Sabtu, 11 Juli 2015

KUMPULAN 107 PUISI SAPRUDIN ITHUR





CERITA TENTANG SUNGAI


BERIAK AIR BERSELIMUT BUSA
MEMBANGUN PUSARAN KECIL MELIBAS BATU HITAM
MELIUK-LIUK MEMBELOK TAJAM
ARUS KENCANG MENGHANTAM DINDING TEBING
AIR BERLARI KE HILIR
BENING SAAT INI
HUJAN, AIR SEKETIKA MENYAPU
MENENGGELAMKAN BIBIR SUNGAI
YANG BERSOLEK BATU KORAL DAN PASIR
KARRASIK UJAR URANG BARRAU

SUNGAI MEMBELAH GUNUNG SAMPAI DALAM
MEMBENTUK LUKISAN
MEMBENTUK RELIEF
MEMBENTUK PATUNG TANPA NAMA

LIHAT MATAHARI MASIH TINGGI
MENGINTIP PULUHAN ANGGREK DI KAPUT POHON
DI SELA DAHAN YANG MENJURAI
DI SELA BATU GUNUNG TERJAL
MENEMBUS DAHAN RANTING DI DEDAUNAN

POHON BESAR DAN KECIL
MASIH BERBARIS SEPERTI SEMULA
MENGAPIT SUNGAI
MEMBENTUK GUA
DAUN-DAUN MUDA BEREBUTAN
MENGEJAR SELA-SELA KOSONG

BUAH SEBENTUK ANGGUR MASIH HIJAU
JATUH BERGANTIAN KE MULUT SUNGAI
IKAN MENYAMBAR TANPA MALU
POHON SUKANG SERIBU MASIH TUMBUH SUBUR

AKU DATANG MENJENGUK KE ELOKAN
MENITI BIBIR SUNGAI
BERENANG DIAPIT POHON
TEBING SUNGAI MEMANGGIL KENCANG
DAUN SERDANG MELAMBAI-LAMBAI
BEKANTAN TUAN RUMAH BERHIDUNG MANCUNG
BURUNG MURAI BERNYANYI TENTANG SYURGA
LIHATLAH KECERIAAN TUPAI

KUKANG MASIH MENCARI BELALANG
UNGGAS TERBANG BEBAS
SINGGAH DI RANTING MENJULANG
MEMATUK DAHAN MATI
MEMUNGUT ULAT  DI DAUN LEBAR
BERKICAU SAHUT MENYAHUT
LENGKING, KENDOR, PARAU DAN MENDAYU
MONYET HITAM BERCINTA
BERPELUKAN DI DAHAN BENGKIRAI
BERCERITA TENTANG DAUN ASAM
BERCERITA TENTANG BUAH MERAH
BERCERITA TENTANG AKAR YANG MENJUNTAI KE DASAR SUNGAI

MENJELANG SENJA
BUNYI JANGKRIK HUTAN
BUNYI KERERIANG TAJAM  MENUSUK DINDING TELINGA
SEDANG BURUNG-BURUNG MANDI
BERTENGGER MENGIBAS SAYAP
BURUNG BEO MEMUJI DIRI
MENYINDIR BETINA DENGAN KEMOLEKAN PARUHNYA
AYAM HUTAN EKOR PANJANG
MENGEPAK SAYAP TERBANG MENCARI PERADUAN

AKU MENELUSURI SUNGAI DALAM KERINDUAN
AKU MEMANGGIL POHON DENGAN SENYUM
AKU MEMINTA SUNGAI TERUSLAH MENGALIR
AKU MENYITIR UNGGAS BIAR BERNYANYI
AKU MENGGURUI PARIMATA
SONG-SONGLAH MASA DEPAN
MELOMPATLAH DARI RANTING KE RANTING
DARI AKAR BERGELANTUNGAN 
CIUMILAH POHON DENGAN KASIH
HIRUPLAH AIR DENGAN DAHAGA


KATAKAN RUMAHKU ADALAH HUTAN
KATAKANLAH SUNGAI SUNGAI TEMPAT KU BERKACA
JUTAAN TAHUN TELAH DATANG
MENGHIDUPI SEMANGAT KEAGUNGAN

SYURGA DUNIA MASIH   MENYISA
SEDIKIT DARI MILYARAN YANG HILANG
SUNGAI SEGAH
SUNGAI KELAI
SUNGAI SIDUUNG
MENYIMPAN JUTAAN MISTERI
MENYIMPAN SEJUTA CIRI
MENYIMPAN SERIBU BUNGA


MEMENDAM KECANTIKKAN
MERINDUI MALAM SEGERA DATANG
KETIKA PAGI MATAHARI MENGINTIP LAGI

BERLARILAH MENGEJAR BENING DAN BERIAKNYA SUNGAI
SYURGA MASIH MENYISA
BIARKAN RASA MENJADI DAMAI
BIARKAN SYARAF RILEKSASI
JAUHKAN ADONAN KOTA YANG MENYESAK
DENGAN BERENDAM
MENYELAM
BERENANG BERSAMA IKAN
JALAN DENGAN KAKI TELANJANG

AKU MENGGAULI ALAM SANG PENCIPTA
MENELUSURI SUNGAI MENANTANG GIRAM
MEMBIARKAN TUBUHKU BASAH
DISIRAM AIR SUNGAI
MEMBIARKAN KEMEJAKU KERING OLEH PANAS
SEDANG LANGIT MASIH SETIA
MENUNGGU KEDATANGAN
SANG PENCINTA
PENCARI DAMAI


Berau, 24 November 2005



HAKIKAT DAMAI



SEORANG LELAKI TERMENUNG RAGU
MENGHENYAK DI ATAS AWAN
SETELAH LELAH DALAM PERJALANAN
MENGELILINGI BUMI
MENYAPA BULAN KEMERAHAN

LELAKI MENYAKSIKAN PERANG DI MANA-MANA
LELAKI MENYAKSIKAN PERKELAHIAN DI MANA-MANA
LELAKI MELIHAT PERGUMULAN DI MANA-MANA
LELAKI MELIHAT PERSELINGKUHAN DI RANJANG GEMAWAN
LELAKI MELIHAT PERSETERUAN POLISI DENGAN RAKYAT JELATA
LELAKI MENYAKSIKAN DEMONSTRAN YANG MENGGILA
LELAKI MEMPERHATIKAN UNJUK RASA YANG MERUSAK,
BRUTAL DAN MELEMPARKAN BATU
LELAKI MENYAKSIKAN TRAGEDI SERANG MENYERANG
SALING HANTAM DAN MEMBABI BUTA
LELAKI MENYAKSIKAN KELOMPOK YANG GARANG MENGHANCURKAN
KEYAKINAN YANG BERBEDA

LELAKI BERTANYA HAKIKAT DAMAI KEPADA SANG LANGIT
LANGIT DIAM
SAMPAI LELAKI ITU TIDUR MENDENGKUR

DALAM MIMPI LANGIT MENJAWAB

HAI LELAKI MUDA BUKA MATAMU
HIDUPKAN JIWAMU
AYO BANGUNLAH, DENGAN RASA BUGAR DAN KERONAAN
BERSIHKAN MATAMU DENGAN AIR DALAM BEJANA PUTIH
TETESKAN AIR PANCURAN KEDUA TELINGAMU
MINUMLAH AIR CINTA DENGAN ADONAN DOA-DOAMU
KELUARKAN KOTORAN DAN HIDUNGMU DAN BASUHLAH
CUCILAH TANGAN DAN KAKIMU DENGAN AIR KEHANGATAN
BILASLAH HATIMU DENGAN AIR SUCI
LALU LANGIT DIAM SEJENAK

HAKIKAT DAMAI ADALAH CINTA SESAMA
CINTA KASIH YANG TULUS DAN MURNI
SALING MENGHORMATI DAN MENGHARGAI
MELINDUNGI ATAU MENGAYOMI YANG LEMAH DAN SEKARAT
MENERIMA PENDAPAT ORANG LAIN
WALAUPUN DIA DI BULAN ATAU KOLONG JEMBATAN
TERSENYUMLAH WALAU BELUM SEJALAN



KETAHUILAH HAI LELAKI
ORANG LAIN TIDAK PERNAH SAMA DENGAN DIRIMU
WAJAHNYA
PERILAKUNYA
SUARANYA
PENDAPATNYA
UKURANNYA
KETEBALAN RASA DAN CINTANYA
APABILA SAMA, DIA ADALAH BONEKA DARI KAYU

KETIDAKSAMAAN ITU AROMA DUNIA
MENGHIASI SEMESTA DENGAN RASA GELORA

LIHATLAH BULAN
MATAHARI DAN BINTANG GEMINTANG
BERGERAK DAN MENGISI RUANG DENGAN EDARNYA TERATUR
TIDAK MERASA PALING BERKUASA ATAU MENENTUKAN
LIHATLAH MATAHARI DENGAN KEBESARAN SINARNYA
MENERANGI JAGAT RAYA MENEMBUS BATAS DAN WAKTU

KALAU MATAHARI GUSAR
DAN MEMERANGI BENDA-BENDA LANGIT
BIMA SAKTI
MAKA MUSNAHLAH SEMUA
MAKA MUSNAH PULA KEHIDUPAN DI MUKA BUMI
MANUSIA PASTI TERBAKAR DAN LEBUR MENJADI DEBU

KETIKA KAMU MERASA PALING PINTAR
TUNDUKKANLAH KEPALA DAN CIUMLAH BUMI
KETIKA KAMU MERASA PALING KUAT
LETAKKAN JEMARIMU PADA PIPI YANG MEMELAS DAN KURUS KERING
KETIKA KAMU MERASA PALING KAYA
INGATLAH KETIKA MANUSIA SEKARAT
KETIKA MENGHEMBUSKAN NAFAS TERAKHIRNYA
DAN MATI BUJUR KAKU

DIA MATI SENDIRI
DIA DIMASUKKAN DALAM KOTAK KAYU SENDIRI
DIA DIMASUKKAN KE DALAM LUBANG SENDIRI
GUNDUKAN TANAH ITU DIINJAK DENGAN KAKI KOTOR
HARTA,UANG DITINGGALKAN





KETIKA KAMU BERBICARA LANTANG DAN MENJELEKKAN
KAMU MENGAKUI KERENDAHAN DAN KEBODOHANMU
KETIKA KAMU MEMUJI DIRIMU
KETIKA ITU KAMU
MELUMURI DIRI DENGAN LUMPUR BUSUK PENUH SAMPAH
MENODAI DIRI DENGAN NISTA YANG PALING DALAM

BERBUAT BAIKLAH UNTUK DIRIMU
BERBUAT BAIKLAH UNTUK ORANG LAIN
DAMAIKANLAH SENGKETA DAN PERKELAHIAN
JAUHKANLAH BUMI DARI SALING CURIGA DAN SALING MEMBUNUH
JAUHKANLAH DARI PEPERANGAN
SYUKURILAH KEHIDUPAN DAMAI
DAMAI DARI PENYAKIT
DAMAI DARI FITNAH
DAMAI DARI AROGANSI
DAMAI DARI TEKANAN DAN PENGHINAAN

DAMAI DENGAN PENUH CINTA
DAMAI DENGAN PENUH RASA AMAN
DAMAI DALAM SUKA CITA
DAMAI DALAM DIAM


Tanjung Redeb, Berau, 8 Maret 2006












 


 

DAYAK DAN PEDALAMAN



KUMPULAN-KUMPULAN ORANG-ORANG
KELOMPOK-KELOMPOK KECIL
KOMUNITAS YANG TERBIAR

ADA DITEPI-TEPI SUNGAI MENJOROK
JAUH KEHULU MENYENDIRI
MEMISAH DARI KUMPULAN-KUMPULAN LAIN
ADALAH MEREKA DAYAK YANG TERSINGKIR
ADA PUNAN
ADA SEGAI
ADA BASAP DAN
ADA LEBBU
ADA KENYAH

BERSATU DENGAN SUNGAI-SUNGAI
PERAHU PANJANG HALUAN DIUKIR
MELIUK-LIUK MENGIKUTI ALUR
BERIBU IKAN MENYAMBUT UMPAN

BERSATU DENGAN HUTAN
ROTAN, GAHARU, SARANG BURUNG,
POHON JADI TUMPUAN
LEBAH MADU BERGAYUT DIPANJAT MENITI
DARI POHON KEPOHON BERGELANTUNGAN

HUTAN ADALAH KEHIDUPAN
HUTAN ADALAH NAFAS DAN RUH MEREKA
DAYAK DAN HUTAN SATU DALAM DAMAI
DILUAR HUTAN JADI MATI AKAL

ORANG LUAR MELIHAT UANG DIPEDALAMAN
DARI MUARA SAMPAI HULU SUNGAI

PEDALAMAN DAMAI TERSIARKAN DENGAN LAGU-LAGU
PETIKAN DAWAI YANG MENGHUNJAM JANTUNG
TARI-TARIAN DAN MENGENAI
MENGALIR JAUH SAMPAI KELAUTAN
TRADISI PENGOBATAN DI IRINGI MUSIK BERNADA
DEWA HUTAN, DEWA SUNGAI, DEWA GUNUNG
DEWA BANGRIS, DEWA JERAM, DEWA KIHAM DATANG
DENGAN MATA CURIGA DAN GEMBIRA
MENGIKUTI MUSIK YANG MENGHENTAK-HENTAK TUMIT
ULANG TAHUN DAN PANEN PADI DIRAYAKAN
BAJIAK BERPUTAR-PUTAR

ORANG BARU MENGHUNJAM KUASA
MEMETAK HUTAN MEMBAGI AREAL
AUNG GERGAJI MESIN MENGGILA
POHON-POHON TEMPAT PARA DEWA TUMBANG
ORANG UTAN, KIJANG, BANTENG, BERUANG, RIMAUNG DAAN,
LARI TUNGGANG LANGGANG
MATA DAYAK MEMANDANG SEKELILING
JAUH DILUAR BENAK DAN OTAK
INIKAH KEMERDEKAAN
INIKAH CERITERA TENTANG KEMERDEKAAN ITU

KOMUNITAS ITU MENYINGKIR LAGI
BOLDOUSER MEMAKSA KAYU KELUAR
LOGGING ANTRI PENUH MUATAN
KELOMPOK ITU HANYA KENAL KUDA-KUDA
MENARIK KAYU DENGAN BAHU DAN OTOT PERKASA

SEKARANG MEREKA MENGADU
KEMANA LEBAH MADU BERGAYUTAN
KEMANA RUSA BURUAN ITU
SARANG BURUNG MILIK ORANG KOTA
AKU JADI PENCURI DITANAH SENDIRI
DISIKSA DAN DIRENDAM
KAMI TAK KUASA
ROTAN YANG BERSIMBAHAN SUDAH HILANG
EMAS DIKERUK DENGAN MESIN
BUAH-BUAH HUTAN BUSUK DITANAH
TANAMAN NENEK MOYANG DIGUSUR
KUBURAN ADAT DI INJAK-INJAK
KUBURAN DI GUA, DITEBING GUNUNG BERANTAKAN
PORAK, PORAK PORANDA
GUCI, MANIK, BENDA BERHARGA DIRAMPAS

BIARKAN ITU MILIK ORANG MATI

SEDANG BABI MENGAMUK MENYERANG KEBUN
INIKAH KEMERDEKAAN ITU
INIKAH CERITERA TENTANG KEBEBASAN ITU

HAK KAMI SUDAH DIRAMPAS
KEBEBASAN KAMI SUDAH PERGI
DAYAK DIBIARKAN

SEDANG HUTAN SUDAH KIKIS
HAI BAPAK…….. HAI IBU PENGUASA
DENGARKAN DETAK JANTUNG MEMBURU
INTIP HATI NURANI

KAMI BAGIAN DARI HUTAN ITU
KAMI BAGIAN DARI SUNGAI-SUNGAI ITU
PEDALAMAN NAN ROMAN MILIK MOYANG

DIHUTAN KAMI MAKAN
DIHUTAN KAMI TINGGAL
DIHUTAN KAMI TIDUR
DIHUTAN KAMI HIDUP
DIHUTAN KAMI BERKELIARAN
DIHUTAN KAMI MENCARI MAKAN
DIHUTAN KAMI MENJUAL
DIHUTAN KAMI MEMBELI
DIHUTAN KAMI BERBURU
DIHUTAN KAMI KAWIN
DIHUTAN KAMI MELAHIRKAN
DIHUTAN KAMI MATI
DIHUTAN TEMPAT SEGALA BENTUK

JANGAN USIR KAMI DARI HUTAN MOYANG
BIARKAN KAMI DIHUTAN LEBAT
KAMI MERDEKA
KAMI BEBAS MENGUASAI HUTAN

ILMU KAMI TENTANG HUTAN
PIKIRAN KAMI ADALAH HUTAN
KELESTARIAN KAMI ADALAH HUTAN
RUMAH KAMI ADALAH HUTAN
PENDIDIKAN KAMI TENTANG HUTAN
SEJAK MOYANG MENJAGA KESEIMBANG HUTAN
BIARKAN KAMI BERSAMA HUTAN




Biduk-Biduk, 8 Mei 2004        
Sabtu, pukul 11.00 wite






MASIH KADA PARCAYA
( BHS BANJAR )


BALAH DADAKU ADINGAI
AMBIL HATI DAN JANTUNGNYA
IKAM LIHATI BUJUR-BUJUR
APA NANG DI SAMBATNYA
APA NANG DI TULISNYA
APA NANG DI URAIAKANNYA
NGARAN IKAM SAMATA
NGARAN IKAM BATIPAK
KADA KAWA DI LAPAS LAGI

KUPAS KALUPAK MATA KANDA DINGAI
APA NAG IKAM LIHAT
JANAKI BUJUR-BUJUR
BAYANGAN IKAM NANG TALINTAS
MUHA IKAM NANG BUNGAS TAGAMBAR

KANAPA IKAM MASIH KADA PARCAYA
KANAPA IKAM MASIH SAK WASANGKA
MANUDUH AKU MANDUAKAN IKAM
MAMBIARAKAN AKU TAKAPIT RASA
NANG KURINDU IKAM HAJA DINGAI
SIANG MALAM KADADA LAIN

KU HANDAK MALIHAT IKAM SABAN WAKTU
SABAN BAISUKAN
SABAN SIANG
SABAN SURI
SABAN MALAM

DINDA KU SAYANG
CIUM RINDUKU
DINDA KU SAYANG
JANAKI HUMBAYANGKU
DINDA KU SAYANG PAGUTI MIMPIKU
JANGAN BIARAKAN SAKIT NANG LAWAS
BUKA HATI IKAM
JANAKI KAHALUAN
AKU MASIH DUDUK MALAMBAI
DISINI DIBAWAH PUHUN RAMBAI
AKU MASIH MANUNGGUI DINGAI

Tanjung Redeb, 17 Desember 2005




PERCIKAN CINTA SANG WANITA


SEORANG WANITA SETENGAH BAYA
MONDAR MANDIR BERJALAN
DI ATAS ASPAL BETON TENGAH TERIKNYA MATAHARI
SESEKALI WANITA ITU MENGHENTAKKAN KAKINYA KE DASAR BUMI
DAN
SESEKALI WANITA ITU MENGEPAKKAN TANGANNYA
KEPIPI PANTAT BAGIAN LUAR
KEMUDIAN WANITA ITU BERLARI KECIL
DI ATAS TROTOAR PAPING BLOK YANG BANYAK PECAH DAN BERLUBANG
KEMUDIAN MENGOMEL

AKU TELAH MENDAPATKAN PERCIKAN CINTA DARI SANG PECUNDANG
AKU MENGHAMBURKAN CINTA DENGAN KEBASAHAN BIBIRKU
AKU BIARKAN CINTA MENJULANG SAMPAI KEAWAN
PERCIKAN CINTA TERUS MENEBARKAN AROMA
KEINDAHAN ALAM DENGAN WARNA-WARNI
MEMBURU DAN MENGAIS KERTAS

BEBERAPA SAAT WANITA ITU DIAM
 LALU DUDUK DITEPI PARIT YANG BERBAU BUSUK
AIR MENGALIR TIPIS HITAM PEKAT
BERCAMPUR DENGAN NODA-NODA
SEDANGKAN ULAT BERTUMPUK-TUMPUK
MENGGEROGOTI TIKUS MATI
MENGGUMPALI IKAN LAPUK

LALU WANITA ITU SEKONYONG-KONYONG
MENENGADAH KEATAS
WAJAHNYA BERUBAH BERINGAS
MATANYA LIAR MENANTANG LANGIT
LALU IA BERTERIAK

CINTA MEMANG INDAH
CINTA MEMANG IDAMAN
CINTA MEMANG KEMURNIAN
CINTA MEMANG LUBUK YANG DALAM

OI…CINTA MEMANG MILIK KITA
CINTA MILIK ORANG
MEMANG CINTA MILIK MANUSIA
CINTA PASTI MILIK TUHAN




CINTA MILIK BIRUNYA LANGIT
CINTA MILIK BINATANG YANG MENGENDUS DIHUTAN
CINTA MILIK HEWAN DILAUT YANG MENGIBA
CINTA MILIKKU YANG HILANG
CINTA MILIK SANG PECUNDANG

PERCIKAN CINTA SUDAH KUTABURKAN
MENODAI MIMPI-MIMPI YANG HILANG
BIRAHI SANG PECUNDANG
MELUMAT BIBIR MERAH DELIMA
MEREMAS DADA SINTAL
MENUSUK ANUS SANG KOTOR
MEROBEK DINDING SELANGKANGAN
MENODAI KESUCIAN WANITA

KEMUDIAN WANITA MENGAIS KERTAS DAN PELASTIK
DAN BERCENGKERAMA DENGAN PARIT BERBAU
TERTAWA TANPA TEMAN YANG LUCU
IA MENGIRIS RASA SILAM
MENANGIS DALAM DUNIA KELAM
CINTA DENGAN SERIBU MALAM

SANG PECUNDANG
BIARKA AKU MENANGIS DITEPI JALAN
BIARKAN AKU MENGIRIS NISTA
LUMPUHKAN SEMUA BIRAHI

Haaaa..MOBIL PUTIH DATANG
MEMBORGOL KEDUA TANGAN
WANITA DITARIK PAKSA
DAN MELAJU MENINGGALKAN WAKTU

TERDENGAR KATA BERGELOMBANG
MENINGGALKAN NISTA SEPANJANG JALAN

AKU TELAH TINGALKAN JELITAKU
AKU TELAH SERAHKAN MASA MUDAKU
AKU MERENGKUH MASA KECEMASANKU
DIUSIA SETENGAH BAYA
MOLEKKU BERSAMA RAUNGAN KETAKUTAN


Tanjung Redeb, 10 Oktober 2006






WAJAH


WAJAHKU ADALAH WAJAH DIA
WAJAHKU ADALAH WAJAH MEREKA
WAJAHKU ADALAH WAJAH AKU

KATANYA AKU BUKAN BINATANG
 KATANYA AKU BUKAN TANAMAN

TAPI AKU KADANG HARIMAU
 TAPI AKU  KADANG MONYET
TAPI JUGA KADANG AKU JADI BERINGIN

WAJAHKU ADALAH WAJAH DIA
JADI MERAH
JADI HITAM
JADI PUTIH
JADI RAKSASA

SESAAT DI HARI-HARI PUTIH
SESAAT DI HARI-HARI MERAH
SESAAT DI HARI-HARI KELAM

AKU SEBAGAI HANTU
MERABA BIBIR BIBIR PUCAT
AKU SEBAGAI MALAIKAT
PUTIH YANG MENGAKU-AKU


Ruang Auditorium
Pusat Pengembangan Penataran Guru Kesenian
Jogjakarta, 21 Nopember 1997











M A T A H A R I


Kami adalah segelintir dari mereka
Dibawah matahari……….penuh perjuangan
Disana……disana………dan disana
Perjuangan menggelegar dan dahsyat
Menantang matahari,
Semakin dekat, panas semakin menyengat
Disana…….disana……..dan disana
Rubuh
Terbaring
Tidur untuk selamanya
Tubuh mereka penuh darah…..bergelimang
Tubuh mereka terkapar puas
Peluru mengiyang, lalu menembus dada
Peluru lepas tak pernah bersahabat
Membelah semangat menjadi lebur
Hilang
Musnah
Dan………………
Ternyata tidak lenyap,
Dibelakang sana masih banyak
Bahkan beribu-ribu dan berjuta semangat
Tak pernah padam terselubung
Wahai para syuhada
Jiwamu putih seperti melati
Jiwamu teguh seperti baja
Sinarmu membias sebagai matahari
Menembus dada-dada kami
Tabur benih dijiwa kami
Wahai engkau para Syuhada
Atas nama seluruh bangsa ini
Memuji akan kegagahanmu
Memuji akan keluhuranmu
Semangatmu adalah semangat kami
Jiwamu adalah jiwa kami
Merdeka………..
Merdeka……….!
Merdeka………!!!

24-9-1987








NEGERI PERMAI

Dibawah lingkaran langit biru
Diatas bulatan bumi
Terbentang
Terhampar
Dan bermacam rupa
Hak cipta Tuhan yang Agung
Manusia diciptakan untuk
Untuk semua………..Ciptaanya
Merawat
Menjaga
Agar alam lebih baik dan indah
Dan sejuk nyaman terasa insan
Manusia yang mampu
Untuk berbuat sesuatu
Serta menggunakan segala isinya

Bukan untuk merusak
Dan………..
Memporak porandakan
Atau………..
Mengikis dan memperkosa
Mempitnah
Menyiksa
Dan dengan bermacam cara
Alam untuk kita
Untuk manusia yang pandai menggunakannya
Bukan untuk Dewa-dewa perusak

Sayang………………..
Jagalah alam kita
Manis…………….
Jagalah alammu
Jagalah alam Indonesia ini
Agar lestari sepanjang masa
Agar makmur
Penghuni tercinta


Episot, 1987








SELAMAT JALAN MATAHARI




TEMAN…………
TADAH MUKAMU
LIHAT MATAHARI………MERAH MELINGKARI SAYU
SEDIH TANPA UNGKAPAN
NAMPAK ENGGAN UNTUK PULANG
DAN…….NAMPAK ADA TANDA-TANDA KESEDIHAN DIMATANYA
YANG TERLALU AMAT DALAM
SERASA RESAH UNTUK MENGHILANG
SERASA SUSAH UNTUK MELUPAKAN
KENANGAN YANG TERLANJUR TUMBUH DAN TERPATRI
SERAYA BAHAGIA MENCENGKRAM DALAM DADA

TEMAN……….
MATAHARI BANYAK TUGAS UNTUK KITA
ALAM JAGAT RAYA TEMPAT SEMUA MAHLUK
TERMASUK KITA DAN SEMUA ORANG

LALU ……. IA MENGHILANG DIBALIK LINGKARAN LANGIT
LANGIT PALING BAWAH SEKALIPUN
AH……… SUSAH …….
UNTUK MELUPAKAN SEMUA KENANGAN
SELAMAT JALAN…….SELAMAT JALAN MATAHARI
SELAMAT BERPISAH
KALU BOLEH ESOK KITA AKAN JUMPA LAGI


Tanjung Perepat, 1987












UNTUK  AYAH


Ayah
Bahagia Terasa Jauh Untuk Dapat Kau Cicipi
Derita Lebih Banyak Menghimpit Dan Menjepit
Sampai Tuamu
Sampai Akhir Mejelang Hayatmu
Ayah,
Engkau Tetap Tegar
Engkau Tetap Kokoh
Dan Engkau Selalu Tersenyum
Menikmati Hidup
Sekalipun Tantangan Dan Tantangan
Tetap Engkau Melangkah
Sampai Tuamu
Sampai Akhir Menjelang Hayatmu
Ayah,
Engkau Tauladan Nyata
Untuk Anak Juga Cucumu
Walau Disini Masih Ada Nampak Coretan Merah
Yang Kaku Remang-Remang
Ayah,
Kini Kau Hijrah Di Alam Baru
Alam Yang Belum Pernah Kau Kenal
Alam Itu Alam Tempat Penentuan
Akhir Dari Semua Kehidupan
Dan
Impian
Ayah,
Tak Ada Yang Dapat Aku Sembahkan Untukmu
Selain Pasrah
Dan
Doa-Doa Kami
Untuk Menyertaimu Disisi Tuhan
Terima Kasih………. Ayah……..
Terima Kasih……..



30 September 1988






KEMBANG-KEMBANG BERKEMBANG



KEMBANG….
KAU TELAH TEBAR
BENIH-BENIH KEMULYAAN DAN KEAGUNGAN
SAMPAI JAUH KE MADAGASKAR
DAN NEGERI CINA

KEMBANG-KEMBANGMU BERKEMBANG
HARUM MEWANGI………
DAN TERCIUM
OLEH KUPING-KUPING BINAL
MULUT-MULUT BUSUK
KAKI-KAKI JAHIL
JUGA TANGAN-TANGAN JAHANAM

KEMBANG-KEMBANG MU RUNTUH DAN BERANTAKAN
WALAU SESEKALI SEMANGATMU MASIH NAMPAK

KEMBANG…….
ORBAMU BENAR-BENAR BERKEMBANG
MEMENUHI ALAM JAGAT
MENEMBUS LAPISAN-LAPISAN
EMBUN DAN KABUT

KEMBANG-KEMBANG BERKEMBANG
MENGHIAS CAKRAWALA MU
NUSANTARA.



01 Oktober 1988













K A  M  I


Seratus Atau
Dua Puluh Lima Tahun Yang Lalu
Kami Berdiri Tegar, Kokoh Menjulang
Diangtara Bumi……… Dan Langitmu Tuhan
Tangan Dan Jemari Kami Bergerak Lincah
Daun Kami Sering Melambai Mesra Mempesona
Derap Langkah Penghuni Turut Bernaung
Lelah Dan Lelap Sepi Tertidur
Menikmati Alam Hamparan Permadani
Terima Kasih Beribu Kata Beribu Bahasa
Padamu Tuhan Pencipta Smesta
Langkah…….Baru…..Tua…Muda Semua Mengucap
Puji Syukur, Sujut Dalam Diam

Tapi Kini………..
Tenang, Bahagia, Tegar Dan Kokoh
Akan Musnah Dan Rapuh Tanpa Kesan
Derap-Derap Langkah Penghuni Berganti Manusia
Bersamaan Dengan Raungan Boldouser
Mengiris-Iris Kulit Batang Kami
Rontok, Rubuh, Perih Sekali
Pedih Dan Sakit Mengiris Sampai Jantung-Jantung
Boldouser Meraung Terus Melangkah Maju
Tidak Mengenal Cinta Kasih……..Dan Sayang
Menghimpit Dan Menjerat Satu Persatu

Sayang Teriak Kami Hanya Pasrah
Buat Perut Gendut Perut Buncit
Kapan Kau Hentikan Derap-Derap Itu



Episode, 1988












MANYARUYUK



SUBUH – SUBUH PERAHU DIDAYUNG
AIR SUNGAI SURUT, MENJELANG PASANG
TANGGAR DITANCAP IKAT DIPASANG
TEMPATNYA SELALU DIUJUNG TANJUNG


HUJAN DI ULU TURUN MERUAH
AIRNYA DERAS, WARNA SUSU MENGERUH
ALANGKAH AJAIB REZKI MELIMPAH
BUNTALLI SAKKUL SARUYUK DITUMPAH


BERJAM-JAM LAMANYA DUDUK DIATAS
BERKALI-KALI DIANGKAT PUNGGUNG MEMBUNGKUK
MATAHARI PIJAR MERAYAP MENJENGUK
TERASA MENYENGAT DIPUNDAK PANAS


ALANGKAH HEBAT SUNGAMU BERAU
JADI JALAN UNTUK LALU LINTAS
TIDAK KERING WALAUPUN KEMARAU
UDANG, IKAN DIDALAM JADI PENGHIAS



88/89



======================================










T   E   M   A   N

Teman
Aku Pergi
Pergi Bukan Penasaran
Tapi Dadaku Penuh Dengan Ilmu
Ilmu Dari Guru-Guru Kita

Teman
Enam Tahun Lamanya
Bahkan Ada Yang Lebih
Duduk Dikursi Ini
Menulis Diatas Meja Itu
Dan Masih Lekat Dimata
Papan Berwarna Hitam
Gaya Dan Lenggang Lenggok
Wibawa Guru-Guru Kita

Hari Ini Akan Aku Tinggalkan
Kutinggalkan Dengan Segudang Kenangan
Suka Duka, Lucu Dan Riang Gembira
Semua Masih Lekat Terpatri Didadaku

Teman
Kami Pergi Banyak Tujuan
Barangkali Berhamburan
Atau Hanya Diam Menatap Langit …….Kelam………Gersang
Aku Kamu Dan…… Dia
Punya Tujuan
Membawa Niat Luhur Dan Cita-Cita
Kealam Bebas Nusantara Ini

Teman
Kami Juga Kamu Adalah Juga Kami
Sama Semua Dilahirkan Dibumi Yang Tercinta
Lalu Mencari Ilmu Untuk Mengisi Hidup
Berbangsa Bernegara
Cinta Pancasila
Selamat Tinggal Teman
Selamat Berpisah
Kita Masing-Masing Punya Tujuan
Kita Timba Ilmu Sebanyak Mungkin
Untuk Bekal Dimasa Depan
Selamat Tinggal Adik-Adik Semua
Selamat Berpisah
Perpisahan SD No. 015 Tanjung Perepat
Pertama, Juni 1988


TANGISAN POHON TUA DAN JERITAN ORANG UTAN




SATU, DUA, TIGA
SEPULUH, DUA PULUH
SERATUS…..SERIBU………SEJUTA,
DAN……….
AKH……….
CUCU-CUCU DAN ANAK-ANAK
MEREKA CIKAL BAKAL…..PENERUS GENERASI
AGAR KAMI TETAP LANGGENG
AGAR KAMI TETAP……

ADUH…..
SUDAH MULAI TUMBANG DAN BAHKAN SUDAH TUMBANG
LALU RUBUH DAN AMBRUK
TUMPANG TINDIH
SANGKUT…..DAN ……… PATAH-PATAH
AKU DAN KAMU TAK ADA YANG MAMPU MEMBENDUNG
BALA TENTARA ITU
SEDANG MUNDUR PASTI TIDAK MUNGKIN
LALU WAKTU……. PULUHAN TAHUN, KAMI TERHIMPIT
BUKAN
BUKAN KALAH UNTUK MENANG
TAPI KALAH UNTUK KALAH…..DAN TERUS KALAH

PUCUK-PUCUK NIKMAT BERDAUN LEBAT
BUAH-BUAH SEGAR HARUM RANUM
BERGANTUNGAN, TAPI JARANG
MEMBUAT MALAPETAKA DAN KEGARANGAN
AKU DAN KAMU SERING BERTARUH NYAWA
UNTUK DAPAT MEMILIKI
YANG MENANG ADALAH PENGUASA
SI TUA SEMAKIN KURUS
SI LEMAH MENJERIT…….
DAN LARI PONTANG PANTING



Batumbuk, Berau, 1989





K O T A K U 79



KOTAKU…………
DIANTARA DUA BELAHAN SUNGAI
DULU, KAU DUDUK MENATAP LANGIT
TANPA PERMOHONAN DAN PERMINTAAN
SEDANG USIAMU BUKAN KANAK-KANAK
SUDAH MENGGELARKAN NASIP, TERPUTUS-PUTUS
MELANGKAH MAJU TERBATA-BATA
TUBUHMU LEMAH…….RAPUH
KEPALA-KEPALAMU---TERSINGKAP OLEH ANGIN
KULITMU LUSUH DAN KOYAK
SEDANG KAKIMU BERGERIDIK SEPERTI KEDINGINAN
KAU BARING TAK TERATUR
SEMAUNYA………..
SEPERTI PERKAMPUNGAN DARURAT
TEMPAT BERPIJAK….. AKH……
TELAPAK RASA GELI
BULAN BESAR, TANAH BASAH MERATA
DAN AIR……..AU 
NAIK SETINGGI LUTUT
BERJALAN RASA DIATAS KOLAM
LALU MEREKA MELEMPARI SUNGAIMU DENGAN SAYUR-SAYUR TAK BERNYAWA
DAN PERUT-PERUT BINATANG YANG BERBAU BUSUK
PADAHAL SUNGAI ADALAH JALAN RAYA
PADAHAL SUNGAI ADALAH MATA PERTAMA
PADAHAL SUNGAI ADALAH IDAMAN BIDADARI

KOTAKU…….
HARI INI SAHABAT KITA PALING KENTAL
MARAH-MARAH…..MENGAMUK DAN MEMBABI BUTA
MURKA, TAK KENAL KAWAN ATAU LAWAN LAGI
SEDANG DISANA-SINI TERDENGAR TERIAKAN
API…..APIIIII………….APIIIIIIII……….
KEBAKARAN…….KEBAKARAN…….
MEREKA TERLALU PANIK
YA TUHAN
KOTAKU TINGGAL ABU-ABU BERSERAKAN

Tanjung Redeb, 1989







BUNGA CUMA SEKUMTUM



SELEMBAR DAUN GUGUR
DITEPI RUMAH
GEMERICIK MENGHAMBUR BERTAUTAN
SEMUT BERPERUT BESAR
LARI PONTANG PANTING
SERUDUK-SERUDUK
LIUK-LIUK, SIUK-SIUK
MENGHINDAR DAUN-DAUN, BERSERAKAN

ANGIN KENCANG TERUS MENGGAYUT
MEMBAWA SEMUA
YANG TERBAWA
MENGNGUAK-NGUAK, MENYIUK
BERPUTAR-PUTAR
BERPUTAR-PUTAR
MENGKAJI ULAK-ULAK
LINGKARAN PELANGI

SELEMBAR DAUN GUGUR LAGI
BUNGA SEKUNTUM……
MEWANGI-MAWANGI

DAN
BENCANA BERTAUT
SILIH BERGANTI BERSAMA ANGIN



Tanjung Redeb Berau, 23 Pebruari 1991
                                                                                               

                                                                               












*   D E R A W AN   *



WAJAHMU ANGGUN SANGAT
PIPIMU PUTIH BERSULAM
MENYILAUKAN
BAK AWAN MENGHAMBUR RIUH-RIUH
HIDUNGMU MANCUNG
CENTIL
GEMAS
APA LAGI BIBIRMU
ADUH……..
KESEM SEM SEM, KESEM SEM SEM
NYUM NYUM NYUM, NYUM NYUM NYUM NYUM
HA HA HA HA…….HA HA HA HA

BADANMU  KUMAL–KUMAL
MATAMU JALANG JELOLOTAN
MENERAWANG KELANGIT-LANGIT
LANGKAHMU BELUM SAMPAI
JARIMU KUAT KAKU-KAKU
NYUM NYUM NYUM, NYUM NYUM NYUM NYUM
SEYUM KAMU
TERHALANG AWAN
SAYANG



Tanjung Redeb Berau, 23 Pebruari 1991



                                                                                                                                                                               











Udin Utuh dan Galuh


HUJAN SEMUSIM
PANAS SEMUSIM
DAN
BEBERAPA MUSIM DILEWATI SUDAH
UDIN UTUH DAN SI GALUH
MASIH MENERAWANG
MERATAP MATAHARI
OH……
RONA SENYUM IBUMU
SERING DATANG
SINGGAH MENJENGUK ANAK BERSAUDARA
ANAK-ANAK ITU KADANG TERSENYUM
MASING-MASING
LALU……
LARI SIUK-SIUK MENGEJAR RONA RINAI
LALU…..MERATAP
DAN ISAKAN SEMAKIN KENCANG
BERPELUKAN ERAT-ERAT
SEPERTI BATU KARANG
SEPERTI BATU GUNUNG
SEPERTI BATU CADAS BIRU
SEPERTI MUAK
INDUK SEMANG KETIGANYA
PEJAM LAMA
INDUK SEMANG KETIGANYA
BUJUR KAKU DIBAWAH BATU
KETIGANYA BERDIRI DIATAS DURI-DURI
KETIGANYA BERJALAN DAN BERJALAN
DIATAS LUMPUR-LUMPUR BERBAU
TELAPAK TANGAN TERBUKA LEBAR
MENERIMA HINA DAN CACI MAKI
MATA JALANG


Tanjung Redeb, 17 Pebruari 1991





Kuwitan  Lawan Anak

Uma lawan Abah
Lawas banar sudah pian
Mamalihara ulun
Halus sampai ganal
Mandapat ilmu ulun,……sampai pintar ba akal

Uma……Abaha
Tuhuk banar sudah pian bagawi
Panas muha…..takuyak……
Kancang batis….. balancat…..
Kancang urat pagalangan
Pinggang bungkuk
Burit balicak
Lilih mahambur balacak manyamai

Uma….. Abah
Paluh pian balilihan
Paluh pian bahamburan
Titikan katanah
Titikan kaluluk
Titikan karumput
Hujan biar panas pian tahani
Kada jua ampih
Ujar pian kaina gasan ulun……
Umai……

Uma…….Abah
Tuhan haja nang tahu
Tuhan haja nang kawa mambalasakan

Wayahini pian tuha banar
Awak ringkuk
Pinggang bungkuk
Mata rabun
Kada kawa lagi bahimat-himat
Tinggal mahadapi sisa sadikit hidup hampian

Uma……Abah
Sebagaai bukti
Bujur-bujur kuwitan
Sabagai bukti anak pian bujur-bujur
Ulun do’a akan

Berau, minggu malam  10 Pebruari 1991

BERAU  DULU


Angin semilir berhembus rata-rata
Dari timur kebarat
Dari utara keselatan
Dari barat ke timur…..
Dan
Dari selatan keutara
Wajahmu rona
Senyum bangga
Tubuhmu bak gitar klasik
Menyambutku dengan tari-tarian
Tari leleng, tari gantar
Dan…..
Bajiak
Bajapin

Aku haus seni
Aku haus hiburan
Suara unggas lantang
Nyaring
Merdu
Sendu
Dan
……..sayu
membawa aku semakin menyusup
dalam suasana lengang
dalam suasana hiruk
tawa dan sendau gurau
pekik histeris dan ketakutan
……………….

Kini kerangkeng dan banyak kerangkeng
Kalibarau
Menangis kesepian
Tiung meratap terbata-bata
Ah……
Inikah zaman baru itu



Berau, Minggu pukul 09.30
10  Pebruari  1991






MARET & LMD



SETAHUN TAK TERASA
LAMPAUI DARI KENYATAAN
SETAHUN TAK TERASA
LAMPAUI DARI DUKA RIA

SETAHUN KEMUKA DUA TIGA
ANGAN-ANGAN
IMPIAN
IDE…..DAN….
INSPIRASI
BERKARAT TUMBAL
MEMBATU KAKU

JANGAN SIA-SIAKAN
MARET ADALAH MATAHARIMU
HAPUS BERSIH INGUS ITU
SIKAT PUTIH GIGI ITU
TUMPAH IMPIAN-IMPIAN
CUCI KARAK HITAM PEKAT
PECAH LEBURKAN BONGKAH-BONGKAH BATU
YANG TERKALANG
AGAR JALAN SEMAKIN LEHA

JANGAN BELENGGU MEREKA DENGAN TALI-TALI KUSUT
JANGAN PAMERKAN MEREKA DALAM WARNA-WARNA BINAL
MUSYAWARAHLAH
MUFAKATLAH
DALAM WADAH LMD
GAPAILAH BINTANG-BINTANG




Batumbuk, Berau
Sabtu malam, 02 Maret 1991

                                                               






G  U  R  U


HARI-HARI KAU LALUI TANPA RINDU
HARI-HARI KAU LAMPAUI PASTI
KEMARIN
HARI INI
DAN JUGA LUSA

WAJAHMU
SENYUMMU
TAWAMU
DIUPUK TIMUR MATAHARI

PADA HAL HATIMU LUKA
OLEH BINALNYA MEREKA
PADA HAL HATIMU SEDIH
OLEH BODOHNYA MEREKA
PADA HAL HATIMU PERIH
OLEH OCEHAN MEREKA
PADA HAL HATIMU PEDIH
OLEH CEMOOHAN MEREKA

BIBIRMU TETAP SEMARAK
BIBIRMU TETAP RIUH….SIBUK
MENANTANG TERANG BENDERANG

SEDANG ISTRIMU
SEDANG ANAKMU
SEDANG DIRIMU
SEDANG PERIUKMU
MENANTANG MATAHARI
OH…..GURU
GURUKU SAYANG
LENGGOKMU BAGAI KERTAS USANG




Batumbuk Berau, malam minggu 3 Maret 1991







BUAH SI MALAKAMA



BUAH SI MALAKAMA
BUAH SI MALAKAMA
BUAH SI MALAKAMA HUI
BUAH SI MALAKAMA HUI…!!!
BUAH SI MALAKAMA
BUAH SI MALAKAMAAAAAAAAA

HUH HUH HAH- HUH HUH HAH- HUH HUH HAH- HUH HUH HAH   ( SEDANG )
HUH HUH HAH- HUH HUH HAH- HUH HUH HAH- HUH HUH HAH   ( CEPAT )
HUH HUH HUH HAH

PADANG RUMPUT
LUAS MENGHAMPAR
BAK PERMADANI
HUTAN BELUKAR DAN BELANTARA
RATA – RATA
TINGGI RENDAH………. TINGGI RENDAH
BESAR KECIL……………BESAR KECIL

GUNUNG BATU SICANTIK PASIR
SI HITAM PEKAT, SIKUNING MENAWAN
BAK JAMRUT DIKATULISTIWA
BAK MOLEK DIZAMAN PURBA
MEMBAWA HARAPAN
RIBU – RIBU IMPIAN
JUTA – JUTA ANGAN – ANGAN
DAN MALAPETAKA
DAN KEGONCANGAN
DAN TERIAKAN
DAN TANGISAN

BUAH SI MALAKAMA………
BUAH SI MALAKAMA
BUAH SI MALAKAMA



Batumbuk, Berau
Sabtu malam, 2 Maret 1991



* MALAM PERTAMA KUNIKMATI ENGKAU *


CINTA KITA BELUM LARUT
CINTA KITA BELUM HILANG
CINTA KITA MASIH DIMATA
AKU
ENGKAU
JUGA RERUMPUTAN MASIH PANTAI
PUNCAK BINAL CINTA
BIRAHI SESAMA
SINGGAH CUMA DI ANGAN-ANGAN

SEKEDAR GUNDUKAN DIAM
RAGU – RAGU,     HANGAT
JEMARIKU LEMAS
DADAKU MENGEMBARA
SEBAGAI BULAN MENUNTUN
SEBAGAI MATAHARI MENERANGI
SEBAGAI BINTANG LAMPU KEINDAHAN

ENGKAU BENARKAH ENGKAU
AKU BENARKAH DIRIKU

BUNGAMU MASIHKAH SEMERAH MAWAR
BUNGAKU MASIHKAH SEPUTIH MELATI

AH……. KASIH
AKU SERING KALI
INGIN MERAIH DAN MENYUSUP DALAM SYURGAMU
DAN AKU SERING KALI
INGIN MERAIH DAN MEREMAS RANUMNYA
KAU ALIH JARI-JARI NAKAL

KAK……..
MALAM SINGGASANA CECAK BERBUNYI
MALAM SINGGASANA, AWAN HITAM MEMBUKA
SYURGA KITA

LIHATLAH, MAWAR MERAH
SEMERAH SUTRA
SENYUMMU LELAH


Berau   Maret 1991




“ B A N U A N G K U “


SIKUNING MOLEK BERUAH DIHULU
SIPUTIH SIBELANG BERTABUR DIHILIR
SIHITAM PEKAT SEMBUNYI DIAKAR BUMI
SIHIJAU MELAMBAI, KEKAR DAN JANGKUNG
TALI TEMALI BERGAYUT
BERSIMBAH MENGANYAM BUMI
SEPUTAR RIMBA RAYA
BANUANGKU

LIUK-LIUK, KELOK-KELOK
MEMBELIT HENDAK
GARANG DAN GANAS BERBULU LENTUR
BEREKOR DUA SUNGAIKU
BERCABANG ILANG-ILANG

BANUANGKU ADALAH RUMAHKU
TELAH LAMA BERSINGGASANA
NAMUN
TERMENUNG
BERSOLEK TEBAL-TEBAL ALAMI
MENUNGGU
MENANTI
DAN CEMAS-CEMAS
HARAP AKAN DATANGNYA
TANGAN-TANGAN SEPUTIH SALJU
TANGAN-TANGAN SEKERAS BAJA
TANGAN-TANGAN SETEGAR KARANG
DAN TANGAN-TANGAN BIJAK CENDIKIA

MARI PUNDAKMU
MARI LANGKAH-LANGKAHMU
BIARKAN KOTOR SEDIKIT DIKULIT KITA
MENANG, MENANG……..DAN ……… MENANG

MENJULANG TINGGI
DILANGIT BIRU


Tanjung Redeb, akhir Juli 1991








=  G  U  G  U  R  =



AKU USAP UJUNG-UJUNG PICU ITU
BAU MISIU
MELANGLANG BUANA PURI
LANGIT HITAM TEBAL
MENYAPU RATA-RATA
BINTANG TERHIMPIT-HIMPIT
KELINCI PUTIH
MUNDUR SERIBU KAKI
GEMURUH GAJAH
MEMEKIK HARIMAU
MEMBELAH NUSANTARAKU
MEMBURU
MENGEJAR
MENERKAM
MENCABIK-CABIK
MENCAKAR DENGAN KUKU-KUKU YANG TAJAM

DAN
MENGINJAK – INJAK LUMAT KEAKAR BUMI
PELURU MENEMBUS DADA
MEMATAH-PATAH TULANG BELULANG
KAKI TERTINGGAL BUSUK SENDIRI
JARI JEMARI MENGGELINDING
MAYAT SBAGAI SAMPAH
GUGUR SERIBU KESUMA
PUTRA-PUTRA BANGSA



                                                                                                                Rabu, 09 September 1991










= KAMU PILIH DIANTARA DUA =



SENYUMKU BAHAGIA
POLOS PELONTOS MENGGAPAI SERIBU
ANGIN TERUS MENIUP
MENGIKUTI KEHENDAK ALAM SEMESTA

PERUTKU TELAH KENYANG
HANYA INGIN SESUATU
AGAR NIKMAT BERTAMBAH DIMALAM SUNYI
RAMADHAN INI
SAAT AKU DIKEJUTKAN OLEH SATU SOSOK TUBUH

BUNGA SEDAP MALAM MEKAR
HARUM MEWANGI-WANGI
KAGUM TERBATA-BATA, MENATAP RINAI
WAJAH SERIBU BUNGA
WAJAH SERIBU HARAPAN

CAHAYA INTAN DISELIMUTI DAUN-DAUN KERING

AKU LAKI-LAKI
SEKALI, DUA KALI, DAN TIGA KALI
RENTETAN CERITERAMU PANJANG
PILU, SAKIT, SEDIH, SERAM DAN GERAM
DIA PERTAMA, BINATANG BUAS ADANYA

AKHIRNYA HATIKU LULUH
SEJUTA KATA, SEJUTA ANGIN, SERIBU NADA-NADA
INGIN MENGGAPAI LALU MEMETIKNYA
BUNGA KOKOH,
BUNGA DIMATA HARI
HANYA SEKALI – SEKALI DIBAWA ANGIN
HARUMNYA MENGIBAS
DISELA-SELA SINAR CAHAYA INTAN, NAMPAK DUA
MENEMBUS CADAS, BELUKAR
AH……..

Loa Janan, 08 April 1992







G   U    R    U


MATAHARI PANAS
BIASNYA PATAH-PATAH
PELANGI DIUPUK MASIH MALU-MALU
KALANG MENGALANG TERTATIH JALAN

SITUA
SIGAGAH
SIPERKASA
BANYAK TERLALU ANGAN-ANGAN
BUMI PERTIWI GUNCANG
BUMI PERTIWI HAMBUR
BUMI PERTIWI MELEDAK
NYALA MELANGLANG HANGUS
MENGEPULKAN ASAP SAMPAI DILANGIT
ANGKASA PURI MERUAK BUKA
MENGGUNCANG PARA DEWA
BELALAK MATA SEMUA BELIA
MEREKA BARU MANDI
MEREKA SINGSING LENGAN BAJU
BAJA DIPATRI
DALAM DADA KUAT-KUAT
LAUTAN API BANDUNG
BUKA SEMUA MATA

PAHLAWAN TANPA TANDA JASA
MENYUSUP
DISELA-SELA RUMPUT
DISELA-SELA PARIT TUA
DIANTARA DURI-DURI BERBISA
DIA TERSIUK-SIUK TAPI PASTI
SINGO LODRO SIAP MENERKAM

















PAHLAWAN TANPA TANDA JASA
NAMAMU TERTINGGAL
HARUMMU HANYA SAMAR
PAHLAWAN PERANG PUNYA NAMA

AH…………
BUMI MENJADI TERANG
BULAN MENULIS KATA
NUSANTARA TERBACA
TANAH AIR LUAS DIRANGKUL
PROKLAMATOR BERDIRI TEGAP
BAPAK PEMBANGUNAN MENGHALAU MISKIN
TUNA AKSARA HAPUSKAN DIBUMIKU

GURU….
TABIR KAU SINGKAP LEBAR-LEBAR
IMPIAN JADI NYATA





Tanjung Redeb, 03 Agustus  1992

                                                                                               

                                               












                       
PULAU SYURGA


WAJAHMU ANGGUN MOLEK BERSINGGASANA
BELIA MEMAPAR SEJUTA HARAPAN
PERAWAN SERIBU RUPA

DERAWANKU PULAU SYURGA
MENGUAK………MENGIBAS……..MENGIKIS
JERABAH DILANGIT-LANGIT
DAUN-DAUN HUTAN RIMBA RAKSASA
KARANG-KARANG TAJAM MENYAKITKAN
TERBUKA……….
TELAH TERBUKA MATA DUNIA

PULAU SYURGA
DIA TITISAN DARAH LAUT
BERDARAH PAHLAWAN
MENYONGSONG MERIAM
SABA’ANI TELAH MENANTANG
SABA’ANI MENGANGKAT KEPAL
DIA BERDARAH LAUT
TITISAN LAUT
BELUM KIKIS

PULAU SYURGA
BIBIRMU SERONOK ADUHAI
SEMUT BERIRING MERAH DELIMA
SENYUM MENGIKAT

OMBAK PATAH-PATAH BERGULUNG
MENGHEMPAS JARING
BERLOMBA UNTUK MENDAKI
MERAMBAH SAMPAI DIKAKI

NYIUR MELAMBAI
PEPIKAT BERKELIT INGIN
BUNGAMU BERHAMBUR
HARUM SEMERBAK SAMPAI
……………………….
DI NEGERI PUTIH
DI NEGERI HITAM
DI NEGERI KUNING LANGSAT





PULAU SYURGA
TITISAN DARAH LAUT
BERDARAH PAHLAWAN
TIDAK LUNGLAI SERIBU BAYANG
TIDAK LAPUK OLEH HUJAN
TIDAK REKANG OLEH PANAS
BATIWAKKAL SANGGAM
SIMBOL KEYAKINA



Tanjung Redeb, Jumat malam
30 Oktober 1992


































BANUANGKU    II


SEMALAM AKU MIMPI
SI MOLEK HITAM
SI PUTIH PUTRI
SI KUNING ULAI-ULAI
TELINGA PANJANG
MENYATU HATI
SUNGAIMU BERAU
SATU BERCABANG
ULAK DAN TANJUNG PERTANDA
ULAR-ULAR BERKAIT SIMBAH
SELAGI MENITI

DIRAKSASA POHON BANGRIS
BERJUTA SENGAT
SEBAGAI SUSU BERGAYUT
SINTAL BERISI KENTAL
PUTTING-PUTTING MENGHAMBUR AROMA
SEDANG SEKELILING BERIBU SATWA
BERTERIAK BERSIUL
MENATAP MATAHARI
DIPESISIR PASIR
PUTIH MENYILAU
BERAGAM HARTA TERSELIP
DIANTARA KARANG DAN BIRU
KIMA RAKSASA MENGHIASI
PULAU BERTUMBUH BARU-BARU

BANUANGKU ADALAH DARAHKU
TETESAN BERIBU NYATA
DEWI-DEWI DUDUK MENANTI

BANUANGKU ADALAH RUMAHKU
BANUA SANGGAM MOLEK DIMATA
MENGUAK MATA DUNIA
LEBAR-LEBAR TANGAN TERBUKA


Kemah sastra bersama Emha Ainun Nadjib
Taman Budaya Samarinda,
Sabtu malam, 10 Juli 1993




SURAKARTA KU SAYANG
SOLO BERSERI


RENTANG JALAN CUKUP PANJANG
TIKUNG, LIKU PUDAR DIKEPALA
TAMAN BUDAYA AKU KAGUM
KRATON MESJID AGUNG
RATUSAN TAHUN DIBELAKANG
AKU ANGKAT TOPI
HORMAT SEBAGAI

GADISMU BEGITU KENTAL DAN SINTAL
KAU PAJANG WARNA KEINDAHAN
KAU URUT DARU UJUNG KAKI
BERGELIAT NYAMAN
GEMURUH DADA GEJOLAK
AKU LELAH BERNAPAS BASAH

LAGU-LAGU KAGUM
MENGALIR CINTA DAMAI
RASA
BERSATU DALAM YAKIN
DIRI KITA SEMUA TERBUAI DALAM ILMU
ALAM TERBIAR
TEMBOK CINA MENGHAMBUR LABA

KAU PASTI RINDU ITU
ORANG GILA TELANJANG
TERPAJANG
PEMINTA HARAP BELAS
MEMELAS
BUS KOTA SIBUK MENENGADAH

KAU PASTI RINDU ITU
CINTA SESAMA
GEMBIRA SESAMA
BUKAN KENCING DISUDUT- SUDUT TEMBOK
DISELA-SELA POHON
DIALUN-ALUN KERATON
BAU PESING MENGHAMBUR

KAU PASTI RINDU ITU
SURAKARTA KU SAYANG
SOLO MU BERSERI
Surakarta, Kamis, 22 Juli 1993

PALU  TEMAN  GERGAJI


MELOTOT MATA MEMANDANG KAGET
SEKETIKA AKU MELEJIT
SEPERTI TAUPAN TIDAK RATA
MATAHARI COBA DEKATI AKU
PANASNYA TERASA DIJIDAT
MERAMBAH KEPIPI
LALU MASUK KEDADA PELAN-PELAN
SAMPAI-SAMPAI DIKAKI

SELANG ENAM KALI BERTEMU
MASIH BANYAK SALAH
DAN MASIH BANYAK KAKU
DAN HATI MASIH BEKU

PENGALAMAN BARU SATU - SATU
BECEK MENGHEMPAS BERGULING
SEDANG GERGAJI TELAH DIKIKIR
MEMOTONG MAU, YANG BELUM DATANG
SEPERTI HUJAN TURUN

LALU BANJIR MENGHEMPAS
KAYU-KAYU BUSUK
BINATANG-BINATANG BUSUK
TERLEMPAR OLEH ARUS EMOSI

SEPERTI NASIHAT
PEDAS, TAJAM
BECEK DAN DURI MENGACAU
GERGAJI MENGHUNJAM BATANG
KASIHAN DIA BEKERJA SENDIRI
LALU AKU HANYA DIAM
ITU BIASA, AKU MENAHAN DIRI
LELAH TIDAK PERNAH MENGUAK KEPERMUKAAN
PALU PASTI TEMAN GERGAJI
KATAKU PASTI
MENGIRIS JARI DALAM HATI


Senin Malam, 1 Nopember 993





Sajak buat anakku


S  A  Y  A  N  G



SHYLVA ANAK YANG PANDAI

DIA SUKA BELAJAR DAN MENYANYI

ADIKNYA BERNAMA SHINTA OKTAVIA

SUKA MENGGANGGU WAKTU SHYLVA BELAJAR

TAPI  KAKAKNYA TIDAK MARAH

KARENA DIA SANGAT SAYANG PADA ADIKNYA

ADIKNYA SELALU SHYLVA CIUM

SHINTA HANYA PANDAI TERIAK DAN TERTAWA

DIA SUDAH MULAI PANDAI BERJALAN

WALAU SEKALI-SEKALI MASIH JATUH

PERNAH JUGA KEPALA SHINTA TERKENA KURSI

DAN TERBENTUR LANTAI TERSERUDUK

LALU IA MENANGIS SEKERAS-KERASNYA

SHYLVA DAN IBUNYA DATANG MENOLONG

AYAHNYA KAGET BERTERIAK

SETELAH DITIMANG DAN DISAYANG-SAYANG

SHINTA KEMBALI TERTAWA

KAMI SEMUA JADI GEMBIRA


Tanjung Redeb, Jumat, 10 Nopember  1993





P  E  C  I


PECI BERSIMBOL SEMANGAT
LANGKAH MENANTANG TERTATIH
LAGU MENGGEMA
TEPUK SEMANGAT MEWARNAI
VOKAL GEMURUH BERAGAM JENUH
TELINGA BOSAN BERKIPRAH
KALIMAT MONOTON KAKU
ITULAH PILIHAN

SEDANG DI CADAS MASIH TUMBUH RUMPUT
SEDANG DI HUTAN MASIH BANYAK BANGRIS DAN ULIN
AMONG BERIBU TUMBUH
DI PASIR PANTAI
DI HUTAN BELANTARA
DI AIR JERNIH
DI AWAN PUTIH
DAN
DI DASAR-DASAR

PRAJA MUDA KARANA PANDU PILIHAN
MENGEPAL TANGAN TINGGI-TINGGI
TERIAK LANTANG DI DEPAN BARUNG
DEPAN GARDU
DEPAN SANGGA
DEPAN RACANA
SEDANG KAKI DI POTONG
SEDANG KEPALA DI POTONG
SEDANG JARI DI POTONG
DI POTONG
DI POTONG
DI POTONG
SEMUA DI POTONG

DARAH MENGUCUR DI DADA
KERINGAT BERHAMBUR
MENETES SATU-SATU KEBUMI











AKU HARUS PILIH DIA
PECI HANDAL PEMBINA
MENEBAR SERIBU WANGI
HARUM SAMPAI KEBILIK-BILIK
NAMA TERTINGGAL BERBEKAS
DAPUR ASAP MALU
HIDUNG DITUTUP ENGGAN

PECI HANDAL PEMBINA
MENEBAR SERIBU WANGI

Tanjung Redeb, 20 Desember 1993


























T  E  G  U  R


KETIKA HATI
DAN PERASAAN BERBUNGA
BERBUSANA GEMBIRA
BERTAKHTA TAWA MENJULANG
BERBUSA DUKA HILANG BERGANTI
LEGA
LUASA
KOSONG
LENGANG DI DALAM
SEDANG SENYUM MENGHIAS INGIN
DIMANA-MANA,  DAN
DUDUK DIBIBIR TERSUNGGING
KETIKA LANGKAH INGIN MENUJU
KEARAH GAPAI SAMPAI
GEMBIRA MENANJAK BUANA
MELEWATI BATAS-BATAS LANGIT
PUTIH, BIRU AKHIR PANDANG

