Rabu, 15 April 2015

KISAH BATU SIKUNTUM TAKLAMUN DARI KAMPUNG MERANCANG ULU



KISAH
BATU SIKUNTUM TAKLAMUN

 oleh : Saprudin Ithur

I. KAMPUNG MARANCANG ULU
Dinihari dinginnya menusuk sampai sum-sum, tidak bisa lagi tidur telentang meluruskan kaki dengan kencang. Dingin yang menusuk sampai kedalam sum-sum itu, membuat tidur sang manusia tambah pulas, tetapi dengan bersedekap merapatkan kaki merapat kepaha, dan merapatkan lutut sampai kedada. Tidur dengan miring, tubuh dikecilkan dada merapat dengan lutut, ujung kaki ditarik sampai rapat dibelakang paha. Dengan demikian tubuh terasa lebih hangat. Apapun selimutnya tidak perduli yang penting dapat mengusir dingin, dan tidurnya tambah lelap. Amboi begitulah dinginnya membuat semua orang lelap sepanjang malam, lupa dengan matahari yang sudah mengintip disela-sela dedaunan dan masuk kedalam rumah kecil ditepi sungai yang berdindingkan kajang terbuat dari daun nipah. Dipagi hari seperti itu embun menumpuk-numpuk, ada yang merangkul pohon setinggi enam meter daunnya lebat dan membundar. Embun membungkus pohon subur itu, Nampak dari kejauhan seperti bundaran salju putih yang membentuk gunung kecil. Sedangkan daun-daun pohon rengas itu tidak nampak, sudah  dibungkus embun dipagai hari. Kumpulan-kumpulan embun dipagi hari yang menumpuk di sana-sini itu disebut orang Barrau Karang Ambun. Karang ambun atau tumpukan embun dipagi hari tersebut masih ada sampai sekarang, tetapi tidak seindah dulu lagi, tidak sebanyak dulu lagi. Munculnyapun sangat jarang, kecuali saat pagi hari yang terasa dingin sekali, matahari pagi yang ingin keluar ditutupi embun. Nah saat itulah dapat melihat tumpukan-tumpukan embun yang dikenal dengan Karang Ambun itu.
Kampung Marancang Ulu salah satu Kampung yang sangat tua, Kampung Marancang Ulu sudah dihuni manusia lebih dua ratus tahun. Dibuktikan dengan banyaknya makam-makam tua yang masih menggunakan nisan-nisan batu asli dipemakaman umum Kampung Marancang Ulu. Pemakaman umum itu berada persis dibagian hulu kampung, diatas bukit yang tidak terlalu tinggi pas berada ditepi sungai Marancang. Sejarah Kerajaan Berau yang berdiri sejak tahun 1400 M juga menyebut nama Marancang dengan sebutan Banua Marancang. Disebut Banua berarti penduduknya banyak dan lebih ramai dari perkampung yang ada di Rantau-Rantau. Yang mendiami kampung Marancang Ulu asli orang Banua atau orang Berau.
Kerajaan Berau yang berdiri pada tahun 1400 berkedudukan di sungai Ullak, didalam sungai Lati. Sedangkan air sungai Lati tumpah ruah masuk ke sungai Berau yang juga dikenal dengan nama sungai Kuran. Dari sungai Berau airnya menyusur terus kehilir tidak kurang dua puluh kilo meter sampai ke muara dan menyatu dengan air laut yang asin. Raja pertama kerajaan Berau adalah Baddit Di Pattung dengan gelar Adji  Surya Natakesuma, permaisurinya Baddit Di Kurindan dengan gelar Adji Parmaisuri. Raja Adji Surya Natakasuma memerintah degan arif dan bijaksana. Selama 34 tahun memerintah, kerajaan Berau dulu yang hanya membawahi lima Banua dan dua Rantau semakin luas wilayahnya. Dahulu belum ada Kesultanan Bulungan dan Kesultanan Tanah Tidung, wilayah itu semua dikuasai kerajaan Berau. Kerajaan Berau yang makmur dan semakin meluaskan wilayahnya sampai di Kina Batangan berbatasan dengan Suluk, wilayah selatan sampai Tanjung Mangkalihat berbatasan dengan Kerajaan Kutai, sedangkan lautnya berbatasan dengan selat Sulawesi.
Kedudukan kerajaan Berau di sungai Ullak Rantau Pattung, tidak terlalu jauh dengan Kampung Marancang Ulu. Begitu keluar dari sungai Ullak masuk sungai Lati, dari sungai Lati keluar menuju sungai Barrau. Dari muara sungai Lati kehilir mengikuti sungai hanya sekitar empat kilo meter sudah sampai di Kampung Marancang Ulu. Dari Kerajan Berau pada masa itu Banua Marancang sebagai Banua yang terdekat dengan pusat Kerajaan. Wilayahnya sangat subur, dibelakang kampung tanah datar yang sangat luas untuk dijadikan lahan pertanian pasang surut.
Kedudukan pusat Kerajaan, Banua dan Rantau semuanya berada di bibir sungai dan bibir pantai. Sungai adalah kehidupan, sungai adalah urat nadi, karena sungai satu-satu sebagai alur jalan raya untuk menghubungkan pusat Kerajaan dengan Banua dan Rantau lainnya. Sedangkan laut sebagai penghubung wilayah lain diluar kerajaan seperti ke Kerajaan Suluk di Filipina Selatan, Kerajaan Berunai, kerajaan Kutai di sungai Mahakam, dan beberapa kerajaan di Makassar.
Hubungan dagang yang saling menguntungkan berjalan dengan baik, persahabatan terjalin dengan baik, kapal-kapal dagang masuk dan keluar hilir mudik, perahu-perahu layar Bugis juga tidak ketinggalan, kapal dari negeri yang sangat jauh juga datang membawa dagangan seperti gerabah, tempayan, lesung, cobek, sejenis porselin, manik-manik, dan gong. Barang tersebut pada masa itu adalah barang yang sangat mewah dan mahal. Gerabah, tempayan, guci porselin, manik-manik dijadikan barang yang terhormat. Bagi orang Dayak barang itu sangat dihormati, waktu mati dimasukkan dalam peti mati. Gong dan tempayan yang berusia ratusan tahun jadi pusaka yang sangat dihormati pula. Kemudian semakin maju muncullah barang-barang seperti piring, mangkuk kecil dan besar, talam dari kuningan, ceret dan peralatan rumah tangga dari serba kuningan.
Kampung Marancang Ulu sampai saat ini masih bertahan dan masih ada, walaupun pertumbuhan dan kemajuannya diakui masih lambat. Penduduknya sangat ramah, dan siap menerima kedatangan tamu dari mana saja. Dari kota Tanjung Redeb Berau hanya empat puluh kilo meter saja. Dapat dijangkau dengan naik kendaraan roda dua ataupun roda empat, tetapi bagi yang ingin menikmati alam melalui jalur sungai juga bisa dengan menggunakan perahu bermesin ketinting atau boat. Pada tahun 2014 diujung Kampung Marancang Ulu dibangun sebuah jembatan untuk menyeberang ke Kampung Pulau Besing. Tujuan dibangunnya jembatan tersebut adalah upaya untuk memutuskan mata rantai kata “Kampung Pulau Besing terisolir”. Sekaligus menjadikan Kampung Pulau Besing sebagai sentera produksi Udang Galah dan udang sungai lainnya, dan sebagai destinasi wisata monyet Bekantan. Pertengahan tahun 2015 jembatan yang menghubungkan Kampung Marancang Ulu dengan Kampung Pulau Besing sudah dapat dipergunakan.
     
II. BERBURU
Mata pencaharian orang-orang dulu di kampung-kampung pada umumnya adalah berkebun, mencari hasil hutan, berburu, dan nelayan. Yang tinggal jauh dipedalaman tentu mata pencaharian utamanya adalah berkebun, menanam padi gunung atau menanam padi dilahan kering dengan cara menugal, mencari hasil hutan, dan berburu. Sesekali untuk kebutuhan mereka memancing ikan disungai atau didanau terdekat. Yang berdomisili dekat dengan laut, mereka menjadi nelayan mencari ikan dilaut. Yang tinggal disekitar sungai Kuran atau sungai Berau, mereka berkebun, menanam padi sawah pasang surut, mencari hasil hutan, nelayan disepanjang sungai Berau, dan berburu.
Sungai Berau sangat menjanjikan, selain airnya melimpah dengan lebar sungai yang cukup luas, kaya dengan ikan-ikanan seperti ikan patin, ikan baung, ikan kuntabi, ikan lais, ikan salap, ikan saluang, ikan palau, ikan jallau, dan udang sungai. Berbagai jenis udang, ada buntali, tampasik, udang batalur, dan udang galah. Dipedalaman ada ikan patin, ikan salap, ikan sappan, ikan baung, ikan munjuk dan lain-lain. Di sungai Kuran atau sungai Berau sampai nun kepedalaman juga banyak dihuni buaya, ular, bulus, dan kura-kura.
Kalau ingin makan daging dengan puas, maka satu-satu cara harus berburu, memasang perangkap, atau memasang jerat. Yang paling mudah tentu dengan berburu binatang didalam hutan.  Masuk hutan belantara yang sangat luas. Dihutan tersedia binatang seperti kijang, pelanduk (kancil), payau (rusa), babi, landak, banteng, badak. Dihutan Berau tidak ada binatang buas, yang ada hanya Beruang, Rimaung daan (macan dahan), ular sawa (piton), dan berbagai jenis ular berbisa. Dipohon tersedia berbagai jenis monyet, seperti lutung, uat-uat, bekantan, bangkui (beruk), orang utan, siamang, monyet berjambul, monyet merah (kelasi), berangan, kawitan, tupai, kucing hutan, kukang.
Kegiatan berburu pada umumnya menangkap pelanduk, kijang, payau, dan landak. Keempat binatang buruan itu dagingnya dimakan semua orang, oleh karena itu menjadi binatang buruan yang diidolakan. Beda dengan babi, ular, monyet, dan rimaung daan, yang suka makan dagingnya hanya orang-orang tertentu saja. Sedangkan banteng dan badak adalah binatang yang sangat besar dan bertenaga sangat kuat, makanya tidak semua orang mampu melawan dan menangkapnya. Setiap berburu yang paling diincar pasti pelanduk, kijang, payau, atau landak.
Amma Usin yang tinggal di Kampung Marancang Ulu pagi-pagi sekali berangkat berburu dengan membawa lambutan (lanjung/anjat). Lambutan selain tempat membawa hasil buruan juga bisa menjadi tempat berbagai jenis buah-buah yang didapat ditengah hutan. Membawa lambutan dengan cara digendong dibelakang menggunakan tali yang dimasukkan melalui kedua belah tangan dan kedua talinya disangkutkan dibahu seperti menggendong ransel. Senjatannya, Amma Usin membawa Mandau dan tombak, didampingi beberapa ekor anjing pemburu yang terlatih. Anjing-anjing itu paham benar bagaimana cara mengepung binatang buruan seperti pelanduk, kijang dan payau. Begitu ia mengendus bau buruannya, anjing-anjing tersebut langsung pergi dengan berpencar mendekati tempat binatang buruan. Begitu ditemukan dikejar dan disalaknya dengan keras, pada kesempatan tertentu anjing-anjing itu langsung menerkam dan menerjang binatang buruan. Binatang buruan seperti pelanduk (kancil) dan Kijang langsung dapat ditangkapnya. Dengan setia anjing-anjing itu menyerahkan hasil buruan kepada tuannya. Tuannya pun mengerti kepada anjing pemburu kesayangannya. Daging perut yang penuh lemak diiriskannya selebar-lebar telapak tangan dibagikan masing-masing kepada anjingnya. Anjing-anjing itu memakan dengan lahap, seiris itu sudah membuat mereka kenyang.
Tapi kali ini berbeda yang dirasakan Amm Usin, berburu dengan membawa lambutan, tombak, dan Mandau sudah jauh berjalan, telah mulai terasa lelah kaki melangkah, belum juga anjing-anjing mengendus binatang buruan. Tapi ia sabar saja, berjalan terus, berusaha terus sampai menemukan binatang buruan. Seekor pelanduk sekalipun tidak masalah, yang penting ada hasil, yang penting ada yang dibawa pulang……. Tiba-tiba anjingnya mulai menyalak, hatinya sumringah. Mudah-mudahan binatangnya didapatkan. Amma Usin berusaha memperhatikan suara gonggongan anjingnya. Kenapa anjing menyalak tidak pergi kemana-mana, menggonggongnya, suaranya kenapa tidak berpencar. Apa binatangnya sudah didapatkan ? apakah binatang yang didapat besar sekali ? sampai anjing-anjingku tidak bisa membawa kehadapanku. Waaahhh….jangan-jangan……seharusnya binatang buruan itu lari terbirit-birit ketakutan begitu melihat anjing pemburu yang siap menyerangnya. Kemudian anjing-anjing itu mengejar kesana kemari, mengikuti jejak langkah binatang buruan yang lari kencang berbelok-belok menghindari gigitan anjing. Untuk melumpuhkan buruannya, anjing-anjing pemburu milik Amma Usin itu menggigit punggung dan pipi pantat. Setelah kelelahan yang memuncak ditambah dengan sakit luka gigitan anjing, akhirnya binatang buruan semakin kendor larinya, semakin mudah melumpuhkannya…… tapi anjingnya menyalak tidak kemana-mana, tidak berlarian mengejar kesana kemari, tapi gonggongannya tidak berhenti bahkan semakin keras dan kencang. “Binatang apa yang didapat anjing-anjing itu…..” tanya Amma Usin dengan heran.
Amma Usin langsung pergi mendekati anjing-anjing yang masih menggonggong tidak berhenti itu. Cukup  jauh memang, harus melintasi satu bukit, dipuncak bukit berikutnya. Dipuncak bukit itu ada tanah datar selebar lapangan bola. Seluas mata memandang terlihat dengan jelas. Hutan itu sangat lebat, hampir sulit sinar matahari menerobos dedaunan yang tebal, tetapi dibawah pohon-pohon besar dan raksasa itu lengang dan bersih. Ujung tanah datar dipuncak bukit itu dapat terlihat dari sela-sela pohon-pohon yang tidak beraturan. Pohon-pohon besar tiga kali bahkan sampai lima kali besar derum itu tumbuh dengan kekar dan kuat, pohonnya lurus mengjulang tinggi. Ada yang dua puluh meter, ada yang tiga puluh meter, bahkan ada yang lebih tinggi lagi. Pucuk-pucuk pohon besar itu saling berebut tinggi untuk mendapatkan sinar matahari langsung. Mencintai alam berarti mencintai hutan, mencintai hutan berarti mencintai udara segar, udara segar sebagai paru-paru dunia…oleh karena itu hutan tidak boleh ditebang semua untuk dijadikan lahan perumahan, lahan perkebunan, lahan pertambangan, dan lahan pertanian. Hutan milik kita yang harus kita jaga dan kita lestarikan. Manusia sangat membutuhkan hutan yang hijau ranau untuk kehidupan dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk Tuhan lainnya.
Ketika Amma Usin sudah sampai, anjingnya masih menggonggong, tetapi tidak ada binatang yang didapatnya “mangapa dangkita ribut saja ini….bakaya salak dangkita….cadada anu dangkita dapai” (mengapa kalian ribut saja ini….bukan main menggonggong kalian….tidak ada yang kalian dapat). Kelima ekor anjing Amma Usin menggonggong sambil duduk berkeliling berhadap-hadapan, ditengahnya ada sebongkah batu sebesar telur bebek. Untuk menghentikan anjing menggonggong, cepat-cepat  ia ambil batu itu. Anjing-anjing langsung diam dan sepi, mengerti bahwa batu yang tadi digonggongnya sudah diambil. Anjing-anjing itu seperti kelelahan yang sangat, nafasnya kencang, lidahnya dijulurkan panjang, masing-masing berdiri pindah dari tempatnya semula.
Amma Usin mengamati batu sebesar telur bebek yang sudah ada ditangannya…aneh…batu apa ini…tidak seperti batu-batu biasanya. Setelah mengamati secara seksama….tetapi ia tidak mengerti batu apa, kelebihannya apa, untuk apa, kenapa anjing-anjingku menggonggong dan menungguinya sampai batu ini kuambil…….lalu batu sebesar telur bebek itu dimasukkannya kedalam lambutan yang digendongnya sejak berangkat tadi, tapi masih kosong. Batu sebesar telur bebek itulah isi pertama yang masuk kedalam lambutannya. Sepanjang jalan ia sudah lupa dengan batu yang dimasukkannya dalam lambutan. Dalam perjalanan pulang anjing-anjingnya yang pintar mampu menangkap seekor pelanduk. Dan diperjalanan sempat mendapat buah yang baunya harum dan menyengat, buah itu semacam durian…ya durian hutan namanya karatungan. Lambutannya berat dengan isi buah tersebut. Amma Usin pulang dengan gagah. Yang ia tahu keluarganya pasti senang dengan kedatangannya membawa hasil dari berburunya hari ini.
Mencarikan rezeki keluarga adalah kewajiban seorang ayah, membahagiakan keluarga adalah bagian dari kebahagiaan seorang ayah. Dengan membawa rezeki yang cukup untuk dimakan keluarga adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang ayah. Ayah atau Bapak dalam bahasa Berau disebut dengan Amma, panggilan Amma Usin berarti Bapak Usin atau pak Usin. Hurup H biasanya dalam bahasa Berau hilang, maka disebut Usin. Ada kemungkinan nama sebenarnya adalah Pak Husin yang disebut dalam bahasa Berau dengan Amma Usin. Sebutan  Rumah akan menjadi Ruma’, kata Hutan atau Hitam menjadi Uttan dan Ittam. Hurup yang biasanya hilang dalam kata Bahasa Berau antara lain hurup h, o, dan e. Hurup h otomatis hilang, sedangkan hurup o berubah menjadi u, hurup e menjadi hurup a.

III.  AMMA USIN BERMIMPI
Buah karatungan harumnya menyengat sampai menyebar jauh, tetapi uniknya ketika dibelah. Buah durian hutan itu tidak bisa dibelah atau dibuka seperti buah durian, kalau durian yang sudah masak mudah sekali dibuka dan langsung isinya siap dimakan. Buah karatungan tidak bisa dibuka seperti itu, buah karatungan harus dipotong tengahnya dengan menggunakan parang yang tajam. Setelah dipotong menjadi dua, baru isinya yang mirip dengan durian itu bisa dinikmati. Itupun isinya bersama bijinya harus dicongkel dengan jari telunjuk  dulu baru bisa disantap. Harum memang isinya, dihidung tajam menyengat, enak rasanya. Hampir mirip dengan rasa buah durian, makanya banyak yang menyebutnya buah durian hutan.
Saat memotong buah karatungan pasti ribut suaranya didapur, suara parang yang menghunjam tengah buah. Kalau belum terpotong habis, parang terjepit dengan rapat ditengah buah, oleh karena itu untuk memotong sampai habis, parang bersama dengan buah karatungan itu dihempaskan kelantai beberapa kali, dan buah karatungan baru terpotong. Hempasan beberapa kali  kelantai dapur rumah panggung itu membuat menjadi ribut, gaduh, dan terdengar sampai jauh. Tetangga mendengarnya dari jauh, pasti memotong atau membelah sesuatu yang keras seperti buah Lahung atau buah Karatungan.
Setelah buah karatungan dikeluarkan dari lambutan, seekor pelanduk juga dikeluarkan dari lambutan. lambutan dalam bahasa Banjar dikenal dengan Lanjung itu, tapi batu sebesar telur bebek tidak dikeluarkan dari lambutan. Lambutan langsung digantung oleh Amma Usin ditempat ia biasa menggantung lambutannya. Tempat menggantungnya sudah tersedia, selama tergantung disana lambutan tidak kena hujan dan tidak kena panas, tempatnya teduh, masih dibagian dalam rumah sederhana milik Amma Usin bersama keluarganya.
Pelanduk atau kancil sebesar anak kambing langsung dikuliti, isi perutnya dikeluarkan. Paha kaki depan dan paha kaki belakang langsung dipisahkan dari tubuhnya, dipotong-potong hingga mudah dimasukkan dalam panci, tubuh pelanduk juga dipotong dengan rapi. Daging pelanduk yang lembut itu sebagian dibakar, dan sebagian lagi direbus ditambah dengan bumbu secukupnya. Siap sebagai lauk santapan makan malam. Tidak lupa tetangga dan keluarga dekat juga dapat bagian serba sedikit dari hasil buruan Amma Usin.
Perkampungan ditepi sungai itu sudah sepi, walaupun belum larut malam. Anak-anak sudah pada tidur walaupun masih pukul 20.00 malam. Kebiasaan mereka, begitu setelah selesai makan malam, siap-siap keperaduan. Kecuali malam bulan terang, anak-anak ramai bermain dibawah sinar bulan purnama. Waktu bulan gelap, jarang ada anak-anak yang bermain. Tidak jauh dari antara rumah, perkebunan dan sawah penduduk, dibelakang sana sudah hutan belukar yang lebat. Setelah melintasi hutan belukar sudah deh…masuk hutan belantara yang biasa dijadikan tempat berburunya Amma Usin.
Amma Usin bersama istri dan anak-anaknya bersiap-siap beristirahat malam. Lelah berjalan hampir sepanjang hari, Amma Usin yang baru saja berbaring langsung tertidur pulas. Menghiasi malam yang indah dan sunyi itu terdengar suara jangkrik bernyanyi, suara cacing gelang didalam tanah nyaring meningkahi, dipohon kecil dekat dengan rimbunnya pohon nipah kereriang melengkingkan suaranya yang nyaring menembus daun-daun, menembus atap kajang dan dinding kajang rumah Amma Usin. Suara kereriang, suara jangkrik, dan suara cacing gelang panjang tanpa putus-putus. Kapan ia harus bernapas dengan suaranya yang panjang itu. Ternyata napasnya tidak terganggu, suara nyaring yang keluar itu bukan berasal dari mulutnya, tetapi suaranya yang nyaring itu ditimbulkan oleh getaran, gesekan bagian perut, bagian sayap, dan bagian tubuh yang elastis. Dikejauhan suara burung hantu terdengar sekali-sekali, tetapi lama terus bersuara sambung menyambung. Ayam hutan sekali dua kali mengepakkan sayapnya dan lalu memperdengarkan suaranya yang keras, sangar,  dan menakutkan. Dilain tempat jauh sekali, suara rimaung daan (macan dahan) sesekali terdengar hilang-hilang tenggelam lampaui gunung-gunung dan hutan nan luas.
Kampung ditepi sungai yang dikelilingan hutan itu, mulai jam sebelas malam sudah dituruni embun seperti hujan gerimis. Embun merata menutupi semua permukaan. Rumah-rumah kecil ditepi sungai itu hampir-hampir tidak kelihatan tertutup embun. Malam yang larut semakin dingin. Anak-anak semua tidur miring menghadap keutara dan keselatan, menarik kedua lututnya sampai merapat dengan perut, kedua siku tangannya dirapatkan kedada dan kedua telapak tangannya digenggam merapat ke dagu. Seperti itu terasa lebih hangat. Dingin malam itu yang membuat mereka harus merapatkan tubuh menjadi pendek seperti bayi dalam rahim ibu.
Tubuh Amma Usin yang berbeda, ia tetap telentang seperti tidak merasa dinginnya malam yang menusuk sampai ketulang belulang. Hanya mulutnya yang kamat kamit. Amma Usin bermimpi bertemu dengan batu yang siang tadi ia ambil, yang siang tadi digonggong anjing, yang siang tadi ia amati dengan seksama, yang siang tadi ia masukkan kedalam lambutan, yang siang tadi sudah ia lupakan, batu sebesar telur bebek. Dalam mimpi Amma Usin, batu itu berujar “jangan mu sambarangkan aku ini, karna aku ini ada isinya….dibatu ini” batu bersama lambutan terlihat dengan jelas dihadapan  Amma Usin, batu itu memberitahukan Amma Usin melalui mimpi dengan jelas dan terang. Batu bersama lambutan masih nampak jelas dihadapan Amma Usin. Mimpi itu putus cukup lama lalu lanjutnya “aku ini nyamanya  Si Kuntum…..Si Kuntum Taklamun” (aku ini namanya Si Kuntum…Si Kuntum Taklamun).
Amma Usin pagi-pagi sekali sudah bangun, langsung membersihkan diri dan mandi di lanting tepi sungai tidak jauh dari rumahnya. Dingin embun pagi yang tebal tidak mengganggu mandi Amma Usin. Matanya segar, telinganya segar, hidungnya segar, seluruh tubuhnya segar, langsung melaksanakan perintah Tuhan. Setelah selesai Amma Usin mengadukan mimpinya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Semesta Alam. Siang harinya Amma Usin langsung mencari kain kuning. Batu sebesar telur bebek itu dibungkusnya dengan rapi menggunakan kain kuning, lalu diletakkan didalam lemari agar tidak terganggu.
Ceritera mimpi dan batu sebesar telur bebek itu menyebar keseluruh kampung dan bahkan berkembang sampai kekampung-kampung lain. Mendengar ceritera itu ada yang percaya dan ada pula yang tidak percaya….dikatakan oleh yang tidak percaya, ceritera itu hanya ceritera tahayul saja, ceritera yang tidak ada manfaatnya. Tetapi yang percaya maupun yang tidak percaya banyak yang datang kerumah Amma Usin ingin melihat secara langsung bagaimana rupa batu gaib yang ditemukan Amma Usin di tengah hutan waktu sedang berburu. Masing-masing berkesempatan untuk memegang batu itu secara langsung. Beratnya sedang-sedang saja, beratnya berkisar sepuluh kali berat telur bebek. Kenapa lebih  berat ? ya karena benda itu batu. Dilihat sepintas ya batu biasa saja, tetapi bila diamati dengan seksama batu itu seperti diukir dengan halus dan sangat rapi. Siapa yang mengukir, siapa yang meletakkan batu itu ditengah hutan, siapa pemilik batu itu? entahlah siapa yang bisa menjawabnya.

V. TIDAK PERCAYA
Beberapa tahun kemudian tersebar lagi keanehan batu bertuah Si Kuntum Taklamun. Masyarakat sekampung Marancang Ulu dihebohkan dengan berita batu itu sekarang sudah menjadi besar. yang dulu sebesar telur itik (bebek), sekarang sudah sebesar bola voly. Beratnyapun sudah berubah tidak seringan dulu lagi, sekarang sudah berat. Bagi yang percaya, orang baik, dan yang disenangi bisa dengan mudah mengangkat Si Kuntum Taklamun. Tetapi yang tidak percaya tidak bisa mengangkatnya….menjadi sangat berat….berat luar biasa.
Pada suatu hari ada beberapa orang yang tidak percaya dengan berita itu, datang kerumah Amma Usin. “masa batu sebesar bola voly saja tidak bisa diangkat…bohong itu semua….tidak mungkin….coba aku buktikan”. Berangkatlah mereka menuju rumah Amma Usin. Sesampai disana dengan pongah mereka mengatakan “kaluarkan batu attu..aku tarrus tarrang gai cada parcaya anu tahyul damitu attu…sini batu attu kuangkat maningguang” (Keluarkan batu itu…aku terus terang teman tidak percaya yang tahayul itu…. Sini batu itu ku angkat sendirian). Amma Usin sipemilik barang menerima semua yang datang dengan tersenyum dan penuh suka cita.
Apa yang terjadi, ternyata benar batu yang dikenal dengan Si Kuntum itu tidak bisa diangkat oleh si pulan, ia coba beberapa kali dengan seluruh tenaga yang ia miliki tetap tidak bisa diangkat, sampai merah mukanya. Kemudian masih juga tidak bercaya, mereka angkat berdua. Mereka angkat dengan sekuat tenaga, batu itu tetap tidak bisa diangkat. Kesal campur heran, risih campur malu terlihat diwajah mereka yang tidak percaya. Akhirnya yang tidak percaya itu geleng-geleng kepala lalu meninggalkan rumah Amma Usin dengan rasa malu ditambah dengan sejuta pertanyaan…aneh….memang aneh…..tapi…kenyataannya demikian adanya…kami tidak bisa mengangkat….benda itu hanya sebesar bola voly saja…...
Sejak diketahuinya Si Kuntum ada di Kampung Marancang Ulu, dengan segala keunikan dan keanehannya Si Kuntum Taklamun, banyak orang yang datang ke Kampung Marancang Ulu untuk melihat batu bundar berukir halus sebesar bola voly itu. Banyak yang mohon petunjuk kepada si Kuntum Taklamun untuk perjalanan hidup, pada umumnya terkabul dan berhasil. Semua itu pasti membuat orang semakin percaya dengan Batu bertuah Si Kuntum Taklamun di Kampung Marancang Ulu Kecamatan Gunung Tabbur Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur. Yang ingin melihat langsung Batu Si Kuntum Taklamunm silahkan datang……


Tanjung Redeb, 2 Agustus 2014
Dibenahi lagi Minggu, 22 Pebruari 2015

Informan : ketua Adat Kampung Marancang Ulu  Amma Syahran, tahun  2013
Saat pak Syahran berceritera didengarkan puluhan orang, semuanya membenarkan hal ikhwal ceritera tersebut.
 Yang bersangkutan diwawancarai penulis saat melakukan penelusuran Raja Pertama Berau di Sungai Ullak di Gunung Pattung tahun 2013.

1 komentar:

  1. assalamualaikum wr.wb, saya izin mengangkat karya-karya dan cerita bapak di blog ini dalam bentuk design yang akan diterapkan di baju. Jika berkesempatan boleh lihat di instagram saya pak , @etamapparelbej

    BalasHapus