Senin, 13 April 2015

FILOSOFI AKIK LAPIS BANUA



FILOSOFI BATU AKIK LAPIS BANUA
BATU AKIK ASAL KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

Oleh : Saprudin, M. Si. Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Berau

Berbicara sejarah Berau dimulai dari manusia pertama yang mendiami kawasan karst sebelum adanya kerajaan sampai adanya kerajaan sungguh sangat panjang. Perjalanan sejarahnya sangat fenomenal dan diluar nalar berpikir manusia sekarang, bahkan apabila dihubungkan dengan masa Nabi Nuh, sejarah Berau sudah dimulai. Sebagai penulispun terperangah dan sangat terheran-heran, tetapi kenyataan sejarah tidak bisa dipungkiri dengan adanya beberapa peninggalan di gua-gua karst yang ada dipedalaman Berau.
Sejak 10.000-4.000 tahun yang lalu manusia purba sudah mendiami wilayah karst dan gua-gua yang ada disekitar Merabu sampai didaerah Bengalon, dibuktikan dengan peninggalan gambar batu cadas berbentuk telapak tangan dan beberapa jenis binatang di gua Beloyot, gua Abu dan beberapa gua lain ada disekitar Merabu, Mapulu dan Merapun. Pada sekitar tahun  2.000 sampai tahun 1.500 yang lalu, manusia purba tersebut berkembang lebih maju, mereka mulai membangun komunitas, dengan berkelompok dan hidup lebih modern, walaupun masih belum sepenuhnya meninggalkan tempat tinggal awal mereka, yaitu gua-gua dipegunungan karst. Komunitas yang lebih maju, mulai mendiami pesisir sungai yang terpisah dari gua. Pada akhir tahun 1.500 sudah ada beberapa tempat ditepi sungai dan pesisir pantai didiami manusia secara berkelompok, namun masih berpindah-pindah. Begitu datang manusia baru ke wilayah mereka, kelompok-kelompok yang belum mampu menyesuaikan diri, mereka langsung pergi menjauh lebih masuk kepedalaman, sedangkan yang dapat menyesuaikan diri dengan manusia baru tejadilah hubungan kekeluargaan dan kekerabatan dengan cara perkawinan. Kelompok ini kemudian menjadi lebih maju dan lebih modern dari yang pergi masuk kepedalaman. Kelompok-kelompok yang lebih banyak dan lebih ramai kemudian dikenal  Banua dan kelompok yang lebih sedikit di sebut dengan Rantau. Kemudian hari tempat yang lebih ramai atau kota disebut dengan Banua. Sedangankan yang lebih sedikit penduduknya disebut dengan Rantau. Tetapi sebutan Rantau juga berarti tempat, sungai yang lurus antara dua belokan disebut orang Berau dengan Rantau. Banua dan Rantau tersebut antara lain, Banua Pantai, Banua Marancang, Banua Kuran, Banua Bulalung Banua Lati, Rantau Suwakung, dan Rantau Bunyut, Ada kemungkinan besar, sebelum berdirinya kerajaan Berau, wilayah ini dibawah Kerajaan Sriwijaya. Sejak masa Sriwijaya sudah menyebarkan orang-orang diseluruh wilayah kekuasaannya sampai ke wilayan Banua dan Rantau yang ada di pesisir laut dan pesisir sungai  Berau di Borneo. Orang-orang utusan Sriwijaya tersebut menjadi perwakilan disana, baik untuk pemerintahan Sriwijaya maupun untuk memungut hasil atau pajak diwilayah Banua dan Rantau. Petugas yang datang dari Sriwijaya itu kawin mawin di Banua dan Rantau Berayu, kawin dengan orang-orang Dayak asli yang mendiami wilayah pesisir sungai dan pesisir pantai, percampuran orang Sriwijaya dengan orang Dayak tersebut menjadi cikal bakal orang Barrau. Orang Barrau keturunan Melayu dari Sumatera, keturunan dari Melayu utusan Sriwijaya. Kemudian hari dikenal dengan orang Berau. Setelah sekian lama dengan berjalannya waktu keturunan kerajaan Sriwijaya, keturunan Dayak asli dengan Melayu Sriwijaya tersebut menjadi para punggawa dan pemimpin di Banua dan Rantau, dengan pengalaman mereka dari kerajaan Sriwijaya kemudian hari mendirikan pemerintahan sendiri dengan merdeka. Bahasa Negara Kerajaan Barrau adalah bahasa Banua atau bahasa Barrau. Bahasa Barrau atau bahasa Banua tersebut adalah bahasa baru hasil perpaduan, percampuran bahasa Melayu Sriwijaya, Dayak Asli, Hindu, dan bahasa alam sekitar sesuai lingkungan kehidupan mereka. Kerajaan Barrau juga dikenal dengan Kerajaan Berayu (tulisan Sejarawan nasional Muh. Yamin), berdiri pada tahun 1.400 Masehi, dipimpin oleh Baddit Dipattung dengan gelar Adji Soerja Natakesoema. Soerja (Surya) artinya matahari, Natakesuma artinya menata Negara. Luas wilayahnya dari Tanjung Mangkalihat berbatasan dengan kerajaan Kutai, sampai di Kina Batangan berbatasan dengan Kerajaan Berunai. Laut berbatasan dengan Kerajaan Solok dan Laut Salebes (Sulawesi).
Dengan bahasa nasionalnya adalah Bahasa Barrau atau Banua, maka orang Dayak yang masuk diwilayah Kerajaan Berau dan pendatang seperti Tidung, Berunai, dan Solok yang ada di pesisir sungai, pesisir pantai dan pulau-pulau harus menggunakan bahasa pergaulan, bahasa nasional, bahasa persatuan yaitu Bahasa Banua. Oleh karena itu orang Dayak Lebbo, Dayak Ga’ai, Dayak Punan, dan Dayak Basaf harus bisa berbahasa Banua, maka bahasa Dayak Ga’ai, Lebbo, Basaf dan Punan banyak dipengaruhi dan bercampur dengan bahasa Melayu Banua.
Pulau Borneo terbentuk  pada masa Miosen sekitar 30 juta tahun yang lalu, berasal dari benua Eurasia yang besar, bergeser sehingga membentuk sebagian Jawa dan Borbeo (Kalimantan) bagian selatan. Pembentukan ini dilanjutkan pada masa Pliosen sekitar 12 juta tahun yang lalu melalui gerakan-gerakan tektonik yang menyebabkan pulau Borbeo terangkat keatas permukaan laut. Kemudian disusul pada masa Pleustosen sekitar 1 juta tahun yang lalu yang menyebabkan pula pasang surut tidak menentu. Berau terbentuk akibat proses geologi sehingga di beberapa pulau terdapat batuan kapur didataran tinggi. Pembentukan cekungan Tarakan (the Tarakan Basin) diduga didahului dengan pembentukan laut Sulawesi dengan pemisahan Pulau Sulawesi dari pulau Borneo pada pertengahan sampai akhir jaman Eosen (DKP,2009).
Dengan proses terbentuknya Borneo (Indonesia Kalimantan), daratan Berau seutuhnya diawali dengan batuan karst yang sangat luat, dengan proses alam selama jutaan tahun disekitar karst yang sangat luas itu naik semakin tinggi disekitarnya membentuk daratan baru. Didaratan baru itu ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan yang membentuk tanah dan bebatuan. Diantara bebatuan itu banyak yang terbentu dari kayu dan binatang yang kemudian dikenal dengan Fosil. Fosil menyatu dan tanah dan bebatuan yang terbentuk terus menerus dalam waktu cukup lama. Dari bebatuan dan fosil tersebut membentuk batu yang berwarna indah. Bebatuan yang sudah berusia ribuan tahun bahkan puluhan ribu tahun tersebut belum menjadi terhatian, karena harga intan, berlian, jamrut, emas, platinum, batu bara dan lain-lain masih menjadi idola. Akhir-akhir ini batu-batu yang dikenal dengan nama Akik menjadi popular, dijadikan buah tangan atau souvenir diluar batu mulia. Batu Bacan misalnya yang sudah berbentuk cincin dihadiahkan Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono kepada presiden Amerika Serikat Barak Obama. Batu Bacanpun menjadi popular dan mendunia, ditambah dengan kesukaan para artis kenamaan menggunakan batu mulia dan batu jenis Akik, maka akikpun menjadi familier ditelinga manusia diseluruh dunia.
Kabupaten Berau juga tidak ketinggalan, batu akik jenis fosil yang sangat indah dan unik juga muncul dan popular. Awalnya yang sangat popular dengan nama Lapis Banua.
Kenapa diberi nama Lapis Banua ? karena keindahan batu akik Berau sangat berbeda dengan batu akik didaerah lain diseluruh Indonesia. Lapis Banua dengan warna kecoklatan, sedikit berkristal, dengan motif bermacam-macam. Yang membanggakan daerah ini, Batu Akik Lapis Banua dengan embannya yang cantik dipakai oleh Bupati Berau dan wakil Bupati Berau. Akhirnya batu yang semula tidak berharga, tidak menarik dan tidak populer, tiba-tiba saja menjadi populer dan berharga mahal. Bagi penggemar batu akik diseluruh Indonesia, jenis batu akik Lapis Banua dan sejenisnya sangat dicari.  Selain itu akik Berau masih banyak lagi nama-namanya, antara lain, Bulu Monyet, Panca Warna, Junjung Derajat, Fosil kayu dan Fosil Ulin, Daun Teratai/Kembang Teratai, Fosil Kelabang, Fosil Tawon, Fosil Kembang, Red Borneo, dan masih banyak nama-nama baru lainnya. Salah satu nama yang terbaru adalah batu akik Merak Sanggam, batu akik bermotif Burung Merak Betina.
Filosifi Batu Akik Lapis Banua
Kerajaan Berau yang berdiri sejak tahun 1400, raja pertamanya Adji Soerja Natakesoema (Aji Surya Natakesuma) menyatukan 5 (lima) Banua dan 2 (dua) Rantau menjadi satu kerajaan baru yang merdeka dan berdaulat. Bahasa nasionalnya pada saat itu adalah bahasa Banua (Barrau). Penduduk Berau terdiri dari suku Dayak, suku Banua (Barrau), dan suku Bajau, ditambah dengan Berunai, dan Tidung. Bahasa pengantar Bahasa Banua. Kemudian datang Bugis, Solok, dan Banjar, masih bahasa pengantarnya adalah bahasa Banua. Masuk masa penjajahan Hindia Belanda didatangkan Jawa, Sunda, Manado, Ambon, sebagai pekerja, dan Cina sebagai pedagang. Bahasa pengantar masih bahasa Banua bercampur dengan bahasa Indonesia Melayu (cikal bakal bahasa Indonesia). Batu-batu indah dan cantik tersebut ditemukan diwilayah kerajaan Barrau yang sekarang adalah Kabupaten Berau. Karena kentalnya istilah Banua dari dulu sampai sekarang, wajar batu yang memiliki keindahan dan berharga tinggi itu diberi nama dengan Batu Akik Lapis Banua. Lapis Banua adalah symbol persatuan dan kesatuan yang erat, kuat, menyatu, dan tidak terpisahkan. Dari symbol kekuatan persatuan dan kesatuan itulah nama Batu Akik Lapis Banua menjadi popular dan pantas menjadi batu yang bernilai tinggi dan berharga mahal. Sedangkan nama batu akik Panca warna yang ditemukan dipedalaman Berau namanya adalah Panca Banua, berasal dari 5 (lima) Banua yang disatukan oleh Raja Pertama Berau.

Tanjung Redeb, 2 April 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar