Senin, 13 April 2015

GUA PETAU DAN GUA PESAI SENGUK DI GUNUNG NYAPA LONG LANUK



PERJALANAN MENUJU GUA LUNGUN
DI PEGUNUNGAN NYAPA
SAPRUDIN ITHUR
A.    GUA PETAU
Pesawat yang siap membawa wisatawan dari Balikpapan menuju Berau antara lain Pesawat Garuda, Lion/Wing air, Sriwijaya, dan Kalstar, sampai di Bandara Kalimarau Berau. Dari kota Tanjung Redeb Kabupaten Berau menuju Kampung Long Lanuk Kecamatan Sambaliung dengan naik kendaraan melintasi Teluk Bayur, Kampung Labanan, Kampung Tumbit Melayu, Kampung Tumbit Dayak. Jarak dari kota Tanjung Redeb tidak kurang dari enam puluh kilometer, berkendaraan darat ditempuh satu jam sampai dua jam, tergantung kecepatan dan cuaca diperjalanan. Sampai dipendopo selamat datang kampung Long Lanuk. Dari sana dilanjutkan dengan naik perahu bermesin ketinting menyusuri sungai Kelay selama satu jam, perahu bisa ditumpangi empat sampai enam orang, maka sampailah di tepi gunung kars Nyapa. Tepi gunung kars itu menjorok sampai masuk kedalam sungai kelay. Gunung kars yang menjorok itu membuat pemandangan tepi sungai menjadi indah. Gunung kars yang masuk kesungai  Kelay itu, dibagian atasnya seperti terbelah-belah berbentuk garis fertikal. Disana ada lubang membentuk gua tempat burung wallet keluar masuk membuat sarang.
Dari sana pengunjung harus berjalan kaki. Harus kuat lho…karena langsung memanjat gunung yang cukup terjal dengan batu-batu yang licin dan tajam. Pengunjung sebaiknya menggunakan sepatu karet yang ada giginya seperti sepatu bola, sepatu tersebut kuat, tidak licin, dan tidak mudah robek. Sepanjang perjalanan baik waktu memanjat maupun turun harus pakai tali dan berpegangan tali serta  didampingi dua orang pemandu yang paham dengan situasi dan kondisi menuju gua Lungun. Direkomendasikan menggunakan pemandu masyarakat Kampung Long Lanuk yang paham dengan situasi dan kondisi pegunungan Nyapa, yang biasa mendapingi atas nama Romanus dan Sulaiman.
Sampai dimuara gua Petau langsung disuguhi dengan suasana yang berbeda. Aroma bau spesial gua sudah tercium menyengat dari luar, suara kelelawar yang merasa terganggu oleh kedatangan kami semakin riuh, sepertinya siap-siap untuk terbang meninggalkan tempatnya. Dari muara gua sudah terlihat tiang-tiang kayu ulin yang masih berdiri, miring kesana kemari tidak beraturan, dan sebagian lagi sudah rebah. Sisa tiang-tiang itu adalah bekas tiang atau tongkat rumah-rumah untuk menempatkan peti mayat yang disebut orang Dayak Ga’ai Kuung. Masing-masing rumah kecil dalam gua yang disebut mereka Bleah itu dimasukkan satu atau dua peti mayat, Kuung. Karena sudah lapuk dan sebagian runtuh, peti mayatpun bergelimpangan bersama reruntuhan kayu lainnya. Disetiap peti mayat ada benda yang ditingggalkan berupa guci, botol, panci, tempat ludah menginang (palujaan), parang, Mandau, gudam, baju, tombak dan lain-lain.
Gua Lungun, Gua Petau dapat dimasuki sejauh lima puluh meter, semakin kedalam semakin gelap. Oleh karena itu masuk kedalam gua harus menggunakan penerangan yang bagus dan baik seperti senter atau lampu lainnya. Kalau tidak, maka tidak bisa masuk dalam gua yang gelap gulita tersebut. Di langit-langit gua Petau disarangi ribuan kelelawar yang bergelantungan, kotoran kelelawar menumpuk didasar gua, masuk kerumah tempat menyimpan peti mayat yang disebut Dayak Ga’ai dengan Bleah itu, kotoran kelelawar memenuhi peti mayat atau Kuung.
Dibeberapa sudut dalam gua Petau, sebagian besar Bleah masih utuh, demikian juga dengan Kuung masih terlihat utuh. Berbeda dengan dibagian muara tadi, Bleah dan Kuung pada umumnya sudah rusak dan runtuh dimakan usia, sedangkan peti mayat (Kuung) sebagian sudah hancur dan rusak dimakan waktu. Didasar gua yang dilapisi kotoran kelelawar, diantara tumpukan balok dan papan runtuhan kuung dan bleah banyak terlihat barang-barang yang usianya cukup tua sebagai Benda Cagar Budaya, sebagian terhambur tidak beraturan, sebagian lagi berserakan saling berdekatan. Suara-suara yang aneh kadang terdengar disela-sela suara kepakan sayap kelelawar. Aku yakin suara itu adalah suara makhluk  kasat mata yang mendiami gua Petau bersama lima puluhan makam lungun yang ada disana.
Setelah masuk dalam gua Petau yang penuh dengan misteri pemakaman itu, pengujung boleh masuk ke gua lain yang tidak jauh dari gua Petau yaitu Gua Lebo’. Untuk sampai kemuara gua Lebo harus bergelantungan dengan tali dan harus dibantu pemandu bagi pemanjat pemula. Dalam Gua Lebo’ sama gelap gulita, guanya sangat indah dan eksotik. Lubang gua hanya bisa dimasuki sampai sepuluh meter, selanjutnya lubang gua langsung menukik kebawah tegak lurus. Dasarnya langsung turun terjal kebawah sedalam dua ratus meter lebih. Didasar gua Lebo’ ada sungai dengan air yang mengalir. Disekitar sungai itu banyak sarang wallet putih, sedangkan dibagian luar dekat muara banyak sarang wallet hitam yang disebut sarang lumut. Untuk masuk dan turun kedasar gua yang dalamnya lebih dua ratus meter itu harus yang sudah berpengalaman panjat tebing atau yang sudah biasa memanjat sarang wallet digua-gua yang ekstrim. Didalam gua yang air mengalir didalamnya itu sangat indah dan menakjubkan. Bisa turun kesana saja sudah luar biasa, apalagi bisa berjalan dan berenang…waw…lebih luar biasa. Jaminan keamanan dan keselamatan bagi wisatawan yang turun kedalam gua Lebo’ harus benar-benar diperhitungkan, karena turun harus diulur dengan tali dan naik harus ditarik dengan tali.
Selain perjalanan menuju gua Lungun, pengunjung juga bisa menikmati keindahan alam pegunungan kars Gunung Nyapa yang sangat indah dan masih perawan. Traveling menyususri punggung gunung Nyapa sambil menikmati keindahan  alam, dengan berbagai jenis  pohon, berbagai jenis tumbuhan dibatu, berbagai jenis anggrek, berbagai jenis tumbuhan keladi, berbagai jenis tumbuhan pakis, berbagai jenis tumbuhan merambat. Masih ada lagi, dipegunungan Nyapa juga tempat hidup dan berkembangnya puluhan jenis primata, tempat hidup dan berkembangnya puluhan jenis binatang melata, berbagai jenis tupai pohon dan tupai tanah, tempat hidup dan berkembangnya puluhan jenis unggas, pelanduk (kancil), kijang, Payau (rusa), banteng, rimaung daan (macan dahan), kucing hutan, kukang, beruang, dan ayam hutan.
Biaya perjalanan menggunakan mobil terhitung satu hari Rp. 1.000.000, dilanjutkan dengan naik perahu ketinting biaya Rp 300.000 bisa naik empat orang, dan pemandu Rp. 100.000 per-orang. Berangkat pagi dari kota Tanjung Redeb, kembali menjelang matahari terbenam. Malamnya sudah ada dikota Tanjung Redeb kembali.
Berau dengan sejuta pesona dan sejuta keindahan. Ayo tamasya ke Kabupaten Berau, jalan-jalan ke Gua Petau dan gua Lebo’ di Gunung Nyapa.





















  
B.     GUA PESAI SENGUK DI GUNUNG LONG DEM

Batu karts (pegunungan batu kapur) di pegunungan Nyapa sangat eksotis, luar biasa dan menakjubkan. Ketinggian gunungnya juga boleh bersaing, sampai 1.500 meter diatas permukaan laut. Ditambah dengan berbagai tantangan yang harus dilintasi, dengan terengan gunung sangat terjal, curam dengan batu-batu yang sangat tajam dan putus-putus. Tetapi ini adalah sebuah tantangan bagi penyuka daerah ketinggian dan ekstrim, yang harus didaki dan harus di capai. Begitu mencapai tujuan lelah, capek ketika mendaki hilang seketika.
Salah satu gunung dipegunungan Nyapa Kampung Long Lanuk Kecamatan Sambaliung Kabupaten Berau adalah gunung Long Dem. Menuju Gunung Long Dem dari kota Tanjung Redeb ditempuh selama 1 jam dengan menggunakan mobil, dari kampung Long Lanuk menuju gunung Long Dem dtempuh selama 45 menit dengan menggunakan perahu bermesin ketinting. Gunung Long Dem berada masih dihilir gunung Batu Belah yang menjorok kesungai Kelay, 20 menit lagi baru sampai disana. Kaki gunung Long Dem tidak jauh dari tepi sungai Kelay. Waw ketika mendaki, mulai dari tepi sungai Kelay samap kepuncak hutannya benar-benar masih perawan. Hutannya masih lebat, rapat dengan hiasan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, tanpa basa basi langsung mendaki. Daerah itu sangat bagus untuk obyek pengambilan gambar dan berfoto di alam terbuka bagi fotografer profesional.
Memanjat digunung Long Dem selama 1 jam 15 menit sudah sampai di muara gua PESAI SENGUK. gua tempat pemakaman manusia tempo dulu sekisar 100 sampai 400 tahun yang lalu. Di gua Pesai Senguk masih meninggalkan rumah-rumah tempat meletakkan peti mati yang disebut orang Dayak Ga'ai dengan Bleah, dan masih meninggalkan peti mati atau peti mayat yang dikenal dengan nama Kuung, serta banyak meninggalkn perkakas pertukangan, dayung atau Pesai, dan banyak peralatan lain seperti pecahan guci, pecahan botol, peralatan tempat penginangan, beberapa jenis kuningan, dan yang paling seram masih ada beberapa tengkorak kepala dan tulang paha manusia tersisa yang belum hancur dimakan waktu.
Bleah dan Kuung yang terbuat dari kayu ulin masih terlihat utuh, sedangkan Kuung yang terbuat dari kayu biasa sebagian besar sudah lapuk dimakan usia. Pada ujung Kuung ada ukiran seperti manusia menempel menyatu dengan Kuung bermotif binatang seperti monyet, uat-uat, dan naga, namanya Tiang Keeh. Tiang Keeh berfungsi untuk membawa roh mereka naik keatas. Itu semua adalah lambang atau symbol orang yang berpengaruh dan punya jabatan dikampung pada masa itu. Setelah roh sampai diatas menyatu dengan para Dewa sang pencipta.
Nama Gua Pesai Senguk berasal dari kata Pesai artinya Dayung, dan Senguk artinya Ukiran. Jadi Pesai Senguk dimaknai sebagai Dayung Ber-ukir. Dayung berukir itu diletakkan di muara gua, sebagai penunggu muara gua. Oleh karena itu nama Guanya adalah Gua Pesai Senguk.
Muara Gua Pesai Senguk tidak lebar, masuk harus merunduk, bagi yang berbadan sedikit besar harus merangkak seperti bayi dan harus hati-hati. Dilangit-langit muara gua ada stalaknid yang menjuntai menjulur seperti lidah, menutup gua. Sedikit masuk kedalam kita harus merangkak dibawah Bleah yang terbuat dari ulin, diatas bleah itu diletakkan Kuung atau peti mayat. Setelah masuk sepuluh meter kedalam gua, gua lebih luas, ruang gua lebih lebar, beberapa orang ditempat itu bisa berdiri tegak. Didalam gua itu tidak kurang ada 10 makam lungun, sebelum rusak makam lungun tersebut tersusun dengan rapi dari dalam sampai dimuara gua.
Gua Pesai Senguk adalah salah satu gua yang sempit dan kecil. Muara gua tidak tampak dari kejauhan, hanya sebongkah batu besar yang terlihat dengan jelas dari kejauhan. Dibawah bongkahan batu besar itulah muara gua Pesai Senguk berada. Yang mengagumkan dan diluar nalar manusia biasa adalah waktu mereka melakukan pemakaman diketinggian lebih 500 meter, didalam gua yang sempit, jauh, berada digunung, batu tajam, terjal, dan hutan belantara itu. Membawa balok ulin ukuran 5 x 10 centi meter panjang 1 sampai 2 meter dan papan ulin 3 x 23 centi meter panjang 2 meter yang dijadikan bahan untuk membuat rumah-rumah untuk meletakkan Kuung, kemudian mengangkut Kuung yang terbuat dari batang ulin yang ditatah dan dilubangi seperti membuat perahu kano, beratnya mencapai seratus sampai dua ratus  kilogram, dilanjutkan dengan mengangkut mayat yang sudah terbujur kaku kedalam gua, pasti dilakukan oleh orang-orang ahli dan berpengalaman, dilakukan  banyak orang dan ber hari-hari.  
Selama ratusan tahun masyarakat Dayak tidak berani masuk kedalam gua makam Lungun, menurut kepercayaan mereka sangat tabu, tidak boleh sembarangan. Karena makam lungun adalah makam para Raja, para tokoh, para orang kaya, dan orang terhormat. Makam lungun adalah makam para leluhur suku Dayak yang sangat dihormati. Orang biasa tidak dimakamkan disana, di gua, digunung yang sangat tinggi dan sulit dicapai, tetapi ditempat-tempat biasa atau ditanah.
Yang sangat menyedihkan adalah banyaknya tangan jahil dan pencuri barang antik pada decade tahun 80-an sampai tahun 90-an, mereka merusak, membalik Kuung, merobohkan bangunan Bleah,  mengambil barang para leluhur didalam Kuung, mengambil tengkorat manusia, rambut dan lain-lain. Untunglah masih ada yang tersisa, walaupun tidak banyak lagi. Kita doakan saja mereka para pencuri tersebut semoga dilaknak oleh Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah merusak dan mencuri barang peninggalan, dan tengkorak mayat didalam Lungun tersebut. Para pencuri itu tidak sedikitpun ada rasa hormat atau  menghormati makam para leluhur yang ada di liang, gua dan lain-lain. Kalau mereka tidak mencurinya, tentu sampai saat ini masih dapat kita saksikan seluruh isi gua Makam Lungun beserta barang-barang antiknya. Para penjarah dan pencuri itu adalah orang dari luar kampung, untuk kepentingan sesaat, untuk mendapatkan uang yang tidak seberapa rela mengambil dan merusak makam Lungun yang seharusnya diabadikan sepanjang jaman. Tempat itu (Makam Lungun) bisa dijadikan tempat penelitian, penelusuran sejarah, pembuktian kemajuan dunia pertukangan, kemajuan ekonomi, ilmu pengetahuan  yang didukung dengan gunung karts yang eksotik, dan hutan yang tumbuh di batu-batu karts.
Peninggalan yang tersisa harus kita jaga bersama, kita rawat bersama, kita populerkan bersama. Kita juga bangga memiliki Makam Lungun atau makam dalam gua nenek moyang tempo dulu. Apabila ada pencurian lagi segera laporkan kepada yang berwajib dalam hal ini Polisi Republik Indonesia, agar pelakunya dihukum seberat-beratnya karena sudah melanggar Undang-Undang Republik Indonesia No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Kampung Long Lanuk sebagai pemilik wilayah terdekat berkewajiban menjaga dan melestarikan wilayah Pegunungan Nyapa sebaik mungkin dengan didukung oleh seluruh masyarakat Kabupaten Berua.
Sejarah Berau membuktikn bahwa manusia yang tinggal dan mendiami wilayah Berau sudah memiliki peradaban yang sangat maju. Mendiami wilayah ini dengan peradaban yang sudah maju sejak 500 tahun yang lalu, dibuktikan dengan penggunaan alat perkakas pertukangan yang mereka miliki untuk membelah dan menatah (menarah) kayu ulin yang sangat kuat dan keras. Dan melubangi balok-balok ulin itu untuk menyatukan rangkaian bentuk rumah didalam gua yang sempit dan tinggi diatas gunung batu tajam dan terjal. Belum ada bukti ditempat itu mereka menggunakan paku atau sejenisnya untuk menyatukan rangkaian rumah Bleah tempat Kuung diletakkan.
Sebelum berdirinya kerajaan Berau pada tahun 1400 atau sekitar 600 ratus tahun lalu dapat dipastikan ditepi-tepi sungai Kelay dan tepi sungai Segah dan anak-anak sungainya sudah didiami manusia yang kita kenal dengan suku Dayak, kemudian pada masa pemerintahan kerajaan Sriwijaya (Melayu) menyebarkan orang-orangnya diseluruh wilayah kekuasaan, termasuk diwilayah Berayu. Setelah Kerajaan Sriwijaya runtuh, Orang-orang Melayu tersebut dikemudian hari mendirikan pemerintahan sendiri yang merdeka dan berdaulat, termasuk mendirikan Kerajaan Berayu atau Kerajaan Berau di sungai Lati dengan raja pertamanya Adji Soerya Natakesoema.
Peninggalan sejarah lainnya antara lain Liang Petau atau Gua Petau masih dipegunungan Nyapa. Liang Petau meninggalkan Lungun tidak kuran dari lima puluh makam. Gua yang panjangnya lima puluh meter itu sangat luas dan indah, gua Petau di huni ribuan kelelawar yang meninggalkan kotoran sangat tebal didasar gua. Selain itu peninggalan sejarah yg lebih tua adalah Gambar Cadas, gambar telapak tangan dan gambar binatang yang ditinggalkan manusia lebih 10.000 tahun yang lalu di gua Beloyot dan gua Abu di Kampung Merabu Kecamatan Kelay Kabupaten Berau dan beberapa gua di wilayah Bengalon Kabupaten Kutai Timur. Aku terus terang semakin mengenal Kabupaten Berau lebih dalam, aku semakin cinta dengan daerah ini. Mari kita berdoa dengan dibukanya Destinasi Wisata Sejarah Makam Lungun dipegunungan Nyapa ini menjadikan masyarakat Berau semakin Bangga terhadap daerahnya dan mampu mensejahterakan masyarakat sekitarnya. Amin…..
Ayo Tamasya Ke Kampung Long Lanuk, menelusuri sungai Kelay sampai ke Gua Lungun di Gua Petau dan Gua Pesai Senguk di Pegunungan Nyapa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar