Minggu, 12 April 2015

POTENSI WISATA BERAU DI PESISIR SELATAN



SYURGA DUGONG, PAUS DAN LUMBA-LUMBA PINTAR
POTENSI WISATA BERAU PESISIR SELATAN
Oleh : Saprudin Ithur
1.       KAMPUNG TELUK SUMBANG
Kampung Teluk Sumbang masuk wilayah Kecamatan Biduk-Biduk, berada paling selatan pesisir  Kabupaten Berau, Kampung Teluk Sumbang  berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Timur. Kampung Teluk Sumbang semakin menjorok di Tanjung Mangkaliat wilayahnya semakin tipis. Kampung Teluk Sumbang terbentang dari ujung Tanjung Mangkaliat sampai berbatasan dengan Kampung Teluk Sulaiman. Bentangan pantai mencapai 40 Km sangat indah dan unik. Pantainya penuh dengan batu-batu karang yang bertumpuk tumpuk seperti bongkahan raksasa yang sangat kuat, sekalipun dihantam ombak besar  ketika air laut pasang. Bentangan pasir putih disana sini juga ada menghiasi pantai  nan eksotik itu.
                                                 
Dari Tanjung Mangkaliat sampai dengan Tanjung Batu Balobang, pantainya terdiri dari hamparan batu-batu besar dan batu kecil yang keras dan kuat. Diantara itu menyela-nyela hamparan pasir coklat gelap dan pasir putih. Tanjung Mangkaliat juga disebut Labuan Pinang, karena tidak jauh dari tempat itu ada lokasi untuk berlabuh kapal-kapal nelayan saat badai dan ombak besar. Tanjung Batu Balobang adalah sebuah batu besar yang terpisah dari daratan, namun ketika air laut surut batu besar itu terlihat sampai kedasar. Batu besar itu berlubang tembus sampai melihat kesebelah darat. Batu itu berlubang menurut sebuh kisah disebabkan oleh tanggar si Ayus manusia raksasa Kalimantan. Kisah-kisah si Ayus di Kalimantan Timur sangat populer. Ketika Ayus mendorong perahunya kelaut saat di hantam ombat besar, kekuatan Ayus menahan perahunya dengan kayu besar ditanjung itu sampai tanggar kayunya yang besar menembus batu besar yang kuat ditepi pantai….Batu Balobang, kemudian hari tempat itu di kenal dengan nama Tanjung Batu Balobang. Sekitaran ini daratannya ditumbuhi kayu-kayu besar yang sangat keras, pohon-pohon besar itu tumbuh ditanah humus yang tipis dibawahnya adalah batu kapur, batu kapur yang membentang  dari Tanjung Mangkaliat sampai kepegunungan kars Kelay dibelakang kampung Merabbu memanjang sepanjang ratusan kilometer. Didataran yang berpasir ditanam pohon kelap dan hidup dengan subur. Di Tanjung Mangkaliat ada menara mercu suar yang sangat terkenal sejak masa penjajahan Belanda. Bagi para pelaut yang ingin menyeberang ke pulau Sulawesi menjadi pedoman awalnya adalah mercu suar yang ada di Tanjung Mangkaliat. Tanjung Batu Balobang adalah sebagai tanda tapal batas wilayah pada masa kerajaan Kutai dengan Kerajaan Sambaliung.
Dari Batu Balobang terus ke utara, sekitar 4 Km menyusuri pantai sampai di sebuah tempat yang diberi nama oleh orang Basaf Bual-Bual. Sekitar 200 m dari pantai waktu air surut terdapat mata air tawar, mata air yang keluar dari perut bumi menyembul disana dengan derasnya. Tempat ini pada masa lalu dan sampai sekarang  sering disinggahi perahu-perahu nelayan atau kapal motor yang kehabisan air tawar. Air tawar yang keluar sangat deras dan tidak pernah surut walaupun saat musim kemarau. Tempat ini pada tahun 1890 didiami oleh suku Bajau. Kemudian mereka sempat berkebun dan menanam pohon kelapa disana.
Lebih keutara dari Bual-Bual kita bertemu dengan pegunungan yang menjulur kelaut yaitu Tanjung Tinondok, menurut bahasa Bajau Gunung Tinondok artinya Gunung Menunduk. Gunung itu seperti menunduk menghomat lautan nan biru, luas, dan ganas saat ombak besar menghempas daratan. Daratan kampung Teluk Sumbang persis menghadap laut luas Selat Makasar. Apabila berada diketinggian gunung Tinondok dapat memandang laut luas dan melihat kapal yang lalu lalang sekaligus memandang keindahan Pulau kaniungan Kecil dan Pulau Kaniungan Besar. Ujar H. Abdul Wahid Syech dalam bukunya “Menyelusuri Pantai Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Berau Dari Ujung Selatan” (1994)  Tanjung Tinondok penuh dengan bebatuan yang mengkilat baik waktu disinari matahari maupun tidak (waktu mendung) kesemuanya bila ada yang menanganinya dengan baik dapat dijadikan tempat rekreasi/wisata. Batu-batu yang terhampar di atas Tanjung Tinondok adalah batu kapur berwarna putih  yang bercampur atau berlapis batu putih mengkilap seperti kaca dan ada pula warna kebiru-biruan mengkilap. Warna putih dan kebiruan mengkilap itu yang terlihat mengkilat dari kejauhan.
Teluk Sumbang adalah sebuah lokasi yang sangat seimbang, disana terdapat dua buah sungai yang sangat berbeda. Satu sungai yang menyatu dengan laut. Saat air laut surut, muara sungai itu nampak kering, hanya air tawar tidak seberapa yang mengalir kelaut. Ketika air laut pasang ia menyatu dengan laut, air laut masuk sampai jauh kedalam sungai, saat demikian kapal motor milik pedagang dan nelayan boleh keluar dan masuk sampai kepelabuhan kecil dalam sungai. Muara sungainya tergantung musim angin dan gelombang laut yang menghantam bibir pantai, pada saat-saat tertentu muara sangai Teluk Sumbang itu bergeser kekanan berbelok-belok dan kadang bulan berikutnya berpindah kekiri, seperti itu. Bagi masyarakat yang mendiami Kampung Teluk Sumbang perubahan muara sungai itu adalah biasa, dalam setahun bisa terjadi sampai empat kali muara sungai itu berpindah tempat. Waktu pasang surut, sungai Teluk Sumbang mengikuti air laut turut naik dan turun.

foto : Disbudpar Berau
Air Terjun Panimbul Teluk Sumbang, lebih keatas masih bertingkat-tingkat

Hanya berjarak lima ratus meter dari tempat itu ada sungai lain yang tidak mengikuti air laut pasang dan surut. Sebab airnya terjun dari bukit yang tingginya berkisar 20 meter. Air terjun itu dari ujung gunung Panimbul langsung jatuh dipantai laut Teluk Sumbang, makanya tidak turut mengikuti air pasang dan surut. Sayangnya air sungai terjun itu tidak terawat, karena diatas sana adalah bagian dari perkampungan Teluk Sumbang, sungai yang airnya mengalir deras itu dijadikan sebagai tempat buang kotoran manusia dan kotoran sapi. Yaaahh…… Tetapi jangan kecewa dulu, tidak jauh dari tempat itu sekitar satu kilometer dari air terjun yang langsung jatuh ketepi pantai, disungai yang sama masih ada air terjun yang lebih cantik dan jauh lebih tinggi dan masih dijamin asri dan bersih. Tinggi air terjun Panimbul ke dua itu enam puluh meter, airnya sangat dingin, lingkungannya masih semula jadi belum banyak diusik manusia.
Perkampungan Teluk Sumbang bertingkat-tingkat. Alam Teluk Sumbang yang sudah membuatnya seperti itu. Tingkat pertama yang berada dekat dengan sungai Teluk Sumbang yang muaranya sering berpindah pindah, disanabanyak rumah dan ada sebuh Masjid.  Berjalan  naik sekitar tiga ratus meter dari tempat pertama adalah tanah datar tingkat kedua. Sebenarnya dataran itu bukan tanah tetapi dataran batu, tempat tersebut juga dijadikan tempat pemukiman, sekitar dua ratus meter lagi tingkat ketiga, dan selanjutnya menanjak terus menaiki gunung Teluk Sumbang yang menjulang. Dipertengahan gunung itu terletak perkampungan pemukiman suku Dayak Basaf yang dibangun pemerintah sejak tahun delapan puluhan. Dari perkampungan diatas gunung itu dapat memandangi laut luas sejauh mata memandang, indah sekali. Dibawah sana terlihat pulau kaniungan Kecil dan Pulau Kaniungan Besar. Alihkan pandangan mata sedikit kekanan Tanjung Mangkaliat yang jauh menjorok kelaut terlihat begitu indahnya. Mega-mega putih dan kemerahan bercampur abu-abu menutup tipis tanjung yang menyambung kelaut lepas itu. Ketika air laut surut banyak orang berjalan dipantai mencari ikan, udang, kima, lolak, dan  kepiting yang tertinggal dikolam-kolam kecil saat air laut surut, ikan-ikan itu terjebak disana menunggu pasang kembali. Keindahan memandang laut lepas pulau-pulau dan tanjung mangkaliat dari gunung Teluk Sumbang sulit untuk diceriterakan. Pokoknya luar biasa dan indah sekali….. ya begitu sudah habislah…. Kata-kata….
Asal mulanya Teluk Sumbang hanya dihuni oleh suku Dayak Basaf turun temurun. Sejak tahun 1850 sudah didiami suku Dayak Basaf, suku ini tinggal didalam hutan sekitar Teluk Sumbang antara Tanjung Tinondok dengan Tanjung Guntur, sewaktu-waktu mereka berpindah sementara pergi membaur dengan Basaf yang ada didaerah kampung Sandaran kecamatan Sangkulirang Kabupaten Kutai Timur.  Mereka disamping mendiami hutan Teluk Sumbang, juga sering keluar berkeliaran berjalan ditepi pantai mencari ikan dan kerang-kerangan yang ada di tepi laut Teluk Sumbang. Kehidupan Dayak Basaf sangat sederhana bercocok tanam yang berpindah-pindah disamping makan buah-buahan dan hewan hasil buruan.
Mengapa nama kampung itu Teluk Sumbang ?  tidak banyak yang tahu. Melalui beberapa penuturan orang kampong, Teluk adalah memang wilayah itu berada disebuah teluk sedangkan kata        “Sumbang” ada yang mengatakan setiap melintasi wilayah sekitar itu terdengar semacam suara nyanyian yang pales atau sumbang, makanya tempat itu dinamai Teluk Sumbang. Ada lagi yang menceriterakan orang suku Basaf dulu tidak mengenal agama mereka kumpul sebagai suami istri semau mereka sendiri, anak atau saudaranyapun dijadikan istri atau kumpul kebo, perilaku semacam itu disebut orang Basaf sebagai prilaku  “sumbang” atau premitiv, makanya kemudian wilayah itu dikenal dengan nama Teluk Sumbang. Ada lagi ceritera yang lain, setiap bersuara nyaring atau berteriak dari gunung sekitar, suara nyaring itu disambut dengan suara yang sama digunung lain, suara teriakan itu seolah bersahutan dengan kata atau suara yang sama. Suara yang menggema dari gunung ke gunung yang lain disebut mereka sumbang atau menyumbangkan suara yang sama. Akhirnya Teluk yang indah dan eksotik itu diberi nama Teluk Sumbang. Teluk itu terlihat dengan jelas dari gunung Teluk Sumbang.
Dilaut Teluk Sumbang antara Tanjung Mangkaliat-Pulau Kaniungan  sampai dengan laut Kalindakan adalah wilayah pergerakan dugong-dugong atau ikan duyung, ikan paus raksasa, dan ikan lumba-lumba yang pintar, begitu pula antara Teluk Sumbang dengan Teluk Sulaiman sebelah dalam pulau Kaniungan adalah  tempat bermainnya ikan paus raksasa dan Lumba-lumba, penyu juga tidak ketinggalan berenang kesana kemari sampai masuk dalam Teluk Sulaiman yang mempesona, penyu-penyu itu banyak yang naik dan bertelur di Pulau Kaniungan. Berbicara  trumbu karang…wah disini tempatnya. Dari Tanjung Mangkaliat terus menyusur pantai ke utara sampai Tanjung Batu Badiri terus masuk sampai Labuan Teluk Sulaiman, trumbu karangnya masih asri dengan hiasan ikan-kani cantik besar dan kecil. Di pantainya sebagian besar masih ditumbuhi hutan bakau yang subur.
 Kepala suku, suku Basaf yang diketahui sejak dulu antara lain, kepala suku yang pertama Raja Guntur namanya, gelar itu  diberikan oleh Raja Sambaliung, digantikan oleh anaknya dengan gelar Raja Diawan, setelah Raja Diawan meninggal digantikan oleh cucunya yang bergelar Bandar Raja, setelah Bandar Raja meninggal pada tahun 1987 digantikan oleh sukunya sendiri yang bernama Sipindusin (tanpa gelar). Selama dipimpin oleh Sipindusin orang Basaf sedikit demi sedikit mampu membaur dengan suku lain yang telah mendiami dan menanam kelapa disepanjang pantai Teluk Sumbang sampai dengan Tanjung Batu Balobang, berjualan sampai di camp perusahaan Deasy Timber.
Usaha Dayak Basaf sejak dulu berkebun berpindah-pindah dengan menanam padi gunung, menanam pisang, menanam umbi-umbian. Mereka terampil membuat sumpit, anak sumpit dan tempat menyimpan anak sumpit. Mata anak sumpit diberi racun yang sangat mematikan, racun tradional yang ada dihutan sekitar tempat tinggal mereka. Selain terampil membuat sumpit masyarakat Dayak Basaf yang tinggal di Gunung Teluk Sumbang itu juga terampil membuat lampit dari rotan, membuat anjat, dan tas dari rotan, disamping itu mereka juga pandai memanjat madu. Kebudayaan mereka masih sangat terpelihara dengan baik. Mereka sudah menerima semua orang yang berkunjung ketempat mereka. Orang asing yang sering datang berkunjung kedaerah Basaf itu dari negara Jerman, Jepang, Perancis. Populasi suku Basaf masih sangat tipis hanya sekitar 100 sampai dengan 150 jiwa saja, mereka menyebar dari perbatasan Kampung Sandaran Sangkulirang sampai berbatasan dengan Teluk Sulaiman.
Ada kisah orang dulu-dulu tentang kehebatan orang Dayak Basaf Teluk Sumbang. Mereka ahli membuat sumpit sejak ratusan tahun. Anak sumpit mereka sangat disegani, disamping memiliki racun yang mematikan, anak sumpit mereka mampu melayang sampai jauh sekali. Pimpinan tertua suku Basaf Raja Guntur memiliki keistimewaan dalam menyumpit tersebut. Apabila pada suatu saat kedatangan tamu tak diundang yang dikenal dengan perompak dari suku Balangingi Filipin, perampok yang datang menjarah perahu dan harta bendanya disekitar Teluk Sumbang. Raja Guntur mempergunakan sumpitnya, dengan kesaktiannya, dengan teriakan yang keras menggema disepenjuru hutan dan gunung, sumpit ditiupnya, anak sumpit itupun melesat  dengan kencang mampu mematahkan tiang layar perahu perompak. Apabila ia terlambat mengetahui, kapal perompak sudah pergi jauh mendekati  pulau Kaniungan sekalipun, anak sumpitnya masih mampu membunuh anak buah kapal perampok. Itulah konon kesaktian Raja Guntur dalam menggunakan sumpitnya dalam menghalau perompak dilaut Teluk Sumbang.
Sejak tahun 1920 Kebun kelapa disekitar sungai Teluk Sumbang sudah ada yang ditanam oleh orang Basaf namanya Ma’ Lau (Ma’ berasala dari kata Amma’ yang artinya Bapak/ayah). Kebun kelapa Ma’ Lau berdampingan dengan kebun kelapa seorang ningrat dari kerajaan Sambaliung. Selain dari perkebunan itu ada perkebunan kelapa yang dibuka oleh seorang Tiong Howa Tuan Tan Tjoe Lie dipertengahan dataran Teluk Sumbang antara sungai Teluk Sumbang dengan Tanjung Tinondok. Tan Tjoe Lie adalah seorang pedagang  yang cukup terkenal dimasa itu tinggal di Pulau Kaniungan Besar, Tan Tjoe Lie membuka toko di Pulau Kaniungan dan membeli hasil laut dari nelayan Pulau Kaniungan. Nasibnya kurang beruntung, pada masa akhir hidupnya bersama-sama warga Biduk-Biduk Tan Tjoe Lie disandra Jepang dibawa ke Balikpapan dan tidak kembali lagi (meninggal). Kebun kelapanya di Teluk Sumbang dan di Pulau Kaniungan dipelihara oleh anaknya Sippeng.
Sejak tahun 1960 penduduk lain berdatangan kewilayah Teluk Sumbang untuk membuka perkebunan kelapa, pada saat itu hasil kelapa sangat menjanjikan, disamping menjual kelapa yang sudah tua juga dibuat kopra. Kelapa dan kopra itu dijual di Samarinda Palu, Berau, Tarakan, dan Tawau.. pada tahun 1967 diangkat kepala Desa pertama di Teluk Sumbang yang dijabat oleh H. Sanusi. Kepemimpinan khusu orang Dayak Basaf tetap dilakukan oleh Sipindusin sambil dilakukan pendekatan dan pembauran dengan masyarakat baru yang mendiami tepi pantai.  Pada tahun 1977 Kepala Desa yang lama digantikan oleh Asmaila, kemudian digantikan oleh M. Andacong.
Masih dikawasan ini, lebih satu kilometer terus ke utara ada sebuah gunung yang datar diatasnya menjorok kelaut membentuk tanjung, tempat itu dikenal dengan nama Tanjung Guntur. Luas dataran diatas tanjung itu lebih satu kilometer persegi seperti lapangan yang sangat luas, seperti  berbentuk dermaga atau pelabuhan laut raksasa. Dataran batu itu sebagian ditumbuhi semak belukar dan rumput liar. Tim suvey lokasi semen pada tahun Sembilan puluhan pernah mendatangi Tanjung Guntur dan akan menjadikan tempat ini sebagai dermaga alam sebagai pelabuhan pertambangan semen di Teluk Sumbang. Tempat ini sangat bagus alami kuat walaupun mendapat hantaman dan gempuran gelombang pada musim utara dan musim timur. Cara mengatasinya sangat mudah cukup membuat tanggul disebelah utara sedangkan sebelah timur sudah dilindungi oleh Pulau Kaniungan Besar. Bagaimana apabila dijadikan tempat tujuan wisata, Tanjung Guntur bisa dijadikan tempat turun helicopter dan tempat itu bisa dibangun cottage atau pondok alam untuk tempat tinggal wisatawan, tidak perlu merusak alamnya, sebagai jalan  dari ujung tanjung cukup dengan kayu bundar yang ditata sedemikian rupa. Maka dengan hanya bermlam selama tiga malam turis atau pengunjung sudah bisa menikmati alam yang masih asri, bertemu dengan Dayak Basaf, berenang dan menyelam, menikmati hutan bakau, menyaksikan lumba-lumba, paus, dan penyu, main skiy,  tracking, berjemur dipantai, berjemur diatas Tanjung Guntur, dan dipulau Kaniungan Kecil, dan bermain dengan monyet yang sering mencari makan dipantai. Kawasan pantai dan laut Tanjung Guntur sampai dengan Tanjung Tinondok belum pernah didatangi oleh para penyelam profesional, oleh karena itu belum diketahui kekayaan yang terkandung dibawah dan didasar lautnya, kecuali gunung Teluk Sumbang dan Gunung Teluk Sulaiman adalah bahan semen putih yang sangat menjanjikan. Aku kalau diberi kesempatan untuk mengelola Tambang semen putih atau mengelola wisata kawasan itu dengan investasi yang mamadai…wow siap sekali…menantang dan aku suka itu.
Berlanjut lebih keutara lagi, sampai di Batu Badiri. Tanjung Batu Badiri adalah seonggok batu yang sangat besar yang duduk ditepi pantai berbentuk pulau yang menjorok kelaut. Disekeliling dan atas batu ditumbuhi rumput liar dan kayu-kayu kecil yang sangat keras. Kayu-kayu kecil itu seperti dibonsai. Batu besar berdiri yang menjorok  itu ada lubang berbentuk goa menghadap kedaratan. Didalam gua itu banyak batubatu kecil. Pada tahun delapan puluhan masih terjadi, tempat ini memiliki keanehan, bila batu-batu yang ada dalam lubang/gua dihamburkan atau diurai dan semaknya disingkirkan, maka pada waktu-waktu tertentu yang tidak diketahui persis bagai mana terjadinya, batu-batu  dan semak itu kembali ketengah tanpa melalui tangan manusia. Keanehan ini kemungkinan besar masih bisa terjadi sampai sekarang. Kejadian gaib semacam itu dapat dipertahankan, maka tempat ini bisa dijadikan sebagai destinasi wisata ekstrim dan alam gaib. Harus dibuktikan dalam waktu beberapa hari tinggal disana. Kemudian disekitar Batu Badiri pantainya landai dan indah, airnya bersih dan jernih tampak ikan-ikan hias berenang kesana kemari, Tanjung Batu Badiri juga disebut dengan nama Tanjung Lampu. Disebut Tanjung Lampu, karena di Tanjung Batu Badiri dipasang lampu yang sangat terang. Pada tahun 1912 di Teluk Sulaiman dibuka pabrik pembuatan papan, saat kapal memuat papan pada malam hari diterangi lampu yang dipasang di Tanjung Batu Badiri itu. Di Tanjung Batu Badiri itulah batas kampung Teluk Sumbang dengan kampung Teluk Sulaiman.


2.       PULAU KANIUNGAN
Masih diwilayah Teluk Sumbang, dilautnya ada dua Pulau yang sangat indah, namanya Pulau Kaniungan Besar dan jauh dilautnya ada Palau Kaniungan Kecil. Pulau Kaniungan Besar berada sekitar 3,5 mil dari daratan berhadapan dengan Tanjung Batu Badiri. Keliling pulau kaniungan besar kurang lebih 5 kilometer. Saat air surut dapat berjalan keiling pulau itu selam 1 sampai 2 jam jalan santai. Pasirnya putih membujur dari Barat sejajar dengan Tanjung Giring-Giring, ke Timur lurus dengan Tanjung Batu Balobang. Disamping pantainya putih sekitar pulau airnya jernih, terumbu karang yang bermacam-macam jenis,  bentuk, dan rupanya nampak kelihatan dari atas perahu….indah sekali, karang-karang  itu dihiasi oleh ikan-ikan yang berseliweran warna-warni. Laut sekitarnya sampai Teluk Sumbang dan Tanjung Batu Badiri sangat dalam. Pulau Kaniungan Besar banyak dinaiki penyu hijau dan kadang penyu sisik, ada kemungkinan sering didatangi oleh jenis penyu lain untuk bertelur
.               Kenapa pulau itu memiliki nama “Kaniungan” ? ternyata disekeliling pulau itu ditumbuhi oleh semacam tanaman liar yang tidak ditanam manusia. Tumbuhan liar itu berduri buahnya kecil mirip dengan buah duku (dupar bahasa berau) rasanya masam seperti jeruk, tempat tumbuhnya ya disekeliling tepi pantai. Tumbuhan itu namanya pohon/buah Kaniungan (bahasa Bajau). dengan adanya penduduk disana, maka pulau itu diberi nama Pulau Kaniungan Besar. Ditengah pulau ditanami pohon kelapa, disana juga ada makam tua dan bersejarah, berdasarkan perjalanan yang menghuni pulau itu. Pulau kaniungan Besar mulai dihuni manusia  sekitar 150 tahun yang lalu. Disamping ada air tawar, pulau itu juga subur dan sekitar pulau kaya dengan berbagai jenis ikan, kerang-kerangan, dan ulat teripang
                Yang pertama menghuni Pulau Kaniungan pada 150 tahun yang lalu adalah suku Bajau kemudian suku Bugis. Orang-orang Bajau itu awalnya hanya datang sementara dan pulang lagi ke Tanjung Buaya sekitar Sangkulirang dan Bontang Kuala, suku Bajau akhirnya ada yang menetap bersama orang-orang Solok dari Filipina Selatan untuk mencari hasil laut. Sedangkan orang Bugis datang dari Bone Sulawesi Selatan, datang sebagai pedagang antar pulau, sekaligus membeli hasil laut. Selalin itu ada yang sengaja menghindar dari penjajahan Belanda, mereka yang tidak mau menyerah dan bekerja sama dengan penjajah pada peristiwa Rumpa’na Bone. Kemudian datang pula orang dari Goa menetap disana. Pada tahun 1881 kawinlah seorang remaja  dari suku Bugis Bone, Mahmude namanya dengan seorang putri yang berasal dari turunan Raja Solok yang telah menetap di Pulau Kaniungan Besar bersama keluarganya, nama wanita itu si Baggol. Setelah beberapa tahun berumah tangga Mahmude dianggap masyarakat sebagaiorang yang cakap, pemersatu dan merukunkan masyarakat dua bangsa, maka pada tahun 1885 Mahmude diangkat menjadi “Pambakal” (Kepala Desa/Kampung sekarang) di Pulau Kaniungan Besar. Mahmude tercatat sebagai Pambakal pertama disana yang diangkat langsung oleh Sultan Sambaliung. Penduduk Pulau Kaniungan pada saat itu tidak lebih dari 150 jiwa. Penduduknya  muslim maka diangkatlah Mannawang suku Bugis sebagai Imam dan sekaligus sebagai tokoh agama dan tokoh masyarakat. Pedagang yang menjual kebutuhan sehari-hari dan sekaligus membeli hasil nelayan pertama di Pulau Kaniungan adalah Sayyid Abdullah, kemudian disusul oleh Bapak Kallak, dan seorang Tionghoa Tan Tjoe Lie.
Pulau Kaniungan terus berkembang, kelapa tua dan kopra laku keras, hasil nelayan sangat memuaskan. Penduduk kaniungan hidupnya pada saat itu sejahtera. Pada tahun 1887 orang-orang Bugis yang telah menetap membuka perkebunan kelapa, Ua’ Becce La Pajerrai bersama beberapa orang kawannya diikuti suku Bajau menanami seluruh Pulau dengan kelapa, maka penuhlah pulau Kaniungan dengan pohon kelapa. Pohon kelapa disana sangat subur dan buahnya lebat. Keberhasilan Mahmude  menciptakan keamanan ketiga suku Bajau, Bugis, dan Solok yang berdomisili di Paulau Kaniungan Besar sebagai Pambakal, maka penduduknya saling kawin mawin. Merasa aman dan nyaman tinggal di sana banyak keluarga serta saudara-saudari si Baggol datang dari Filipin termasuk saudara laki-lakinya yang bernama si Amang Panggurap masuk Ke Berau dan menetap serta berkeluarga di Sambaliung. Oleh karena itu di kerajaan Sambaliung pada saat Raja Alam melawan Penjajahan Belanda didukung penuh oleh pasukan dari Bugis dan pasukan Solok dari Filipina Selatan, karena sejak lama persahabatan antara Kerajaan Bugis dan Kerajaan Solok sudah terjalin, sejak masih kerajaan Berau berjaya.
                Masyarakat Kaniungan Besar kegiatan sehari-hari adalah sebagai nelayan dan memelihara kebun kelapa, sedangkan berusaha mencari kekurangan kebutuhan sehari-hari harus keluar dari Pulau Kaniungan ke Tanjung Buaya, ke Teluk Bayur dan tempat lain yang sangat jauh. Meninggalkan pulau atau berlayar yang selalu ditakuti adalah perompak yang biasa menjarah harta benda mereka pasa saat bepergian seperti itu. Keamanan laut sangat menghawatirkan, pasukan keamanan laut kerajaan Sambaliung dan Kerajaan Kutai sangat terbatas, tidak mampu menghalau perompak setiap saat. Perampokan dilakukan oleh orang-orang Balangingi, untungnya ada satu orang dari suku Bajau yang sangat ditakuti oleh kawanan perampok, ia adalah si Tokke  yang tinggal di Tanjung Buaya. Tokke dikenal sebagai pahlawan pengaman wilayah laut dan pantai Selatan. Kehebatannya adalah disamping memang pemberani dan pantang mundur menghadapi musuh, mempunyai keahlian menembak, ada istilahnya menembak putus artinya menembak tidak melihat musuh apabila diinginkannya dengan kesaktiannya pelurunya mampu membunuh lawan. Oleh karena itu si Tokke sangat disegani dan ditakuti oleh perompak atau bajak laut. Dengan keistimewaan dan kesaktiannya itu ia diberi gelar”Punggawa Tokke”.  Putri Punggawa Tokke  si Ima kawin dengan seorang putra Banjar Muhammad Rais, kemudian hari dikenal dengan nama Haji Muhammad Rais menetap dan membuka kebun di Pulau Balikukup. Keturunan Haji Muhammad Rais dan si Ima seperti H Carra dan H. Hajar meneruskan memelihari perkebunan kelapa di Pulau Balikukup.


foto : Disbudpar Berau
Pulau Kaniungan Besar

3.       PULAU KANIUNGAN KECIL
Penulis beberapa tahun lalu berkesempatan menginjakkan kaki di Pulau Kaniungan Kecil, dengan diantar oleh seorang tokoh Giring-Giring Bapak Manaf. Pulau Kaniungan Kecil sangat indah,  menarik dan berbekas dihati. Penulis membayangkan seandainya dikelola dengan baik, pulau kecil ditengah laut itu dijadikan sebuah kawasan yang diberi nama dengan pulau “Putri” artinya dikembangkan dengan hanya boleh dikunjungi oleh kaum wanita saja, tidak boleh ada wisatawan laki-laki yang datang kesana. Untuk datang ke Pulau Putri berangkat dari luar kawasan ini dengan menggukan helicopter turun di Tanjung Guntur, dari Tanjung Guntur menuju Pulau Putri Pulau Kaniungan Kecil menggunakan Speadboat. Perjalanannya seperti kisah dalam sebuah novel atau film detektif yang maha dahsat dan menantang. Di pulau Putri hanya boleh dibangun beberapa pondok-pondok tempat tinggal sementara wisatawan yang datang, dan tidak boleh terlalu banyak yang datang ke Pulau Putri karena dapat merusak pulau, merusak tumbuhan, merusak habitat burung bangau putih dan bangau hitam yang tinggal disana pada malam hari (burung bangau tersebut disebut juga burung Kallo).
Jarak Pulau Kaniungan Kecil atau Pulau Putri itu dari Tanjung Guntur kurang lebih 7 mil, dari Pulau Kaniungan Besar hanya 3 mil, kearah laut atau sebalah Timur. Pulau Kaniungan Kecil  dinamakan seperti itu sama dengan Pulau Kaniungan Besar, keliling pulau ditumbuhi pohon yang berbuah masam yang dinamakan pohon/buah Kaniungan. Pulaunya lebih kecil dengan tumbuhan asli yang bisa dimakan itu makanya dikenal dengan nama Pulau Kaniungan Kecil. Pulau Kaniungan Kecil dikelilingan pantai dengan pasir putih, masih banyak penyu yang datang disekitar pulau, sebagian penyu-penyu itu naik dan bertelur di atas pulau, airnya sangat jernih, pantainya landai jauh kelaut, ikan hiasnya masih berkeliaran dengan bebas. Biasanya Pulau Kaniungan Kecil hanya dijadikan nelayan sebagai tempat berlindung dan tempat beristirahat saja. Tanjung Mangkaliat indah terlihat dari pulau. Di Pulau kaniungan Kecil pada pagi hari bisa menikmati matahari terbit dan sore hari menikmati matahari tenggelam. Berada dipulau Kaniungan Kecil benar-benar pantastis sembari menikmati dunia dengan segala kepongahan dan keagungannya…..amboy. Aku memuji Tuhan dengan segala keindahan ciptaan.

4.        PULAU SIGENDING DENGAN HUTAN BAKAUNYA
Mari kita mulai masuk kewilayah Teluk Sulaiman, mulai dengan mengenali Pulau Sigending Besar dan Pulau Sigending Kecil. Pulau ini mirip dengan sebuah kendi raksasa, oleh karena itu pulau ini dinamakan si kendi, kemudian menurut kebiasaan orang laut disambung menjadi satu, awalan “si” menjadi satu kata bendanya, namun sedikit berubah……menjadi Sigending. Pulau Sigending adalah pulau batu karang yang sangat keras dan kokoh, diatasnya ditumbuhi berbagai jenis pohon yang lebat menutupi semua punggung pulau.
                                           foto : Saprudin Ithur
TANJUNG YANG MENJOROK KELAUT DI MUARA TELUK SULAIMAN ITU ADALAH PULAU SIGENDING


Bila masuk lebih kedalam mengikuti alur muara, maka menemukan sebuah lokasi yang mengasikkan yaitu sebuah  lokasi luas mirip seperti sebuah danau, luas mencapai seratus hektar, keadaan airnya mengikuti pasang surut air laut, bermacam-macam jenis ikan yang terdapat ditempat itu. Ada ikan putih, ikan belanak, ikan bawal hitam, julung-julung bertulang biru, ikan baronang, jutaan ikan-ikan kecil yang sering datang bergerombol membentuk seperti perahu. Sejak dulu disinilah tempat nelayan sekitar Teluk Sulaiman menangkap ikan dengan jaring/pukat, apa lagi pada saat musim angin kencang dan bergelombang, tempat ini sangat aman terlindung oleh pulau Sigending. Kawasan ini sangat indah, apabila memandang sekelilingnya seakan-akan sebuah panorama alam yang nampak sampai kekaki gunung Teluk Sulaiman. Dilihat dari tempat itu gunung Teluk Sulaiman sangat tinggi dan hampir menutup separuh muka bumi, bila mengalihkan padangan kearah lain, maka pandangan langsung menumpu pada gunung yang mendinding yang penuh dengan panorama alami itu, ujar Abdul Wahid Syech almarhum dalam bukunya (1994). Tempat ini juga didatangi oleh penyu hijau. Apabila tidak dirusak, pasti danau Sigending tetap indah dan nyaman buat bermacam jenis ikan dan penyu berteduh dari riuh redahnya angin dan amukan gelombang. Pada akhir tahun sembilanpuluhan sekitar tempat ini dijadikan tempat memelihara teripang dan membudidayakan rumput laut. Sayangnya tidak berlanjut, tetapi jangan gusar dulu. Mari melihat lebih teliti, sekitar danau Sigending yang ditumbuhi hutan bakau (mangrove) yang sangat lebat. Hutan bakau disini memiliki keunikan tersendiri, hal ini dikarenakan adanya beberapa ekosistem yang tersedia secara alami, seperti hutan dengan pegunungan karst, hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Dalam perjalanan menuju hutan bakau Sigending banyak melihat pepohonan bakau yang masih asri. Hutan bakau (mangrove) Sigending banyak menyimpan pesona hewan liar yang dapat dilihat sebagai atraksi alam seperti jenis monyet Bekantan, jenis ular dan berbagai jenis burung yang menetap ataupun yang singgah disana untuk beristirahat atau sekedar mencari makan. Perjalanan apabila dari arah Teluk Sulaiman  dengan mengikuti alur  sungai kecil seperti dijelaskan diatas hingga sampai di Hamparan Padang Lamun dan terumbu karang. Selain itu juga dapat menyaksikan tebing seperti batu dinding tinggi berupa pegunungan karst yang berada disisi selatan Hutan Sigending. Komplek yang terdapat disekitar Hutan Mangrove Sigending ditambah dengan dua pulau yang indah itu merupakan destinasi atau obyek wisata yang sangat menakjubkan luar biasa ditambah lagi dengan kompleksitas dari ekosistemnya….waaaaawwwww………tiada duanya  tempat seperti ini didunia lho.
Foto : Disbudpar Berau
Hutan Bakau di Teluk Sulaiman

5.       TELUK SULAIMAN
Apabila keluar dari Sigending menuju lebih keutara maka langsung masuk kawasan pelabuhan alam yang sangat luas  pelabuhan alam Teluk Sulaiman.  Didalam Teluk Sulaiman airnya cukup dalam, tetapi tidak bergelombang. Walaupun angin kencang dilaut sana, gelombang besarnya tidak masuk kedalam teluk, oleh karena itulah aku sebut dengan “Pelabuhan Alam Teluk Sulaiman”. Pada masa perusahaan kayu log masih jaya-jayanya, didalam teluk Teluk Sulaiman kapal-kapal besar pengangkut kayu log masuk dengan nyaman. Disinilah  mereka memuat kayu log berdiameter besar-besar dengan panjang puluhan meter. Kapal-kapal besar itu tidak kandas dan tetap aman. Memuat kayu log dan papan gergajian di dalam Teluk Sulaiman benar-benar nyaman terhindar dari gelombang dan angin kencang. Rakit batang yang panjang ratusan meter yang diangkat kekapal atau papan yang disandarkan dekat kapal besar pengangkut dijamin aman, beda dengan muat dilaut, rakit kayu bundar itu sering hancur dihantam gelombang, perusahaan menanggung rugi.
Di Teluk Sulaiman ini dahulu ada sebuah pelabuhan berikut bekas dermaganya yang dibangun oleh perusahaan kayu, pabrik penggergajian kayu bangsa Belanda yaitu Bridag Shichop tahun 1910-1920, dermaga itu dahulu berada diseberang pelabuhan Teluk Sulaiman yang ada sekarang. Dermaga Bridag Shichop sekarang sudah punah tergerus oleh waktu. Namun ada bukti-bukti lain yang menunjukkan bahwa di sana ada kehidupan, tembok atau beton penyangga pipa air minum untuk kebutuhan karyawan perusahaan penggergajian kayu milik Belanda yang pernah beroperasi di Teluk Sulaiman masih dapat dilihat. Tidak seberap jauh dari tembok beton bekas pipa air tawar Belanda, ada yang namanya Batu Mahligai. Batu ini mirip dengan tempat duduk dengan disekitarnya bermunculan mata air tawar. Konon di mahligai itu tempat seorang suku Basaf bersemedi atau bertapa untuk ketenangan jiwa dan kesaktian.
Dimuara Teluk Sulaiman, disebelah kanan keluar menuju laut lepas terdapat sebuah kapal milik Jepang yang tenggelam setelah di bom oleh pesawat sekutu pada tahun 1944. Tidak diketahui berapa banyak tentara Jepang yang tenggelam dan tewas bersama kapalnya, tetapi sampai saat ini kapal jepang yang tenggelam itu masih teronggok dikedalaman muara Teluk Sulaiman. Masyarakat yang melihat kejadian pada masa itu tidak berbuat apa-apa, pesawat sekutu dari Australia setelah membombardir kapal masih sempat beberapa kali berputar-putar disekitar itu untuk meyakinkan kapal yang telah dibombardir  benar-benar tenggelam. Pesawat terbang sekutu juga membombardir Keraton Gunung Tabur dan Keraton Sambaliung, di kedua keraton tersebut diperkiran oleh pasukan sekutu tempat bersembunyi tentara Jepang. Tapi kenyataannya tidak ada, tentara Jepang sudah melarikan diri dengan menggunakan perahu rakyat menuju kehulu sungai Kelay, masuk kesungai Lesan. Dari  hulu sungai Lesan tentara Jepang berjalan kaki menembus ke sungai Wahau dan turun dengan menggunakan perahu menuju Samarinda. Keraton Gunung Tabur menjadi korban hangus terbakar oleh bom-bom pasukan sekutu. Selama kejadian tersebut tidak ada korban jiwa, karena Keraton Gunung Tabur dan Keraton Sambaliung sudah dikosongkan. Keluarga Keraton Gunung Tabur mengungsi didalam  sungai Birang, sedangkan kelaurga Keraton Sambaliung mengungsi di sungai Buntu. Dalam perjalanan pelarian tentara Jepang menembus ke sungai Wahau itu didampingi oleh seorang tokoh pemuda kelahiran Kampung Muara Lesan, bapak Syamsuddin atau biasa dipanggil Amma Uddin (almarhum). Apabila ingin mengetahui kebenaran kapal tenggelam  dimuara Teluk Sulaiman, dibutuhkan penyelam dan peneliti yang professional.
 foto : Disbudpar
KAWASAN PELABUHAN ALAM TELUK SULAIMAN

Mari kita melihat pelabuhan bongkar muat di Teluk Sulaiman sejenak. Pelabuhan yang sekarang ada diujung Kampung Teluk Sulaiman itu  dulu masih kecil, lebarnya kurang dari dua meter dan panjangnya 150 meter disebut dengan “jembatan” atau jembatan pendaratan. Begitu ada jembatan itu masyarakat setempat sangat terbantu dan termudahkan, mereka yang memiliki kapal mengangkut keperluan sehari-hari, dagangan dan mengangkut buah kelapa keluar menuju Samarinda, Berau (Tanjung Redeb), Tarakan dan keberbagai daerah lainya,  menjadi mudah. Istilahnya dimana harga kelapa dan kopra tinggi kesanalah mereka berangkat, kembalinya membawa sembako dan keperluan sehari-hari. Pendek  kata dengan adanya jembatan atau pelabuhan Teluk Sulaiman masyarakat setempat sangat terbantu dan termudahkan.  
Jembatan pendaratan itu dibangun atas inisiatif seorang perwakilan Camat Talisayan di Biduk-Biduk (kecamatan penghubung) bapak M. Backtiar, BA pada tahun 1991 bersama Kepala Desa Biduk-Biduk H. Hasbullah Ahmad.  Pada masa itu dari Labuan Kelambu sampai dengan Teluk Sulaiman masuk menjadi satu desa BiduBiduk, sedangkan sekarang sudah terbagi menjadi Kampung Biduk-Biduk, Kampung Girng-Giring, dan Kampung Teluk Sulaiman dengan masing-masing memiliki seorang Kepala Kampung. Dari pelabuhan Teluk Sulaiman dapat memandang dengan leluasa ke gunung Teluk Sulaiman yang menjulang tinggi bersambung sampai ke gunung Teluk Sumbang. Kaki Gunung Batu kapur itulah yang membuat pantai Teluk Sulaiman dan pantai sepanjang Teluk Sumbang menjadi indah dan menawan.
Dahulu teluk itu belum memiliki nama. Biasa penduduk atau orang-orang yang melintasi daerah tertentu kemudian member nama tempat-tempat tertentu berdasar keunikan, tumbuhan alam, atau nama orang yang pertama tinggal disana. Begitu pula dengan nama Teluk Sulaiman. Teluknya sudah ada disana jutaan tahun yang lalu, sedangkan Sulaiman adalah nama orang yang pernah ada disana. Kisahnya memang sangat sederhana, tetapi dengan kisah yang sederhana dan kenyataan itu kemudian hari wilayah dan teluk itu memiliki nama. Sekitar satu  kilometer lebih dari pelabuhan Teluk Sulaiman ada pohon “limau” (jeruk) yang buahnya sangat lebat, buahnya tidak pernah susut selalu ada dan sampai masak-masak sebagian ada yang berjatuhan. Bibit limau itu berasal dari pabrik penggergajian milik orang Belanda yang berdiri tahun 1910 diseberang Teluk Sulaiman. Buahnya yang lebat itu dikonsumsi oleh penduduk sekitar yang baru ada tiga empat rumah, penduduk yang ada diseberang Teluk, masyarakat Kaniungan dan sampai masyarakat Tanjung Buaya yang kebetulan melintas dan singgah disana membawa buah limau.  Yang  menanam limau itu namanya “Sulaiman”, sehingga dari penanam limau itulah diperoleh nama Teluk + Sulaiman. Masa itu selain namanya Teluk Sulaiman, teluk itu juga dikenal dengan nama Teluk Selimau berasal dari kata Limau. Tetapi kemudian hari lebih popular nama penanamnya Sulaiman, dari pada nama Limau atau selimau itu. Perusahaan kayu PT Desy Timber yang beroperasi di teluk tersebut juga  menamakannya  tempat itu dengan nama Teluk Sulaiman.
 Teluk Sulaiman mempunyai perjalanan sejarah yang panjang, setelah terjadinya perang dunia pertama tahun 1918, penduduk diwilayah itu diserang penyakit “Sampar”, sehingga banyak penduduk yang menjadi korban. Penyakit itu menyerang bayi, anak-anak, orang dewasa dan orang tua,   termasuk karyawan pabrik kayu diseberang Teluk Sulaiman juga diserang penyakit pembunuh itu. Kepala  kerja pabrik kayu milik Belanda itupun menjadi korban penyakit aneh yang dikenal dengan nama penyakit sampar. Disamping itu ada Pabrik Penggergajian kayu, pipa air tawar milik Belanda, kapal Jepang tenggelam dibombardir sekutu, sebagai pelabuhan alam yang eksotis dan aman, perusahaan kayu PT Deasy Timber, perusahaan kayu PT Yati, perjalanan para pekebun kelapa.
Setelah kejadian itu yang sudah membuka hutan dan berkebun kelapa disana ada yang dikenal namanya Ma’Sumpil suku Bajau pada tahun 1925,  makamnya masih ada disana, ada lagi seorang Tionghoa namanya Si Piun juga membuka perkebunan kelapa. Kemudian hari berdatanganlah orang dari luar membuka lahan dan menanam kelapa disana.


6.       BIDUK BIDUK
Nama Biduk-Biduk sangat dikenal, sebab ada salah satu tokoh Kampung Biduk-Biduk yang sempat menjadi Direktur Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia namanya  Dr. Makmur Sanusi, makam kedua orang tuanya ada di Biduk-Biduk. Selain itu juga ada seorang tokoh agama, tokoh pendidikan terkemuka di Biduk Biduk dan sekaligus tokoh politik adalah Abdul Wahid Syech anggota DPRD Kabupaten Berau dekade tahun delapan puluhan (1986). Ada lagi satu nama yang juga tidak dapat dilupakan yaitu Ustad Sanusi Salengke yang mendirikan Darud Dakwah Wal Irsyad yang disingkat dengan DDI pada tahun 1958, dan masih banyak tokoh-tokoh lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Tokoh-tokoh tersebut yang dengan sukarela mengangkat nama Biduk-Biduk ketingkat Kabupaten, ketingkat Provinsi, sampai ketingkat Nasional. Didalam peta nasional nama Biduk-Biduk dan Tanjung Mangkaliat selalu tertera. Biduk-Biduk sekarang menjadi Kecamatan paling selatan wilayah pantai Kabupaten Berau Pesisir Selatan. Di Kecamatan Biduk-Biduk terdiri dari Kampung Teluk Sumbang, Kampung Teluk Sulaiman, Kampung Giring-Giring, Kampung Biduk-Biduk, Kampung pantai Harapan, dan kampung Tanjung Perepat dengan masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala kampung.
Sebelum kita melanjutkan kisah Biduk-Biduk, baik kita sedikit mengenali Kampung Giring-Giring. Panjang kampung Giring-Giring mengikuti pesisir pantainya kurang lebih dua kilometer. Sepanjang kiri kanan jalan yang dilewati adalah pohon kelapa yang subur dengan berbuah lebat. Sebagian pantainya terbuka, ketika ombak besar datang gelombangnya langsung menghantam pantai yang ditumbuhi pohon kelapa, sebagian lagi pantainya masih ditumbuhi pohon bakau. Di daratan pesisir pantai Giring-giring itu dahulu banyak ditumbuhi rerumputan yang kembangnya atau buahnya berbulu panjang seperti binatang laut bulu babi. Buah rumput itu bebulu tebal sekelilingnya seperti bulu landak namun buahnya tetap kelihatan pada sela-sela bulunya itu. Buah yang lucu dan bagus itu ketika kering menjadi ringan dan berjatuhan ketanah. Buah-buah itu bergulingan saat dihembus angin kesana kemari mengikuti arah angin, nama buah rumput itu adalah  Giring-Giring, oleh karena itu sejak dahulu nama kampungnya di kenal dengan nama Giring-Giring.
Penduduk asli Giring-Giring tidak berbeda dengan Kampung Teluk Sulaiman yaitu suku Bajau, orang yang pertama tinggal disana adalah Si Lawang atau dipanggil Ma’ Tandawan. Si Lawang tinggal disana sebagai nelayan dan sekaligus membuka perkebunan kelapa, kemudian hari berdatangan orang-orang dari Sulawesi Tengah, akibat daerah mereka diganggu oleh gerombolan. Orang-orang dari Sulawesa Tengah itu sekitar 50 kepala Keluarga. Mereka bermukim di Giring-Giring  tidak lama, setelah daerah mereka dikabarkan aman dari gerombolan, mereka kembali ketanah asalnya. kedatangannya pada tahun 1959, lima tahun kemudian tepatnya pada tahun 1965 mereka kembali. Selama lima tahun itu orang-orang dari Sulawesi Tengah sempat bergaul dan membaur dengan suku Bajau yang tinggal lebih dahulu disana. Pada tahun 1940 Ma’ Tandawan pindah bersama beberapa orang kawan dan kerabatnya ke Labuan Pinang untuk membuka lahan perkebunan baru.
Demikian sekilas Giring-Giring dimasa lalu, sekarang kita kembali ke Biduk-Biduk. Rantau itu sebelumnya belum memiliki nama seperti sekarang. Nama Biduk-Biduk berasala dari nama perahu kecil yang disebut orang dulu dengan Biduk. Karena ada beberapa buah, maka kata Biduk itu disambung menjadi Biduk-Biduk yang berarti menyebutkan lebih dari satu perahu-perahu atau Bidu-Biduk. Ceriteranya begini. Pada penghujung tahun 1800-an tempat itu sangat sepi, daratannya masih hutan belantara yang sangat lebat, tetapi di Pulau Kaniungan Besar danTanjung Buaya sudah ramai orang berusaha dan banyak penduduknya. Masyarakat yang ada di Tanjung Buaya dan Pulau Kaniungan itu sering saling mengunjungi, baik dalam rangka silaturahmi, acara pesta perkawinan, atau berbelanja keperluan sehari-hari. Mereka menggunakan perahu atau kapal layar. Mengetahui hal tersebut para perompak suku Balangingi dengan kapal besarnya bersembunyi di-lupak semacam danau yang pada saat air laut surut tempat itu masih penuh air. Lupak itu berada persis bertentangan dengan SD Negeri Biduk-Biduk, dilaut itu dan bersembunyi di lupak itu orang Balangingi bersembunyi. Dari sana mereka mengejar perahu atau kapal-kapal yang melintas. Mereka mengejar dengan kapal besarnya yang diiringi oleh beberapa buah biduk atau biduk-biduk milik perompak. Sejak saat itulah rantau yang belum punya nama itu menjadi punya nama, dikenal dengan nama Biduk-Biduk. Oleh setiap orang yang melintasi daerah itu menyebutnya wilayah sekitar Lupak itu Biduk-Biduk.
Beberapa waktu kemudian perompak suku Balangingi itu pergi tidak pernah kembali lagi setelah dilakukan pembersihana oleh Punggawa Tokke bersama anak buahnya. Setelah aman, baru ada orang yang berani singgah dirantau Biduk-Biduk, pada tahun 1905 sampai 1910 suku Bajau yang dikenal dengan nama Si Kapang atau Ma’ Jababa tinggal dan berkebun disana, kemudian hari disusul oleh orang-orang dari Pulau Kaniungan. Melihat wilayah baru itu sangat luas, subur, dan cocok untuk perkebunan kelapa, maka berdatanganlah orang-orang dari Sulawesi Tengah juga membuka perkebunan di Biduk-Biduk.
        
  foto : Disbudpar
SEPANJANG KIRI KANAN JALAN DI HIASI DENGAN POHON KELAPA YANG TINGGI MENJULANG

Disekitar Biduk-Biduk pantainya sangat indah nyaman dipandang mata, pasirnya putih jauh sampai kelaut, saat air laut surut pantai itu sampai lima ratus meter jauhnya. Saat air pasang  gelombangnya berkejaran menghamtam dan pecah dipantai. Sepanjang pesisir pantainya ditumbuhi pohon kelapa bersambung dengan  Giring-Giring terus sampai di Teluk Sulaiman. Batas antara Biduk-Biduk dengan Giring-Giring ada gunung, disana pada tahun 1934 didirikan pesanggrahan atau rumah peristirahan sekaligus tempat menikmati laut Biduk-Biduk oleh Belanda. Orang-orang Belanda pada saat itu setiap datang ke Biduk-Biduk tinggal di pesanggrahan.
Pada tahun 1945 penduduk Biduk-Biduk baru 610 jiwa mulai batas Teluk Sulaiman, Giring-Giring, Biduk-Biduk, Bangkuduan, Labuan Kelambu sampai sungai Lempot. Pada tahun 1935 sudah berdiri sekolah rendah sampai kelas III yang dikenal dengan nama Volk School. Tahun 1957 berdiri Sekolh Rakyat yang kemudian berubah menjadi Sekolah Dasar Negeri Biduk-Biduk dan pada tahun 1958 berdiri Madrasyah Ibtidayah Darul Dakwah Al Irsyad (MI DDI) Cabang Biduk-Biduk dari Pare-Pare. Sejak berdirinya Volk School, SD, dan MI DDI pendidikan masyarakat Biduk-Bidyuk dan sekitarnya semakin maju.  
Pada masa penjajahan Belanda Biduk-Biduk dan sekitarnya tidak banyak yang dapat diceriterakan, tetapi pada masa penjajahan Jepang yang sebentar itu banyak kisah yang sangat menyayat dan menyedihkan. Pada tahun 1943 banyak orang-orang dewasa dan tua-tua yang ditangkap oleh laskar Jepang termasuk tokoh-tokoh masyarakat yang tinggal di Pulau Kaniungan Besar. Mereka ditangkap dan kemudian diangkut ke Balikpapan untuk diadili dan seterusnya dipenjarakan dengan tuduhan memberi bantuan makanan kepada tentara sekutu. Alasan itu diperkuat dengan seringnya masyarakat sekitar bepergian dan berlayar ke Sulawesi Tengah untuk menjual hasil perkebunan dan hasil nelayan, sekembalinya dari sana membawa barang pokok untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari. Dalam perjalanan pulang pergi melintasi selat Makassar para nelayan dan pendagang itu sering bertemu dengan kapal selam sekutu. Namun mereka tidak pernah bertemu langsung dengan tentara sekutu tersebut. Karena mereka adalah nelayan dan membawa kebutuhan sehari-hari tidak pernah diganggu oleh kapal selam sekutu. Disebabkan oleh  ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan ingin mencari muka dengan laskar Jepang, mereka dilaporkan dan fitnah orang-orang yang tidak disukai. Sepanjang pesisir pantai selatan ada 50 orang orang yang di tangkap lascar atau tentara Jepang dan diangkut ke Balikpapan, hanya 10 orang diantara mereka yang bisa kembali dengan cara melarikan diri dari penjara Jepang di Balikpapan, pelarian itu dilakukan dengan cara berperahu kecil dan berjalan kaki dari Balikpapan menuju Samarinda, dan dari Samarinda berlayar menuju Biduk-Biduk dan sekitarnya. Dengan demikian perasaan sedih dan perasaan benci, dendam terhadap laskar Jepang sangat mendalam.
Pada tanggal 17 Agustus 1945  di Pegangsaan Timur 56 Jakarta kumandangkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang terdengar secara samar-samar di Radio. Sejak itu masyarakat pantai sudah mengetahui Indonesia sudah Merdeka. Berita itu menjadi perbincangan dimana-mana, dikebun kelapa, dipantai, dipemancingan, diwarung dan lain-lain. Walaupun mereka banyak yang belum paham apa itu merdeka, nyatanya tentara Jepang masih dengan pongahnya. Mereka mengartikan kemerekaan adalah bebasnya mereka dari penjajahan, mereka pergi berlayar menuju ke Berau (Tanjung Redeb), ke Tarakan, ke Samarinda, ke Sulawesi Tengah, ke Kaniungan, ke Tanjung Buaya, ke Labuan Pinang aman tidak ada yang merampok atau menahan mereka yang tidak bersalah, kebutuhan sehari-hari tersedia itulah sebuah kemerdekaan yang hakiki.
Pada tanggal 25 Agustus 1945 jam lima subuh datanglah tiga orang tentara Jepang dengan menggunakan perahu kecil yang dibawa oleh Kiyama dan si Doyang penduduk Labuan Pinang. Semula mereka merapat di Giring-Giring membawa tiga orang tentara Jepang yang sedang tinggal dan menjaga serta mengawasi di lampu suar Tanjung Mangkaliat sebagai basis penjagaan keamanan Tanjung Mangkaliat dan Selat Makassar. Di ketahui wilayah itu sering terlihat munculnya kapal selam sekutu kepermukaan laut yang dapat sewaktu-waktu menghantam kapal milik Jepang yang melintasi wilayah itu, lampu suar atau mercu suar di Tanjung Mangkaliat sebagai patokan utama menuju keberbagai arah dan tujuan, seperti ke Tarakan, ke Samarinda, ke Balikpapan, dan ke Sulawesi Tengah.
Tiga orang tentara Jepang itu adalah Mizukami sebagai komandan, Morakami sebagai anggota, dan Hatano sebagai penghubung. Ketiga orang tentara Jepang yang didampingi dua orang dari Labuan Pinang dari Giring-Giring berjalan menuju Biduk-Biduk. Di Biduk-Biduk bertemu dengan Muhammad Bakri Japar yang baru beberapa hari melaksanakan pesta pernikahan. Ketiga tentara itu diterima dengan baik dirumah yang masih berhias setelah melaksakan pesta. Yang sangat mengejutkan bagi Muhammad Bakri pada percakapan itu adalah permintaan tentara Jepang itu. Tentara memberitahukan kepada Bakri tentang keinginannya mengumpulkan wanita-wanita, lalu diperintahkan kepada mereka untuk segera menyingkir atau mengungsi ketempat yang dianggap aman karena tentara sekutu selalu datang dan akan menyerang. Hanya yang membuat telinga M. Bakri sakit adalah setelah wanita semua berkumpul, tentara Jepang itu akan memilih wanita yang muda dan cantik untuk digauli seperti suami istri, sedang M. Bakri baru melaksanakan pesta pernikahan dengan seorang gadis cantik Hapidah namanya. Setelah diberikan tempat rumah untuk beristirahat ketiga Jepang yang kelelahan naik perahu dari Tanjung Mangkaliat itu sudah tertidur. Kesempatan itu digunakan oleh M. Bakri Japar untuk menghabarkan kepada rekan-rekan. Mendenga berita tersebut suasa menjadi panas, kebencian dan rasa dendam yang telah lama mengakar dimana dahulu orang tuanya, anaknya, saudaranya, keluarganya yang ditangkap Jepang dipenjarakan di Balikpapan dan tidak kembali serta tidak diketahui dimana kuburnya menjadi beringas, marah dan darahnya mendidih. Akhirnya keputusan dari beberapa orang pemberani adalah harus dibunuh, ketiga orang tentara Jepang itu harus dibunuh bagaimanapun caranya.
Dibawah komando M. Bakri Japar para tokoh dan para pemberani itu dibagi menjadi tiga kelompok :
1.       Kelompok yang dipimpin oleh Mahmude panggilan Wa Musa, Kabak, Ketang, dan Muhammad Taib ditugasi mengikuti seorang Jepang bernama Morakami pergi kerumah yang pernah didiami oleh bekas istrinya kumpul kebo yang dulu dipaksanya untuk menemaninya. Kerumah itu untuk mencari tembakau untuk rokok, namun orang yang tinggal dirumah itu sudah lama mengungsi keluar kampung. Ketika ingin mampir kerumah yang dituju seketika itu si Kabak dengan cepat memarang Morakami, tetapi morakami selalu siap dan sigap. Dalam kesempatan yang sangat sempit itu Morakami masih sempat menghindar dari amukan parang si Kabak yang sudah kalap, telinga Morakami sempat terhiris parang yang sangat tajam. Akhirnya terjadilah perkelahian yang sangat dahsyat ditepi pantai. Sabetan demi sabetan yang dilayangkan oleh Kabak bergantian dengan  Wa Musa, Ketang dan Taib masih dapat dihindari. Morakami menghindar sambil mundur dengan sigapnya. Akhirnya orang Jepang itu semakin terdesak dan kelelahan. Si  Ketang saat ini berhadapan langsung dengan Morakami, si Jepang sempat mengeluarkan pisau lipatnya untuk mengimbangi dan melawan. Ketang lebih dahulu mengayunkan parangnya. Morakami sempat menangkis dan berusaha menangkap parang Ketang. Keduanya sempat saling tarik menarik dengan segala kekuatan., namun mata parang yang tajam itu pasti mampu melukai tangan Morakami yang terus berusaha menghindar. Pak Ketang adalah orang yang cukup berumur hapir saja tenaganya tak mampu melawan kekuatan sang tentara. Dalam suasana yang sangat genting itu teman-teman Ketang datang membantu. Morakami melepaskan parang dan lari pontang panting, dengan tangan yang mengeluarkan darah segar. Masyarakat sekitar yang telah mengetahui dan mengintai datang beramai-ramai, dengan marah yang meluap-luap menghabisi Morakami dengan parang dan kayu. Morakami tewas dipantai Biduk-Biduk dengan luka yang sangat parah, seluruh tubuhnya seperti bekas dicincang rata dari kaki sampai kepalanya luka tebas dan memar.
2.       Kelompok yang dipimpin oleh M. Bakri Japar bersama Ua’ Cilla dan Sahabuddin tinggal dirumah mengatur pembunuhan tentara lainya Hatano. Hatano kesana kemari membawa alat komunikasi, dia sebagai penghubung menyampaikan informasi maupun menerima informasi dari luar. Dirumah itu senjata mereka selalu siap yang terdiri dari senjata laras panjang dua buah lengkap dengan pelurunya, sebuah pistol juga lengkap dengan pelurunya ditambah dengan beberapa buah geranat didalam sebuah kemasan tas sejenis ransel. M. Bakri menyiapkan beberapa buah kelapa muda yang sudah dikupas dan dilubangi, pada saat  Hatano menengadah minum air kelapa pada saat itulah Ua’ Cilla beraksi. Dengan sigapnya Ua, Cilla membacok batang leher Hatano yang lengah itu. Hampir putus batang leher Hatano ditebas parang panjang Ua’ Cilla. Hatano belum mati, ia sempat mengangkat kepalanya yang sudah terkulai dengan meletakkan kembali ketempatnya semula. Dalam keadaan seperti itu Hatano masih sempat menangkap tebasan Sahabuddin. Parang Sahabuddin ditangkapnya, saat itu M. Bakri bertindak menolong sahabatnya, Hatano menyingkir keluar rumah yang tinggi itu dan tersungkur didepan tangga dengan berlumuran darah. Tiba-tiba  datang H. Abdulah menebas Hatano yang sudah tersungkur itu dengan teriakan kemarahan “inilah orang Jepang yang memakan dua orang anakku…….”. Anak H. Abdulah ditangkap Jepang pada tahun 1943 lalu dan tidak pernah kembali lagi, inilah kesempatannya membalas dendam menahun. Kesempatan genting ini dipergunakan oleh Islam Coma dan Nurudin masuk kedalam rumah yang mendapat tugas khusus yaitu segera mengambil senjata dan geranat didalam ransel, sejata dan geranat itu segera dibawa lari jauh-jauh, apabila Jepang lainnya datang mengambil senjatasudah kehilangan senjatanya.
3.       Kelompok ketiga ini dipimpin oleh Tawile Haleke alias Abdul Khalik bersama Mulia, Musa dan Abdul Fatah berjalan menuju kearah utara bersama seorang komandan Jepanag, berencana menangkap seekor kuda untuk dijadikan kendaraan. Mizukami adalah seorang penembak jitu, makanya dijadikan komandan di wilayah pantai. Dalam perjalanan tersebut berhenti tepat dihalaman rumah besar milik Pute yang sering dipanggil Wa’ Menja. Serta  merta ia menghadap kearah pantai mendengar suara teriakan dan rebut-ribut jauh dipantai. Mizukami bertanya suara apa yang didengarnya itu. Dijawab oleh mereka itu ribut-ribut orang menangkap kuda. Keempat orang yang mengiringi Mizukami tidak ada yang berani mendahului untuk membunuh Mizukami. Pada kesempatan yang tepat, sebelum Mizukami mengetahui dipantai sedang terjadi perkelahian dengan Morakami, Tuwale Haleke yang masih sakit-sakitan melayangkan parangnya ke muka Mizukami, ditangkisnya dengan kedua tangannya sangat cekatan, tetapi menangkis parang yang tajam mengakibatkan kedua tangannya luka dan mukanya juga luka. Dengan kejadian itu Mizukami langsung lari menuju kerumah dimana senjata dan geranat disimpan, senjatanya sudah tidak ada Mizukami langsung lari menuju pantai, belum sampai kepantai di hadang beberapa orang dengan parang terhunus, berbelok dan masuk kedalam sebuah gudang milik Mading. Dari dalam gudang Mizukami berusaha tenang dan menawarkan dan mengajak berdamai. Luapan amarah yang mendidih dan sudah sampai di-ubun-ubun masyarakat tidak mau berdamai. Hanya satu keinginan mereka adalah Jepang harus mati dihadapan mereka. Si Doyang yang sudah pernah belajar menembak dengan tentara Jepang, menembak Mizukami dari luar gudang, yang berada didalam gudang terkena peluru senjatanya sendiri, ia keluar dari dalam gudang untuk melawan amukan warga yang sudah meluap-luap. Akhirnya Mizukami yang sudah banyak mengeluarkan darah dan ditembus peluru merebahkan diri di pantai dan menghembuskan nafas terakhirnya….mati dengan disaksikan orang sekampung, disaksikan langit, disaksikan pantai dan laut yang luas. Yang patut diteladani dari tentara Jepang itu adalah tidak ada kata menyerah, dan harus melawan walau sampai  ajal menjemputnya. Sedangkan keberanian orang-orang Biduk-Biduk juga patut mendapat penghargaan, dengan bersatu padu mereka dapat membantai tentara Jepang yang terlatih dan ahli menggunakan senjata, namun atas siasat M. Bakri Japar dan kawan-kawan ketiga tentara Jepang itu lengah dan meninggalkan senjatanya dirumah tempat mereka beristirahat.
Peristiwa bersejarah itu dimulai jam 11.00 waktu setempat sampai dengan jam 14.00. selama tiga jam itu terjadi pergumulan rakyat Biduk-Biduk membunuh tiga orang tentara jepang di tanggal 25 Agustus 1945 jatuh dibulan Ramadhan. Ketiga orang Jepang itu dikuburkan ramai-ramai di halaman rumah M. Bakri Japar. Pada saat yang bersamaan pulau Balikukup dijadikan tempat pengungsian dari daratan Talisayan, Batu Putih, Tanjung Perepat, Pantai Harapan, Biduk-Biduk dan sekitarnya. Mereka sengaja mengungsi ke pulau Balikukup, tentara Jepang tidak berani melaut sebab tentara sekutu datang dan menyerang tentara dan kapal-kapal Jepang dari laut.

7.       LABUAN CERMIN
Nama Labuan Kelambu sejak tahun 1915 sudah sangat dikenal dikawasan pesisir selatan Kabupaten Berau. Mengapa sangat dikenal sejak dahulu, karena tempat itu adalah tempat yang sangat aman untuk berlabuh kapal-kapal nelayan, tetapi tidak semua orang bisa masuk kedalam sungai Labuan Kelambu itu. Waktu air laut surut muara sungai Labuan Kelambu dangkal, sedangkan waktu air laut dalam kapal yang masukpun bisa kandas dimuara apabila belum mengenal alur masuk muara sungai.
Pada dekade tahun 1900-an perkebunan kelapa adalah idola, semua orang yang tinggal dipesisir dan pulau-pulau ingin memiliki kebun kelapa yang luas. Oleh karena itu masyarakat yang tinggal di Pulau Kaniuangan Besar pada tahun 1908 mencari lokasi baru untuk berkebun. Akhirnya mereka menemukan sungai kecil yang  dalam dan indah sekali. Tepi sungai ditumbuhi pohon bakau, pohon perangat yang buahnya boleh dibuat sambal, dan banyak pohon nipah yang daunya bisa dijadikan atap dan dinding rumah. Daun Pohon bakau dan daun perangat bertemu dari tepi seberang dengan tepi seberangnya membentuk goa dalam sungai. Dihulu sungai yang tidak terlalu jauh ada sumber air tawar yang sangat besar. 
Awalnya dulu sungai kecil itu banyak nyamuk dan agasnya. Setiap yang tinggal dan tidur ditempat itu harus pakai kelambu. Dan ada dua pulau kecil di danau dalam sungai bentuknya seperti kelambu. Oleh orang Kaniungan yang datang ketempat itu mereka beri nama Labuan Kelambu. Sejak tahun 1912 rantau sekitar sungai Labuan Kelambu sudah didiami orang-orang berasal dari Pulau Kaniungan, secara berangsur-angsur dan akhirnya banyak dan menetap disana. Sejak tahun 1912 Labuan kelambu resmi menjadi ibu desa hingga tahun 1937. Pada tahun 1938 dipindahkan ke Biduk-Biduk dengan alasan meletakkan ibu desa ditengah-tengah antara Labuan Kelambu dengan Teluk Sulaiman. Pusat Desa di Labuan Kelambu pada tahun 1912 sampai dengan tahun 1937 disetujui oleh Sultan Sambaliung dan Hindia Belanda yang berkedudukan di Tanjung Raddab. Perpindahannya ke Biduk-Biduk sejak tahun 1938 itu juga atas restu Sultan dan Pemerintahan Belanda.
Sungai Labuan Kelambu dibuka pada tahun 1908 masih kecil dan sempit, namun airnya dalam untuk berlabuh perahu dan kapal nelayan. Setelah sekian lama tepinya banyak tergerus dan semakin melebar. Beberapa bangunan rumah dan sebuah mesjid diatas telah punah tergerus air sungai yang semakin melebar.  Saat ini Labuan Kelambu menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal nelayan, dalamnya sungai mencapai sepuluh meter saat air laut pasang. Sungai itu tidak pernah banjir, sebab dibagian hulu sekitar satu kilometer sungai habis tertutup gunug, sungai itu masuk kedalam lubang batu karang  yang dikenal dengan sumber air tawar yang kaya bersih dan bening. Sekitar  gunung  itu ditumbuhihi hutan yang sangat lebat. Air disana bercampur antara air laut yang asin dan air tawar dikenal dengan air dua rasa, tawar dan asin. Air asin, air laut itu masuk saat air laut pasang. Ketika air laut surut sumber air itu benar-benar tawar dan bisa diminum langsung. Sumber air dua ras sangat bening dan bersih, istilah kata jarum dijatuhkan diair  sampai sepuluh meter dalamnya jarum masih kelihatan. Ketika kita melihat kebawah air  seperti cermin, tempat itu dikenal dengan nama Labuan Cermin.
               foto : Disbupar
LABUAN CERMIN DENGAN LATAR BELAKANG HUTAN BAKAU, JEMBATAN, DAN KAMPUNG LABUAN KELAMBU
Di-Labuan Cermin memilki tiga mata air sebagai sumber air tawar yang mengalir keluar dengan deras dengan tidak mengenal waktu dan musim. Musim hujan atau musim kemarau sumber air tetap keluar dengan deras, ia adalah sungai didalam batu dibawah gunung Labuan Cermin. Ditengah air yang luas seperti sebuah danau itu banyak ikan yang berenang kesana kemari, bahkan ada yang bergerombol ribuang ekor. Ketika ikan-ikan itu berenang layaknya seperti pasukan yang berbaris rapi dengan satu tujuan yang pasti, saking bersih dan beningnya wajah atau bayangan kita dapat terlihat dengan jelas dipermukaan air. Di danau Labuan cermin ada dua pulau kecil laksana delta yang mengonggok disana. Pulau itu adalah batu sejenis batu karang sama seperti gunung dibelakang Labuan Cermin. Labuan cermin sudah masuk dalam destinasi wisata nasional yang unik dan bernilai khusus serta special yang wajib dikunjungi oleh setiap wisatawan yang datang di Kabupaten Berau Kalimantan Timur.
Digunung Labuan Cermin ditumbuhi oleh berbagai jenis pohon yang sangat kuat dan keras, dibagian lain ada jenis tumbuhan yang merambat seperti berbagai jenis rotan dan rumput liar perambat lainnya. Disana juga ada berbagai jenis ular, beberapa jenis jamur, monyet, anggrek, dan palem.  Ada yang lebih mengagumkan lagi digunung itu  ada danau air tawar yang cukup luas. Berjalan menuju danau itu menembus hutan lebat dan rapat, dan harus berhati-hati tempat yang kita injak adalah batu karang yang keras dan tajam, makanya untuk tracking disana disarankan  menggunakan alas kaki yang baik dan kuat agar pada saat terpeleset kaki tidak digores oleh batu karang yang tajam tersebut. 
Pada bulan desember tahun 2012 pengunjung yang datang ke Labuan Cermin, Teluk Sulaiman, Danau SiGending, dan Pulau Kaniungan lebih 1.000 orang, walaupun jaraknya dari kota Tanjung Redeb Kabupaten Berau tidak kurang dari 250 Km, tetapi tempat itu patut didatangi dan sangat menantang. Waw……Labuan Cermin tahun 2013  menjadi idola untuk dikunjungi. Ayo kita berangkat……









SYURGA YANG DULU HILANG DI LABUAN CERMIN
POTENSI WISATA BERAU PESISIR SELATAN
Oleh : Saprudin Ithur

6.       BIDUK BIDUK
Nama Biduk-Biduk sangat dikenal, sebab ada salah satu tokoh Kampung Biduk-Biduk yang sempat menjadi Direktur Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia namanya  Dr. Makmur Sanusi, makam kedua orang tuanya ada di Biduk-Biduk. Selain itu juga ada seorang tokoh agama, tokoh pendidikan terkemuka di Biduk Biduk dan sekaligus tokoh politik adalah Abdul Wahid Syech anggota DPRD Kabupaten Berau dekade tahun delapan puluhan (1986). Ada lagi satu nama yang juga tidak dapat dilupakan yaitu Ustad Sanusi Salengke yang mendirikan Darud Dakwah Wal Irsyad yang disingkat dengan DDI pada tahun 1958, dan masih banyak tokoh-tokoh lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Tokoh-tokoh tersebut yang dengan sukarela mengangkat nama Biduk-Biduk ketingkat Kabupaten, ketingkat Provinsi, sampai ketingkat Nasional. Didalam peta nasional nama Biduk-Biduk dan Tanjung Mangkaliat selalu tertera. Biduk-Biduk sekarang menjadi Kecamatan paling selatan wilayah pantai Kabupaten Berau Pesisir Selatan. Di Kecamatan Biduk-Biduk terdiri dari Kampung Teluk Sumbang, Kampung Teluk Sulaiman, Kampung Giring-Giring, Kampung Biduk-Biduk, Kampung pantai Harapan, dan kampung Tanjung Perepat dengan masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala kampung.
Sebelum kita melanjutkan kisah Biduk-Biduk, baik kita sedikit mengenali Kampung Giring-Giring. Panjang kampung Giring-Giring mengikuti pesisir pantainya kurang lebih dua kilometer. Sepanjang kiri kanan jalan yang dilewati adalah pohon kelapa yang subur dengan berbuah lebat. Sebagian pantainya terbuka, ketika ombak besar datang gelombangnya langsung menghantam pantai yang ditumbuhi pohon kelapa, sebagian lagi pantainya masih ditumbuhi pohon bakau. Di daratan pesisir pantai Giring-giring itu dahulu banyak ditumbuhi rerumputan yang kembangnya atau buahnya berbulu panjang seperti binatang laut bulu babi. Buah rumput itu bebulu tebal sekelilingnya seperti bulu landak namun buahnya tetap kelihatan pada sela-sela bulunya itu. Buah yang lucu dan bagus itu ketika kering menjadi ringan dan berjatuhan ketanah. Buah-buah itu bergulingan saat dihembus angin kesana kemari mengikuti arah angin, nama buah rumput itu adalah  Giring-Giring, oleh karena itu sejak dahulu nama kampungnya di kenal dengan nama Giring-Giring.
Penduduk asli Giring-Giring tidak berbeda dengan Kampung Teluk Sulaiman yaitu suku Bajau, orang yang pertama tinggal disana adalah Si Lawang atau dipanggil Ma’ Tandawan. Si Lawang tinggal disana sebagai nelayan dan sekaligus membuka perkebunan kelapa, kemudian hari berdatangan orang-orang dari Sulawesi Tengah, akibat daerah mereka diganggu oleh gerombolan. Orang-orang dari Sulawesa Tengah itu sekitar 50 kepala Keluarga. Mereka bermukim di Giring-Giring  tidak lama, setelah daerah mereka dikabarkan aman dari gerombolan, mereka kembali ketanah asalnya. kedatangannya pada tahun 1959, lima tahun kemudian tepatnya pada tahun 1965 mereka kembali. Selama lima tahun itu orang-orang dari Sulawesi Tengah sempat bergaul dan membaur dengan suku Bajau yang tinggal lebih dahulu disana. Pada tahun 1940 Ma’ Tandawan pindah bersama beberapa orang kawan dan kerabatnya ke Labuan Pinang untuk membuka lahan perkebunan baru.
Demikian sekilas Giring-Giring dimasa lalu, sekarang kita kembali ke Biduk-Biduk. Rantau itu sebelumnya belum memiliki nama seperti sekarang. Nama Biduk-Biduk berasala dari nama perahu kecil yang disebut orang dulu dengan Biduk. Karena ada beberapa buah, maka kata Biduk itu disambung menjadi Biduk-Biduk yang berarti menyebutkan lebih dari satu perahu-perahu atau Bidu-Biduk. Ceriteranya begini. Pada penghujung tahun 1800-an tempat itu sangat sepi, daratannya masih hutan belantara yang sangat lebat, tetapi di Pulau Kaniungan Besar danTanjung Buaya sudah ramai orang berusaha dan banyak penduduknya. Masyarakat yang ada di Tanjung Buaya dan Pulau Kaniungan itu sering saling mengunjungi, baik dalam rangka silaturahmi, acara pesta perkawinan, atau berbelanja keperluan sehari-hari. Mereka menggunakan perahu atau kapal layar. Mengetahui hal tersebut para perompak suku Balangingi dengan kapal besarnya bersembunyi di-lupak semacam danau yang pada saat air laut surut tempat itu masih penuh air. Lupak itu berada persis bertentangan dengan SD Negeri Biduk-Biduk, dilaut itu dan bersembunyi di lupak itu orang Balangingi bersembunyi. Dari sana mereka mengejar perahu atau kapal-kapal yang melintas. Mereka mengejar dengan kapal besarnya yang diiringi oleh beberapa buah biduk atau biduk-biduk milik perompak. Sejak saat itulah rantau yang belum punya nama itu menjadi punya nama, dikenal dengan nama Biduk-Biduk. Oleh setiap orang yang melintasi daerah itu menyebutnya wilayah sekitar Lupak itu Biduk-Biduk.
Beberapa waktu kemudian perompak suku Balangingi itu pergi tidak pernah kembali lagi setelah dilakukan pembersihana oleh Punggawa Tokke bersama anak buahnya. Setelah aman, baru ada orang yang berani singgah dirantau Biduk-Biduk, pada tahun 1905 sampai 1910 suku Bajau yang dikenal dengan nama Si Kapang atau Ma’ Jababa tinggal dan berkebun disana, kemudian hari disusul oleh orang-orang dari Pulau Kaniungan. Melihat wilayah baru itu sangat luas, subur, dan cocok untuk perkebunan kelapa, maka berdatanganlah orang-orang dari Sulawesi Tengah juga membuka perkebunan di Biduk-Biduk.
                                 foto : Disbudpar
SEPANJANG KIRI KANAN JALAN DI HIASI DENGAN POHON KELAPA YANG TINGGI MENJULANG

Disekitar Biduk-Biduk pantainya sangat indah nyaman dipandang mata, pasirnya putih jauh sampai kelaut, saat air laut surut pantai itu sampai lima ratus meter jauhnya. Saat air pasang  gelombangnya berkejaran menghamtam dan pecah dipantai. Sepanjang pesisir pantainya ditumbuhi pohon kelapa bersambung dengan  Giring-Giring terus sampai di Teluk Sulaiman. Batas antara Biduk-Biduk dengan Giring-Giring ada gunung, disana pada tahun 1934 didirikan pesanggrahan atau rumah peristirahan sekaligus tempat menikmati laut Biduk-Biduk oleh Belanda. Orang-orang Belanda pada saat itu setiap datang ke Biduk-Biduk tinggal di pesanggrahan.
Pada tahun 1945 penduduk Biduk-Biduk baru 610 jiwa mulai batas Teluk Sulaiman, Giring-Giring, Biduk-Biduk, Bangkuduan, Labuan Kelambu sampai sungai Lempot. Pada tahun 1935 sudah berdiri sekolah rendah sampai kelas III yang dikenal dengan nama Volk School. Tahun 1957 berdiri Sekolh Rakyat yang kemudian berubah menjadi Sekolah Dasar Negeri Biduk-Biduk dan pada tahun 1958 berdiri Madrasyah Ibtidayah Darul Dakwah Al Irsyad (MI DDI) Cabang Biduk-Biduk dari Pare-Pare. Sejak berdirinya Volk School, SD, dan MI DDI pendidikan masyarakat Biduk-Bidyuk dan sekitarnya semakin maju. 
Pada masa penjajahan Belanda Biduk-Biduk dan sekitarnya tidak banyak yang dapat diceriterakan, tetapi pada masa penjajahan Jepang yang sebentar itu banyak kisah yang sangat menyayat dan menyedihkan. Pada tahun 1943 banyak orang-orang dewasa dan tua-tua yang ditangkap oleh laskar Jepang termasuk tokoh-tokoh masyarakat yang tinggal di Pulau Kaniungan Besar. Mereka ditangkap dan kemudian diangkut ke Balikpapan untuk diadili dan seterusnya dipenjarakan dengan tuduhan memberi bantuan makanan kepada tentara sekutu. Alasan itu diperkuat dengan seringnya masyarakat sekitar bepergian dan berlayar ke Sulawesi Tengah untuk menjual hasil perkebunan dan hasil nelayan, sekembalinya dari sana membawa barang pokok untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari. Dalam perjalanan pulang pergi melintasi selat Makassar para nelayan dan pendagang itu sering bertemu dengan kapal selam sekutu. Namun mereka tidak pernah bertemu langsung dengan tentara sekutu tersebut. Karena mereka adalah nelayan dan membawa kebutuhan sehari-hari tidak pernah diganggu oleh kapal selam sekutu. Disebabkan oleh  ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan ingin mencari muka dengan laskar Jepang, mereka dilaporkan dan fitnah orang-orang yang tidak disukai. Sepanjang pesisir pantai selatan ada 50 orang orang yang di tangkap lascar atau tentara Jepang dan diangkut ke Balikpapan, hanya 10 orang diantara mereka yang bisa kembali dengan cara melarikan diri dari penjara Jepang di Balikpapan, pelarian itu dilakukan dengan cara berperahu kecil dan berjalan kaki dari Balikpapan menuju Samarinda, dan dari Samarinda berlayar menuju Biduk-Biduk dan sekitarnya. Dengan demikian perasaan sedih dan perasaan benc, dendami terhadap laskar Jepang sangat mendalam.
Pada tanggal 17 Agustus 1945  di Pegangsaan Timur 56 Jakarta kumandangkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang terdengar secara samar-samar di Radio. Sejak itu masyarakat pantai sudah mengetahui Indonesia sudah Merdeka. Berita itu menjadi perbincangan dimana-mana, dikebun kelapa, dipantai, dipemancingan, diwarung dan lain-lain. Walaupun mereka banyak yang belum paham apa itu merdeka, nyatanya tentara Jepang masih dengan pongahnya. Mereka mengartikan kemerekaan adalah bebasnya mereka dari penjajahan, mereka pergi berlayar menuju ke Berau (Tanjung Redeb), ke Tarakan, ke Samarinda, ke Sulawesi Tengah, ke Kaniungan, ke Tanjung Buaya, ke Labuan Pinang aman tidak ada yang merampok atau menahan mereka yang tidak bersalah, kebutuhan sehari-hari tersedia irulah sebuah kemerdekaan yang hakiki.
Pada tanggal 25 Agustus 1945 jam lima subuh datanglah tiga orang tentara Jepang dengan menggunakan perahu kecil yang dibawa oleh Kiyama dan si Doyang penduduk Labuan Pinang. Semula mereka merapat di Giring-Giring membawa tiga orang tentara Jepang yang sedang tinggal dan menjaga serta mengawasi di lampu suar Tanjung Mangkaliat sebagai basis penjagaan keamanan Tanjung Mangkaliat dan Selat Makassar. Di ketahui wilayah itu sering terlihat munculnya kapal selam sekutu kepermukaan laut yang dapat sewaktu-waktu menghantam kapal milik Jepang yang melintasi wilayah itu, lampu suar atau mercu suar di Tanjung Mangkaliat sebagai patokan utama menuju keberbagai arah dan tujuan, seperti ke Tarakan, ke Samarinda, ke Balikpapan, dan ke Sulawesi Tengah.
Tiga orang tentara Jepang itu adalah Mizukami sebagai komandan, Morakami sebagai anggota, dan Hatano sebagai penghubung. Ketiga orang tentara Jepang yang didampingi dua orang dari Labuan Pinang dari Giring-Giring berjalan menuju Biduk-Biduk. Di Biduk-Biduk bertemu dengan Muhammad Bakri Japar yang baru beberapa hari melaksanakan pesta pernikahan. Ketiga tentara itu diterima dengan baik dirumah yang masih berhias setelah melaksakan pesta. Yang sangat mengejutkan bagi Muhammad Bakri pada percakapan itu adalah permintaan tentara Jepang itu. Tentara memberitahukan kepada Bakri tentang keinginannya mengumpulkan wanita-wanita, lalu diperintahkan kepada mereka untuk segera menyingkir atau mengungsi ketempat yang dianggap aman karena tentara sekutu selalu datang dan akan menyerang. Hanya yang membuat telinga M. Bakri sakit adalah setelah wanita semua berkumpul, tentara Jepang itu akan memilih wanita yang muda dan cantik untuk digauli seperti suami istri, sedang M. Bakri baru melaksanakan pesta pernikahan dengan seorang gadis cantik Hapidah namanya. Setelah diberikan tempat rumah untuk beristirahat ketiga Jepang yang kelelahan naik perahu dari Tanjung Mangkaliat itu sudah tertidur. Kesempatan itu digunakan oleh M. Bakri Japar untuk menghabarkan kepada rekan-rekan. Mendenga berita tersebut suasa menjadi panas, kebencian dan rasa dendam yang telah lama mengakar dimana dahulu orang tuanya, anaknya, saudaranya, keluarganya yang ditangkap Jepang dipenjarakan di Balikpapan dan tidak kembali serta tidak diketahui dimana kuburnya menjadi beringas, marah dan darahnya mendidih. Akhirnya keputusan dari beberapa orang pemberani adalah harus dibunuh, ketiga orang tentara Jepang itu harus dibunuh bagaimanapun caranya.
Dibawah komando M. Bakri Japar para tokoh dan para pemberani itu dibagi menjadi tiga kelompok :
1.       Kelompok yang dipimpin oleh Mahmude panggilan Wa Musa, Kabak, Ketang, dan Muhammad Taib ditugasi mengikuti seorang Jepang bernama Morakami pergi kerumah yang pernah didiami oleh bekas istrinya kumpul kebo yang dulu dipaksanya untuk menemaninya. Kerumah itu untuk mencari tembakau untuk rokok, namun orang yang tinggal dirumah itu sudah lama mengungsi keluar kampung. Ketika ingin mampir kerumah yang dituju seketika itu si Kabak dengan cepat memarang Morakami, tetapi morakami selalu siap dan sigap. Dalam kesempatan yang sangat sempit itu Morakami masih sempat menghindar dari amukan parang si Kabak yang sudah kalap, telinga Morakami sempat terhiris parang yang sangat tajam. Akhirnya terjadilah perkelahian yang sangat dahsyat ditepi pantai. Sabetan demi sabetan yang dilayangkan oleh Kabak bergantian dengan  Wa Musa, Ketang dan Taib masih dapat dihindari. Morakami menghindar sambil mundur dengan sigapnya. Akhirnya orang Jepang itu semakin terdesak dan kelelahan. Si  Ketang saat ini berhadapan langsung dengan Morakami, si Jepang sempat mengeluarkan pisau lipatnya untuk mengimbangi dan melawan. Ketang lebih dahulu mengayunkan parangnya. Morakami sempat menangkis dan berusaha menangkap parang Ketang. Keduanya sempat saling tarik menarik dengan segala kekuatan., namun mata parang yang tajam itu pasti mampu melukai tangan Morakami yang terus berusaha menghindar. Pak Ketang adalah orang yang cukup berumur hapir saja tenaganya tak mampu melawan kekuatan sang tentara. Dalam suasana yang sangat genting itu teman-teman Ketang datang membantu. Morakami melepaskan parang dan lari pontang panting, dengan tangan yang mengeluarkan darah segar. Masyarakat sekitar yang telah mengetahui dan mengintai datang beramai-ramai, dengan marah yang meluap-luap menghabisi Morakami dengan parang dan kayu. Morakami tewas dipantai Biduk-Biduk dengan luka yang sangat parah, seluruh tubuhnya seperti bekas dicincang rata dari kaki sampai kepalanya luka tebas dan memar.
2.       Kelompok yang dipimpin oleh M. Bakri Japar bersama Ua’ Cilla dan Sahabuddin tinggal dirumah mengatur pembunuhan tentara lainya Hatano. Hatano kesana kemari membawa alat komunikasi, dia sebagai penghubung menyampaikan informasi maupun menerima informasi dari luar. Dirumah itu senjata mereka selalu siap yang terdiri dari senjata laras panjang dua buah lengkap dengan pelurunya, sebuah pistol juga lengkap dengan pelurunya ditambah dengan beberapa buah geranat didalam sebuah kemasan tas sejenis ransel. M. Bakri menyiapkan beberapa buah kelapa muda yang sudah dikupas dan dilubangi, pada saat  Hatano menengadah minum air kelapa pada saat itulah Ua’ Cilla beraksi. Dengan sigapnya Ua, Cilla membacok batang leher Hatano yang lengah itu. Hampir putus batang leher Hatano ditebas parang panjang Ua’ Cilla. Hatano belum mati, ia sempat mengangkat kepalanya yang sudah terkulai dengan meletakkan kembali ketempatnya semula. Dalam keadaan seperti itu Hatano masih sempat menangkap tebasan Sahabuddin. Parang Sahabuddin ditangkapnya, saat itu M. Bakri bertindak menolong sahabatnya, Hatano menyingkir keluar rumah yang tinggi itu dan tersungkur didepan tangga dengan berlumuran darah. Tiba-tiba  datang H. Abdulah menebas Hatano yang sudah tersungkur itu dengan teriakan kemarahan “inilah orang Jepang yang memakan dua orang anakku…….”. Anak H. Abdulah ditangkap Jepang pada tahun 1943 lalu dan tidak pernah kembali lagi, inilah kesempatannya membalas dendam menahun. Kesempatan genting ini dipergunakan oleh Islam Coma dan Nurudin masuk kedalam rumah yang mendapat tugas khusus yaitu segera mengambil senjata dan geranat didalam ransel, sejata dan geranat itu segera dibawa lari jauh-jauh, apabila Jepang lainnya datang mengambil senjatasudah kehilangan senjatanya.
3.       Kelompok ketiga ini dipimpin oleh Tawile Haleke alias Abdul Khalik bersama Mulia, Musa dan Abdul Fatah berjalan menuju kearah utara bersama seorang komandan Jepanag, berencana menangkap seekor kuda untuk dijadikan kendaraan. Mizukami adalah seorang penembak jitu, makanya dijadikan komandan di wilayah pantai. Dalam perjalanan tersebut berhenti tepat dihalaman rumah besar milik Pute yang sering dipanggil Wa’ Menja. Serta  merta ia menghadap kearah pantai mendengar suara teriakan dan rebut-ribut jauh dipantai. Mizukami bertanya suara apa yang didengarnya itu. Dijawab oleh mereka itu ribut-ribut orang menangkap kuda. Keempat orang yang mengiringi Mizukami tidak ada yang berani mendahului untuk membunuh Mizukami. Pada kesempatan yang tepat, sebelum Mizukami mengetahui dipantai sedang terjadi perkelahian dengan Morakami, Tuwale Haleke yang masih sakit-sakitan melayangkan parangnya ke muka Mizukami, ditangkisnya dengan kedua tangannya sangat cekatan, tetapi menangkis parang yang tajam mengakibatkan kedua tangannya luka dan mukanya juga luka. Dengan kejadian itu Mizukami langsung lari menuju kerumah dimana senjata dan geranat disimpan, senjatanya sudah tidak ada Mizukami langsung lari menuju pantai, belum sampai kepantai di hadang beberapa orang dengan parang terhunus, berbelok dan masuk kedalam sebuah gudang milik Mading. Dari dalam gudang Mizukami berusaha tenang dan menawarkan dan mengajak berdamai. Luapan amarah yang mendidih dan sudah sampai di-ubun-ubun masyarakat tidak mau berdamai. Hanya satu keinginan mereka adalah Jepang harus mati dihadapan mereka. Si Doyang yang sudah pernah belajar menembak dengan tentara Jepang, menembak Mizukami dari luar gudang, yang berada didalam gudang terkena peluru senjatanya sendiri, ia keluar dari dalam gudang untuk melawan amukan warga yang sudah meluap-luap. Akhirnya Mizukami yang sudah banyak mengeluarkan darah dan ditembus peluru merebahkan diri di pantai dan menghembuskan nafas terakhirnya….mati dengan disaksikan orang sekampung, disaksikan langit, disaksikan pantai dan laut yang luas. Yang patut diteladani dari tentara Jepang itu adalah tidak ada kata menyerah, dan harus melawan walau sampai  ajal menjemputnya. Sedangkan keberanian orang-orang Biduk-Biduk juga patut mendapat penghargaan, dengan bersatu padu mereka dapat membantai tentara Jepang yang terlatih dan ahli menggunakan senjata, namun atas siasat M. Bakri Japar dan kawan-kawan ketiga tentara Jepang itu lengah dan meninggalkan senjatanya dirumah tempat mereka beristirahat.
Peristiwa bersejarah itu dimulai jam 11.00 waktu setempat sampai dengan jam 14.00. selama tiga jam itu terjadi pergumulan rakyat Biduk-Biduk membunuh tiga orang tentara jepang di tanggal 25 Agustus 1945 jatuh dibulan Ramadhan. Ketiga orang Jepang itu dikuburkan ramai-ramai di halaman rumah M. Bakri Japar. Pada saat yang bersamaan pulau Balikukup dijadikan tempat pengungsian dari daratan Talisayan, Batu Putih, Tanjung Perepat, Pantai Harapan, Biduk-Biduk dan sekitarnya. Menreka sengaja mengungsi ke pulau Balikukup, tentara Jepang tidak berani melaut sebab tentara sekutu datang dan menyerang tentara dan kapal-kapal Jepang dari laut.

7.       LABUAN CERMIN
Nama Labuan Kelambu sejak tahun 1915 sudah sangat dikenal dikawasan pesisir selatan Kabupaten Berau. Mengapa sangat dikenal sejak dahulu, karena tempat itu adalah tempat yang sangat aman untuk berlabuhnya kapal-kapal nelayan, sungai kecil tetapi airnya dalam. Air tawar  yang berlimpah tersedia tidak jauh dari tempat mereka berlabuh. Walaupun disadari tidak semua orang mampu membawa kapalnya masuk kedalam sungai Labuan Kelambu itu. Waktu air laut surut muara sungai Labuan Kelambu dangkal, sedangkan waktu air laut dalam kapal yang masukpun bisa kandas dimuara apabila belum mengenal alur masuk muara sungai.
Pada dekade tahun 1900-an perkebunan kelapa adalah idola, semua orang yang tinggal dipesisir dan pulau-pulau ingin memiliki kebun kelapa yang luas. Disamping cocok ditepi pantai, nilai jual buah kelapa dan kelapa olahan menjadi kopra pada masa itu sangat tinggi dan menguntungkan. Tergiur untuk memiliki kebun yang luas masyarakat  yang tinggal di Pulau Kaniuangan Besar pada tahun 1908 mencari lokasi baru untuk berkebun. Akhirnya mereka menemukan sungai kecil yang  dalam dan indah sekali. Tepi sungai yang ditumbuhi pohon bakau, pohon perangat yang buahnya boleh dibuat sambal, dan banyak pohon nipah yang daunya bisa dijadikan atap dan dinding rumah. Daun Pohon bakau dan daun perangat bertemu dari tepi seberang dengan tepi seberangnya membentuk goa dalam sungai. Dihulu sungai yang tidak terlalu jauh ada sumber air tawar yang sangat besar menjadi pilihan. 
Awalnya dahulu sungai kecil itu banyak nyamuk dan agasnya. Setiap yang tinggal dan tidur ditempat itu harus pakai kelambu. Masuk kedalam sungai ditemukan hamparan air yang berbentuk danau, didanau itu ada dua pulau kecil, bentuknya seperti kelambu. Oleh orang Kaniungan yang datang ketempat itu mereka beri nama Labuan Kelambu. Sejak tahun 1911 Labuan Kelambu dan rantau sekitar sungai Labuan Kelambu sudah didiami orang-orang yang berasal dari Pulau Kaniungan, kemudian hari secara berangsur-angsur yang lainnya menyusul, dan akhirnya menetap disana. Setahun kemudian tepatnya pada tahun 1912 Labuan kelambu resmi menjadi ibu desa hingga tahun 1937. Pada tahun 1938 dipindahkan ke Biduk-Biduk dengan alasan meletakkan ibu desa ditengah-tengah antara Labuan Kelambu dengan Teluk Sulaiman. Pusat Desa di Labuan Kelambu pada tahun 1912 sampai dengan tahun 1937 disetujui oleh Sultan Sambaliung dan Hindia Belanda yang berkedudukan di Tanjung Raddab. Perpindahannya ke Biduk-Biduk sejak tahun 1938 itu juga atas restu Sultan dan Pemerintahan Belanda.
Sungai Labuan Kelambu dibuka pada tahun 1908 masih kecil dan sempit, namun airnya dalam untuk berlabuh perahu dan kapal nelayan. Setelah sekian lama tepinya banyak tergerus dan semakin melebar. Beberapa bangunan rumah dan sebuah mesjid diatasnya telah punah tergerus air sungai yang semakin melebar.  Sampai saat ini Labuan Kelambu masih menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal nelayan, dalamnya sungai mencapai sepuluh meter saat air laut pasang. Sungai itu tidak pernah banjir, sebab dibagian hulu sekitar satu kilometer sungai habis tertutup gunug, sungai itu masuk kedalam lubang batu karang  yang dikenal dengan sumber air tawar bersih dan bening. Sekitar gunung  itu ditumbuhi hutan yang lebat. Air disana bercampur antara air laut yang asin dan air tawar yang keluar dari mata air, dikenal dengan air dua rasa. Air asin, air laut itu masuk saat air laut pasang. Ketika air laut surut sumber air itu benar-benar tawar dan bisa diminum langsung. Sumber air dua rasa sangat bening dan bersih, istilah kata jarum dijatuhkan kedalam air sampai sepuluh meter dalamnya jarum masih kelihatan. Ketika kita melihat kebawah air  seperti cermin, bayangan terlihat dengan terang, tempat itu dikenal dengan nama Labuan Cermin.
               foto : Disbupar
LABUAN CERMIN DENGAN LATAR BELAKANG HUTAN BAKAU, POHON KELAPA, JEMBATAN, DAN KAMPUNG LABUAN KELAMBU
Di-Labuan Cermin memilki tiga mata air sebagai sumber air tawar yang mengalir keluar dengan deras dengan tidak mengenal waktu dan musim. Musim hujan atau musim kemarau sumber air tetap keluar dengan deras, ia adalah sungai didalam batu dibawah gunung Labuan Cermin. Ditengah air yang luas seperti sebuah danau itu banyak ikan yang berenang kesana kemari, bahkan ada yang bergerombol ribuan ekor. Ketika ikan-ikan itu berenang layaknya seperti pasukan yang berbaris rapi dengan satu tujuan yang pasti. Saking bersih dan beningnya air  Labuan Cermin wajah atau bayangan kita dapat terlihat dengan jelas dipermukaan air…aha…ya saking bersih dan beningnya itu….. Di danau Labuan cermin ada dua pulau kecil laksana delta yang mengonggok mengakar dikedalaman danau Labuan Cermin. Pulau itu pulau batu kars sejenis batu karang yang sama seperti gunung debelakang danau sebagai latar belakang. Labuan Cermin sudah masuk dalam destinasi wisata nasional yang unik dan bernilai khusus serta spesial yang wajib dikunjungi oleh setiap wisatawan yang datang di Kabupaten Berau Kalimantan Timur.
Digunung Labuan Cermin yang menjadi latar belakang danau Labuan itu ditumbuhi oleh berbagai jenis pohon yang sangat kuat dan keras, tumbuh dengan kuat diatas batu gunung kars. Dibagian lain ada jenis tumbuhan yang merambat seperti berbagai jenis rotan dan rumput liar perambat lainnya. Disana juga ada berbagai jenis ular, beberapa jenis jamur, monyet, anggrek, dan palem.  Ada yang lebih mengagumkan lagi digunung itu  ada danau air tawar yang cukup luas. Menuju  danau diatas gunung, melintasi hutan lebat dan rapat, harus berhati-hati tempat yang kita injak adalah batu karang yang keras, licin, dan tajam, makanya untuk tracking disana disarankan  menggunakan alas kaki yang baik dan kuat agar pada saat terpeleset kaki tidak digores oleh batu karang yang tajam tersebut. 
Pada bulan Desember tahun 2012 pengunjung yang datang ke Labuan Cermin, Teluk Sulaiman, Danau SiGending, dan Pulau Kaniungan lebih 1.000 orang, walaupun jaraknya dari kota Tanjung Redeb Kabupaten Berau tidak kurang dari 250 Km, tempat itu memang patut didatangi dan sangat menantang. Labuan Cermin adalah syurga yang hilang kini ditemukan kembali. Waw……Labuan Cermin tahun 2013  menjadi idola untuk dikunjungi setiap orang……..ayo kita berangkat……..
 




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar