Minggu, 26 April 2015

BAI MALANGUI ADALAH BABI MENYEBERANG SUNGAI



BAI MALANGUI

Saprudin Ithur
Alam Kabupaten Berau yang 60-70% masih terjaga dengan baik, keanekaragaman hayati, flora dan fauna masih oke adalah menjadikan tumpuan mata dunia melirik keindahan alam dan kekayaan alam yang tersimpan didalamnya. Kawasan bahari masih 70-80 % terjaga dengan baik, pantai dengan hutan mangrove-nya masih bagus, hutan masih 40-55 % terjaga, daerah tanah datar dan gambut disepanjang aliran sungai sebagian besar masih terjaga.  Pergerakan fauna masih mendapat ruang bebas dan habitatnya masih mendukung, walaupun banyak yang tahu, rusa, kijang, trenggiling, bulus, macan dahan, burung enggang, burung tebengang terus diburu dan keberadaannya mulai menghawatirkan, perkembang biakannya sudah sangat terganggu. Semua adalah olah prilaku manusia yang tidak menghargai dan menghormati alam dan lingkungannya. Tetapi apabila segera diimbangi dengan aturan yang baik dan ketegasan aparatur negara dalam tugas mengawasi penangkapan fauna, apalagi yang dilindungi, masih besar harapan masyarakat Berau dengan kelestarian alam sekaligus terjaganya flora dan fauna. 
Bai Malangui atau babui melangui artinya babi menyeberang sungai secara berombongan. Bai atau babui artinya babi. Babi itu menyeberang berombongan dengan berbanjar, moncong mulut masing-masing menopang pada bagian atas punggung yang ada di depannya dan seterusnya sampai puluhan ekor. Induk babi menyeberang sungai bersama dengan anak-anak, biasanya ayahnya paling depan dilanjutkan dengan anak-anaknya dan terakhir ditutup oleh ibunya. Apabila tidak ada ayahnya, ibunya paling depan dilanjutkan dengan anak-anaknya. Begitu pula dengan babi dewasa serombongan, pemimpinnya yang turun lebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan yang lain yang lebih muda. Berdasarkan pengalaman setiap babi menyeberang yang dikenal dengan bai malangui itu, babi pertama sebagai pemimpin menggigit kayu atau ranting dimulutnya. Saat turun kesungai dipilih tempat yang nyaman untuk turun, turun kesungai teratur dan berurutan. Babi kedua, ketiga dan seterusnya menopangkan moncong mulutnya di pinggul babi didepannya, tersambung dengan baik dan rapi, dengan keteraturan. Saat mereka berenang bersamaan seperti itu berusaha secepatnya sampai diseberang, dalam perjalanan menyeberang, mereka larut terbawa arus semakin jauh. Kekuatan mendorong maju berenang bersama itu sangat seimbang agar pengikut dibelakangnya tidak putus dan terpisah dari rombongan karena dorongan arus. Sekali lagi keteraturan dan keseimbangan sangat dibutuhkan, kecil, besar, ataupun induknya sudah sangat memahami.
Saat babi menyeberang sangat diperhatikan oleh penduduk setempat. Pada saat babi menyeberang itu adalah rejeki bagi para pemburu babi yang ada di kampung. Lagi musim babui malangui itu adalah pengharapan bagi seluruh penduduk, mereka pasti banyak makan daging segar selama sebulan sampai tiga bulan kedepan. Penduduk mengetahui musim babui melangui sepenuhnya melalui tanda-tanda alam.
Tanda-tanda alam tersebut adalah sebagai berikut. Menjelang malam kalong terbang mencari makan, mereka terbang sampai puluhan kilometer dari sarangnya. Saat dini hari kalong-kalong itu bersiap untuk kembali, sebelum matahari terbit kalong-kalong yang sudah kenyang sudah berada ditempatnya untuk tidur sepanjang siang.
Penduduk pedalaman tinggal dan membuat rumah ditepi sungai. Kemana arah pergi ratusan kalong terbang jadi perhatian penduduk pedalaman setiap sore menjelang malam. Apabila arahnya kebarat, maka banyak makanan tersedia disebelah barat, apabila ratusan kalong terbang ke timur, maka buah-buahan tersedia di sebelah timur. Tanda alam itu mengundang babi harus pergi kearah mana untuk mencari makan. Kalong menuju kebarat, maka babi juga berangkat kebarat, walaupun harus menyeberang sungai yang dikenal dengan babui atau bai  melangui. Artinya babi menyeberang sungai itu tidak setiap saat, tetapi selalu ada. Karena babi yang tinggal di sebelah barat sungai, akan menyeberang sungai apabila makanan atau buah-buahan tersedia disebelah timur sungai. Sebaliknya apabila makanan atau buah-buahan tersedia disebelah barat, babi yang berada disebelah timur akan menyeberang kesebelah barat. Tanda-tandanya dari perilaku ratusan kalong yang terbang waktu sore menjelang malam. Tanda-tanda alam tersebut adalah salah satu hukum yang tidak tertulis, tetapi ya kebenarannya.
Musim itu adalah musim buah tertentu ditempat tertentu. Saat buah tertentu jadi, maka kalong menjelang malam terbang menuju tempat itu, pertanda buah ditempat itu jadi. babi juga akan menuju kearah mana kalong terbang. Tidak perduli harus melewati aral melintang yang penuh tantangan, karena kebutuhan makanan untuk induk dan anak-anak babi yang harus mendapat asupan makan segar, sehat, dan bagus. Salah satu lintasan jalan kelompok babi harus menyeberangi sungai, babi harus menyeberang dengan berenang. Saat berenang itulah dikenal dengan babi, bai, atau babui melangui atau babi menyeberang sungai. Maka pada musim babi menyeberang itu sangat ditunggu-tunggu bagi para pemburu babui melangui.
Para pemburu menunggu diseberang sungai dengan menggunakan perahu, didalam perahu tersedia tumbak dan mandau. Begitu terlihat rombongan babi menyeberang dibiarkan dulu, para pemburu harus sabar menanti saat yang tepat. Begitu mereka bergerak dengan berenang sudah sampai ditengah sungai, para pemburu langsung bergegas mendayung perahunya ketengah sungai menuju rombongan babi yang berenang tersebut. mereka beramai-ramai mengejar babi yang sedang berenang berbanjar menyeberangi sungai itu. Dengan datangnya para pemburu dengan perahunya, babipun kemudian berenang kocar-kacir, terpisah, putus-putus, terpisah dari rombongannya. Bingung, ada yang berenang ke hulu, ke hilir, kembali dan ada pula yang terus berusaha ke seberang. Dengan mudah pemburu babi ditengah sungai menangkap babi-babi itu. Sebagian babi mati dibacok dan ditumbak baru dinaikkan keperahu, sebagian lagi ditangkap hidup-hidip dan dinaikkan juga ke dalam perahu, para pemburu dengan senyum sumringah pulang ke kampung memamerkan pendapatannya berburu babi menyeberang sungai. Di kampung, anak-anak, orang-orang tua, dan para gadis ramai menyaksikan kedatangan para pemuda yang gagah perkasa membawa hasil tangkapan Bai Malangui.
Hasil buruan dimasak dan dimakan sepuas-puasnya pada acara pesta kampung, sisanya diletakkan di atas dapur, agar selalu kena asap dapur pada saat menanak nasi namanya disalai. Dengan demikian daging bisa tahan sampai berbulan-bulan tidak rusak. Tetapi itu ceritera dulu, berbeda dengan sekarang. Sekarang para pembeli daging babi sudah siap dengan mobilnya ditepi jalan dekat dengan sungai. Berapa saja banyaknya babi yang didapat oleh para pemburu babi malangui, pedagang siap membeli dengan uang kontan. Maka semangat para pemburu babi menyeberang sungai, menjadi lebih dan bernilai. Selama tiga bulan muism berburu babi malangui dijadikan penopang kehidupan, usaha tambahan selain berkebun dan bertani menanam padi.
Ada hal yang penting disampaikan penulis dalam kesempatan ini, yaiu ada aturan adat yang mengikat bagi semua penduduk pedalaman. Aturan adat ini mengikat tidak hanya untuk orang Dayak saja, tetapi untuk semua orang yang tinggal dan berusaha dipedalaman. Selama musim babi menyeberang sungai atau bai malangui, tidak boleh atau dilarang keras ada satu orangpun yang berburu dihutan, apalagi berburu dengan membawa anjing. Apabila ada yang melanggar larangan hukum adat, pelakunya diberikan hukuman yang sangat berat berupa membayar denda, sesuai dengan aturan masing-masing kampung dipedalaman sungai Kelai dan Sungai Segah.
Apa alasan pelarangan berburu babi kehutan saat musim babi menyeberang sungai sampai menjadi hukum adat ? Ternyata apabila pada musim babi menyeberang sungai diburu dihutan, maka babi-babi yang seharusnya menyeberang sungai tidak jadi menyeberang. Semua babi memiliki penciuman yang sangat bagus mampu mengendus bau manusia yang ada disekitarnya lalu pergi jauh tidak jadi menyeberang sungai atau babi-babi itu lari tunggang langgang karena dikejar dan di gong-gong anjing pemburu dihutan, sedangkan para pemburu babi menyeberang menunggu kedatangan babi menyeberang sungai, mereka tidak medapat apa-apa. Tetapi diluar musim babi menyeberang sungai siapa saja boleh berburu babi di hutan
Ada satu hal yang lebih penting dipahami berikutnya, yaitu naluri babi putus. Mereka berangkat pindah ketempat baru itu berdasarkan naluri kebinatangan yang sangat peka, apabila naluri itu putus, berarti sangat mengganggu kehidupan babi. Apabila naluri mereka mengatakan ada makanan ditempat lain yang jauh dari tempat mereka sekarang, harus tersambungkan. Apabila putus ada kemungkinan mereka akan kelaparan, ketersediaan makanan disekitar mereka hidup sekarang sudah menipis, tidak mencukupi untuk pertumbuhan anak-anaknya yang semakin membesar dan membutuhkan asupan makanan lebih banyak. Anak-anak babi membutuhkan makanan selain umbi-umbian juga butuh makan buah-buahan, karena sudah mulai meninggalkan meminum susu ibunya. Begitu dan seterusnya. Kemudian mereka beranak lagi, membutuhkan rantai makananan lagi. Secara alamiah alam menyediakan rantai makanan tersebut. Oleh karena itu apabila habitatnya atau alamnya dirusak kemungkinan besar ketersediaan makanan menipis, berarti tidak cukup kebutuhan makanan untuk berkembang biak. Atau berbalik melawan alam, mereka harus segera beradaptasi melawan kerasnya kehidupan, harus mencari makan dengan cara apapun. Termasuk naluri membunuh dan memakan segala, akibatnya sangat fatal bisa saja babi jadi membunuh manusia dan memakannya. Yang celakanya nanti, manusia hanya menyalahkan binatang, bukan menyalahkan prilaku manusia yang merusak habitat mereka (alam), memutus rantai makanan, merusak naluri kebinatangan, lalu manusia membunuh binatang tanpa kendali.
Penjelasan diatas adalah salah satu rantai kehidupan binatang yang namanya babi saja. Bagaimana dengan rantai kehidupan dan makanan binatang lainnya. Dan bagaimana dengan rantai kehidupan manusia. Apabila dikupas tentu menjadi pembahasan yang menarik dan luar biasa. Yang pasti….. 

Manusia hidup membutuhkan alam dan tergantung pada alam, tetapi sebaliknya alam tidak terlalu perlu membutuhkan manusia. Karena alam dalam rantai kehidupan dan rantai perkembangbiakannya sudah teratur sedemikian rupa berdasarkan alamnya. Sedangkan manusia sangat berbeda. Semua dalam kehidupan sehari-hari manusia menggunakan peralatan yang dibuat berasal dari alam. Membuat sebuah rumah saja, contohnya. Semua bahannya dari alam. Mari kita lihat : pertama, batu bata terbuat dari tanah liat yang diaduk dengan air, kemudian dibakar dengan kayu; kedua, pintu, jendela, kosennya dari bahan kayu; ketiga, semen terbuat dari bahan batu kapur dicampur dengan bahan tertentu juga dari alam; keempat, atap rumah terdiri dari sirap, daun nipah, seng, semuanya berasal dari alam. Jadi pada perinsipnya manusia tergantung pada alam. Oleh karena itu manusia harus bijak dan pandai menjaga keseimbangan alam. Apabila manusia serakah dalam menggunakan dan memanfaatkan alam, akibatnya bencana besar kembali ditimpakan kepada manusia juga.


Bagaimana dengan berburu babi malangui, apakah memutus naluri kebinatangan babi ? ternyata tidak. Unik memang, tetapi ini alamiah, ini semua bagian dari rangkaian kehidupan di alam. Babi-babi tersebut tetap berusaha menyeberang ditempat yang sama. Walaupun kemarin ditempat itu sebagian dari babi-babi tersebut sudah ditangkap dan dibunuh disungai. Bekas manusia, bekas babi, darah babi dan lain-lain yang ada disungai tersapu bersih oleh arus air secara alamiah, otomatis tidak bisa diendus dan dibaui lagi oleh hidung babi yang memiliki ketajaman penciuman. Untuk diketahui disepanjang sungai ada ribuan bahkan puluhan ribu tempat babi malangui.

Ingin melihat langsung dan ikut menangkap bai malangui, datang saja ke Kabupaten Berau. Sepanjang sungai dipedalaman sungai Kelay dan sungai Segah setiap bulan, mulai bulan Agustus, September, Oktober, November, bahkan kadangkala bulan Desember dan Januari berburu babi malangui atau babi menyeberang sungai masih dilakukan. Hubungi mereka, datang langsung kekampung suku Dayak dan silahkan negosiasi untuk bersama mereka berburu babi menyeberang sungai. Jangan lupa puncaknya pada bulan September, Oktober dan November. Sedangkan ikan naik raja biasanya jatuh pada bulan Agustus setiap tahunnya.


Tanjung Redeb, Minggu 15 Pebruari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar