atap pondok, terpal, tikar, kain, sarung dan lain-lain. Makhluk gaib ditempat itu marah karena terganggu oleh bau yang sangat menyengat tersebut, para jin dan makhluk gaib ditempat itu mengusir manusia yang membuat pondok untuk istirahat dan harus segera pindah dari tempat itu. Solusinya dengan melakukan ritual kecil berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa pemilik alam semesta dilanjutkan dengan menyampaikan permohonan maaf kepada segenaf makhluk gaib, jin, setan, hantu yang ada ditempat itu atas kealpaan dan ketidaktahuan dengan tidak melakukan hal tersebut lagi. Sebab diseluruh jagad raya alam semesta ini ada pemiliknya dan ada penghuninya termasuk makhluk gaib yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia; yang kedua, tertawa atau bergurau yang berlebihan selama berada didalam hutan. Apabila terjadi biasanya pada malam hari tempat tidur atau pondok tempat tinggal sementara digoyang dan diguncang dengan keras oleh sesuatu yang tidak jelas asal muasalnya, tetapi yang menggoyang dan mengguncang pondok tidak diketahui, atau tidak kelihatan. Artinya makhluk gaib, jin, atau hantu yang tinggal disekitar tersebut merasa bising, dan terganggu oleh oleh ulah manusia yang datang kedaerah itu. Malam itu juga manusia yang berada ditempat itu segera pindah dan meninggalkan tempat tersebut, kalau tidak semalam suntuk tidak bisa istirahat karena diganggu sepanjang malam; ketiga, berada didalam hutan sombong, atau berkata-kata meremehkan orang halus, meremehkan makhluk gaib yang berada didalam hutan. Pada waktu tidur manusia yang sombong itu dipindahkan makhluk gaib ketempat lain yang cukup jauh dari tempat semula, orang yang dipindahkan tetap tidur nyenyak, sedangkan manusia yang ada ditempat itu tidak mengetahui kejadian tersebut, pindah secara gaib. Solusinya hanya dicari pada besok hari setelah siang datang dengan cara dicari dengan sekuat tenaga sekaligus dengan memanggil-manggil nama yang bersangkutan. Ketika yang bersangkutan sadar dari tidurnya baru bisa ditemukan. Kejadian ini sangat menakutkan dan mengerikan, apabila dicari dan dipanggi tidak ditemukan, ada kemungkinan ia hilang menjadi gaib; keempat, melakukan hal-hal diluar kebiasaan orang, melanggar sumpah, melanggar adat, atau menari-narikan binatang dengan niat tertentu seperti yang dilakukan oleh pak Ana dengan menari-narikan monyet dengan tali pinggang ular yang keduanya sudah mati, sangat tabu dan sangat  dilarang apalagi ditambah dengan niat jahat dan marah kepada istrinya yang tidak mau pulang, maka terjadi.....pasti terjadi.......datang gempa, bumi bergoyang, tanah lingsap, tanah lebui, tanah longsor, tanah tenggelam masuk kedalam bumi, air keluar dari dalam bumi dengan sangat deras. Akibatnya ya seperti yang terjadi pada perkampungan suku Dayak Ahi di Kampung Tulung Jantui, hilang ditelan bumi atas amarahnya Pak Ana kepada Istrinya. Satu yang berbuat akibatnya harus ditelan pahit dan dirasakan oleh seluruh orang kampung Jantui........................................ Kampung Jantui tinggal ceritera, Batu Langkup menjadi Legenda.   

H.      ATURAN DALAM ACARA PESTA PANEN
Aturan dalam acara pesta antara lain :
1.       Semua orang dan kampung yang diundang wajib datang. Apabila tidak datang dianggap orang yang tidak punya adat;
2.       Orang kampung yang punya hajat mengadakan pesta adat berkewajiban mengikuti semua kegiatan dikampungnya termasuk melakukan gotong royong dalam semua pekerjaan sebelum sampai selesai acara;
3.       Acara sudah dibuka semua ikut bersenang-senang, bersuka ria, menari bersama. Tuan rumah sebagai pelaksana merasa puas dan sangat dihormati apabila semua tamu mengikuti acara bersama, menari bersama, makan bersama, minum bersama. Selama  acara masih dilaksanakan, orang kampung, para tamu boleh keluar dan masuk kampung. Artinya bebas mau keluar dan masuk kampung untuk menyaksikan acara yang berlangsung;
4.       Waktu acara sudah ditutup, pesta panen ditutup, berdasarkan adat suku Dayak Ahi Tembudan tidak ada satu orangpun yang boleh masuk dan keluar kampung. Artinya dilarang keras ada yang meninggalkan kampung, tidak boleh menggosok tanah, tidak boleh memotong rotan, tidak boleh menebang pohon, tidak boleh membunuh binatang. Apabila melanggar aturan tersebut dianggap manusia yang tidak punya adat. Dulu bisa sampai dihukum denda membayar gong atau guci kuno, bahkan ada selain denda juga sampai diusir dari kampung. Hukuman ini sangat berat dan sangat dipermalukan dihadapan orang banyak. Biasanya orang yang sudah diusir tidak akan kembali kekampung asalnya, kecuali sudah mendapat ijin dari kepala Adat setempat.
Orang kampung boleh keluar dan masuk kampung lagi, boleh memotong rotan, boleh membunuh binatang lagi setelah acara yang tadi ditutup dibuka kembali secara adat.

2 komentar:

  1. JAS MERAH ( JAngan Sampai MEninggalkan Sejarah)
    Batu Langkup, Kampung Jantui, Bukti Sejarah,
    Tetaplah menulis pak sapridin...!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf baru buka komentar.
      YYa Pa, Siap.
      Legenda Batu Langkup sudah saya bukukan.
      Info kisah ini dari Kepala Adat Pa Banyak

      Hapus