Selasa, 26 Mei 2015

PEMBAKAL AMBI KEPALA KAMPUNG PERTAMA DI MUARA LESAN



SAPRUDIN ITHUR


PAMBAKAL AMBI

(RAMLIE BIN ACHMAD)









PAMBAKAL KAMPUNG MUARA LESAN

PERTAMA

PRIODE 1908-1938











Menurut pertanggalan atau almanak Muhammadiyah, tanggal 2 Oktober 2014 lalu adalah Milad Muhammdiyah yang ke 102 (Organisasi Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912) berdasarkan hitungan tahun Masehi. Dalam rangka Milad Muhammadiyah tersebut Lembaga Pendidikan  Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah  Muhammadiyah Tanjung Redeb yang dikenal dengan STIT Muhammadiyah akan melaksanakan perhelatan besar yaitu melaksanakan Wisuda mahasiswa pada tanggal 18 November 2014. Berkenaan dengan Milad Muhammadiyah yang ke 102 tersebut penulis akan menceriterakan sebuah kisah besar perjalanan hidup seorang tokoh muda yang dikenal dengan nama Pambakal Ambi. Pambakal pertama Kampung Muara Lesan dipedalaman sungai Kelay, dibawah pemerintahan Kesultanan Sambaliung, tokoh Kaum Muda (sebutan Muhammadaiyah) tempo dulu. Kisah ini diangkat bukan menelusuri perjalanan organisasi Muhammadiyahnya, tetapi mengangkat kisah perjalanan hidup Ramlie bin Achmad sebagai tokoh masyarakat yang memegang amanah ditugaskan Sultan Sambaliung menjadi seorang Pambakal di Kampung Muara Lesan tempo dulu. Kisahnya sebagai berikut :

Seorang tokoh Banjar yang tidak dapat dilupakan dalam perjalanan sejarah Berau khususnya Keraton Sambaliung pada dekade 1880-an adalah seorang pemuda lajang yang sangat dikenal akan keberanian, kepandaian dan kepiawaiannya dalam bergaul dan dialah orang pertama yang mampu menghimpun kelompok-kelompok masyarakat pedalaman sungai Kelai yang masih sederhana serta hidup berpindah-pindah. Sebagian dari mereka masih primitif, tinggal di gua-gua batu, dibanir-banir kayu, atau dipondok ( lapau ) kecil ditepi sungai dan dekat pohon-pohon  besar ditengah hutan belantara. Mereka selalu merasa curiga dengan orang baru, dan masih belum mampu bergaul dengan orang luar atau pendatang.
Pemuda itu adalah RAMLIE yang dikenal kemudian dengan panggilan Pambakal AMBI. Ambi panggilan sehari-hari, nama sebenarnya adalah Ramli, sedangkan pambakal adalah nama lain dari Kepala Kampung pada zaman itu. Tidak kurang dari tiga puluh tahun memimpin masyarakat pedalamaan sungai Kelai penyambung lidah dan sekaligus mewakili Sultan Kesultanan Sambaliung. Ramli adalah seorang tokoh kaum muda Muhammadiyah yang panatik. Dan dialah tokoh kaum muda pertama menelusuri sungai Kelai. Dan berdomisili di kampung Muara Lesan yang dibukanya bersama beberapa orang rekan yang sengaja dibawa kesana sampai dengan akhir hidupnya pada tahun 1938 dan dimakamkan dikampung Banjar, Batumiang. Seyogyanya Pambakal Ambi mendapatkan penghargaan yang tinggi dari Kaum Muda (Muhammadiyah), karena beliau termasuk orang pertama yang mengembangkan Muhammadiyah di tanah Berau Bumi Batiwakkal.
Semua hasil hutan  dari pedalaman sungai kelai ditampung di Kampung Muara Lesan  di rumah Pambakal Ambi, dan kemudian dengan disaksikan oleh masyarakat setempat barang tersebut dilelang kepada para pedagang yang memang sudah datang di Kampung Muara Lesan itu. Begitulah pembakal Ambi yang hampir dari separuh hidupnya membina masyarakat pedalaman sungai Kelai menjadi wakil penyambung lidah dari Sultan Sambaliung, dan sekaligus mewakili Kontruliur pemerintahan Hindia Belanda di wilayah sungai Kelai yang sudah bercokol di tanah Banua Berau.
           

  1. SUNGAI KELAI MASA DOELOE

Sungai Kelai yang panjangnya lebih dari 254 Km meliuk-liuk, menukik dan berbelok-belok sampai menembus kewilayah perbatasan dengan sungai Sangkulirang dan sampai keperbatasan  Kutai serta hampir bertemu dengan ujung sungai  Segah di hulu, mempunyai puluhan anak sungai diantarannya  sungai Inaran, sungai Long Gie, sungai Lesan, dan banyak sungai kecil lainnya. Sungai yang panjang itu seolah ekor naga raksasa yang memukul dan mengibas membelah hutan, rawa, dan belukar ditengah padang nan luas. Sungai Kelai yang airnya kadang bening dan kadang keruh itu tumpah dan masuk kesungai Berau yang dulu dikenal dengan Kuran dan kemudian bersama dengan air sungai Segah tumpah kelaut bebas melalui muara Lungsuran Naga, muara Pegat, dan Muara Kasai.
Kiri kanan sungai Kelai hutannya lestari, menghijau, memenuhi pinggiran sungai, sampai ranting dan daun-daun jatuh kesungai. Biawak, berang-berang, ular taddung, dan ular sawa (piton), banyak berkeliaran hulu hilir dan memotong menyeberangi sungai. Lain lagi dengan buayanya. Buaya kecil, dan besar sering terlihat ditengah sungai, bahkan dimana ada tempat-tempat bersih dan terang, pantai pasir, pantai koral disana buaya-buaya itu mendarat dan berjemur dengan mulutnya mengngangnga menyerap panas matahari. Diranting ranting kayu hinggap bermacam-macam burung, ada burung hijau pemakan ikan, ada burung tampurukan, dan burung kalibarau yang suka mandi disungai setiap pagi dan sore dengan kicaunya yang menawan. Dipohon-pohon besar ada burung tiung, burung rangkai, burung enggang, burung elang, burung gagak, bekantan, uat-uat, kukang, bangkui, orang utan, dan lain lain. Sedang didaratnya ada babi, kijang, payau (rusa), pelanduk (kancil), beruang, badak, Rimaung daan (macan dahan), landak, musang, bekantan, puluhan jenis monyet, ratusan jenis semut, puluhan jenis kupu-kupu. Dipohon bangris yang tinggi menjulang, dicabang-cabangnya bergelantungan sarang lebah madu yang sangat manis.
Perjalanan satu-satunya pada saat itu dari Tanjung Tuan Cools menuju Kampung Muara Lesan hanyalah melalui jalur sungai dengan menggunakan perahu yang didayung  atau didorong dengan tanggar (kayu panjang). Untuk sampai ke Muara Lesan ditempuh selama tujuh hari tujuh malam, kalau air sungai Kelai lagi banjir sampai sepuluh malam baru sampai di Kampung Muara Lesan, sedangkan turun atau lusung dari Muara Lesan ke Tanjung ditempuh selama tiga hari tiga malam, lebih cepat karena mengikuti arus air sungai yang turun kehilir dengan cepat.
Di Tanjung Tuan Cools ditumbuhi pohon yang subur berbunga warna merah indah sekali. Pohon yang berbunga indah itu dikenal masyarakat Berau dengan nama pohon Raddab, oleh karena itu Tanjung Tuan Cools itu juga disebut Tanjung Raddab. Tuan Cools adalah seorang pengusaha Kayu berkebangsaan Britis, England, atau kita kenal dengan negara Inggris. Pengusaha kayu tersebut didatangkan khusus oleh Hindia Belanda.
Kota-kota yang ramai pada saat itu baru Teluk Bayur, Gunung Tabur dan Sambaliung, serta Kampung Banjar di Batumiang. Dihilir sungai Berau ada kampung Sukan, kampung Batu-Batu, kampung Marancang. Sedangkan Keraton Istana Raja Alam tahun 1810 di sungai Gayam telah lenyap tanpa penghuni dan sudah menjadi hutan, yang tertinggal hanya tiang atau tongkat keraton yang tinggi besar dari pohon kayu ulin. Tiang kayu ulin peninggalan Raja Alam masih terlihat sampai tahun 1980 di sungai Gayam.
Sungai Kelai nan indah dan permai diapit oleh hutan yang lebat dan tebing-tebing batu terjal sampai saat ini masih menjadi saksi abadi bagi orang-orang yang hilir mudik melintasi sungai  selama ratusan tahun.


  1. SANG PERANTAU     

Pada saat jaman masih sangat sulit, jalan-jalan darat di pulau Borneo masih sangat terbatas, kehidupan masyarakatpun masih serba kekurangan dan apa adanya, sedangkan penjajahan Belanda masih mencengkeram dengan kuat dibumi Nusantara tanah tercinta. Dari negeri Amuntai pergilah seorang pemuda untuk mengadu nasib dinegeri orang,  dia adalah pemuda Ramlie yang tampan, berperawakan tinggi, gempal, hidung sedikit mancung, dan kepala suka digundul berkulit bersih kuning langsat. Dia lincah, pandai bercakap-cakap, tidak pemalu, cakap, dan mudah akrab dengan siapa saja. Ramlie berangkat dari kampungnya di Amuntai Kalimantan Selatan berkisar tahun 1899 dalam usia kurang lebih 32 tahun ( lahir tahun 1867 di Amuntai ) dengan menumpang kapal menuju kearah Timur dan kemudian melanjutkan ke wilayah utara Kalimantan Timur, sampai di Tarakan, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bulungan. Singgah beberapa lama di Bulungan. Melalui hulu sungai Bulungan Ramlie dengan berjalaan kaki menembus kesungai Segah dan turun ke Tanjung Tuan Cools (Sekarang Tanjung Redeb). Dan kemudian tinggal di Tanjung. Selama di Tanjung Ramlie sering bertandang ke Keraton Sambaliung. Para sesepuh Sambaliung mengenal Ramlie sebagai pemuda yang berani, cakap, sopan, dan pandai bergaul. Selama pergaulan itu Ramlie menguasai bahasa Banua (Berau). Kemudian Ramlie Bergabung dalam kelompok Kaum Muda yang sekarang dikenal dengan organisasi Muhammadiyah baik yang ada di Tanjung maupun yang ada di Sambaliung. Sedangkan Keluarga dekatnya dari Amuntai Saat namanya menganut aliran kaum Tua (Nahdathul Ulama) di Tanjung dan berhubungan  dengan Sultan Gunung Tabur.

  1. TUGAS KEPEDALAMAN SUNGAI KELAI

Kemudian karena ketangkasan dan kemampuannya, Ramlie diutus oleh Sultan Sambaliung untuk mewakili sultan di pedalaman sungai Kelai. Sebagai perpanjangan tangan sultan dipedalaman sungai Kelai. Tugas mulia dari Sultan Sambaliung disambut dengan suka cita oleh Ramlie. Ramlie sebagai pendatang baru bangga sekali mendapat kepercayaan langsung dari Sultan. Satu penghargaan yang tiada tara yang diberikan oleh Sultan kepadanya. Tugas itu ia sampaikan kepada keluarga dekatnya Saat dan beberapa kerabatnya. Mereka semua dengan suka cita mendukung Ramlie dan memberi semangat untuk segera melaksanakan tugas dari Sultan Sambaliung.
Survey kepedalamanpun mulai dilaksanakan, dengan tujuan mencari lokasi baru yang cocok dijadikan tempat pemukiman baru., sebagai kepanjangan tangan sultan di pedalaman. Setelah beberapa waktu maka ditemukanlah tempat yang cocok. Berada ditengah-tengah. Tidak terlalu kehulu sungai dan tidak terlalu kehilir, maka dipilihlah  Muara Sungai Lesan sebagai tanah baru  yang sangat subur.
Didalam sungai Lesan didiami suku Dayak Lebo/Lebu, di hulu sungai Kelai didiami suku Dayak Punan, dihilirnya didiami suku Dayak Kenyah dan suku Dayak Ga’ai. Muara Lesan berkedudukan ditengahnya. Muara Lesan dibuka menjadi perkampungan baru oleh tiga serangkai empat penjuru diluar suku-suku Dayak dipedalaman sungai Kelay tersebut diatas.
Kemudian mereka menetap dan berkedudukan di Muara Lesan. Berkedudukan di Muara Lesan sebagai kampung yang baru dibuka, Ramlie sebagai kepanjangan tangan dari Sultan Sambaliung dipercayakan untuk mengatur enam belas kampung sebagai Pembakal dipedalaman sungai Kelay itu.
Kampung dan suku yang diaturnya terdiri dari    :

1.      Kampung Merasa, suku kenyah.
2.      Kampung Long Keluh, suku kenyah.
3.      Kampung  Busang Lalu, suku kenyah.
4.      Kampung Salungun, suku kenyah.
5.      Kampung Longgi, suku kenyah.
Raja Suku Kenyah seorang gagah berani Long Bang Ping dengan gelar Aji Muda.
6.      Kampung Lesan Dayak,  suku Segai ( Ga’ai ).
Kepala Adatnya adalah Anyi
7.      Kampung Long Duhung, suku Punan.
Kepala Adat, Leh Haun dengan wakilnya,  Bang Wahis
8.      Kampung Long Keluh, suku Punan
9.      Kampung Long Lamcin ( pohon salak ), suku Punan
Kepala adat, Bang Halok
10.  Kampung Long Pelai, suku Punan
Kepala Adat, Taman Jiang. Dengan wakilnya, Leh Talong.
11.  Kampung Long Sului, suku Punan.
Kepala Adat, Jiu Tulus.
12.  Kampung Puntian, suku Lebbu
13.  Kampung Merapun, suku Lebbu
14.  Kampung Merabbu, suku Lebbu
15.  Kampung Perenggun, suku Lebbu
16.  Kampung Mapulu, suku Lebbu
17.  Kampung Muara lesan, terdiri dari suku campuran bukan Dayak.

Ramlie membangun rumah di Muara Lesan, yang cukup besar pada masa itu, dengan ukuran 16 x 16 meter, kemudian setelah lebih ramai Ramlie membangun lagi sebuah rumah  yang sama besarnya dengan yang sudah ada.
Rumah pertama dijadikan tempat tinggal keluarga Ramlie, sedang rumah yang kedua dijadikan tempat penampungan warga yang datang, atau tamu dari Sambaliung dan para pedagang yang menjual dan membeli dagangan disana. Sedangkan dibagian belakang rumah besar itu di jadikan gudang penampungan hasil bumi dari pedalaman sungai Kelai
Para tamu yang datang ke Muara Lesan sangat dihormati, mereka dijamu selama berada disana. Penjamuan kepada tamu tidak dibeda-bedakan, baik tamu yang datang dari Tanjung, Sambaliung, maupun datang dari pedalaman. Hanya Suku Punan pada masa itu belum makan nasi, mereka masih makan sagu yang tumbuh dihutan dekat dengan tempat tinggal mereka.
Pambakal Ambi bertugas di Muara Lesan  tidak kurang dari 30 tahun sampai dengan akhir hayatnya. Selama 30 tahun di pedalaman Ramlie sempat beristri lima orang dan menurunkan ratusan cucu dan cicit yang tersebar diberbagai kota dan Kampung.
  1. TIGA SERANGKAI EMPAT PENJURU

Distrik kesulitan untuk mengontrol atau mengawasi wilayah pedalaman sungai Kelai, apalagi upayanya gagal dalam mendekati masyarakat Dayak yang masih belum mau berkomunikasi dengan masyarakat atau orang luar. Paling-paling kalau ada kunjungan kepedalaman yang mau bertemu hanya satu dua orang saja, padahal hasil bumi dari pedalaman sungai Kelai cukup besar. Dari perdagangan hasil bumi seperti rotan, sarang burung putih, getah kalapiyai, damar, dan lilin madu belum ada hasilnya buat pemerintahan Hindia Belanda dan Kesultanan Sambaliung. Lebih jelasnya pajak belum dapat dipungut dengan maksimal dari hasil yang besar dari pedalam sungai Kelai itu. Akhirnya pihak Kerajaan Kesultanan Sambaliung dan pihak Hindia Belanda yang masih berkuasa di tanah Berau mencari jalan keluar untuk mengatasinya.
Dengan kedatangan tiga serangkai yaitu Ramlie, Majur, dan Kasim berasal dari Banjar yang sudah berpengalaman menjelajahi pedalaman Kalimantan khususnya pedalaman Kalimantan Selatan dan pedalaman Kalimantan Timur sering berpetualang dan melanglang buana di pedalaman sungai Mahakam, pedalaman Bulungan dan pedalaman Berau, dan khususnya Ramlie yang juga dikenal dengan nama Ambi itu menguasai beberapa bahasa Dayak pedalaman, seperti bahasa Segai/ Ga’ai, Punan, Lebbu, Basaf dan Kenyah. Ramlie sangat mudah berkomunikasi dengan beberapa suku Dayak yang mendiami dikisaran pedalaman sungai Kelai. Dengan berbagai pertimbangan yang matang dari pihak distrik yang membawahi wilayah sungai Kelai dibawah koordinasi Pemerintahan Hindia Belanda dan Kesultanan Sambaling bersepakat untuk menunjuk perwakilan di Pedalaman sungai Kelai. Kesultanan Sambaliung menunjuk dan menugaskan Ramlie sebagai perwakilan di Pedalaman sungai Kelai. Dengan penugasan tersebut Ramli membawa orang-orang yang dapat dipercaya untuk membangun kampng. Muara Sungai Lesan sebagai pilihan tepat untuk membangun kampung sebagai perwakilan Distrik dan Kesultanan Sambaliung.
Rombongan berangkat menuju Muara Sungai Lesan yang ditempuh tidak kurang dari tujuh hari tujuh malam. Rombongan tersebut kemudian hari dikenal dengan sebutan empat penjuru. Mengapa yang membangun Kampung Muara Lesan itu di kenal dengan empat penjuru ?
Karena rombongan yang membuka dan membangun kampung Muara Lesan pertama itu terdiri dari empat suku, yaitu :

1.      Suku Banjar terdiri dari Ramli, Majur, dan Kasim.
2.      Suku Banua ( Berau ) sebagai pemilik Berau terdiri dari  Amang Jauhar, Unduk, dan Parrang.
3.      Suku Bugis  terdiri dari H. Ramang, Ambo Rio, dan Wak Supu  
4.      Suku Cina ( Tiong Hoa ) terdiri dari Muksin dan Cungi.

Untuk mengisi dan menambah penduduk Kampung  yang baru dibuka oleh tiga serangkai empat penjuru itu, Ramlie kemudian hari membawa kawan-kawannya yang lain untuk tinggal disana sekaligus membantu tugas-tugasnya. Yang dibawa bersamanya ke Muara lesan antara lain Guru Agama Sarua ( Keili ),  Mamanga ( Keili ), Anja, Bujang Jaliha, Amma Kil (Tidung), Lahaking (cina). Mereka terdiri dari pekerja keras, pedagang dan pengusaha pada masa itu.
Kemudian hari H. Ramang dikenal dengan Pengulu, Imam, dan Khatib. Sedangkan Muksin, Cungi, dan Lahaking menjadi pedagang tersohor dipedalaman sungai Kelai.


  1. HASIL HUTAN DILELANG DI MUARA LESAN

Perjalanan dari Tanjung menuju ke Muara Lesan dan lain-lain kampung hanya melalui jalur sungai. Dari Tanjung ke Muara lesan ditempuh dengan perahu yang muatan sampai dua ton di dayung (Bassai) oleh tujuh orang selama 7 hari. Pada malam hari beristirahat di pantai pasir (gusung) sungai Kelay sambil menyalakan api untuk memasak dan menghangatkan kaki yang seharian terendam air dalam perahu. Kalau tidak dilakukan seperti itu, kaki menjadi gatal dan terkupas tipis dan balancat (gatal-gatal).
Kalau musim banjir perjalanan menuju ke Muara Lesan sampai sepuluh hari dengan mendayung, dibantu dengan tanggar, dan kait dari dahan kedahan yang menjulur disungai deras itu. Sedangkan kembali dari Muara Lesan menuju Tanjung hanya ditempuh dalam waktu tiga hari saja. Lebih cepat, karena mengikuti arus sungai kehilir.
Para pedagang mulai ramai hilir mudik dari Tanjung tuan Cools ke Kampung Muara Lesan. Dari Tanjung mereka membawa garam , gula, tembakau, kain, dan lain-lain keperluan orang-orang dipedalaman. Dari Muara Lesan para pedagang membawa hasil hutan seperti getah ampau, getah putuk, getah kalapiyai, lilin madu, rotan saltup, rotan segah/segai, rotan semambu, kayu gaharu, sarang burung walet, damar kepala tupai, damar tulang, damar mata kucing, damar daging. Damar daging adalah damar dari pohon kayu agatis, damar yang paling mahal dan paling dicari. Cula badak juga laku dan sangat mahal.
Hasil itu sebelum dibeli oleh para pedagang, oleh Ramli dikumpulkan di Kampung Muara Lesan, dan apabila sudah cukup, semua hasil itu di lelang secara terbuka dihadapan rakyat dan para pedagang yang datang. Para pedagangpun berebut untuk mendapatkan dagangan yang menguntungkan itu. Setelah lelang selesai hasil hutan  dibawa ke Tanjung tuan Cools (Tanjung Redeb).
Timbangan yang dipergunakan saat itu Kati, satu kati sama dengan enam on. Sedangkan kain dijual dengan ukuran Jar, bukan ukuran meter seperti sekarang. Satu Jar sama dengan 80 cm


  1. MENGHADIRI PESTA ADAT

Hampir setiap kampung orang-orang Dayak, setelah panen padi mereka mengadakan keramaian, sebagaimana pesta adat, dengan tujuan mengucapkan terima kasih dan mengucap syukur kepada Tuhan yang dikenal mereka dengan Matau.  Suku Lebbu, suku Segai, suku Kenyah, dan suku Punan belum memiliki agama yang tetap. Mereka masih beragama adat. Agamanya sesuai dengan adat masing-masing suku. Boleh jadi sebagai agama adat kepercayaan yang mereka alami selama hidup. Matau adalah Tuhan mereka.
Mereka masih kuat percaya pada gunug-gunung, kayu besar, burung-burung, seperti burung elang, burung talangjan dan lain-lain. Sedangkan misi Kristen masuk kepedalaman sungai Kelay pada dekade tahun lima puluhan. Dan kemudian hampir seratus persen mereka menganut agama baru, yang dikenal dengan agama Kristen dan Katolik  itu. Sebagian lainnya masih bertahan dengan agama lama, dan sebagiannya yang kawin dengan para pendatang masuk agama Islam.
Pesta-pesta adat habis panen yang mereka laksanakan seperti suku Ga’ai dengan Bakudung, suku Lebbu Irau, Punan dengan Mengenai, Kenyah dengan Irau. Dalam acara tersebut juga dihadirkan tari-tarian, musik sampe, nyanyian, dan kesenian bertutur (mengenai), serta acara pengobatan dan lain-lain. Acara Irau dan Bakudung ini dilaksakan sampai  tiga bulan, selama tiga bulan itu pula mereka  bergembira, dan makan daging buruan bersama-sama.
Ramlie yang dikenal dengan Pambakal Ambi setiap acara selalu diminta hadir bersama mereka. Pambakal setiap kesempatan selalu berusaha untuk hadir memenuhi undangan. Oleh karena itulah Pambakal Ambi sangat dikenal dikalangan mereka dan sangat dihormati seperti seorang sultan. Orang Pedalaman sungai Kelay tidak banyak mengenal Sultan dan para pejabat keraton Sambaliung, kecuali yang mereka kenal adalah Pambakal Ambi yang selalu dekat dengan mereka. memperhatikan mereka, Berkumpul membaur bersama mereka  pada saat diadakan perhelatan adat yang dikenal dengan irau dan bekudung serta acara lain-lainnya itu. Bahkan sampai Pambakal Ambi memperistri salah satu gadis suku Lebbu yang cantik sebagai istri keempat.


  1. MASA-MASA TERAKHIR

Pambakal Ambi berkuasa lebih dari tiga puluh tahun di Muara Lesan sebagai pembawa misi Sultan Sambaliung untuk menangani orang-orang pedalaman sungai Kelay yang masih tertinggal dan primitif. Muara Lesan satu-satunya kampung yang bukan kampung suku Dayak dan sudah beraga Islam.
Batas patok suku Dayak di pedalaman sungai Kelay dimulai dari Lesan Dayak, Long Demit. Dari Long Demit itu sampai ke hulu-hulu sungai adalah wilayah orang dayak. Wilayah ini diatur sejak Kerajaan Sambaliung dilanjutkan pada masa penjajahan Belanda. Batas wilayah tersebut sangat dihormati oleh semua pihak, dan belum pernah dirubah sampai dengan sekarang pada masa Pemerintah Republik Indonesia. Apabila demikian maka, hak wilayah, hak adat, dan hak-hak lainnya masih dikuasai, dan dipegang oleh suku Dayak Kelay, baik memanfaatkan, mengelola, maupun menikmati hasil kekayaannya. Sebab sejak zaman nenek moyang suku Dayak telah menyatu dengan hutan, menyatu dengan alam, mereka hidup dan mati dipedalaman tidak terpisahkan dengan alam dan hutan. Sedangkan dari Long Demit Lesan Dayak kehilir adalah wilayah orang Banua (orang Berau) sampai kemuara Lungsuran Naga.
Pambakal Ambi mempunyai kekayaan dan harta yang cukup banyak di Muara Lesan. Disamping itu Pambakal juga laki-laki yang jantan dan sejati dengan lima orang istri.

1.      Istri pertama Bulkis namanya, wanita suku Banua, dinikahinya pada tahun 1904      mendapat anak empat orang :
-          Baki ( Laki-laki )
-          Djafar ( Laki-laki ) Meninggal disembelih Jepang
-          Tiki ( Perempuan )
-          Syamsuddin ( laki-laki ) 1912-Januari 2002
2.      Istri Ke dua Hadidjah wanita suku Banua. Mendapat anak tiga orang :
-          Arbi ( perempuan )
-          Ranti ( Perempuan )
-          Masih ( perempuan )
3.      Istri ke tiga Saudah wanita suku Banua.mendapat anak satu orang
-          Kalsum ( Perempuan ) meninggal
4.      Istri ke empat Didjah wanita suku Lebbu. Mempunyai satu anak, meninggal.
5.      Istri ke lima Siti Aisyah wanita muda suku Bugis. Mempunyai anak dua orang
-          Yahya ( laki-laki ) lahir tahun1932
-          Muhammah Ardi ( Laki-laki ) lahir tahun 1934
Pambakal Ambi mempunyai cucu lima puluh enam orang dan  buyut lebih seratus orang, yang sekarang tersebar di kampung Muara Lesan, Tanjung Redeb, Sambaliung, Teluk Bayur, Tepian Buah, Gunung Tabur, Talisayan, Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan, Kabupaten Pasir, dan lain-lain.
Pada Tahun 1938 Saat itu Samsuddin putra terakhir dari istri pertama berusia 26 tahun, Yahya putra pertama dari Istri ke lima berusia 6 tahun dan Ardi dari istri ke lima baru berusia 4 tahun, ayahnya pambakal Ambi sakit-sakitan. Pada saat itu istri pertama, istri ke dua, istri ketiga, dan istri ke empat sudah tiada lebih dahulu menghadap yang kuasa. Istri pertama Bulkis dimakamkan di Sambaliung, istri kedua, ketiga, dan keempat dimakamkan di Kampung Muara Lesan lama.
Kemudian pada puncaknya, sakit Pambakal semakin parah dan di bawa turun dari Muara Lesan menuju ke kampung Banjar, Batumiang  Tanjung Redeb. Rombongan yang mengantar ke Kampung Banjar itu antara lain Djapar, Samsuddin, Mansur, Ranti, Yahya, Ardi dan bersama ibunda Siti Aisyah istri terakhir Pambakal Ambi. Djapar, Samsuddin, dan Mansur setelah mengantar beberapa hari kemudian kembali ke Muara Lesan.
Penyakit yang diderita oleh Pambakal Ambi semakin parah, dan akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir dipangkuan Istrinya yang masih muda Siti Aisyah dan kedua putranya yang masih kecil Yahya dan Ardi pada usia 64 tahun. Jenazah dimandikan dan dimakamkan di Kampung Banjar Batumiang dengan upacara pemakaman yang sangat sederhana. Beliau Wafat pada tahun 1938 dengan meninggalkan beribu kisah dan berjuta kenangan yang pahit maupun yang manis dan tetap dikenang sepanjang jaman. Makam Pambakal Ambi dengan nama sebenarnya Ramlie Bin Achmad sekarang masih terpelihara dengan baik, dirawat oleh anak cucu di tepi jalan Pulau Semama samping surau Darussalam.
Setelah Beliau meninggal kekuasaan diambil alih oleh salah satu menantu tertua, yaitu pamanda Riduan suami Tiki putri kedua dari istri pertama almarhum.
Bagaimana dengan masyarakat pedalaman ?. Mereka benar-benar merasa kehilangan, mereka setelah mengetahui berita Pambakal Ambi meninggal yang tua-tua menangis mengenang jasa serta kebaikan Pambakal. Dan mereka katakan tidak ada lagi orang yang dapat menggantikan orang sebaik Pambakal  itu.
Istri kelima dengan menghidupi dua orang anak laki-laki itu kemudian hari menikah lagi dengan seorang pria yang bertanggung jawab melahirkan anak laki-laki Kadir namanya. Pada akhir hidupnya Siti Aisyah menetap di Kampung Muara Lesan, meninggal dan dimakamkan pula disana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar