Senin, 20 April 2015

CERPEN TRAGEDI MALAM TAHUN BARU



CERPEN

TRAGEDI MALAM TAHUN BARU

Oleh : Saprudin Ithur


Dia seorang anak laki-laki yang dilahirkan dengan segala keberuntungan. Ayah pengusaha sedang ibunya seorang pejabat di salah satu kantor Pemerintah di kota Sanggam Kabupaten Berau. Ayahnya orang sibuk, berangkat keluar kota seperti ke Samarinda, Balikpapan, Tarakan, Bulungan dan kota-kota di Pulau Jawa sering sekali, hamper-hampir waktunya tidak ada dirumah. Namun ayahnya sangat sayang pada putra yang masih sekolah di SD itu. Setiap datang dari bepergian ayahnya tidak lupa membawakan oleh-oleh seperti mobil-mobilan dengan berbagai jenis, pesawat terbang dengan berbagai jenis, playstation, game board dan makanan kesukaan putranya.

Ibunya juga sangat sayang pada putra ketiganya itu. Apa saja yang diminta oleh si Ali ibunya selalu mewujudkannya, karena mereka memang orang kaya sih. Kalau orang miskin atau pas-pasan pasti tidak bisa seperti itu kan ? Kedua kakaknya sering merasa iri dengan adiknya yang dimanjakan itu. Kalau beli mainan adiknya selalu dilebihkan, kalau beli makanan adiknya selalu lebih banyak, kalau beli pakaian adiknya selalu dua, kalau kakaknya masing-masing satu. Dan hal lainnya yang sering menyakitkan hati. Belum lagi kalau ada persoalan, atau bertengkar, adik selalu diuntungkan, biar salah tetap saja dibenar-benarkan oleh ayah dan ibu. Kakaknya selalu diminta untuk mengalah pada adiknya. Walaupun Udin dan Mila tidak terlalu merasa keberatan kalau harus dipaksa untuk mengalah pada adiknya. Sebenarnya sih mereka juga sangat sayang kepada adiknya. Cuma sayang adiknya semakin tidak mau mengerti, semakin melonjak tingkahnya. Mereka berdua sering malu dan risih dengan prilaku dan sopan santun adiknya dihadapan orang lain atau keluarga ayah ibu. Lewat kesana kemari tidak pernah permisi, apalagi harus menundukkan kepala sedikit ketika melintasi orang yang lebih tua. Dia jalan melenggang saja semaunya, bahkan sambil lari dan teriak-teriak. Kedua kakaknya malu sekali. Tapi bagaimana ya, memang sudah begitu tabiatnya si Ali adiknya itu.

              Yang mengherankan lagi, tamu ayah dan ibu, tersenyum saja, bahkan ada yang memuji, dan menepuk-nepuk bahu Ali, bangga. Kedua kakak yang sudah lebih besar itu khawatir kalau senyuman atau pujian itu hanya pura-pura saja. Karena ayahku serorang pengusaha dan ibuku pejabat pemerintah. Pujian dan sanjungan itu hanya sekedar kepura-puraaan dan mencari perhatian atau cari muka dari ayah dan ibu. Tapi apapun alasannya menurut kedua kakak Ali, Ali harus bisa berubah.

            Ali sekolah di sebuah SD favorit di kota Sanggam Tanjung Redeb Berau, Ali juga selalu mendapat pujian dari kepala sekolah. Maklum, ayahnya salah satu donatur tetap disekolah itu. Sumbangannya banyak, setiap kali ada acara seperti pentas kesenian, porseni, darmawisata, pembangunan sekolah dan lain-lain, ayahnya selalu tampil sebagai penyumbang paling depan. Makanya kepala sekolah selalu memujinya. Dan maka si Ali bebas semaunya di sekolah.          

Teman–teman di kelasnya banyak yang tidak suka pada Ali, teman-teman lain kelas apalagi. Cuma mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Ali sering berlaku tangan besi, mencaci maki semaunya, menghina pada teman yang tidak punya. Yang lebih menjengkelkan lagi, apabila persoalannya sampai di kepala sekolah, Ali selalu di puji dan di sanjung-sanjung oleh kepala sekolah, maklum kepala sekolah yang sudah termakan budi baik ayahnya, jadi tidak berani berbuat apa-apa.

Teman-teman yang suka sama Ali, setiap hari selalu kejatuhan rezeki. Ali kalau belanja di kantin, wah …. Selalu banyak. Penjaga kantin kalau sudah rombongan Ali masuk dan makan-makan, selalu tersenyum pada Ali walaupun dia sering bicara ngawur dan tidak pakai tata kerama. Belanjanya selalu banyak. Sedang anak-anak lain mulai menyingkir, khawatir kalau-kalau sampai turut bicara yang tidak pakai tata kerama, dan menimbulkan persoalan dengan rombongan anak bandel itu. Ali sok jagoan, menantang siapa saja yang berani mengusik tingkah lakunya.

            Ali punya sepeda saja lima buah dengan berbagai jenis, kalau pergi jalan-jalan selalu ganti-ganti.sepeda. sepedanya pun sepeda mahal-mahal yang tidak terjangkau oleh kita-kita, dia juga punya sepeda motor kecil. Anak orang kaya di kotaku, sih. Ali kalau sudah naik sepeda dijalan raya, semaunya saja. Tidak menghormati pemakai jalan lain. Padahal kita semua tahu jalan raya milik semua orang. Oleh karena itu kita seharusnya mentaati rambu-rambu lalu lintas di jalan, jangan main tabrak aja. Dan sopan santun sebagai pengguna jalan juga harus ada. Jangan kaya jalan milik sendiri dong.

            Dari tanggal 30 sampai dengan tanggal 31 Desember Ali dengan empat temannya di gudang sebelah rumah, menyiapkan kelima sepedanya dan memperbaiki seperlunya. Baut dan mor-mor sepeda yang sedikit longgar di kuatkan, rantai sepeda yang kendur di kencangkan. Mereka berlima Ali, Diman, Ipung, Evan, dan Riky malam ini berencana begadang dan bersepeda keliling kota sanggam untuk menyambut malam tahun baru. Persiapan untuk menyambut malam tahun baru sudah selesai. Untuk  menunggu malam, mereka beristirahat di rumah Ali. Sambil makan dan minum di dalam rumah besar dan mewah itu, Diman dan Ipung main playstation perang-perangan, sedangkan Evan dan Riky berbaring menunggu giliran.

            Setelah pulang mandi dan makan malam tidak lama kemudian kelimanya sudah berkumpul kembali dirumah Ali. Tegur Ibu “ Ali hati-hati ya, jangan kebut-kebutan “. Beres bu, “ Ali tau ko bu “ jawab Ali dengan ringan. Si Udin dan Mila geleng-geleng kepala memperhatikan adiknya yang kaya orang penting menyambut malam tahun baru.

            Jam delapan lebih lima menit, mereka berlima mulai bergerak melintasi jalan Murjani menuju kantor Bupati. Berputar-putar disana kemudian melanjutkan masuk jalan APT. Pranoto, belok kanan masuk jalan Milono, sampai di jembatan Kelay belok kekiri memasuki jalan H. Isa 1, belok kanan terus masuk jalan SA. Maulana, terus melaju melewati perempatan strat bundar masuk jalan Ahmad Yani ke-Tepian. Mereka berlima berhenti disana duduk-duduk dipinggir siring sungai Segah, di muka pusat pertokoan kota Sanggam. Ribuan orang yang bersantai disana sejak tadi sore memenuhi pinggir siring tepian sungai Segah dan trotoar jalur Ahmad Yani. Penjual jajanan yang dikenal dengan kuliner itu ramai menyuguhkan berbagai menu yang enak sepanjang trotoar jalan sepanjang dua kilometer. Suara terompet riuh redah memekakan telinga, suasana yang hingar bingar, kendaraan yang lalu lalang. Anak muda kebut-kebutan dengan suara mesin yang terbuka knalpotnya, semakin menambah ramainya suasana menyambut tahun baru. Anak-anak, kaum remaja, bapak-bapak dan ibu-ibu dengan menggendong anak pun tidak ketinggalan bersantai di tempat itu. Pokoknya manusia tumpah ruah disana.


            Ali dan temannya bergerak melanjutkan perjalanan menuju keujung jalan Ahmad Yani kemudian membelok kekanan memasuki jalan Tendean yang sedikit sempit. Diman, Riky, dan Ali berjajar didepan sambil mengunyah gula-gula yang tadi dibelinya di warung. Dari arah depan meluncur sebuah mobil dengan sorot lampunya yang terang, kiri kanan jalan suara terompet ribut ditiup oleh anak-anak dari halaman rumahnya masing-masing. Pada saat mobil tepat berada disamping kanan Ali yang jauh ketengah, tiba-tiba dengan tidak disangka-sangka dengan kecepatan tinggi sebuah kendaraan roda dua yang di kendarai oleh seorang pemuda melintas di tempat itu. Sopir mobil kaget, Ipung dan Evan yang berada di belakang Diman, Riky dan Ali terkesiap. Ali dan Riky terpental disambar kendaraan roda dua yang melesat dengan cepat dan kencang itu. Tubuh Ali melayang lalu membentur dinding mobil, dan kemudian terguling beberapa kali di jalan aspal. Sedangkan Riky terpental kearah kiri.

            Bagaimana dengan sipengendara sepeda motor yang menabrak Ali dan Riky ? Kendaraan itu rubuh ditengah jalan, dengan berlumuran darah. Sipengendara motor roda dua itu langsung bangkit dan kabur meninggalkan tempat kejadian. Riuh redahlah  orang melihat kejadian yang begitu cepat itu. Ali dan Riky langsung diangkat oleh beberapa orang dan dilarikan kerumah sakit Dr. Abdul Rivai di Jalan Pulau Panjang. Satu jam kemudian Riky sudah boleh pulang, luka-lukanya tidak parah hanya lecet-lecet saja. Sedangkan Ali cukup parah, Ali pingsan, Ali belum siuman. Kepalanya robek dengan mengeluarkan darah, luka-luka harus segera dibersihkan dan harus segera dijahit. sekujur tubuhnya banyak yang luka dan koyak-koyak, bagian lainnya lagi terlihat memar dan biru.

            Ibu Ali datang kerumah sakit, melihat putranya yang terkulai itu langsung sok. Putra kesayangannya tergeletak bersimbah darah diruang instalasi gawat darurat. Ayahnya terhenyak diam tanpa komentar, sedangkan Udin dan Mila hanya bisa menangis dan memeluk-meluk ibunya yang lemas dan limbung.

            Dimalam tahun baru itu tersebarlah berita anak nakal yang sekolah di SD favorit di kota Sanggam di samber motor roda dua. Yang tahu kenakalan anak itu bukan merasa kasihan, malah bilang “ syukur….. baru tahu rasa kamu….” Kata teman-temannya yang pernah diusilin sama Ali juga bilang “ itu namanya hukum karma “, tapi ada juga yang berdoa “ mudah-mudahan sembuh dan semoga sadar “.

            Ditempat lain Diman, Evan dan Ipung merasa bersalah dan ketakutan. Khawatir kalau-kalau mereka nanti yang disalahkan oleh kedua orang tua Ali. Atau dipanggil polisi dan dimasukkan kedalam sel tahanan polisi. Mereka juga membayangkan yang bukan-bukan, kalau seandainya Ali kenapa-kenapa atau sampai………waduh gimana ya ?
Sepeda ketiganya langsung diantar kerumah Ali dan langsung pulang kerumahnya masing-masing. Sedangkan sepeda Ali dan Riky diamankan di kantor polisi.

            Ibu Ali sudah mulai tenang, air matanya mengalir membasahi pipinya. Sedangkan anak kesayangannya masih juga belum siuman. “Ali….Ali anakku…sayang….nak cepat…sadar nak, sadarlah…..sayang buka matamu sayang…ini ibu, ya Tuhan……anak kami jangan diapa-apakan, ya Tuhan….ampuni dia…. ya Tuhan, kalau seandainya dia anak yang nakal sadarkanlah dia agar menjadi anak yang lebih baik, berbudi, sholeh, hormat kepada orang tua dan rajin, sembuhkanlah anakku ya Tuhan.”
            “ Sudah bu jangan begitu, anak ibu tidak apa-apa, dia hanya kaget dan syok. Nanti juga akan segera sadar” Kata seorang dokter yang sedang membantu merawat Ali. Setelah selesai dijahit luka-lukanya, darah di tubuh Ali sudah dibersihkan, kemudian Ali dipindah keruang operasi, selei operasi Ali dipindahkan keruang VIP untuk perawatan selanjutnya.
            Dalam pingsannya terbayang dimata Ali semua perbuatan jeleknya selama ini, setelah dia mengetahui semua perbuatannya maka kemudian perbuatan baik dan perbuatan buruknya ditimbang. Dalam timbangan itu terlihat lebih jelas, lebih berat perbuatan buruknya, seperti mengumpat, mencaci maki orang, menghina teman yang tidak mampu, memukul teman disekolahnya, menjewer telinga anak kelas satu dan kelas dua, memukul dan mengancam anak perempuan yang tidak suka dengannya, tidak sopan pada guru dan orang tua, selalu merasa menang sendiri, paling hebat sendiri dan lain-lain.
Semua kejadian itu tergambar seperti sebuah film. Ali berteriak ketakutan “ tidak….tidak.....tidak…” Kemudian datang sebuah tangan yang sangat besar. Tangan itu lalu menekan kepala Ali, selanjutnya berpindah menekan dada, beratnya luar biasa tekanan tangan itu, Ali mencoba meronta semampunya, namun tidak berhasil. Yang lebih celaka lagi tangan itu kemudian berpindah dan mencekik leher. Ali meronta-ronta, ingin meminta tolong, namaun tidak ada yang datang menolong. Tempat  itu sepi sekali. Beberapa waktu Ali tidak dapat bernafas. Tangan itu melepaskan leher Ali, ia berusaha lari sekuatnya. Sial, ia lari masuk kedalam semak berduri, didalam semak berduri Ali bingung mau kemana, bajunya koyak sampai kekulit dagingnya. Tangan, kaki, paha, perut, pantatnya luka-luka mengeluarkan darah. Tiba-tiba entah datang darimana  tangan  besar tadi sudah berada didepan Ali lagi. Ali berusaha menghindar mundur terus kebelakang, duri-duri yang menyangkut ditubuhnya tidak lagi ia rasakan. Sial bertambah kakinya sangkut dan jatuh telentang, “ Nich rasakan……pembalasanku “ suara dari tangan besar yang mengejarnya. Ali menangis dan berteriak sekuat-kuatnya meminta tolong, pertolongan tidak ada yang datang. Dua tangan itu kemudian menerkam leher Ali yang sudah sakit, mencekik sekuat-kuatnya. Saat sakit yang luar biasa dan tidak tertahankan ditambah dengan tidak bisa bernafas itu, telinga Ali juga terasa di tarik orang. Dimana-mana nampak mata-mata melotot marah dan geram, bibir mencibir dengan mengepalkan tangan menantang Ali yang sudah tidak berdaya. Kemudian Ali berteriak lagi “ aduh…….sakit sakit ampun….maafkan saya…….saya tidak nakal lagi………….saya menyesal……menyesaaaaaaallllllll…….saya minta ampuuuuuunnnnn….saya minta maaf……Tidak lagi…tidak!!!!! Tidaaaaaakkkk!!!!!!!!!!!!.

Semua yang ada diruangan itu tersentak dan mendekat, Ali berteriak-teriak dan matanya terbuka. Ali telah sadar, Ali mencoba manatap sekitarnya, masih gelap, berkunang-kunang, putih dan kemudian nampak wajah ibunya yang cemas, nampak wajah ayah yang memanjakannya, nampak wajah kakaknya yang tersenyum manis menyambutnya. Ali merasakan sakit yang luar biasa di kepala dan disekujur tubuhnya. Ali langsung menangis “ aduh Bu…. Sakit…..kepala Ali sakit Bu….sakit “ tidak lama kemudian suara tangisan Ali semakin mengecil dan tertidur kembali.

Pada esok paginya Ali sudah segar dan tidak merasa terlalu sakit lagi, kemudian ibunya mulai bercerita dan memberitahukan semua yang terjadi. Ali pingsan selama enam jam, dan kaki sebelah kiri patah, maka Ali perlu istirahat sekitar dua bulan untuk memulihkan tulang yang patah itu. Mendengar ceritera ibunya, Ali menangis tanpa suara, air matanya mengalir sampai ketelinga, sesekali air mata penyesalan Ali diseka oleh ibunya yang setia menemani Ali terbaring. “ Ali harus tabah menerima kenyataan ini….Ali harus sabar menunggu sampai sembuh total……ibu yakin Ali pasti bisa naik sepeda lagi “ Ali tersenyum hambar.
“ Bu…” suara Ali iba “ ada apa sayang “ sahut ibunya menatap Ali nanar. “ Ali menyesal bu……. Ali minta maaf sama Ibu, sama Ayah dan dengan kak Udin……juga dengan kak Mila “.
“ Ia, kami maafkan Ali semua “
“ Bukan hanya itu ayah, Ali juga harus minta maaf sama semua teman-teman di sekolah, Ali sering berbuat jahat pada mereka, Ali menyesal atas semua perbuatan Ali yang jahat itu Bu“. Ayah, Ibu, Mila dan Udin saling pandang dan menganggukkan kepala. “ Nanti kakak Mila yang menyampaikan kepada semua teman-teman Ali di sekolah. Pokoknya Ali tenang saja di sini yah “. Ujar kakaknya member semangat.

Siang harinya teman-teman Ali benar-benar membludak, datang beramai-ramai kerumah sakit, riuh redahlah ruang VIP dimana Ali berada. Mereka saling berdesakan untuk masuk keruang itu, berebutan untuk melihat Ali. Bapak Satpam sampai datang membantu. Mereka di atur secara bergiliran, “ antri-antri….gantian, supaya didalam tidak pengab “. Kata pak satpam. Semuanya bisa bertemu dan melihat keadaan Ali. Semua haru dan iba melihat keadaan Ali yang penuh dengan bercak merah dan perban disekujur tubuhnya. “cepat sembuh ya Ali…cepat sembuh ya li…..cepat sembuh ya kawan” ujar teman-temannya yang bergantian mendekati Ali yang terus meneteskan air mata Mereka semua mendoakan agar Ali cepat sembuh, dan sekolah kembali bersama mereka. Ali meminta maaf kepada semua temannya yang datang. Ali tersenyum, Air matanya membasahi pipi, meneteskan air mata gembira menyambut kedatangan teman-temannya.
Aku harus cepat sembuh…aku harus sekolah lagi dan aku tidak akan nakal lagi. “semua teman-temanku datang menjenguk….terima kasih teman-teman, kalian semua teman yang baik, aku juga akan baik seperti kebaikan kalian” Ali tersenyum dan tertidur lagi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar