Senin, 20 April 2015

NASKAH PANGGUNG "PANGADAKAN" CERITA DARI PERSEMBAHAN SAMBALIUNG



Naskah panggung

PANGADAKAN

SEBUAH RITUAL PERSEMBAHAN KERATON SAMBALIUNG



Oleh: SAPRUDIN ITHUR


P r a k a t a

T
anjung berdiri sejak tahun seribu delapan ratusan di sungai Gayam anak sungai Kelay, yang dipelopori oleh Raja Alam. Beberapa tahun kemudian Raja Alam ditangkap Belanda, karena tidak mau tunduk dengan Pemerintahan Hindia Belanda.
Perang pada saat itu tidak bisa dihindari. Pasukan Raja Alam dibantu pasukan laut Bugis  dan Suluk dengan gigih melawan dan mempertahankan wilayah kekuasaannya. Perang terjadi di antara Tanjung Mangkalihat dan Muara Lungsuran Naga. Terutama dilaut Batu Putih dan daratan Dumaring, namun akhirnya pasukan Raja Alam dapat dipukul mundur oleh Armada Laut Hindia Belanda yang bersenjatakan meriam, pistol, dan senapan laras panjang yang dikirim dari Makassar. Raja alam dibuang ke Makassar.
Pada  24 Juli 1837 Raja Alam dibebaskan dan kembali ke Berau. Raja Alam diantar beberapa orang tokoh Bugis yang kemudian sebagian menetap di Berau ( Kampung Bugis ) dan sebagian lainnya pulang kembali ke Salebes.
Anak Cucu Raja Alam ada yang menetap di Kampung Dumaring Kecamatan Talisayan dan Sambaliung sampai sekarang. Di Sambaliung Sultan Kaharuddin mendirikan Keraton sebagai tempat pusat pemerintahan Sultan Sambaliung.
Bagaimana dengan acara ritual. Acara Ritual  persembahan kepada sahabat  Sultan Sambaliung di Gunung Pangadakan dilaksanakan setiap tahun oleh Sultan Muhammad Aminuddin ( 1920-1958 ). Gunung Pangadakan pada masa itu menjadi tempat bersemayamnya makhluk gaib sahabat sultan yang sangat dikenal dikalangan masyarakat Berau dengan nama si Garutu. Sebelum Sultan Muhammad Aminuddin memerintah, acara ritual tersebut belum dilaksanakan dan setelah Beliau wafat acara tersebut tidak dilaksanakan lagi.
Acara ritual persembahan ke Gunung Pangadakan itu bagian dari tradisi lama. Budaya yang dulu pernah dilaksanakan di Sambaliung, dimana diketahui nuansanya sarat dan dipengaruhi oleh budaya Bugis.
Melihat hubungan budaya antara Salebes dengan Borneo, penulis tertarik untuk menyusun dan menulis sebuah naskah drama dengan judul “PANGADAKAN” didalam ceriteranya mengandung nilai budaya, sepiritual, keyakinan, pengorbanan, tanggung jawab, dan nilai mistis.  Setelah banyak mendapat informasi dari berbagai pihak termasuk beberapa orang Datuk keturunan Sultan terakhir. Tentu dengan niat yang tulus agar nilai-nilai budaya masa lalu tetap masih bisa dipertahankan atau setidaknya dapat dibaca dan dipentaskan / dipertunjukkan kepada anak-anak dikemudian hari.
Penulis mengharapkan semoga naskah ini ada manfaatnya bagi para pembaca yang budiman, dan dapat dipentaskan oleh para seniman Teater di Kalimantan Timur atau di luar Kalimantan Timur dengan berdialog seperti naskah ini atau tidak berdialog dengan alur ceritera seperti naskah.
Tentu kritik dan saran untuk perbaikan naskah ini sangat kami harapakan. Terima kasih.

Tanjung Redeb
Kota Sanggam, 7 Oktober 2004

Penulis

SINOPSIS

Persahabatan Kesultanan Sambaliung sudah lama terjalin dengan kesultanan Bugis. Persahatan dua kesultanan itu tidak hanya terjadi kawin mawin, tetapi sampai pertukaran budaya. Dibuktikan dengan tulisan Lontara sampai hari ini masih menghiasi gapura halaman Keraton Sambaliung. Tulisan lontara itu dipahat di batang kayu ulin yang berukuran kurang lebih 45x45 cm dengan tinggi 3 (tiga) meter.

Dahulunya di kesultanan Sambaliung belum pernah dilaksanakan acara memberi makan makhluk gaib, kemudian hari ada pelaksanaan ritual memberi makan makhluk gaib di Gunung Pangandakan. Makhluk gaib yang sangat popular dikalangan Keraton dan masyarakat Sambaliung adalah si Garutu. Garutu adalah makhluk gaib yang sangat besar, apabila nampak besar tangannya saja dapat menutupi keraton Sambaliung, dengan demikian maka besar tubuhnya bisa dibayangkan sebesar apa.

Si Garutu adalah sahabat Sultan, oleh karena itu sebagai sahabat ada kewajiban untuk memberi makan. Setahun sekali pelaksanaan ritual memberi makan si Garutu harus dilaksanakan, kalau tidak dilaksakan akibatnya bisa sangat fatal bagi keraton, kerabat keraton, atau masyarakat Sambaliung.

Persiapan ritual dilakukan di Keraton atas restu Sultan. Membuat Puncak Rasul dan ancak yang berisi beberapa jenis makanan. Selanjutnya menunjuk orang-orang pilihan untuk melaksanakan melakukan persembahan kegunung Pangandakan, orang yang ditunjuk adalah orang-orang yang bertanggung jawab.

Setelah persiapan sudah lengkap, maka berangkatlah rombongan itu dengan diiringi music gong dan gendang. Sampai ditempat tujuan, puncak rasul diletakkan baik-baik, ancak digantung dengan baik. saat music telah berhenti salah seorang sebagai ketua rombongan persembahan menyampaikan segala hal ikhwal persembahan yang diberikan kepada si Garutu. Tak lama kemudian dating angin semakin lama semakin kencang tanda persembahan diterima. Saat itulah rombongan yang setia kepada sultan itu harus bergerak cepat….lariiii…semuanya beranjak dari tempat itu dan berlari secepatnya. Kalau tidak lari dengan cepat meninggal lokasi persembahan bisa sekalian dimakan oleh si Garutu, makhluk gaib yang sangat besar itu. Karena sudah dipersiapkan sedemikian rupa, berlaripun serempak, rombongan semua selamat kembali kekeraton.

Malam harinya persembahan dilanjutkan lagi oleh Sultan langsung, ritual dilakukan sendiri oleh Sultan didamping oleh para tokoh wanita tua yang sudah biasa melakukan ritual semacam itu. Ketika  Garutu dating keratin terasa bergoyang seperti ada gempa bumi (lindur). Bukti persembahan dan persahabatan diterima, nasi ketan yang sudah dibentuk seperti gunung bundar diatasnya yang disebut puncak rasul terlihat belah-belah. Bukti tersebut disaksikan sendiri oleh Sultan. Kewajiban si Garutu menjaga keamanan Keraton dari serangan dari udara dan serangan yang tidak terlihat oleh mata atau serangan gaib.


Synopsis dibuat pada hari Sabtu 29 Nopember 2014

 

































PARA PELAKU


1.      U S M A N
2.      A  L  I
3.      I N N I   T U A
4.      D A Y A N G   S A T U
5.      D A Y A N G   D U A
6.      P E N A B U H   G E N D A N G
7.      P E M U K U L   G O N G
8.      P E N I U P   S E R U N A I

9.      PENATA LAMPU

10.  PENATA PANGGUNG

11.  S U T R A D A R A

12.  PROFERTY






Musik terdengar sayup-sayup, kemudian semakin keras dan pelan lagi, suasana langit mendung, disudut - sudut muncul warna kemerahan terhalang awan. Musik terus naik turun, keras, pelan.

1. Usman    : Puncak rasul talla siapkah ?
2. Ali           : Talla Baliau….. talla dua biji
                     Inni Tua talla manyiapkan
3. Usman  : Baik, ……. Talamnya talla mu alau ndai lamari balakang
4. Ali           : Talla baliau,……….talla ndai antai
                     Pukuknya biris baliau
5. Usman : Biris-biris…… amun ada anu kaluppanmu, baniapa. Kau dampa jadi tumbalnya?
6. Ali           : Jangan damitu baliau………… mati kita.
7. Usman : Justru attu jangan pukuknya biris - pukunya biris, tapi kanyataannya ndada biris.
8. Ali           : Biris baliau.
9.Usman    : Biris sunggu,…….. bawa kamai,…puncak rasul dangngan kalangkang anu   talla  musiapkanah
10. Ali         : Inni Tua…Baliau..( andak mangiau )……Innn  !!!
11. Usman: ( menyela ) Ali aku cada manyurumu   riau-riau... Sana! sana kau!
12. Ali           : ( menutup sungut )   au’ baliau
                     (bajalan… kamudian kaluar membawa puncak rasul )
                     Mutaru Inni Tua, jalannya di sana
( Dua buah puncak rasul yang telah diletakkan masing-masing  di dalam tabbak berkaki dan kalangkang terbuat dari anyaman bambu bertali diisi empat macam ketan berwarna merah, putih, kuning, hitam, dan ayam panggang beserta bubur putih dan merah ).
13.Usman   : ( memeriksa satu persatu )
Puncak rasul…….. puncak rasul…… kalangkang. Lakattan puti,……lakattan ittam… mira………. Kuning…
Inni Tua cuba mu jallaskan kadiaku lakattan warna-warni attu, supaya aku cada tasala waktu manyampaikan parsambaan ini di gunung pangadakan.
14.Inni Tua : Tantunya Amma Usman talla paam dan tau.
Satiap taun Sultan manyampaikan parsambaan nyami ini ka Gunung Pangadakan.
15.Usman   : Ya..ya..ya..aku talla tau
16. Ali         : Yah… kami talla tau Inni
17. Usman  : Lain attu maksudku….aku ini karrap kaluppan
18.Inni Tua : Baik Amma Usman.
Lakattan kuning ini rattinya pangganti sumsum anu di dirinta.
19. Ali         : Diri siapa Inni?
20.Inni Tua : Diri kita…..ya.. Diri Sultan anu punya hajat
21.Ali,Usman : ( manggut-manggut saling tatap )Lakattan ittam?
22.Inni Tua : Lakattan ittam attu sabagai pangganti badan atau
dagingnta
23. Ali     :     Lakattan mira pangganti dara anu di badannta, damitukan Inni.
24.Inni Tua : Na….bujur attu, gai
25.Usman : Saddangkan anu puti…. Aku talla ingat…sabagai pangganti tullang anu di diri

26.Inni Tua: ( mengangguk )
Lakattan ampat warna attu adalah pangganti atau sabagai simbul  masing-masing bagian badanta ini.
Ia attu punya arti dan makna anu sangat   
mandalam dan mandasar.
27. Ali     : Baliau, amun ndada sala di acara pangubatan dan mandirikan ruma juga ndada katinggalan   Kalangkang damitu.
28.Inni Tua : ( tersenyum hambar – mengiyakan )
29.Usman : Lamun upacara damitu, sajjak dulu aku talla  tau Ali.
                     ndada parlu mubarritau.
30. Ali       : Maksudku lain mambaritau baliau, tapi mangingatkan …   kalau-kalau baliau lupa waktu manyampaikan.
31. Usman  : Manyampaikan apa  ?
32. Ali         : Manyampaikan kalangkang
33. Usman  : Kalangkang….. kamana ?
34. Ali         : Kagunung Pangadakan
35.Usman     : Kita mambicarakan parsambaan ka Gunung Pangadakan.
Kau babicara masala kalangkang pangobatan dan mandirikan ruma. Cadada hubungannya. Ali… kau ini sambarangan saja
36. Ali         : Aduh…. Aku sambarangankah
37.Inni Tua : Ali mu panggil pamusiknya
Ntai aku maliat diurang talla basiap-siap,  mataari talla tinggallam
38. Ali         : Siap Inni…..sakarang Inni…
39.Inni Tua : ( mengangguk )
40.Usman   : Au sakarang,  mukira jampaikah?
41. Ali         : Ya, ya..
42.Inni Tua: Usman, kau harus sunggu-sunggu siap dan cakatan,  jangan     sampai    tarjadi  nyami   babarapa taun lalu……….
Waktu attu ada salah satu andai rumbungan pangantar parsambaan anu talambat balari maninggalkan jalan parsambahan di sumur gunung Pangadakan, akibatnya harus manjadi tumbal dimakan jin Pangadakan.
Si Utui maninggal jadi kurban tumbal parsambaan taunan.
43.Usman   : Aku jua marasa was-was Inni.
Aku ditugaskan Sultan manjadi katua rumbungan parsambahan ini lagi.
44.Inni Tua : Itu Kaparcayaan Sultan anu dibarrikan…….
Tugas mulia attu harus kau jaga…..kau laksanakan dangngan baik dan  bartanggung jawab.
Walaupun harus mangurbankan nyawa sakalipun…. Tugas ini tugas mulia Usman.
45.Usman : Aku tahu Inni,…. Dan….. pangalaman babarapa taun lalu sangat mangiris parasaan dan ati sanubaringku.
Yach, aku baharap taun ini jangan sampai ta – ulang paristiwa anu sangat manganaskan attu.
46.Inni Tua: Aku ingatkan lagi Usman,…. Amun kau talla sampai dijalan parsambaan mumainkan musik dulu babarapa waktu, jangan jua bakaya lawasnya. Na…amun musik talla diam……….
Mudangngarkan suara alam anu gemirisik, mupusatkan kaparais pikkiran dan parhatianmu dangngan kata-kata anu kandia mu uccapkan…… kamudian mutaru puncak rasul diatas daun pisang anu talla musiapkan ndai sini.
Gantung dua kalangkang attu……….. na…satalah attu jangan dangkita tunggu-tunggu lagi, langsung saja kaparais rumbungan balari sacappatnya maninggalkan jalan attu.
Harus mu ingat bah sabagai katua rumbungan, jangan sampai ada    anu   katinggallan….. lari saja dangkita.
Amun dangkita talla baniang ka gunung anu sabuting. Baru dangkita dapai mangambil napas panjang.
Rattinya pakarajjaan dangkita talla biris dan salamat dangkita mulang karuma.
47. Usman  : Au Inni tarima kasi bah kau mangingatkan……..Inni kau
  lumpai juakah dalam rumbungan hari ini
48.Inni Tua : Aku talla tua gai, aku talla maminta ijjin dangngan Sultan.
                     Aku talla cada kuat lagi Amma Usman
49.Usman   : Syukurlah amun damitu Inni.
50.              :  ( Ali, Dayang dan penabuh musik masuk )
51.Inni Tua : Dangkita kaparais talla siapkah?
52.Semua  : Talla Inni
53.Inni Tua : Tugas mulia ini harus dangkita laksanakan dangngan  
 baik.
 Parsambaan ini sakaligus mangubati dan manguatkan saluruh wilayah kasultanan Sambaliung dangngan kampung-kampung dibawah kakuasaan Sultan.
Kita kaparais mamuhun kapada Tuhan Panguasa Alam Samista ini mambarkati, salama sataun akan datang cada tarjadi sasuatu apapun atau panyakit anu babahaya mancalakai…..manyarrang rakyat di kasultanan Sambaliung.
54.Semua  : Tarrima kasi Inni.
55. Usman  : Mari kita basiap-siap.
Amma-amma, Inda-inda kaparais anu hadir dijalan ini kami rumbungan sagarra manuju Gunung Pangadakan, kami mamuhun dua restu kaparai nu hadir agar kami mulang dangngan salamat.
Kaparais dangkita anu tarmasuk dalam rumbungan, Sultan bapassan “Laksanakanlah tugas ini dangngan iklas dan tulus, jaukan ndai prasangka buruk, niat cada baik, barsihkan ati dangngan satu tujuan mangantarkan parsambaan sampai ka Pangadakan dan mulang dangngan selamat. Dua rastu Sultan yang mulia manyartai rumbungan……..”
Dangkita mainkan musik attu…………. Kita sigra barangkat.

56.                : ( Gendang dan gong bertautan diselingi tiupan serunai yang mendayu-dayu. Puncak rasul di bawa oleh Usman dan Ali, dibelakangnya dua orang dayang membawa masing-masing satu kalangkang. Dibelakangnya panabuh musik. Berjalan pelan-pelan dengan langkah dan gerak yang sama mengikuti irama. Turun naik beberapa gunung mendekati tempat persembahan. Perasaan was-was dan takut mulai berkecamuk sesampainya dilokasi, musik semakin kencang membelah hutan dan gunung-gunung. Musik keras itu agar didengar Jin digunung dan hutan itu.
Kemudian suara gemerasak daun-daun semakin kencang mendekati bersamaan dengan hembusan angin dan asap tipis menyelimuti. Artinya jin sudah hadir, musik berhenti.)

57. Usman  : ( manaru puncak rasul diatas daun pisang )
58. Ali         : ( Lumpai jua )
59.Usman,aLI: ( mangalau Kalangkang mangikat di batang kayu )
60. Semua : ( dudduk )
61. Usman  : ( talla tannang kaparais )
Puan si Garutu, Puan si Garutu, Puan Si Garutu panguasa gunung dan uttan pangadakan kami datang lagi mamanui janji. Kami datang mambawa sekaligus manyampaikan parsambaan, tardiri dari dua buah   puncak rasul anu digawai ndai lakattan puti, mira, kuning, ijjau dan dua buah Kalangkang anu baisi bubur puti  dangngan bubur mira anu rassanya manis sunggu, dangngan ayam panggang kadampa puan dan kalangkang anu isinya lakattan mira, puti, kuning, ittam, sabagai pangganti diri kami kaparais. Nikmatilah dangngan laap parsambaan anu kami barrikan ini.
Muhun mu salamatkan, jauhkan dari mara bahaya, karussakan, dan panyakit. Taun kandai kami datang lagi mambawakan parsambaan anu sama untuk puan.
Sambut dan tarerimalah apa-apa anu kami sampaikan ini, malam kandia parsambaan kami lanjutkan di Keraton, langsung dipimpin ulih Sultan.          
Tarrima kasih puan.
Puan kami muhun parmisi.
( angin kencang menggoyang daun dan dahan-dahan, petir beberapa kali menyambar )

62. Semua : Lariiiii…..lariiii…….!!!!!
63.Usman  : Ayo cappat lari dayang-dayang, jangan sampai tapisa ndai rumbungan
64.Dayang I: Au baliau ( tersengal-sengal )
65. Panabuh gong      : Ali mu tulung aku
66.Gendang                 : ( labu taguling…ditinggalkan )
67. Semua : (masih berlari dengan cepat walau terengah-engah)
68.Semua   : (setelah berlari cukup jauh dan sudah dianggap aman,  
  mereka beristirahat kelelahan)
    ….diam ditempat dengan gaya yang berbeda diam
    beberapa detik. Selamat dan semua ribut bergantian
  mengucap syukur….saling tatap dan tersenyum….. 
  lagi mengucap syukur.



S e l e s a i

Tidak ada komentar:

Posting Komentar