TAK LAMA BERSELANG
GEMBIRA BERGANTI
TIBA-TIBA LANGIT BERUBAH

AWAN PUTIH BERGULUNG
MENGIKIS PUTIH JADI HITAM
BIRU HABIS TENGGELAM
TEGUR TERNYATA SAAT ITU
TANDA-TANDA MENITI
GEMBIRA
LEGA
LUASA
KOSONG
LENGANG

AKU HARUS MEILHAT PANJANG
TANDA TERPAJANG TERANG
KITA HARUS BERPIKIR
TAHU DARI SEGALA
SATU-SATU DARI RIBUAN TANDA
TEGURAN DIA
RENTETAN PASTI

                                                                                                                Tanjung Redeb, 09 Pebruari  1994


B  U  L  A  N


MALAM TIGA BELAS
AKU BERDIRI LURUS DIGANG RUMAHKU
EMPAT PULUH DERAJAT
DARI HADIRMU AKU MENATAP
TAJAM BERKALI-KALI
ADA AWAN PUTIH MELINGKARI TIPIS
INGIN MEMANGSAMU TUAN
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN
BIAS SINAR NONA CANTIK BERWARNA
SULIT PULAN KATAKAN
SEMAKIN MENERJANG AWAN TIPIS ITU

KETIKA
DUA JAM BARU TADI BERLALU
KETIKA
AGAI BERHAYAL SASTRA BULAN SABIT
MENGHIAS PAGELARAN BANUA SANGGAM
BERKUMADANG KEPENJURU-PENJURU
MELONTARKAN SYAIR
PUISI
SAJAK-SAJAK SERIBU BUNGA
KARANG-KARANGAN
BADIWA
MENGHENTAK MENGGELEGAR
MENGALUN SEDIKIT TERBATA
PASTI
BERANI
TAKUT
TERSEMBNUNYI

BARANGKALI ADA CIKAL TERSIRAT
MENGHAMBUR BENIH SUBUR
DUA PULUH TAHUN KEMUDIAN

MALAM SASTRA BULAN SABIT HADIR
HARUM BERNAMA SUDAH ADA
ULUNG BEBERAPA KEMBANG TERUKIR
AKU BANGGA OLEH MAKNA HAYAL
MENJADI CIKAL BULAN PURNAMA


Malam Minggu, kota Sanggam, 26 Maret 1994

H  E  B  R  O  N


MANUSIA AMBRUK TUMPANG TINDIH
LANTAI SUCI DITIMBUN PETAKA
65 JIWA MERUAK DIAM
MUSLIM SEBAGAI SEMUT
SUDAH DI INJAK GAJAH
GAMPANG DIROBEK HARIMAU
RINGAN DITENDANG KUDA

MUSLIM SERIBU DEMENSI
MEREKA HANYA ORANG-ORANG LUMPUH
YANG MENGHAMBUR DARAH
MENJADI AMIS, BUSUK
65 JIWA MELOTOT KEJANG, TERPAKU

MUSLIM SEBAGAI NASI BASI
DILEMPAR UNTUK AYAM DAN KUCING LAPAR
ANJING-ANJING KURUS KERING
DI SELOKAN DAN TEPI-TEPI SUNGAI

MUSLIM SERIBU BENTUK
MENYANYI
MENARI
DAN
BERKHOTBAH DI BELAKANG MINYAK
BERSEMBUNYI DI BELAKANG PEKAT
AKU BERTERIAK…….
AKU MUSLIM  !!!
AKU MUSLIM  !!!!!!
MUSLIM…MUSLIM……MUSLIM  !!!!!!!!!

API PANAS SEBATAS CORONG PIPA
DI TUDING
MATA TERBIAR
BIBIR SENYUM DI KULUM
SEDANG…….
MONCONG SENJATA SUDAH DI HIDUNG

HEBRON SUDAH DIHINA
SEPERTI KODOK DI MULUT ULAR

BETULKAH……KITA MUSLIM  ?
TERKUTUK  !!!!
KAU YAHUDI
Benua sanggam, 26 Maret 1994
@   G  E  G  E  R   @


Marsinah Tokoh Kecil
Lari Pontang Panting Dikejar Setan
Dasar Setan Ya Setan Kataku

Dia Mati Dihimpit Pabrik
Dia Mati Menyedot Asap
Dia Mati Di Iris Gurinda Baja
Dia Mati Diseret Emosi
Dia Mati Ditindis Kijang
Dia Mati Diseruduk Corola
Dia Mati Di Injak Mersi
Dia Mati Disambar Satpam
Hansip Megap-Megap
Polisi Pakai Payung

Marsinah Mengepal Tangan
Pada Hal Susah Diangkat

Kalau Memang Dodol
Ya Dodollah
Dodol Garut, Dodol Kandangan
Atau Dodol-Dodolan
Aku Tertawa Sinis

Marsinah Unjuk Gigi
Melemparkan Api Jauh-Jauh
Mati Terkapar
Di Guyur Emosi Gila

Kalau Sudah Gila
Ya Gilalah Ujarku
Jangan Mabok Pura-Pura
Main Hantam, Main Seruduk, Main Tikam
Dan Main-Main Pelatuk

Aku Angkat Seraung
Hormat Sbagai Tanda
Baru Marsinah Punya Nama
Pada Hal Ribuan Yang Terhempas
Terlanjur Dan Mati
Sebelum Kamu
Hanya Disiram Minyak Lonceng

Kota Sanggam, 26 Maret 1994


A   D   U   H


KAMJAI KONGTAVORM
BERHARAP PENGAMPUNAN
DARI
PERJALANAN AKHIR MENJELANG MATI
MENANGIS SUDAH TERLALU BANYAK
SEDANG HARAPAN JAUH
SAMAR-SAMAR
TENGGELAM DITELAN DEBU
GANJA MENGHAMBUR PASTI

MUANGTHAI DIKEPALA DAN PADAT
PERMATA,
BIDADARI
MELAMBAI DIPELUPUK
LAMAT-LAMAT TENGGELAM
DITELAN AWAN HITAM
AIR MATA MENJADI-JADI

ADUH………
SECARIK KERTAS AKU KANTONGI
TIDAK SETEBAL MOBIL
TERTAWA SEKEDAR DIBIBIR
TERALI BASAH OLEH DESAH
SERIBU BINTANG DISESALI
MATAHARI MENGINTIP
LEWAT LUBANG JENDELA TERALI

ADUH………
BULAN SINARNYA MENYIKSA
MATA MERAH
SUSAH, PERIH
DIPEJAMKAN
TIDUR BERTANDANG MIMPI
MIMPI MENIKAM DADA
MENGHEMPAS KEPALA

GEMURUH PERUT IRAMA TAI
SEMUA MENAKUTKAN


Kota Sanggam, 28 Maret 1994




W     A     W…….



XANANA GUSMAO
MANUSIA PLINPLAN
FRITILIN LABIL
SUDJONO NGOMEL

GRASI DI MOHON SUNGGUH-SUNGGUH
PENGAMPUNAN TURUN DEMI POLITIK
PADAHAL UJAR  UNDA
PENJAHAT YA PENJAHAT
KALAU JAHAT YA MEMANG JAHAT
ATAU BELUM TENTU

XANANA YA XANANA GUSMAO
KEMANA HARUS BERKILAH
SEDANG BIBIR
BUKAN LUBUK HATI YANG DALAM
KURASA
PERASAAN BUANGLAH JAUH-JAUH

XANANA TOKOH PUNYA ARTI
SATU KATA SUDAH CUKUP
BUAT TEMAN-TEMANNYA

WAW……. PILIPINA
MENGADUK AIR MENJADI KERUH
KONFRENSI DIADAKAN
DONATUR ANTI INTEGRASI AKAN HADIR
PORTUGAL MENDONGAK KEKESALAN

BAGAIMANA BANGSA MORO DINEGERIMU KAWAN
APAKAH LEBIH BAIK DARI KAMI  ?
…….ASTAGFIRULLAH
TERNYATA TIDAK
W A W ……



Tanjung Redeb, 18 Mei 1994


=  AKU DAN KAMU SAMA-SAMA  =


SAAT HATI MENGAMBANG
MENGEMBARA KE ANTARIKSA PURI SEJATI
GELOMBANG RINDU TERUS MEMBARA
SIAPAKAH AKU DAN KAMU

SAAT GEMA MENGOMBANG-AMBING HATI
TERNYATA DIA DAPAT MENUSUK
JAUH-JAUH SAMPAI KELUBUK, AKU YANG PALING DALAM

KUNING MEMBAHANA
MERUAK
MEMBUKA
TABIR DISINGKAP MELANGLANG BUANA
MEROBEK LANGIT HITAM
MENJAUHKAN EMOSI GILA
MELERAI JAGAL-JAGAL KEPALA
MENUTUP SUMUR BUAYA HINA

KUNING MENYAPU TANAH LAPANG
BERSATU SEBAGAI LAUTAN
RAMAI MENDERU MENYERBU
SBAGAI TAUFAN YANG MENGHEMPAS

KEPEDULIANKU DATANG
MENYATU PADU SEHALUAN
MENERJANG TERUS
SELALU BERADA PALING DEPAN

AKU, KAMU DAN KITA SEMUA
SAMA-SAMA MELAJU
KUNING BERTERIAK
“ KITA HARUS BERSATU “
“ RAPATKAN TERUS BARISAN “
“ SIAP BERKORBAN UNTUK NUSA BANGSA “
HIDUP GOLKAR  !
HIDUP GOLKAR  !!
HIDUP GOLKAR  !!!
BERJAYA DAN BERSATU

Kota Sanggam. Rabu malam
 28 September 1994





PANTAI  SENGGIGI


KETIKA AKU TERPERANGAH
MELIHAT GUNUNG-GUNUNG MENJULANG SURAM
INDAH MEMPESONA…….. AKU KAGUM
DITUMBUHI KELAPA TEPI-TEPI
DIBAWAH
DASAR TANAH KERING KERONTANG
JAUH BERBEDA DENGAN NEGERIKU

PANTAI ……… OMBAK TERUS MENGHEMPAS
MENGHAMTAM TANJUNG-TANJUNG BETON
PANTAI DILILIT KAWAT
DICENGKRAM BATU KONGLONGMERAT
SUSU GADIS
BULE DAN NYONYA-NYONYA
DIBUKA……..
DIPANASKAN SINAR MATAHARI
DIBIARKAN MENGKAL BERADU PASIR
AH…….
MEMBUKA GAIRAH TIMURKU
JAUH BERBEDA DENGAN TANAHKU

AKU DUDUK DIBAWAH POHON KETAPANG
AKU DUDUK DIBETON MENJOROK KELAUT
PEMANCING IKAN BEREMPAT ASYIK
SATU-SATU TERPERANGKAP

AKU KAGUM DAN MEMUJI
AKAN KATA BEGITU RAPI
SOPAN SANTUN DAN TRADISI
SOPIR HORMAT BEGITU JADI

KAIN SARUNG SEPANJANG JALAN
BUKAN MAIN PESONAMU

DITEMPAT TADI BUAH DADA BULE MENGKAL
MASIH BANYAK KUINTIPI


Lombok, Mataram, 13 Sept. 94





= RAJA  ALAM =
=============


PANGERAN DI ULU SEBUAH TARI TRADISI
MENGANGKAT BUDAYA BANUA SANGGAM
RAJA ALAM  MENGHENTAK KAKI
KERAS-KERAS MENGGETAR BUMI
MENGANGKAT BAHU, KEPAL MAJU
MENUNJUK SAMA TINGGI
MERAUP MILIK SENDIRI
BERPIJAK DIBUMI NENEK MOYANG SENDIRI
MENUAI ALAM SENDIRI
MENIKMATI HATI NURANI SENDIRI

RAMBUT BUKAN PERBEDAAN MANUSIA
TUBUH BESAR BUKAN MENGINJAK KAMI
TIDAK AKAN RELA
DIRI DIKIKIS,  DICAKAR
DIROBEK-ROBEK
DIHINA, DICACI
MARTABAT DILECEHKAN
MANUSIA KERDIL DILUMPUHKAN

OLEH DIA
MATA-MATA SIPIT
MATA-MATA BIRU
MATA-MATA BINAL
MATA-MATA LIAR
DAN   MATA-MATA NAKAL

“ BUMI KITA, LAUT KITA, LANGIT KITA ADALAH MILIK KITA “
TERIAKNYA LANTANG

BELIAU DILEMPAR SAMPAI JAUH
KETANAH BUGIS DI MAKASSAR

15 SEPTEMBER 1810
KAKI PANAS MENGINJAK KEMBALI
TANAH SENDIRI, TANAH KELAHIRAN
SEMANGAT TETAP MEMBARA




NAFAS RAJA ALAM
MASIH MENEBAR DIBUMIKU
DAN TERUS AKAN LESTARI
TIDAK KENAL ZAMAN
MODERNISASI DAN GLOBALISASI

NAFAS MENYUSUP KEDALAM
PEMUDA BERCITA-CITA TINGGI
LELAH BIARKAN SENDIRI
TANGAN BEKERJA
KAKI TERUS MELANGKAH


Kota Sanggam, 2 Oktober 94

                                                                                                                               




=  A   P   I  =


PANAS TERIK MENIMPA BUMIKU
DAUN-DAUN BASAH BERTINDIS TAHUN
SUDAH HITAM, SUBUR, GEMBUR
POHON-POHON HUTAN SUDAH RINDANG
DARI LANGIT INDAH PERMADANI
MENJADI KERING DAN RINGAN

MUSIM TUGAL MEJELANG SUDAH
PELADANG BERPINDAH
BERKELOMPOK BERSATU KATA
AKAN MEMBAGI HUTAN DAN GUNUNG-GUNUNG
AKAN MERINTIS
AKAN MENEBANG
TUMBANGKAN POHON-POHON BESAR
LALU……..
MENCINCANG DAHAN DAN RANTING
SERATA RUMPUT BERIWIT DAN ILALANG







PANAS SEBULAN
HAMPARAN DAUN, RANTING, DAHAN
DAN BATANG KAYU KECIL
KERING KERONTANG
MEREKA BAWA OBOR-OBOR DISIANG BOLONG
DAN KEMUDIAN SIRAMKAN API
PADA HAMPARAN TEBANGAN HUTAN
SEKETIKA BERUBAH SUASANA
API MENGGELEGAR
MENJADI NERAKA
ASAP MEMBUMBUNG SETINGGI LANGIT
MENGHANTAM AWAN DAN BUTIRAN-BUTIRAN AIR

API MENGHALAU DAN MEMBAKAR SEGALA
SEMUT
KUPU-KUPU
JANGKRIK
TEKKE
LABA-LABA
TUNGAU
KUTU-KUTU KAYU
KECOA
KUMBANG
SEPIT-SEPIT, DAN  KALA-KALA KECIL

CILAKA……
CILAKA.. !!!
API MELAMPAUI BATAS
MERAMBAH KEHUTAN YANG DALAM
API ALAM TURUT RAMAI
MENGHAMTAM GUNUNG, RAWA
BATU BARA DAN  TUNGGUL TUA

API MENGEJAR BABI
API MENGEJAR RUSA
API MENGEJAR BERUANG
API MENGEJAR ORANG UTAN
API MENGEJAR SEGALANYA
API MEMBUNUH SEGALANYA

ASAP MEMBUMBUNG DIATAS BUMIKU
KABUT MENYENGAT MATA
AYAM HUTAN LARI PONTANG PANTING

                                                                                                                Kota Sanggam, 25 Oktober 1994              




= S E M O G A =

                sajak perpisahan

DIKOTA SANGGAM KITA BERTEMAN
DIKOTA SANGGAM KITA BERGAUL
BERTEMAN KITA SEPERGAULAN
BERGAUL KITA BERKUMPUL-KUMPUL

BADDIT DI PATTUNG BADDIT DI KURINDAN
SEBUAH RENCANA BESAR MENGAGUMKAN
DRAMA KELASIK KITA ANGKATKAN
SEBAGAI UPAYA MEMPERKENALKAN

WIBAWA KETUA DIA TUNJUKKAN
TEATER SANGGAM WADAH PERKUMPULAN
KESANA KEMARI KITA TUNJUKKAN
BUSAK MALLUR GEDUNG WADAH LATIHAN

UMAI PENGATUR LAKU BILANG PAMARAHAN
YANG BANDEL NAKAL DIKUMPULKAN
SEBULAN LEBIH URAT GULU BAKANCANGAN
MENGATUR LAKU SEBAGAI SUTRADARA LAKON

PERTUNJUKAN DIGELAR DIGELORA TARUNA
SEMUA PEMAIN SIAP MENTAL BERLAGA
KETUA DAN ISTRI MENONTON JUA
MENGHASIL SATU USAHA KELOLA

RASA HIMUNG BANAR BAKAWAL LAWAN INYA
BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEGALA
KESANA KEMARI MENCARI DANA
UNTUK KESUKSESAN SEMUA RENCANA

SUDAH BERHASIL, SUDAH TERLAKSANA
SEBUAH KENANGAN YANG TAK AKAN TERLUPA
KINI HATIKU TERASA LUKA DAN DUKA
BAPAK DICINTA AKAN MENINGGALKAN KITA

BIBIR TERKATUP SULIT BERKATA
UCAPAN APA YANG HARUS TERBUKA
SEDIH TERASA SESAK DALAM DADA
HANYA DOA SELAMAT DAPAT TERTATA










SULIT RASANYA BERTEMU LAGI
DENGAN BAPAK BESERTA ISTRI
KEBAIKAN KELUARGA TETAP DIPUJI
SEBAGAI KENANGAN YANG PALING MURNI

SELAMAT BERPISAH SELAMAT JALAN
KOMI DOAKAN SAMPAI TUJUAN
SELAMAT BERPISAH SELAMAT JALAN
SEMOGA NANTI BERTEMU JALAN


                                                                Kota Sanggam, 4 April 1995
                                                                                                                                                                               



























=  G  A  R  I  S  =


RENTANG WAKTU TERUS KUBIAR
BERJALAN DENGAN SENDAT-SENDAT
DENGAN LAMBAT-LAMBAT
DENGAN HATI-HATI
DENGAN CEPAT-CEPAT SEBAGAI DIKEJAR-KEJAR
KADANG KALA SEOK-SEOK
KADANGKALA MALU-MALU
KADANGKALA SANGAT PASTI
PERJALANAN PANJANG
USIAKU SUDAH LIMA PULUH TAHUN

YA TUHAN…….
AKU TIDAK MAU KEMBALI
SEPERTI USIAKU MASIH BAYI
SEPERTI USIAKU MASIH REMAJA
YANG SERING DILINDAS OLEH GARIS KEJI
YANG SERING DIHANTAM OLEH OMBAK GANAS
KAMI TUMPANG TINDIH
RUBUH BANGUN BERATUS KALI
ANGAN-ANGAN SAJA SAMPAI DILANGIT

GARIS TELAH ADA
PACEKLIK DAN PENDERITAAN
BIARLAH JAUH-JAUH DIBELAKANG
ADALAH SURI TAULADAN
DAN KUMPULAN CONTOH-CONTOH

MARI KITA BANGUN
JANGAN BIARKAN LAUT HANYA MEMBIRU
JANGAN BIARKAN HUTAN HANYA MENGHIJAU
JANGAN BIARKAN PERUT BUMI MELEDAK SENDIRI
KITA ACI BEGITU JADI

YA TUHAN………
AKU BANGGA DENGAN NEGERIKU
BIARKAN TETAP ABADI


                                                                Tanjung Redeb, 11 Meri 1995







GEJOLAK  JIWA


TUJUH BENUA DAN RANTAU DISATUKAN
BADDIT DIPATTUNG BERGELAR ADJI SURYANATA KESUMA
FIGUR PEMIMPIN RAJA PERTAMA
563 TAHUN SILAM
BERGEMA NAMA SAMPAI DINEGERI SEBERANG

378 TAHUN KEMUDIAN
SI PEMBERANI GAGAH PERKASA
BERJIWA BESAR CINTA TANAH AIR
BERGELEGAR MENGHANTAM, MENANTANG
DIA ADALAH RAJA ALAM

API PANAS MEMBAKAR LANGIT
KERATON HANCUR DIMAKAN PETAKA
BELANDA MENGINJAK BUMI PERTIWI
MENGIRIS-IRIS DAN MEMBELAH-BELAH
ADA DOMBA, ANJING KEPARAT
BERAU MENJADI DUA

1810 RAJA ALAM KEMBALI
GEJOLAK JIWA MENANTANG MENAHAN DIRI
MAKASSAR PENJARA PAHIT PEMBUANGAN
BIAR SEMANGAT MASIH MEMBARA
TAPI BUMI TELAH DINJAK-INJAK
BELANDA SUDAH MENGHINA NEGERIKU
AKU BERKATA “ USIR MEREKA
DARI DADAKU YANG TELAH SESAK “

JIWA PERSATUAN ADJI SURYANATA KESUMA
JIWA CINTA TANAH AIR RAJA ALAM
MASIH ADA DAN TERUS ADA
PADA JIWA-JIWA BESAR BUNG-BUNG

KOTA SANGGAM ADALAH BUKTI
TERUS MENITI DAN ITU PASTI
MEMBENAH DIRE DAN MEMBUKA TABIR
MERUAK DAN MELEBARKAN SAYAP-SAYAP
MENGEPAK TERBANG, BUKAN ANGAN-ANGAN
DIPELOSOK HINGGA KOTAKU
BANGUNAN BERDIRI BERGANTI-GANTI
JALAN SETAPAK JADI RAYA


AMBOI RAMAINYA KOTAKU
DUDUK DITEPIAN ANTARA PERTOKOAN
DAN SUNGAI SEGAH YANG MENANTANG
SIMPANG SIUR ORANG BERDESAKAN
DIWAKTU MALAM KOTAKU BENDERANG

TERIMA KASIH BAPAK KAMI
BAPAK TERCINTA ARIFIN SAIDI
TELAH TERBUKTI, KAMI LIHAT DISINI
SEMANGAT BESAR DARI KONSEP-KONSEP BESAR
SUDAH KENYATAAN

YANG BARU BUKANLAH SERBA BARU
TERUSKAN YANG SUDAH NYATA
TUTUPI KEKURANGAN
BENAHI KETERLUPAAN
HAMBURKAN SENYUM-SENYUM MANIS
SEMAIKAN BENIH-BENIH CINTA
DENGARKAN
KELUH RESAH SUARA RAKYAT
ITU ADALAH JIWA-JIWA KAMI
BUNG TAHU, BUNG ADALAH PILIHAN KAMI
BUNG ADALAH KEPERCAYAAN KAMI

SELAMAT JALAN BAPAK ARIFIN SAIDI
SEMOGA TUHAN SELALU MELINDUNGI
SELAMAT BEKERJA BUNG MASJUNI
SEMOGA JALAN LURUS TERUS TERBUKA



                                                Tanjung Redeb, 25 September 1995
                                                                                                                Pelepasan dan pertemuan Bupati
                Berau, 28 September 1995












·           HALAL BI HALAL  *



YA ALLAH, YA TUHAN PENGUASA ALAM SEMESTA
SUNGGUH BESAR KARUNIA YANG TELAH ENGKAU BERIKAN PADA MANUSIA
SUNGGUH HINA BILA MEREKA LUPA PADA ENGKAU, YA RABBI
SUNGGUH NISTA, KAMI DIDUNIA BILA TIDAK KENAL ENGKAU, YA RABKU

KAMI SEBAGAI KHALIFAH DIMUKA BUMI
MANUSIA YANG BANYAK BERBUAT DOSA DAN LUPA
KAMI SUDAH TUMPAHKAN SEGALANYA KEPADA ENGKAU
MEMOHON AMPUN DAN KEMBALI KEPADA FITTRAH
RAMADHAN TELAH MENYAPU DAN MENGIKIS
KEALPAAN KAMI KEPADA ENGKAU,  YAAAAA   ALLAH

AIDHIL FITRI TELAH DATANG
BERJUTA UMMAT SUJUD DAN SYUKUR KEPADA MU
SEBAGAI PENGAKUAN MANUSIA HANYALAH SEBAGAI MANUSIA

SENYUM KEBAHAGIAAN MERATA DIBIBIR MEREKA
KEMUDIAN TANGAN-TANGAN HALUS MENYALAMI SESAMA
DAN MENGUCAP MINAL AIDIN WAL FAIJIN, MAAF LAHIR BATHIN

KEMUDIAN DATANG HALAL BI HALAL
SALING HALAL MENGHALALKAN DARI SESAMA
DARI GUNJANG-GANJING
DARI CEMOOH MENCEMOOH
DARI HINA MENGHINA
DARI JANJI YANG LUPA
DARI PEMBICARAAN YANG KOTOR
DARI UMPAT MENGUMPAT

KAMI TAHU, MANUSIA ITU LEMAH
LAHAULAWALA KUWATA ILLABILLAH
LAHAULAWALA KUWATA ILLABILLAH
LAHAULAWALA KUWATA ILLABILLAH
TIDAK DAPAT BERBUAT SESUATU KECUALI KARENA ALLAH

HARI INI KAMI MENGHALALKAN
ATAS KEKURANGAN DAN KEALPAAN KAMI

Tanjung Redeb, 24 Pebruari 1996
05 Syawal 1416 H



DI AWANG-AWANG


LANGIT BUKANLAH TEMPATKU
BUMI SBAGAI TOMBAK MENGHADANG MERAJAM
BULAN AKAN AKU GAPAI
SEDANG GUNUNG BELUM AKU DAKI
SEPAROHNYAPUN SUDAH MEGAP-MEGAP

BINTANG GEMINTANG MENGHAMBUR DILANGIT-LANGIT
RANTING-RANTING PATAH BERGAYUTAN BERJATUHAN
DAUN-DAUN BESAR, TUA JATUH DIATAS DURI
DAUN-DAUN KECIL TUA DIBAWAH TUANNYA
BERSERAKAN DISELA-SELA BATU
DAN DIHIMPIT BATANG KAYU BUNDAR
DAN DI INJAK KURA-KURA BERBOKONG KAKU

BOLDOUSER BUKANLAH DIA
DAUN-DAUN MUDA YANG TERTIMPA TANGGA
MENERJANG PUING-PUING DAN SISA DAKI
MEMAKAN DAGING-DAGING MAKHLUK SEMPURNA
SEMPURNA DALAM KEBODOHAN
DAN DIBODOH-BODOHKAN

AKU DIMANA
ATAUKAH DIANTARA LAUT DAN POHON-POHON
ATAUKAH DIANTARA LANGIT DAN BUMI
ATAU DIANTARA MATAHARI DAN BULAN
ATAUKAH DIANTARA JELATA DAN PENGUASA

AKU HARUS HATI-HATI
SALAH SEDIKIT SAJA AKU BERPIJAK
KAKI TERPEROSOK TERKULAI PATAH
SALAH SEDIKIT SAJA
PENGLIHATAN
DAN PANDANGAN MATAKU
AKAN JATUH KEDALAM JURANG
DAN MENJADI FITNAH
SALAH SEDIKIT SAJA PENDENGARANKU
CACI MAKI, SUMPAH SERAPAH
DAN HUJATAN YANG AKAN MENGAUNG
SALAH SEDIKIT SAJA PENCIUMANKU
BAU BUSUK COMBERAN
DAN BANGKAI-BANGKAI YANG AKAN MENERPA

AKU DIMANA TUAN ?
AKU DIMANA TUAN ?
Tanjung Redeb, 30 Desember 1998
Rabu, pukul 02.00 wite




CERITA TENTANG BOHONG


DILEMPARKAN DITENGAH DAUN-DAUN MUDA

BERGOYANG KAKI
DILEMPARKAN DITENGAH-TENGAH DAUN TUA
YANG SUDAH DAN SIAP GUGUR
DIALUNKAN SENANDUNG DITENGAH NGARAI
DAN SEPANJANG SUNGAI

DINYANYIKAN LAGU BERDAYU-DAYU
SAMPAI KEPESISIR PANTAI
DAN DIBUIH-BUIH OMBAK
DISELA BUKIT DAN GUNUNG
DIANTARA JELATA DAN MELATA

HARIMAU DIASUH BATU
KUCING BERJALAN DIATAS AWAN
EKOR DAN TELINGA DIJADIKAN LAYAR

BABI DISIMPAN PADA KAMAR GELAP
LUSUH BERWARNA MERAH
BERBAU HINGAR ANTARA DUPA, KEMENYAN
DAN MINYAK LONCENG
SAPI BONGKOK DIASUH MONYET BEKANTAN

EMAS DAN INTAN
DAN PERMATA-PERMATA HIASAN TANGAN
DIBUANG KEBELAKANG SEPERTI AMPAS KELAPA SISA

SEHARI MAKAN RUMPUT
BERHARI-HARI JUGA MAKAN RUMPUT
RUMPUT DITEBAS DAN DIRACUNI

GAJAH BERDIRI DIATAS MONAS
BERCERITA DENGAN KERAS DAN LANTANG
TENTANG DUNIA BOHONG
SEDANG PERUTNYA SUDAH BUNCIT



TANJUNG REDEB, 31 DESEMBER 1998
KAMIS, PUKUL 11.00 WITE






H    A     I


Hai Pemuda Tengoklah Dibelakangmu
Anak-Anak Yang Penuh Dengan Daki
Kotoran Tanah Yang Melekat Dikuku Kakinya
Giginya Kuning Membatu Dan Ingusan
Mengejar Belalang Ditengah Padang

Hai Pemuda Lihatlah Didepanmu
Rumah Bersusun Indah Mempesona
Gadis-Gadis Cantik Didalamnya
Dengan Permata Dikaki Dan Hidungnya
Ditarik Dan Diusap Mesra Oleh Hidung Belang
Menggoda Dengan Irama Panas Dan Goyang Dangdut

Hai Pemuda Liriklah Kiri Kananmu
Anak Baru Gede Plai Memutar-Mutar Kepala
Telapak Kaki Dihentak Dengan Keras Kemuka Bumi
Tubuhnya Melayang, Limbung, Pikiran Hengkang
Nipam, Doubel L Membabi Buta
Awas Narkotik Dan Sabu-Sabu
Sudah Mengintai
Ketika Mulut Ternganga

Hai Pemuda Apakah Kita Masih Diam
Atau Sekalian Membisu Saja

Hai Pemuda
Singsingkan Lengan Baju
Lepas Kacamata Dn Topimu
Kencangkan Ikat Pinggang
Ayo Kita Bersatu Padu
Membersihkan Becek Dan Rumput-Rumput Liar



Tanjung Redeb, 28 Oktober 1999




MELENIUM



BERJUTA KATA, BERIBU PRILAKU DAN RATUSAN RENCANA
YANG SUDAH KITA LONTARKAN DAN KITA LAKUKAN BERSAMA
ADA YANG MENUSUK PERASAAN
ADA YANG SANGAT MENYAKITKAN
ADA PULA YANG MENYUDUTKAN
DAN ADA YANG MENYENANGKAN
MEMBUAT KITA TERTAWA TERPINGKAL-PINGKAL

ADA RENCANA YANG SUDAH KITA SELESAIKAN
ADA YANG MASIH LUMPUH DIPERJANAN
ADA PULA YANG MASIH BELUM DIAPA-APAKAN

GONCANGAN AKHIR ABAD DUA PULUH
BEGITU KERASNYA
MENGHANTAM IBU PERTIWI
BAHKAN DIS INTEGRASI SUDAH BERGULIR
MENGGOYANG REPUBLIK TERCINTA

DILAIN TEMPAT
TERIAKAN REFORMASI KENCANG KEUDARA
MEMENUHI AWAN GEMAWAN
CERCA DAN CACI MAKI JADI SANTAPAN SETIAP HARI

PEKIKAN REFERENDUM DAN NEGARA FEDERAL
MEMANCING SUASANA SEMAKIN PANAS DAN KERAS
RAKYAT MENJADI KORBAN
MENGUNGSI DAN MENANGIS
DITAMBAH PERSOALAN SARA’ YANG MEMILUKAN
MENJADI SARATNYA PERSOALAN NEGERI INI

DATANG LAGI TERIAKAN MERDEKA
TIDAK KERAS MEMANG
TAPI MENYAKITKAN DAN TIDAK PANTAS

YAAAA….ALLAH  !
UNTUK APA REPUBLIK  INI
APAKAH KAMI HIANATI SUMPAH PARA PEJUANG
YANG RELA BERKORBAN DEMI KEMERDEKAAN
MASIH TERNGIANG DIHENTAKAN KAKI SETIAP ORANG
UNTUK MEREBU NUSANTARA DARI TANGAN PENJAJAHAN








YAAAA……. ALLAH  !!
KAMI TIDAK RELA REPUBLIK INI PECAH BELAH
HANCUR SEPERTI YUGOSLAVIA
INDONESIA TETAP BERSATU DALAM PANGKUAN IBU PERTIWI

KRISIS BERKEPANJANGAN KAMI LALUI DENGAN KEYAKINAN
DOA-DOA KAMI MEMENUHI JAGAT RAYA
PULIH JUGA MULAI SUDAH
PERTENTANGAN HILANGKAN DARI PERMUKAAN
PUTIHLAH HATI KAMI
SEPUTIH NURANI

KITA HARUS MAJU
ILMU KITA KAIS BIAR DIMANA-MANA
DAN BUKA SERTA CUCI TABIR YANG TELAH KOTOR
BIARKAN MENJADI PUTIH BAGAI OROK YANG BARU LAHIR

TAHUN 1999 TINGGAL DIUJUNG JALAN
KITA SONGSONG TAHUN 2000 DENGAN SEMANGAT PIKIRANBARU
SBAGAI MELENIUM TIGA PENUH TANTANGAN

AYO KITA KOBARKAN SEMANGAT KEJUANGAN
INDONESIA JAYA, MAKMUR, SENTOSA

YAAAA…….ALLAH
KABULKAN DOA-DOA KAMI
KIBARKAN  NEGERI KAMI DI ANGKASA RAYA
YANG KAMI TAHU SEMUA INI ADALAH MILIKMU

AMIN……..
AMIN……..
AMIN……..



Tanjung Redeb, 30 Desember 1999





PRAHARA  BALIKKUKUP
( 1957 )


27 DESEMBER 1949 MERAH PUTIH PERTAMA BERKIBAR
DIANGKASA TANAH BERAU
DIHALAMAN GEDUNG IKATAN NASIONAL INDONESIA  I. N. I
DIJALAN KARTINI, PEMUDA  ADJI  MUHAMMAD YUSUF
DAN KAWAN-KAWAN
BANGGA MENENGADAH MENATAP LANGIT
SIAP DAN HORMAT SEMENJADI
“ AKU BANGGA DENGAN TANAH BERAUKU
YANG HIJAU RANAU DAN KAYA “

DELAPAN TAHUN KEMUDIAN MERAH PUTIH DIGONCANG

SIANG ITU CERAH SEKALI
MATAHARI MENYINARI DENGAN PERKASANYA
KETIKA AZAN BERKUMANDANG
MATAHARI PERGI BERSAMA SINARNYA
MENINGGAL BIAS MERAH DIUFUK BARAT
BURUNG-BURUNG LAUT SIBUK MENCARI TEMPAT BERTENGGER
BERSIAP TIDUR NYENYAK SEMALAMAN
SUARA BINATANG MALAM BERSAHUTAN MENYAMBUT MALAM
DIJALAN KECIL MASIH RAMAI ANAK-ANAK BERLARI BERMAIN
BERTERIAK MENYAPA TEMAN-TEMANNYA

KERIANGAN NAMPAK DIRAUT WAJAH-WAJAH
ORANG SEPULAU KECIL DITENGAH LAUT
SEHARIAN MEMANCING IKAN, MENCARI KIMA, ULAT TERIPANG
MEMBUAT PERAHU, MENGUPAS KELAPA
MENJEMUR IKAN YANG TELAH DITABURI GARAM CURAH
LAMPU STRONGKENG MENERANGI RUMAH-RUMAH
GUBUK, WARUNG
DAN TEMPAT MENGUPAS SABUT KELAPA

SEDIKIT FIRASAT BURUK TIDAK NAMPAK
DIWAJAH KECERIAAN BAKAL MENIMPA
APALAGI KECURIGAAN PAGI KELAM MENCABIK-CABIK PERKAMPUNGAN
PEMUDA DAN LAKI-LAKI YANG GAGAH TURUN KELAUT
IKAN BERHAMBUR SBAGAI DAUN DIHEMBUS ANGIN
UDANG BERBARIS
PENYU DAN SISIK BERSORAK
LUMBA-LUMBA BERKEJARAN
MUTIARA MASIH BERSEMAYAM DIDASAR LAUT




22 MARET 1957 DATANG
SAAT SUBUH SUNYI TENANG
TRAGEDI MEMILUKAN MENCEKAM, MENCENGKRAM PULAU KECIL
DARAH TUMPAH RUAH DI PULAU BALIKKUKUP
MUHAMMAD SAMIN, KOMANDAN MUDA POLISI
HUSIN, AGEN POLISI TINGKAT SATU
PANUT, AGEN POLISI TINGKAT DUA
JOHANES AMANAH, AGEN POLISI TINGKAT DUA

DAN
RIONG BATONG, AGEN POLISI TINGKAT DUA
HARUS RELA BERSIMBAH DARAH
DAN
DICINCANG-CINCANG TUBUHNYA OLEH LANUN PEROMPAK JAHANAM
JAHANAAAAAAAMMMMM

EMPAT JIWA KESATRIA GUGUR DIMEDAN LAGA
MUHAMMAD SAMIN, HUSIN, PANUT, DAN JOHANES AMANAH
GUGUR DALAM WAKTU YANG SAMA
TUBUHNYA DITERJANG PELURU PANAS
DI CINCANG DAN DI INJAK-INJAK
RIONG BATONG BERWAJAH CINA
SELAMAAT DARI KEPUNGAN

DAN
PEROMPAK MENINGGALKAN AMIS DARAH
HARTA RAKYAT DIRAMPAS
DIPAKSA DAN DIPERKOSA
EMAS, ARLOJI, UANG, INTAN, MUTIARA, TERIPANG
BERAS, GULA, RADIO PHILIF, MESIN TEMPEL, SENTER, IKAN KERING
HABIS DIANGKUT
MEREKA JADI MISKIN

PRAHARA BALIKKUKUP MENINGGAL BEKAS YANG DALAM
PERIH, PEDIH, SEDIH, DUKA NESTAPA
TANGIS IBU-IBU
TANGIS ANAK-ANAK MASIH MENGIANG
SEDANG GADIS REMAJA TRAUMA

ORANG-ORANG PULAU BALIKKUKUP BERHAMBURAN
MENCARI TEMPAT BARU YANG AMAN
KE PANTAI HARAPAN, TANJUNG PEREPAT, BATU PUTIH,
MARATUA, DAN TELUK SULAIMAN
TRAGEDI MASIH MELEKAT
EMPAT SYUHADA TERBARING DIMAKAM PAHLAWAN KESUMA






EMPAT PULUH LIMA TAHUN SUDAH
SAMPAI AGUSTUS 2002 TIBA BERSAMA
SAAT INI
AKU KUMANDANGKAN
AKU TERIAKKAN
SUDAHKAH KITA JADI PEMBELA RAKYAT
ATAU SEMAKIN GANAS MEMAKAN HAK RAKYAT
DEMIKIAN ADANYA
PRAHARA BARU DENGAN SEPULUH DEMENSI
TAMENG DEMOKRASI PENUTUP WAJAH
BIARKAN SEMUA BERLALU DENGAN SENDIRI

PRAHARA BALIKKUKUP SANGAT MENGENASKAN



Tanjung Redeb, 22 Agustus ‘02

                                                                                                                                                                               

























K U S U T


RATUSAN BENANG WARNA WARNI
MENJADI SATU KAIN
INDAH CEMERLANG
KOLABORASI TINGGI
DARI KOMONITAS
BINTANG-GEMINTANG
MATAHARI  DAN PURNAMA
AIR LAUT
AIR YANG KELUAR DARI SELA-SELA BATU DI GUNUNG-GUNUNG
POHON KAYU HITAM
POHON KAYU ULIN
BERUANG, BEKANTAN, ORANG UTAN
TERUMBU KARANG
PENYU DAN MANTA

ITU SEMUA
KESEPAKATAN IDE GEMILANG
INTELEKTUAL
DAN SANG PENCIPTA ALAM SEMESTA

RATUSAN BENANG WARNA WARNI
BERHAMBURAN DITERPA ANGIN
DICEKER AYAM
DISIMBAH ANAK-ANAK KUCING
NAKAL TIDAK BERAKAL

RATUSAN BENANG WARNA WARNI
KUSUT MASAI
SALING MENJERAT
SALING BERSIMBAHAN
SALING PAMERAN
SALING TUDING
AKU YANG P[ALING OKE

WARNANYA TAK SE ELOK KAIN BERSULAM
BERCAMPUR DAN SEMRAWUTAN
AKU YANG PALING TAHU SEGALANYA













ENTELEKTUAL TENGGELAM DITELAN ASAP HITAM
DIRUMAH-RUMAH TUA
DIRUMAH-RUMAH MEWAH
DIVILA-VILA
DIMOBIL-MOBIL
DI PESAWAT TERBANG
DI PANTI PIJAT DAN RUMAH-RUMAH BORDIR

ASTAGA
BENANG KUSUT
WARNA-WARNI
Tanjung Redeb, 24 Agustus 2003

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 








K A M P A N Y E



GEMURUH KENDARAAN BERKELILING KOTA
TERIAKAN KEMENANGAN DI-ELU-ELUKAN
MENARI-NARI MENGGUNCANG DADA
BERTOPENG BERBAJU LAMBANG
LUPAKAN BERAS BARANG SEHARI

AKU YANG TERBAIK
KAMI YANG PALING COCOK
PILIHLAH AKU
AKU BERSUMPAH DEMI RAKYAT
BERJANJI DEMI BANGSA TERCINTA
BERSATULAH DALAM SATU GENGGAM
PARTAI BINTANG GEMINTANG

PROGRAM KERJA MELAMPAUI MATAHARI
MENGHAMBUR DITANAH LAPANG
DIPADANG RUMPUT, AULA DAN CAPE
TERIAKAN MENGHANTAM DINDING-DINDING
SINGKIRKAN CALEK BUSUK
SINGKIRKAN ORDE BARU
SINGKIRKAN ORANG-ORANG BODOH DAN PEMALSU
REFORMASI GAGAL……………….!!!!
PENGUASA KORUP………..!!!!

WAH  AUDEN SEMAKIN GILA
ETIKA TERSINGKIR
BIARKAN KATA-KATA KEBERANIAN
DAHSYATNYA PROPAGANDA
MERANGKUL BESAR KECIL
MEREKOL KECURANGAN
YEL-YEL SEMAKIN MELANGIT

DUA PULUH EMPAT PARTAI ADU TENGGOROKAN
AKU TIDAK KENAL
SIAPA YANG LANTANG MENJUNJUNG RAKYAT
KEGANANGAN MENYELIMUTI
MERABA GOLMER ATAU GOLPUT
MEMILIH ATAU DIAM
DIAM DAN TIDUR SEKALIAN

Kota Sanggam, Selasa   9 Maret  2004




SURAT  BUAT KASMAWATI
(  1978  )


RUMAH DISEBERANG JALAN, TEPI SUNGAI KECIL
SUNGAI PINANG
GADIS MUNGIL BERAMBUT PANJANG
SUKA BERKEPANG DUA
DIJALIN, DIKUNCIR MERAJUT
DIA GADIS IDAMAN
MENJADI ANGAN, HARAPAN
MELEKAT DILENSA MATA
DIHATI YANG PALING TERSEMBUNYI
DIA CANTIK
DIA LINCAH
DIA MENGGEMASKAN
BIBIR BASAH DENGAN KATA-KATA INDAH
AKU TERMENGAH DAN TERBAWA
KEDUNIA SERIBU TAHUN
SENANG
GELAK
SUKA
CINTA KEDASAR, MALU DAN KEMANJAAN
BERCERITA RUNTUT TENTANG TEMAN-TEMAN
TENTANG SMA ISLAM

TENTANG LELAKI JAUH USIA, SERING DATANG
MALAM MINGGU
ATAU MALAM LAIN DALAM GELISAH
AKU MENATAP MENANG
DIATAS ANGIN
KAU SUKA AKU

DIA SABAR
RELA MENUNGGU
MENUNGGU KEPASTIAN
MENUNGGU JAWABAN DARIKU
UJARMU
ABAH DAN MAMA SUDAH SETUJU






KATA MERANGKAI BIBIRMU BERUJAR
DIDEPANKU DENGAN HARAPAN
AKU HANYA MENGAMBANG
AKU HANYA TERSENYUM
AKU TIDAK PASTI
MASA DEPAN JAUH DIPUNCAK BUKIT

AKU TINGGALKAN SEKIAN WAKTU
MENJELAJAH KOTA TUA
MENGHEMPAS WANGI LELAKI
BERCINTA MENGHAMBUR DUSTA

DIA MENANG
DIA MERENGKUHMU
YANG BELUM PERNAH AKU GAPAI SEDIKITPUN
YANG BELUM PERNAH AKU NIKMATI
YANG BELUM PERNAH AKU CICIPI SEUJUNG RASA
ASMARAMU
GAIRAHMU
HEMBUSAN NAPASMU
AMBILLAH SEMUA KEKECEWAAN
KEGETIRAN NURANI YANG TENGGELAM

DUA TAHUN KUHABISKAN WAKTU
MELELANG HARI-HARI BELUM PASTI
AKU DATANG MENJENGUK
MAMA BERCERITERA PANJANG
TENTANG AYAH
TENTANG KELUARGA
TENTANG ADIKMU
TENTANG KEHIDUPAN
TENTANG………
SEMUANYA…….

DAN KAU GADIS KEPANG DUA
GADIS SUNGAI PINANG
SEBERANG JALAN TEPI SUNGAI KECIL
SUDAH BERDUA
DAN MENGGENDONG BUAH HATI

LULUH LANTAK
JANTUNG BERGETAR
MENEPIS KENYATAAN
HANCUR RASA
KATA-KATAKU TERBATA
RAUT WAJAHKU MENANGIS
SEJADI-JADINYA

KUTUTUP DENGAN SENYUM
SEMANIS GULA-GULA
LALU PULANG
LANGKAH GONTAI, MENGAMBANG
DIKEJAR MALU
HAMPA SAMPAI DILUBUK
MENEKAN DARAH LELAKI
KUTELAN BUMI DAN MATAHARI

AKU CINTA
AKU SAYANG
AKU MENGUKIR DIDINDING
AKU MERENDA KEBUTAAN
AKU MERENGKUH JALA-JALA
AKU BODOH
AKU DUNGU
AKU MEMANG LABIL
CINTA BUKAN KATA-KATA

SALAH PADA LELAKI KURUS
MENGAMBANG DAN SENYUM
DINGIN DAN DIAM
LALU PERGI MELANGLANG
KAPAN DATANG  ?
SATU SAJA KATA
TIADA ADA DIKIRIM
WAJAR SAKIT HATI
KECEWA
MARAH
MUAK MENUNGGU
LELAKI KURUS KEREMPENG
YANG HILANG

KAU AMBIL DIA DIJALAN PINTAS
YANG KERAP DULU KAU CERITERAKAN
KEGEMUKANNYA
KETUA-ANNYA
KESABARANNYA
KEPASTIAN MENGGAPAI MATAHARI
KAU CINTAI DIA DALAM KESEPAKATAN

DOSA JAUH LARI MENGHINDAR
ITU JALAN BEBAS, BENAR
AKU TERLALU SALAH
MENEPIS KECONGKAKAN




DUA PULUH LIMA TAHUN WAKTU KUBIAR
BERLALU MENJARING BULAN
LUPAKAN
DAN KUKUBURKAN

MEMORY BERKISAH ULANG
DALAM SENDIRI
KEKHUSU-AN
LAGU KENANGAN MENGALUN
BERGAYUTAN CERITA TERUNTAI
SEINDAH PERJALANAN KITA
MENGAMBIL UMBI BENGKOANG
NONTON DI WISMA CITRA
MENGHANTUI
MENUSUK SAMPAI KEDALAM JANTUNG

AKU SERING KESEPIAN
CERITERAMU MENGALIR
MENGALIR
MENGALIR SAMPAI LARUT MALAM
DINI HARI BUTA
LELAP DAN TERSENTAK
CINTAMU MELANTUN
CINTAMU MENGALUN
CINTAMU MENGALIR
DALAM MALAM
CINTAMU SIMPONI BUNGA MALAM
MENYESAK DADA
DIAM
DIAMLAH DALAM MEMORI



Biduk-Biduk, 22 Maret 2004
Senin malam pukul  22.30

 

 

 





 


B  E  L  A  N  G


AKU MAKAN DAGING
SEDIKIT TERSISA DITULANG
YANG TERSINGKIR DARI SKOP DAN GARUK
KETIKA DIANGKAT KEDALAM SEBUAH MOBIL SAMPAH

KU USAP KUMISKU
DAN MULUTKU DENGAN TANGAN BERKUKU
LEGA PERUTKU
MALANG MELINTANG TULANG-TULANG KECIL
YANG REMUK AKU GIGIT
TAHUKAH KAMU
KETIKA PERUTKU SUDAH PADAT

AKU TIDUR LELAP DIATAS KARUNG LUSUH
TERLIPAT DIBELAKANG PINTU
DIBAWAH KOTAK MINI
PENUH DEBU DAN SARANG LABA-LABA

KETIKA AKU BANGUN
AKU LANGSUNG MENUJU SEBUAH BASKOM BERISI AIR
MILIK TUANKU
LEGA LAGI PERUT
SETELAH KUHIRUP DENGAN LIDAHKU

AKU LARI PONTANG-PANTING
AKU LUPA DIMANA TADI AKU
MELOMPAT DAN KELUAR DARI SEBESAR KEPALAKU
KETIKA SIBELANG DATANG DAN MENGHARDIKKU
SUARANYA BEGITU KASAR
MATANYA TAJAM
BULU TUBUHNYA MEMBESAR

AKU LARI PONTANG PANTING



Samarinda, 13 Maret 1999
Dibaca pada penutupan festival
Teater se- Kaltim di Taman Budaya



                                                               
BONGKAR PASANG DAN CERMIN REFORMASI


KEBESARAN DIBANGUN DENGAN KEBANGGAAN
KEMEWAHAN DIBANGUN DENGAN KESEMPATAN
KEMOLEKAN DIBANGUN DENGAN CORETAN-CORETAN KUMAL
KECINTAAN DIBANGUN DENGAN KEPALSUAN DAN KEDUSTAAN
NESTAPA MENJERIT SESAKIT-SAKITNYA
GEMBIRA DIBANGUN DENGAN TAWA TERPINGKAL-PINGKAL
HAHAHA….HAHAHAHAHA……HAHAHAHA
MARI KITA TERTAWA BERSAMA
HAYO….HAYO!…….HAHAHA…….HAHAHAH !!!!

MELENIUM KITA TAPAKI DENGAN WAS-WAS
PERTANYAAN TERLALU BESAR MENGANGA DAN MENGHANTUI
SEDANG REFORMASI DIGELAR SAMPAI KERAK BUMI
KIKIS, KERING, TUMPAH HABIS SAMPAI MENCORENG REFORMASI SENDIRI

AKU TERMANGU, BENARKAH DIA REFORMIS
ATAUKAH SEKEDAR TOPENG ATAU SANDIWARA
……….ACH MENGAPA AKU REPOT-REPOT

GAJAH DITUMBANGKAN
SINGA DIBUANG KEJURANG
BABI DIPASUNG DALAM KAMAR GELAP
TIKUS TERBIRIT-BIRIT LARI SEJADI MENJADI
KUCING NEGERI KONON BEROTAK BRILIAN
DIANGKAT MENJADI ORANG KETIGA

KEMUDIAN SALAH LAGI
KEMUDIAN DISINGKIRKAN LAGI
KEMUDIAN WAJAH BARU SANG KANCIL DIANGKAT JUGA
DAN TERUSLAH BERGULIR SEPERTI RODA

AKU MENJADI PUCAT PASI

BONGKAR PASANG…….. BONGKAR PASANG
PINTU DAN JENDELA GONTA-GANTI
SEMUA MERASA PALING BENAR, PALING HEBAT, MENGETAHUI SEGALA
SEMUA DIANGGAP PETENTANG PETENTENG

ACH MENGAPA HARUS REPOT
BIARKAN BUMI BERPUTAR SENDIRI
SEDANG AKU TERUS BERLARI
DIDEPAN CERMIN REFORMASI
Purwajaya, Loa-Janan, 30 Juni 2000
( Jumat malam Sabtu )
P  O  L  E  M  I  K

DOOORRRRRRRR………!!!!!!
LAUT BERGETAR AIR BERSIMBAH
MENGGUNCANG SEKETIKA DAN DAHSYAT
ANAK-ANAK PONTANG-PANTING

LARIIIIIII………..!!!!!
BERSEMBUNYI DITERUMBU
SEDANG YANG LAIN DISELA AKAR DAN RUMPUT LAUT
LALU MENGINTAI DAN MENGINTIP

PERUTNYA BOBOL
MATANYA PECAH
JANTUNG DAN HATINYA HANCUR
RIBUAN LIMBUNG DAN MATI
BERATUS-RATUS TERIAK HISTERIS
MENANGIS SAKIT DAN PERIH

PENYU, SISIK, LUMBA-LUMBA, HIU LARI SECEPAT KILAT
SEJAUH KEHENDAK DAN MENGHINDAR
SEDANG KAKAP DAN MERAH BATU TRAUMA

MEMANG TIDAK MATI
AKU TAKUT, AKU PERGI
AKU TIDAK KEMBALI
OTAKKU TERASA LULUH LANTAH

MANUSIA SATU, DUA ORANG MENYELAM
MENJARING IKAN DENGAN KERANJANG
TELANJANG KAKI
BERKACAMATA TRADISI DARI KACA,
KAYU DAN KARET
MEMILIH DAN MENGANGKAT RATUSAN
YANG TELAH TELENTANG MATI DIPAKSA
DAN ADA DIBIARKAN BERSERAKAN

MENGAIS RUPIAH DAN SEDIKIT RINGGIT
UNTUK HARI INI SEKEDAR SEKEJAP

ESOK BIARKAN MASA YANG MEWARISI
BAJAK HABIS
AKU TAK PEDULI

Tanjung Redeb, 3 Oktober 2000
Buat Bupati Berau



KETAKUTAN


DISANA AKU LIHAT
KAYU DIPATAH RUBUHKAN
KULIT BUMI DIKUPAS BEGITU JADI
ISINYA HITAM PEKAT DIANGKUT SAMPAI JAUH

DITEMPAT LAIN AKU LIHAT JUGA
AKU TERHARU DAN SEMPIT PIKIRANKU
KAYU-KAYU PANJANG BERUKURAN KECIL
DIPARUT SEBAGAI AMPAS KELAPA
JADI BUBUR SINTAL

TANAH BERTERIAK SEKERAS-KERASNYA
“ PANASSS……..!!! “
“ PANASSS……..!!!!!
SEKETIKA KEMUDIAN
“ DINGIIIINNNN……. !!! “
“ DINGIIIINNNNN SEKALIIIII !!!!

PENGRUSAKAN DIAMBANG BATAS
PULUHAN SOWMIL MENGIRIS RIBUAN BATANG BUNDAR
KONON UJAR BERITA,…….. KAYU REJEK

AKU HANYA BANGGA
BERCERITERA TENTANG ALAM HIJAU
DAN MESIN-MESIN MENGAUNG
BELUM MENIKMATI APA-APA

PARU-PARU DUNIA NEGERIKU
LEBIH MAHAL DARI EKSPLOITASI
KETAKUTANKU SUDAH MENUSUK JANTUNG



Tanjung Redeb, 4 Oktober 2000
Buat Bupati Berau









L  .  A   .  R


Kebebasan ber-LSM- ria dan berkumpul
Kebebasan mengeluarkan pendapat
Kebebasan ber-unjuk rasa
Dan mengatas namakan reformasi
Orang-orang liar semakin jadi

Momok dimuka birokrat dan pejabat
Goncang dan
Sakit kepala memilah untung dan rugi
Sedangkan orang liar semakin berani
Menekan untuk kantongnya
Dan mengatas namakan rakyat
Demopun menyeruduk dan menguak

Lembaga atasnama rakyat
Atas nama orang desa yang konon tertindas
Tumbuh sebagai jamur cinta

Lembaga atasnama rakyat
Menginjak-injak rumput liar
Melantakkan belantara nan hijau bugar
Ulin, Kapur, Meranti, Bengkirai, dan pohon-pohon kecilnya
Berteriak sampai ke-awan-gemawan

Hutanku hancur
Lembaga atasnama rakyat
Mengibas suara lantang
Menutup hati dan mata
Otaknya berangan seribu kemulukan

Hutanku hancur
Monyet dan beruang lari tunggang langgang
Censow dan boldouser membelah langit
Aku tidak berdiri tegak  ?




Tanjung Redeb, 4 Oktober 2000
Buat Bupat Berau







KETIKA BUDAYA DIINJAK


PULUHAN TAHUN TELAH DIAM
KETIKA BUDAYA BARU, DATANG MELINTAS
AKAR TANAH TERSERABUT DAN DI INJAK-INJAK
LAIN PADANG LAIN BELALANG
LAIN LUBUK LAIN IKANNYA
PRIBAHASA SERIMONIAL YANG HILANG DARI PELIPIS MATA
DILETAKKAN DIBAWAH TIKAR ETIKA

PULUHAN TAHUN TELAH DIAM
KETIKA BUDAYA DALAM, TERUS DIINJAK
KETIKA MILIKKU DILECEHKAN
SEDANG SUNGAI SEMAKAIN PANAS
KECONGKAKAN DAN KEANGKUHAN ORANG BARU

BUDAYA KAMI SEDERHANA DAN SAHAJA
KAHARINGAN RITUAL DAN TRADISI
BERSATU DALAM KEKUATAN MEGIS
KAMI SEDERHANA DAN BERSAHAJA
DIMANA BUMI DIPIJAK DISITU LANGIT DIJUNJUNG

DIA BAWA TRADISI KASAR, KAKU
MEMBIAR MEMENUHI HUTAN DAN SUNGAI
MENGINJAK NURANI PALING DIPEGANG
MENGGESER LELUASA TRADISI MILIKNYA
HAK ADAT DIGUSUR
TELAH DIKEBIRI
SUDAH DITELANJANGI

ACUNGAN KEMARAHAN DIGULIRKAN
FOTO MODERNISASI DAN PARADOKSAL
LIHATLAH SAMPAI JAUH KEARAH SUNGAI
EKOSISTEM HUTAN BAGIAN MEREKA
BERTAUT TUMBUHAN DAN BINATANG
















MASA TERLALU LAMA
PRILAKU AROGAN SAMPAI KELANGIT
AKU TELAH BOSAN
MENARI TRADISI DIBUANG KESEMAK BELUKAR
MEREKA BERSATU DALAM SATU RASA
NURANI PECAH BERKEPING
BERSATU DALAM HENING
DIAM

BONGKAH MENJADI BESAR
DAN TIDAK TERTAMPUNG LAGI
SUMPIT MELAYANG KEANGKASA
MANDAU MEMBABAT BUTA
MENGNGAYAU TRADISI LAMA
DATANG BERSAMA NURANI
TIMPALAN PROVOKASI

ADUH…….
PULUHAN RIBU MENYEBERANG KEASAL NEGERI
SEDANG KEPALA BERPISAH
MATI TIDAK BERHARGA
KETIKA BUDAYA TELAH DI – INJAK



Kota Sanggam,  9 Maret 2001














SAMBAS SAMPIT



BUDAYA ETNIS LOKAL TERSINGKIRKAN
BUDI PEKERTI TERLENA BERMIMIPI
BERBAUR BUDAYA SEBUAH SELOGAN
PROPAGANDA BARU KUAT MENYAPU
SARA’ JANGAN DIHEMBUSKAN
ADALAH BUDAYA MENGINJAK KEPALA

SENJATA KEBANGGAAN ETNIS MENEKAN ORANG DALAM
NURANI TERSUNGKUR SAMPAI KEGUA
PELECEHAN ETIKA SAMPAI KEDASAR SUNGAI
HABIS KIKIS KERAK LUMAT
HIJAU RANAU HUTAN KEBANGGAAN JADI
SUDAH DIHINA
DICACI MAKI

ORANG-ORANG SEMAKIN KEDALAM
BERSUJUD RITUAL, MENANGIS LIRIH
PERIH TERLALU LAMA MENGHUNJAM
MATAHARI TELAH TENGGELAM
SUMPIT, MANDAU BERBICARA
SANGKAKALA MENGAYAU HANCURKAN TATANAN
SOPAN SANTUN MILIK ORANG DULU
BUANG JAUH OLEH IRISAN JANTUNG

USIR PENDATANG, USIR MADURA
IMBAS MILIK SEMUA
NEGERI MENJADI PENGHINAAN
PEMUKA SEMUA TERLAMBAT
SEKARANG TINGGAL MENILAI

RATUSAN KEPALA
AMIS DARAH MULUT TER-NGANGA
GENDERANG PERANG ETNIS

SUDAHLAH, AKU TERLALU LELAH
AKU INGIN TIDUR TERBANG SAMPAI KEBULAN


Kota Sanggam, 9 Maret 2001





11 SEPTEMBER 2001



MAKHLUK MENYUSUP MENGGELIAT
BAYANGAN MELIPUTI SEKALIAN BUMI
HILANG KESEIMBANGAN
GEDUNG PENCAKAR LANGIT SIMBOL KEBANGGAAN
LULUH LANTAK, BERANTAKAN
GEDUNG PENTAGON PERTAHANAN RAKSASA
MENEBAR MATA SEJUTA
MATANYA MENGINTIP SEMUA LEKUK
 SUDUT
 LAUT
 LUBANG
GUA-GUA DIGUNUNG
 BENUA DAN PULAU
LANGIT TAK PERNAH LUPUT

SEMUT DISEBERANG LAUTAN DIBIDIK
GAJAH DIPELUPUK MATA DILUPAKAN

DATANG DARI LANGITKAH
DATANG DARI PERUT BUMIKAH
ATAU DATANG DARI DASAR LAUTAN
TERORIS PUNYA KEKUATAN
SUPER POWER TERPERANGAH
TUDING SANA-TUDING SINI
MENUTUPI KEMALUANNYA PALING BESAR

MEREKA LUPA KEKUATAN YANG DIHANTAR
DENGAN KESOMBONGAN
DENGAN KEANGKUHAN
DAN DENGAN KE-AKUAN
MEREMUKKAN SYARAF
MENJADI LEBIH PAMER
DAN MENGGILA













KONTROLKAN DIRI DIPUNCAK BUKIT
DIAM SEJENAK MELIHAT
AKANKAH PUTIH MENJADI MERAH
ATAU HITAM MENYAPU SEMUA
TALIBAN DITANAH AFGANISTAN
MILYARAN TAWARKAN KEPALA OSAMAH BIN LADEN
TRILIUNAN HARGA PENGUNGSI
YANG LAGI TUNGGANG- LANGGANG
RIBUAN PELURU MENEMBUS LANGIT
RATUSAN BOM DAN RUDAL MEMBELAH KOTA DAN GUNUNG

BIARKAN TANAH ASIA SEPERTI ADANYA
DENGAN MAYAT-MAYAT BERSERAKAN


Tanjung Redeb, 7 Desember 2001

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




G  U  S  A  R


SEPENINGGALNYA PORAK PORANDA
HAMBUR KAUT BERANTAKAN
PESONA SIRNA OLEH KUSUT
DIBIAR DALAM KEGUSARAN
TERLALU DALAM, MENGHIMPIT
SIANG PEKAT HILANG SINARAN

RAMBUT BERDIRI TEGAK…….MEKAR
MATA BINAR TAJAM MENUSUK
KELOPAK MATA TANPA KEDIP
PIPI MEMAR MERAH
BIBIR MENGEPAK GETARAN TERUNGKAP
LIDAH BERMAIN MENUMPAHKAN KATA-KATA
SUARA KERAS DENGAN CACI MAKI DAN KOTOR
SUMPAH SERAPAH MUNTAH BERSERAKAN
DAGU KERAS MERENGGUT IBLIS
DIHAMBURKAN SEMUA

WANITA DASARNYA LEMAH
DITENDANG DAN DITAMPAR SEPERTI DOMBA
SAMPAI MERAH DAN BERCAK KEHITAMAN
PERIH DERAIAN AIR MATA
MENGHAMBURKAN CERITERA MENGIRIS

GUSAR……..
GUSAR……..
GUSAR……..
HANCUR OLEH DENDAM DAN KEBENCIAN
KEBENCIAN YANG MENGHANTAM JANTUNG
DENDAM YANG MENCAKAR OTAK
SYARAF-SYARAF YANG MENJADI RENTAN
PIKIRAN DIAMUK EMOSI
GUSAR YANG MENGGELEGAR
MERASA BENAR SENDIRI
MERASA HEBAT SENDIRI
GUSAR DIBIAR MENYAPU RASA



Biduk-Biduk, Sabtu, 8 Mei 2004



BOM MELEDAK LAGI


TONGGAK SUDAH DITANCAP
SEDALAM KERAK BUMI
DI AWAN GEMAWAN
DIPONDASI GEDUNG KEMBAR WTC
KOKOH MENGUKIR AKAL
GEMBALA TERUS MERANGKAI
JARINGAN TERAJUT JUNTAI
PUTUS-PUTUS
PATAH-PATAH

NEGARA RAKSASA DIGONCANG
EROFAH, RUSIA DIGONCANG
INDONESIA BERGUNCANG-GUNCANG

LEGIUN KUTA BALI MELEDAK
HOTEL MERIOT MELEDAK
RATUSAN RUBUH
LUKA-LUKA DAN TEWAS SEKETIKA
TULANG BELULANG
DAGING MANUSIA BERSERAKAN
MATI DENGAN DENDAM

KAMIS SEMBILAN SEPTEMBER DUA RIBU EMPAT
( PUKUL 11.20. WIB )
BOM MELEDAK LAGI
DIHALAMAN GEDUNG YANG TERHORMAT
KEDUBES AUSTRALIA
GONCANG
RIBUAN MANUSIA PANIK
LARI NAIK TURUN
DAN KELUAR MASUK
RATUSAN ORANG LAGI, KORBAN
LUKA-LUKA DAN TEWAS
INI KENYATAAN
ATAU MASIH TAMBAH LAGI
ATAU MASIH DIRENCANA LAGI

KUTUK MENGUTUK SOAL TERORIS
PERNYATAAN DILEMPARKAN
LEMPAR BATU SEMBUNYI TANGAN
AKU MENGUTUK
DENGAN KELELAKIANKU





DAN
MENYIMBURKAN SUMPAH SERAPAH
DISEPANJANG PARIT DAN LORONG-LORONG
LAKNAT
JAHANAM
KURANG AJAR
BIADAB KAU TERORIS

MEREKA ORANG KERDIL
TANGGUNG JAWAB DIALPAKAN
PEMBUNUH PALING BIADAB
KORBAN ORANG TIDAK BERDOSA

SATPAM MATI
PERAWAT TAMAN MATI

KAU TAHU
DIBELAKANG MEREKA
ADA ISTRI
ADA SUAMI
ADA ANAK-ANAK
KEHILANGAN MASA DEPAN
TRAUMA DAN DENDAM

JIHAT BUKAN MEMBUNUH
JIHAT BUKAN PEMBUNUH
KALIAN BUKAN JIHAT
KALIAN PENJAHAT
JANGAN ATAS NAMAKAN AGAMA

SEMOGA ENGKAU DILAKNAT
DASAR TERORIS BIADAB



Tanjung Redeb, 11 September 2004
Pukul 19.00. wite







M A L I N G




MARI BUKA MATA LEBAR-LEBAR
SEMUA TAHU
DIMANA-MANA ADA MALING
DI KOTA ADA MALING
DI KAMPUNG ADA MALING
DI PEDUKUHAN ADA MALING
DIHUTAN ADA MALING
DI SEMAK BELUKAR ADA MALING
DI TAMBANG ADA MALING
DI RAWA GAMBUT ADA MALING
DI SAWAH ADA MALING
DI DANAU ADA MALING
DI LAUT ADA MALING
DI SUNGAI-SUNGAI ADA MALING
DI JALAN RAYA ADA MALING
DI LORONG-LORONG ADA MALING
DI SELOKAN-SELOKAN ADA MALING
DI RUMAH ADA MALING
DI TEMPAT IBADAH ADA MALING
DI MOBIL-MOBIL ADA MALING
DI KAPE-KAPE ADA MALING
DI RESTORAN ADA MALING
DI TEMPAT HIBURAN ADA MALING
DI TERMINAL, STASIUN ADA MALING
DI BANDARA ADA MALING
DI BUS KOTA ADA MALING
DI BUS ANTAR KOTA ADA MALING
DI PESAWAT MALING-MALING
DI KAPAL-KAPAL JUGA ADA MALING
DI KANTOR-KANTOR MALING-MALINGAN

MALING SENDAL
MALING AYAM
MALING KAMBING
MALING EMAS
MALING UANG
MALING BUKU
MALING PEREMPUAN
MALING APA SAJA
YANG BISA DIAMBIL MALING









DI KAMPUS ADA MALING
DIMANA-MANA ADA MALING
AWAS DISEKITARMU ADA MALING
DI DIRIMU JUGA ADA MALING

MALING MATA
MALING TELINGA
MALING HIDUNG
MALING RASA
MULUT JADI MALING

MALING TERIAK MALING
AKU JADI BERANI
SAMA-SAMA JADI MALING

AWAS ADA MALING
WASPADA MALING SIAP MERABA-RABA
DASAR MALING



Tanjung Redeb, 13 Oktober 2004




















RAMADHAN


Bulan Penuh Rahmat Dan Magfirah
Bulan Lebih Baik Dari Seribu Bulan
Bulan Ampunan Dan Pengampunan
Bulan Penghapus Dosa
Bulan Penuh Damai
Bulan Kecintaan
Bulan Limpahan Kesucian
Bulan Pujaan
Bulan Yang Dinanti-Nantikan
Bulan Abadi Milik Tuhan
Bulan Pahala
Idaman Syurga
Bulan Kenikmatan

Menahan Haus Dan Lapar
Menikmati Derita Dan Jeritan Kaum Papa
Kaum Miskin
Kaum Tuna Wisma
Kaum Dan Anak Jalanan
Kaum Kolong Jembatan
Kaum-Kaum Nista Pinggiran
Kaum-Kaum Nista Tersingkirkan

Dahaga Memeras Tenggorokan
Mulut Pahit Dan Berbau
Lapar Melilit
Ujung-Ujung Jari Gemetar
Kekuatan Untuk Bekerja Di Ubun-Ubun

Ketika Ramadhan Berpuasa
Aku Sebagai Orang Miskin
Puasa Menahan Diri

Lebih Baik Diam
Diam Itu Emas
Walau Diam Tidak Selalu Emas


Telinga Tutup Rapat-Rapat
Mata Lihatlah Secukupnya
Bukan Mukhrim Hindarkan
Hati Dalam Kesucian
Kata-Kata Menyejukkan
Raut Wajah Simpatik

Lapar Dan Haus Sebagai Ujian
Bukan Miskin Dan Papa
Inikah Derita Orang Pinggiran
Jauh Mulut Dari Bau Busuk
Tutup Mulut Rapat-Rapat
Jauh Mata Dari Nista
Jauh Telinga Dari Godaan Dengar
Yang Menipu Hati

Ramadhan Bulan Rahmat
Sujud Dan Zikir
Makanan Paling Ilahi
Diam Tafakur Melihat Karunia
Meredam Emosi Tuan-Tuan

Puasa Adalah Kesucian
Rohani Adalah Bunga Melati
Jasmani Adalah Teladan
Aku Diam Dan Tunduk
Melihat Matahari
Aku Tidur Berbicara Dengan Bintang Gemintang

Aku Terpana Dengan Tatapan
Alam Smesta Tunduk
Sujud
Dan Memuji Sang Pencipta


Tanjung Redeb, 19 Oktober 2004
5 Ramadhan 1425 H

Yaser Arafat

DAMAI SEBUAH SIMBOL-SIMBOL
SEPERTI  MENGGAPAI AWAN GEMAWAN
MELAMPAUI TUJUH LAPISAN LANGIT
BIMA SAKTI DISUNDUL DENGAN BAMBU
KEMUNGKINAN MENGAWANG-AWANG

PALESTINA SEBUAH KEGELISAHAN
PANAS MENGGAPAI UBUN-UBUN
CINTA KASIH JADI PAJANGAN
DAMAI MENJADI SIMBOL-SIMBOL
SEPERTI MENGGAPAI AWAN GEMAWAN

YASER ARAFAT LAKSANA MERCU SUAR
KEMBANG API MENERANGI PADANG LUAS
TERHAMPAR MILIK SENDIRI
PUTUS-PUTUS BELUM BERATURAN
PROPAGANDA MENGHIASI RUMAH-RUMAH
TEKANAN TERUS MENGHIMPIT
MENYERET SAMPAI KEDUNIA LAIN
SAMPAI LUMAT SEPERTI BUBUR
MATI DITANAH ORANG
DIHORMATI DENGAN JUTAAN SANJUNGAN
MESIR KOBARKAN SOLIDER
DIMAKAMKAN DALAM KURUNGAN  SENGKETA

BERJUANG DITANAH SENDIRI
DITEMBAKI TENTARA NEGERI SENDIRI
YERUSALEM ADALAH MUSLIM DAN NASRANI
YAHUDI PUNYA JURIAT SENDIRI
TANAH PERUNTUKAN TUHAN YAHUDI

AKU MASIH SEMPAT MELIHAT BINTANG
SAMAR-SAMAR DITUTUPI KEMERAHAN
YASER MENGIBAS SURBAN
MENUTUPI WAJAHNYA SAMPAI KEPINGGANG
KEMUDIAN DIA PERGI
MENCIUMI HARUM SYURGAWI           Tanjung Redeb, 15 Nopember 2004
Yaser Arafat wafat, Jumat, 12 Nopember 2004
di Perancis

T   K   I

TIGA PULUHAN JUTA DIHIMPIT KEMISKINAN
MENANGIS MENGAIS REJEKI
DIKAMPUNG-KAMPUNG
DIKOLONG-KOLONG  JEMBATAN
DITUMPUKAN SAMPAH-SAMPAH
DIPINGGIR-PINGGIR SUNGAI
DI LORONG-LORONG PABRIK
DI KERIBUTAN REL KERETA API
DILAMPU-LAMPU MERAH
PEMINTA-MINTA ANTRI MENGETUK PAGAR
ATAS NAMA SERIBU GODAAN

RATUSAN RIBU DI NEGERI JIRAN
RATUSAN RIBU MENGIRIM RINGGIT
MENGIRIM DINAR
MENGIRIM DOLAR
RUMAH-RUMAH BAGUS
DISUDUT PAGAR BAMBU
MENGGODA KIAN BERSAING
BIAR TKI ILEGAL
BIAR KEYAKINAN DENGAN HUTANG
PERGI ATAS NAMA KEMISKINAN
ANGAN MENGGAPAI BINTANG-GEMINTANG

T K I ADALAH
TENAGA KEAMANAN RAKYAT
TENAGA KEUANGAN RAKYAT
TENAGA KEPEDULIAN RAKYAT
TENAGA KEPRIHATINAN RAKYAT
TENAGA KESEJAHTERAAN RAKYAT
TENAGA KEHORMATAN RAKYAT
TANDA KEJANTANAN RAKYAT
TANDA KERELAAN RAKYAT
TANDA KEJUANGAN RAKYAT
TENTARA KEMERDEKAAN RAKYAT
ATAU SEKALIAN
TENAGA KORUPSI RAKYAT
RATUSAN RIBU BANTING TULANG
SEBAGAI BURUH KASAR
PEDULI DENGAN PROPAGANDA
KETERAMPILAN DI-INJAK-INJAK
JADIKAN LUMPUR MELUMAT
JADI  BURUH BANGUNAN
JADI BURUH PERKEBUNAN
PENJAGA TOKO DAN WARUNG-WARUNG NASI
JADI TENAGA NAFSU BIRAHI
JADI TUKANG KEBUN
JADI BABU
JADI ORANG-ORANG TERTINDAS

MUKA DISIMPAN DALAM KARUNG
BIARKAN KAKI TERUS BERJALAN
DAN TANGAN TERUS BERKARIA
RAMBUT KUSUT
KULIT TANGAN MEMBATU
ANAK-ANAK MANANTI
SANAK DAN PONAKAN MENUNGGU
CERITERA TENTANG BUNGA-BUNGA
CERITERA TENTANG GEDUNG-GEDUNG TINGGI
CERITERA TENTANG LAMPU-LAMPU
CERITERA TENTANG JALAN BERTINGKAT
CERITERA TENTANG MOBIL MEWAH
CERITERA  TENTANG SEMANGAT DAN KEBERHASILAN
CERITERA TENTANG RINGGIT
CERITERA TENTANG DINAR
CERITERA TENTANG DOLAR
DI KAMPUNG MULUT MENGANGA
GETIR MENGGODA JADI
CELANA LEVI’S JAKET BELEDRU
WAH…. BUKAN MAIN
PULUHAN RIBU BERDESAKAN
DIPENJARA
DIDERA
DICAMBUK
DIHINA
DILUDAHI



DI CAP PENDATANG HARAM
DIPERKOSA
PATAH KAKI
KULIT MELEPUH BINASA
WAKTU SEDIKIT PENGAMPUNAN

JIRAN DIBANGUN DENGAN TENAGA KERJA INDONESIA ILEGAL
JIRAN DIBANGUN DENGAN PENDATANG HARAM
JIRAN MEGAH OLEH PENCARI RINGGIT
JIRAN MOLEK ATAS NAMA KEMISKINAN

PULANG SEBAGAI TERBUANG
PULANG MENINGGALKAN KERINGAT
PULANG SEBAGAI ORANG HILANG
PULANG MEMBUKA KECEWA

KAMU HARUS PULANG
BERDESAKAN DI NEGERI SENDIRI
BERKALANG BATU DI NEGERI SENDIRI
BERKALANG TANAH DI NEGERI SENDIRI

BIARKAN AIB NEGERI SENDIRI
BIARKAN TABU NEGERI SENDIRI
BIARKAN BOROK NEGERI SENDIRI
BIARKAN KESOMBONGAN NEGERI SENDIRI
BIARKAN KEANGKUHAN NEGERI SENDIRI
PRASANGKA KUBURKAN

KAMU HARUS PULANG

Tanjung Redeb, 16 Nopember 2004






C  I  N  T  A


BIARKAN SEMUA PRASANGKA PERGI SENDIRI
BIARKAN SEMUA ANGAN MENELUSURI DIRI
BIARKAN SEMUA EMOSI MENGGILAI SENDIRI
BIARKAN SEMUA BAYANGAN MENUTUPI SANUBARI
BIARKAN SEMUA CERITERA TENTANG DIRI
BIARKAN SEMUA KATA-KATA TUMPAH SENDIRI
MENGHIASI SEMESTA ALAM
MERAMAIKAN JAGAT RAYA
SEJOLI CINTA
DENGAN DEGAPAN JANTUNG YANG MENDERU
LIMPAHAN SUCI MENGAKAR DIKEDALAMAN

C I N T A
DALAM RASA YANG JAUH
KALBU CERIA SETINGGI MATAHARI
DALAM RASA YANG DALAM
DETAKAN JANTUNG TANPA BATAS
MATA MENERAWANG MENGHIASKAN DIA
BIBIR MENARI SEINDAH BIDADARI
PUJIAN TERLAMPAU BATAS
TIDUR DALAM KELELAPAN BAYANGAN

TELINGA TUTUP
SUMPAH SERAPAH BIARKAN DI AWAN GEMAWAN
KEDAMAIAN YANG HILANG
PERASAAN BERLEBIHAN
CEMBURU DAN AMARAH
MEMERAHKAN RAUT SEJOLI

AKU SUDAH BERUSIA
HINGGAP DIKEGALAUAN SENJA
DI KELOPAK MATA YANG SEMAKIN SURUT
SEDANGKAN WARNA TUBUH SUDAH LUNTUR

CINTA BUKAN SOAL
KESURUTAN DAN KEDALAMAN
CINTA ADALAH HAYALAN KEDAMAIAN
BERUBAHKAH MENJADI NAFSU ?












DIA DATANG SAAT TIDAK MENGERTI
DIA DATANG SEMAUNYA
DIA DATANG OLEH KEARIFAN
DIA DATANG SAAT TERANG
DIA DATANG SAAT KELAM
DIA DATANG SAAT KESEPIAN
DIA DATANG SAAT UPUK PAGI
DIA DATANG SAAT MATAHARI TIDUR
DIA DATANG SEMAUNYA

CINTA ADALAH KEDAMAIAN
CINTA ADALAH KESUCIAN
CINTA ADALAH KEINDAHAN
CINTA ADALAH KEPATUTAN
CINTA ADALAH PERTAUTAN RASA
CINTA ADALAH KASIH SAYANG
CINTA ADALAH KATA-KATA KEMOLEKAN
KATA-KATA PUJIAN

CINTA DALAM FITRAH
CINTA MENJAGA KESEIMBANGAN
CINTA CITRA REMBULAN KEMERAHAN
CINTA MILIK KITA
CINTA MILIK PENCIPTA


Bali, Rabu 1 Desember 2004















TRAGEDI BOJONG


TUMPAH RUAH SEMUA NURANI
DALAM KEDAMAIAN SENJA YANG HILANG
TUMPAH RUAH SEMUA RASA
DALAM KETAKUTAN YANG DALAM
TUMPAH RUAH SEMUA AZASI
DALAM KEGAMANGAN MALAM
MENCEKAM TERIAKAN TIRANI

KEBEBASAN TELAH DATANG
MASUK KEDALAM LORONG DIAM
KEBEBASAN TELAH DATANG
BERTERIAK DENGAN LANTANG
KEBEBASAN TELAH DATANG
SUARA RIUH MELOLONG BAHANA
PAGI MENINGGI
SIANG MEMULAI
SORE MEMAKI
MALAM MENCARI AIB DIMANA

KEBEBASAN ADALAH BATAS KESOMBONGAN
KEBEBASAN ADALAH BATAS KECONGKAKAN
KEBEBASAN ADALAH BATAS KEANGKUHAN
YANG LAMA DUDUK DISINGGASANA
YANG LAMA MENARI DIMAKHKOTA

BOJONG TRAGEDI KEBEBASAN YANG LEPAS
JELATA MENJADI HINGAR
HILANG DALAM NURANI BELUM PASTI
BERONTAK EMOSI KEALPAAN
BERSATU DALAM GENDERANG PERTANYAAN
MELUAPKAN SEJUTA KATA
SEDIKIT MENGERTI
MENUSUK MENYELINAP ATAS NAMA DAUN KERING
KOBARAN API MENJILAT-JILAT
HATI DAN PIKIRAN HILANG

KEKUATAN DATANG DENGAN TAMENG DAN SENJATA
PERINTAH ADALAH KEWAJIBAN
RAKYAT LAWAN DALAM PERANG
MEMBABI BUTA
PENTUNGAN MENGHANTAM BATOK KEPALA
MONCONG SENJATA SIAP MENGAMCAM NYAWA



PELURU ATAS NAMA PERISAI
MENEMBUS DAGING SEGAR
JELATA BERSIMBAH DARAH
BANYAK YANG HILANG DITELAN KELAM

PERANG TIDAK SEIMBANG
RAKYAT MELAWAN KEKUASAAN
ATAS NAMA INVESTASI
DITANGKAPI
DISERET-SERET
TANGISAN ANAK-ANAK DAN PEREMPUAN
MENJADI NYANYIAN ALAM YANG MENGIRIS

SUARA RAKYAT ADALAH SUARA KAMBING
SUARA RAKYAT ADALAH SUARA AYAM
SUARA RAKYAT ADALAH SUARA ANJING
SUARA RAKYAT ADALAH SUARA PINGGIRAN
BIARKAN KEBENARAN MENJADI AMPAS YANG TERBUANG

BOJONG ADALAH TRAGEDI
JELATA MELAWAN PENGUASA
DEMOKRASI MASIH DIMATAHARI
HAK AZASI TENGGELAM DIKERAK BUMI

ORANG PINGGIRAN BIARKAN MENDONGENG
BIARKAN BERCERITA TENTANG CINTA
BIARKAN BERCERITA TENTANG BINTANG-BINTANG
BIARKAN TIDUR LELAP
DOSA MEREKA TERLALU SEDIKIT

TIRANI ADALAH KESENGSARAAN
POLISI BUKAN PELINDUNG
POLISI BUKAN KASIH SAYANG
POLISI ADALAH JURANG PEMISAH
POLISI ADALAH RAKYAT SIPIL
POLISI ADALAH MANUSIA
PUNYA NURANI DAN CINTA DAMAI

BUKAN KEABADIAN
YANG MENYALA-NYALA


Tanjung Redeb, 7 Desember 2004 


ANTARA NABIRE DAN SOLO


NABIRE SEBUAH NAMA YANG MELENGKING
DIANTARA CENDRAWASIH DAN KAYU HITAM
DI GUNCANG MURKA MAHA DAHSYAT
BUMI UNJUK RASA
RADIASI DAN GETARAN MELEDAK-LEDAK
BUKAN BOM LEGIUN KUTA BALI
DIA GEMPA BUMI DATANG TIBA-TIBA
ANAK-ANAK BERDIRI SAMPAI TIARAP
BERULANG BERGETR LAGI
PULUHAN KALI MENAKUTKAN
MANUSIA TELENTANG DIMANA-MANA
DARAH DAN DAGING MENYISAKAN KETAKUTAN
NABIRE SEBUAH NAMA YANG MELENGKING
MENCEKAM DALAM KEGALAUAN

SOLO KOTA BERSERI
KERATON SBAGAI TANDA KEABADIAN
KEBUDAYAAN DALAM KASIH SAYANG
HUJAN MENGGUYUR SURAKARTAKU SAYANG
ANAK BERANAK LEBIH SUKA DIAM
LION AIR PESAWAT BERBADAN BESAR
TURUN DENGAN KEGAMANGAN
HUJAN DAN KABUT MENUTUPI HALUAN
TURUN DITENGAH LANDASAN YANG BASAH
OLENG DENGAN KECEPATAN
MENYERUDUK LEWAT BATAS
PAGAR BETON JADI SASARAN
SAMPAI MELIBAS PEMAKAMAN DIAM
PESAWAT PATAH
PEASAWA BELAH
TERIAKAN HISTERIS
TANGISAN MENJADI IRAMA SUMBANG
KASAKITAN DAN MINTA TOLONG
TERPENTAL DAN LEPAS DARI CENGKERAMAN
MANUSIA BERHAMBURAN
TIGA PULUH SATU ORANG TEWAS SEKETIKA
HALUAN PESAWAT MENJEPIT DAGING DAN TULANG MEREKA
TRAGEDI PENERBANGAN BANGSA
TERPURUK LAGI
SALING TUDING BUKAN PROPAGANDA
MANUSIA BERENCANA
MANUSIA BERBUAT KEBAIKAN
TAKDIR SIAPA PUNYA ?

Tanjung Redeb, 8 Desember 2004








TOPENG




PERTAUTAN WAJAH DI ANTARA
BATAS-BATAS PENGAMBANGAN
RUPA DIBALIK TOPENG
SEMAKIN ASING
KUASA MENYERUAK
DIBATAS PANDANGAN

TOPENG WAJAH KIASAN

LARI DARI KENYATAAN
KOMENTAR PALING MENGAGUNGKAN
KATA-KATA DISUSUN DENGAN LAGU
OTORITAS DIJADIKAN OPORIA
WAJAH POLESAN BEDAK
ATAS NAMA GUNUNG-GUNUNG

TOPENG RUPA KIASAN


Tanjung Redeb, 9 Desember 2004





















DONGENG TENTANG NUSANTARA


NUSANTARAKU
INDONESIAKU
DUDUK DIPANGKUAN KHATULISTIWA
MERDEKA
KAYA MEMPESONAKAN
MENGANGA
MEMPERANGAHKAN

BERCERITA TENTANG HUTAN
HIJAU RANAU BAK PERMADANI
MENGHAMPAR LUAS SEPANJANG PULAU
ULIN, KAPUR, KARUING, BANGKIRAI, MERANTI
GAHARU, KAYU HITAM, MANGROVE
ROTAN, DAMAR, MADU, WALET

BERCERITA TENTANG LAUT
LAUT NAN BIRU, PERMAI, DAMAI
PENYU, MANTA, LUMBA-LUMBA, DUYUNG, PAUS, TUNA
TONGKOL, KERAPU, KIMA, MUTIARA
UDANG, KAMON, KEPITING

BERCERITA TENTANG SUNGAI-SUNGAI
MELIUK-LIUK MENEMBUS HUTAN
MEMBELAH GUNUNG DAN DATARAN
KONON BAK NAGA MENCARI MANGSA
HUTAN MENJEPIT SEPANJANG SUNGAI
SUNGAI BESAR BERANAK CUCU
BATU KAPUR TAJAM MENGIRIS AIR
MENJADIKAN JARAM-JERAM MENANTANG
ELOK MEMANG
PATIN, SALAP, UDANG, SAKKUL, BUNTALLI BERCENGKRAMA
KETIKA SIANG ULAR TIDUR
SETUMPUK-SETUMPUK
DI ATAS POHON-POHON KECIL BERCABANG DATAR
DI TEPI ANAK SUNGAI

BERCERITA TENTANG LANGIT
YANG LUAS HILANG BATAS
MENGIKAT ANGKASA CAKRAWALA KEMOLEKAN
UDARA ASRI MENGISI SEMUA RUANG









GUNUNG-GUNUNG MENJULANG
EMAS BERLIAN TERPENDAM
BATU BARA, MINYAK BERBICARA
ADAT BUDAYA BERIBU TITAH
IKAN DAN LAUT SERIBU PESONA
SEMUA BERCERITA TENTANG NUSANTARA

TETAPI AKU KAGET
AKU MENDENGAR DOGENG
NEGARAKU KAYA NAN RAYA
TIADA TANDING SEANTERO DUNIA

KAYA HANYA DALAM CERITA
MISKIN DALAM REALITA

OH…AKU ORANG MISKIN
MISKIN MORAL
MISKIN KREATIFITAS
MISKIN ILMU
MISKIN HARTA
MISKIN UANG
JUGA MISKIN KORUPSI

ITUKAH ?
DONGENG TENTANG NUSANTARA

Kota Sanggam, 9 Juni 2004














PETAKA AKHIR TAHUN


NYANYIAN NATAL MASIH DITELINGA
MENGGEMA SAMPAI KE AWAN-AWAN
MENYUSUR ALAM JAGAT
LAGU TERUS MELANTUN PUJI TUHAN
PENGUASA ALAM SEMESTA RAYA

AKHIR DESEMBER SUDAH DATANG
PETAKA MENGOYAK SERAMBI MEKAH
ARAH BARAT MENGHEMPAS
MENGGONCANGKAN UJUNG SUMATRA
ACEH BERTERIAK KENCANG
SAMPAI KESELAPUT TELINGA
MENGOYAK LANGIT
MEMBELAH KOTA
GEMPA MENGGETARKAN TANAH KELAHIRAN
MENGGOYANG RUMAH TUA
MENGHENTAKKAN SEPEDA ONTA
MANUSIA BERLARIAN KELUAR RUMAH
LALU TANAH DIAM SEJENAK DALAM HENING

SELANG WAKTU BUMI CINTA KASIH
MENGGOYANG LAGI
LEBIH DAHSYAT
MERUBUHKAN RUMAH-RUMAH

PUTIH MENGGULUNG GEMURUH
JAUH-JAUH DATANG DARI LAUT
DIA GELOMBANG PASANG TSUNAMI
BERULAH TINGKAH
MENGGUNUNG SETINGGI RUMAH
SETINGGI POHON
SETINGGI BUKIT
MENGGULUNG LAUT
MENGHEMPAS KARANG
MELIBAS PANTAI
SAMPAI RIBUAN METER MENYAPU DARAT
POHON-POHON RUBUH
RUMAH-RUMAH MIRING

AYAM, BEBEK, KAMBING, TERBIRIT-BIRIT
PERABOT DAPUR BERLAYAR DIATAS GELOMBANG
KURSI MEJA TUMPANG TINDIH
KASUR JADI AMPAS
JEMBATAN AMBRUK
 TERIAKAN HISTERIS MEMBELAH SEMESTA
DI TEPI PANTAI
DI DALAM PERAHU
DI HALAMAN RUMAH
DI RUMAH LOTENG
TERIAKAN HISTERIS LARUT
DALAM GULUNGAN GELOMBANG
BAYI LEPAS DARI IBUNYA
ANAK-ANAK TENGGELAM BATU
DI HEMPAS KEDINDING RUMAH

RUMAH JADI DANAU
ANAK KEHILANGAN IBUNYA
IBU KEHILANGAN ANAKNYA
KEHILANGAN NENEKNYA
KEHILANGAN SEGALANYA

ORANG TUA BERENANG TIMBUL TENGGELAM
MELAWAN MAUT DI UBUN-UBUN
RUMAH PENUH AIR TUMPAH LAGI
JALAN JADI SUNGAI
GELOMBANG TSUNAMI MENGGILA DALAM SEKETIKA
ARUS BALIK YANG MENGIRIS
MEMBAWA KAYU KELAUT
MEMBAWA PERABOTAN KEJALAN
MEMBAWA PASIR KEPANTAI
MEMBAWA LUMPUR MENDAKI RUMAH
MENUTUP JALAN
MENUTUP JENDELA
MENGGEDOR DINDING KAYU
MEMBAWA PERAHU BERLAYAR TANPA AWAK
AIR ASIN TINGGAL SEBAGAI RAWA
KOTA JADI DIAM

TANGISAN KESAKITAN SERATUS PENJURU
TERIAKAN MINTA TOLONG SEBAGAI NYANYIAN
IBU BERLARI HILIR MUDIK MENCARI ANAKNYA
“ANAKKU DIMANA…ANAKKU HILANG “
SEORANG NENEK MENGHEMBUS NAFAS TERAKHIR
DI SEBELAHNYA ANAK KECIL TIDAK BERNYAWA
DI DALAM RUMAH GADIS MATI DITIMBUN KASUR
DI JALAN-JALAN TERIAKAN MINTA TOLONG
TERHIMPIT ATAP RUMAH YANG ROBOH
DI PARIT MAYAT-MAYAT TERSUNGKUR
TIDAK JAUH DARI TEMPAT ITU
DI DEPAN TOKO MAYAT TAK DIKENAL
DI DALAM TOKO BERJILBAB SERAGAM MATI BERTINDISAN
DI DALAM RERUNTUHAN MAYAT MEMBENGKAK
DIATAS RERUNTUHAN MAYAT TELENTANG DAN TENGKURAP
DI JEPIT KAYU DAN SAMPAH

DIMANA-MANA MAYAT BERGELIMPANGAN
GELOMBANG TSUNAMI MEMBUNUH SEGALA
RATUSAN REMAJA
RATUSAN ANAK-ANAK
RATUSAN BAYI
RATUSAN TENTARA DAN KELUARGA

LIMA RIBU TUJUH RATUS TUJUH PULUH EMPAT KORBAN TEWAS
TUJUH RIBU LEBIH KORBAN TEWAS
PULUHAN RIBU KORBAN TEWAS
TUJUH PULUH RIBU SEMBILAN RATUS TEWAS
PULUHAN RIBU HILANG
DAN TERUS BERTAMBAH
DUA PULUH RIBU RUMAH RUBUH DILIBAS HABIS
DI BANDA ACEH
KRUENG MANE
ACEH TIMUR
LHOKSEUMAWE
BEREUEN
PIDIE
ACEH UTARA
DESA SEROMBU
CIBARISI
PANTAI CERMIN SERDANG
MELABOUH SERATA TANAH

INDONESIA MENANGIS
INDONESIA BERKABUNG
INDONESIA DALAM DUKA YANG DALAM
PETAKA AKHIR TAHUN YANG MAHA DAHSYAT
INDONESIA DIAM DAN MERENUNG

GEMURUH ANGIN MASIH MENGINTIP
SAMBARAN PETIR MASIH MENGINTAI
GEMPA MASIH BELUM SELESAI
TSUNAMI MASIH ENGGAN UNTUK PERGI
LANGIT MASIH BELUM MUNTAH
AIR BAH BANJIR JUGA BELUM URUNG
SIAPKAN MENERIMA BADAI ?

TUHAN AMPUNI MEREKA
KIKISKAN DAKI DAN KOTORAN YANG SEDIKIT MELEKAT
BUANGKAN KOTORAN YANG BERCAMPUR DIPERUTNYA
TERIMALAH MEREKA DI SISIMU
TERIMALAH MEREKA DI SYURGAMU YANG ABADI
DOA SENIMAN KECIL

NABIRE BELUM SELESAI
SOLO MASIH MENINGGAL MALU
MEDAN DI GUNCANG
NANGRO ACEH DARUSSALAM DI GUNCANG-GUNCANG

MAYAT TUMPANG TINDIH JADI KUBURAN MASSAL
RUMAH AMBRUK SEBAGAI KAMPAR
YANG LARUT DALAM ARUS MENCEKAM
POHON PINTAH TERSERABUT DENGAN AKAR
MENINDIS DAN MENYERET SEGALA

YA TUHAN AKU MENANGIS
YA TUHAN  KAMI MENANGIS
YA TUHAN BANGSA KAMI MENANGIS
YA TUHAN BETAPA BESAR DAN DAHSYANYA
PETAKA YANG KAU TIMPAKAN
TAK TERTANGGUNG OLEH RAKYAT KAMI
KALAU KAMI BERDOSA AMPUNKANLAH KAMI
KALAU KAMI BERSALAH TUNJUKANLAH KESALAHAN KAMI

KAMI MANUSIA YANG SERBA TERBATAS
KAMI MANUSIA YANG MUDAH KALAP
KAMI MANUSIA YANG MUDAH TERPEROSOK
KAMI MANUSIA YANG SELALU SERAKAH
KAMI MANUSIA YANG MUDAH LUPA
YANG CONGKAK
YANG SOMBONG
YANG ANGKUH
PADAHAL KAMI TAK PUNYA APA-APA
PADAHAL KAMI TAK MAMPU BERBUAT APA-APA
UNTUK MELAWAN KEHENDAKMU
PADAHAL KAMI BERJALAN DI ATAS CIPTAANMU

YA TUHAN
JAUHKAN SIKSAAN YANG MAHA DAHSYAT
JAUHKAN COBAAN YANG TAK TERTANGGUNGKAN
JADIKAN KAMI BANGSA YANG SELALU DEKAT DENGANMU
MENGINGATMU
TAWAKKAL
TAFAKUR
MENGERJAKAN SEMUA PERINTAHMU
MENINGGALKAN SEGALA LARANGANMU
TUHAN KAMI MEMOHON


Tanjung Redeb, 29 Desember 2004
Gempa dan Gelombang Tsunami Minggu pagi, 26 Desember 2004
Nangro Aceh Darussalam dan Sumatra Utara













T U H A N


KETIKA SABTU MALAM DATANG
LELAKI TUA MENELUSURI JALAN DENGAN PIKIRANNYA
BERTANYA TENTANG TUHAN

DIA TERSENYUM MENATAP TAJAM
DIA MENJAWAB
TUHAN MAHA KUASA DAN MENGUASAI
TUHAN BERBUAT DENGAN KE-ESAANNYA
TUHAN MELIPUTI SEKALIAN ALAM YANG DILIPUTINYA

DIA TIDAK TERBANDINGKAN
DIA KUASA SELUAS ALAM SEMESTA
DENGAN KEKUASAAN YANG TIDAK TERBAYANGKAN OLEH AKAL
MAHA LUAS

BUMI, BULAN, MATAHARI, DAN BINTANG-BINTANG
ADALAH BAGIAN KECIL DARI KEKUASAANNYA
TUHAN MENGATUR ALAM SEMESTA DENGAN KEHENDAKNYA
TUHAN MENGGERAKKAN ALAM JAGAT DAN PLANET-PLANET
DENGAN PEREDARAN YANG PASTI
BEREDAR DENGAN ATURAN SENDIRI YANG TELAH DICIPTA

JANGAN PERUMPAMAKAN TUHANMU
JANGAN BANDINGKAN DIA
DENGAN APA YANG MAMPU KAU LIHAT
KAU RASAKAN
KAU NIKMATI
KAU BAYANGKAN
KAU HAYALKAN

TUHAN LEBIH DARI YANG KAU KIRAKAN
IA TIDAK TERKIRAKAN

PERHATIKAN BUMI BERGERAK DAN BEREDAR
MENGELILINGI MATAHARI
PERHATIKAN BULAN MENGELILINGI BUMI
PERHATIKAN PLANET-PLANET BERGERAK DALAM PEREDARANNYA

TANYAKAN
SIAPAKAH YANG MENGATURNYA
SIAPAKAH YANG MENGGERAKKANNYA






ATAUKAH BERGERAK SENDIRI-DIRI
MUSTAHIL ITU TERJADI
PASTI ADA PERMULAAN
YANG MENCIPTAKAN
YANG MENATA DALAM EDARNYA
TIDAK MUNGKIN JADI DENGAN SENDIRINYA
PASTI ADA ASAL KEJADIANNYA

TUHAN DENGAN SEGALA HAKNYA

SEMUA ADA, DALAM PERMULAAN
SEMUA LENYAP, DALAM KEAKHIRANNYA

ADAM
MANUSIA PERMULAAN
TENTU ADA MANUSIA AKHIR

MANUSIA LAHIR ADALAH PERMULAAN HIDUPNYA DIMUKA BUMI
MANUSIA MATI ADALAH AKHIR DARI KEHIDUPAN
DAN MEMASUKI DUNIA BARU
JASADNYA TINGGAL BERSAMA TANAH
SEMESTINYA KEHENDAK TUHAN

PERBUATAN BAIKMU PASTI KAU KETAHUI
PERBUATAN MURKAMU PASTI KAU KETAHUI

SEMUA MANUSIA MENYESAL KEMUDIAN
APA YANG DIA LAKUKAN PALING BENAR
APA YANG DIA LAKSANAKAN PALING JUJUR
APA YANG DIA RASAKAN PALING HEBAT
PERBUATANNYA HANYA KEANGGAAN
TUHAN TAHU JEJERAN KEBOHONGAN

PUJIAN DAN TEPUK TANGAN JADI KEPALANYA
TEGURAN, KRITIKAN JADI ALAS KAKINYA
ITULAH MANUSIA YANG TIDAK MENGENAL MATI
AKHIR DUNIA
MENEMUI TUHAN

INGATLAH TUHAN MENGHIDUPKAN
TUHAN JUGA YANG MEMATIKAN





BERTOBAT ADALAH JALAN PINTAS
UNTUK DEKAT DENGAN TUHANMU
LALU MENCIUM SYURGA DENGAN KESENNGAN
KEABADIAN BERSAMA DIA

DIMANA KAMU
DISITU TUHANMU
DIDALAM GUA
DISITU TUHANMU
DIDALAM LAUT
DISITU TUHANMU
 DIATAS LANGIT
DISITU TUHANMU
DIDALAM PERUT
DISITU TUHANMU
TUHANMU YANG MENGUASAI
TUHANMU YANG MENCENGKERAM
TUHANMU PEMILIK ALAM

TIADA SEDIKIT LENGAH DARI PENGAWASANNYA
TIADA SEDIKIT TEMPAT YANG LUPUT DARINYA
DIALAH TUHAN
PEMILIK SYURGA KEBAHAGIAAN


Tanjung Redeb, 12 januari 2005




















MANUSIA DAN KEJADIANNYA


KETIKA SEORANG REMAJA ASYK
BERBICARA DENGAN SEORANG KAKEK
IA BERTANYA TENTANG MANUSIA
DAN KEJADIAN DIRINYA

AKU DULU MEMBIARKAN SEMUA BERLALU
KULUPAKAN SEMUA KENANGAN
DAN INGATAN MASA LALU
DENGAN HARAPAN DOSA-DOSA SILAM TIDAK MENERJANG
DAN MENGHANTUI PERJALANAN MASA DEPAN

SUATU HARI AKU KESEPIAN
MERASA TERPUKUL OLEH MASA LALU
YANG SUDAH KU KUBURKAN
PERJALANAN PANJANG
MENGISI MEMORIKU
SEMUA DATANG LAGI
DAN MENGHIASI

TAHUKAH KAMU TENTANG PERKAWINAN
TENTANG PERSETUBUHAN
HUBUNGAN MANUSIA BERBEDA JENIS

HUBUNGAN KEDUANY ITULAH PERMULAAN
AIR MANI MENEROBOS
MENGEJAR INDUNG TELUR KEWANITAAN
MENSTRUASI BERHENTI
PERTEMUAN ITU MENJANJIKAN
KEMUDIAN BERBENTUK MANUSIA YANG SEDERHANA
TELANJANG TANPA SUARA
MEMAKNAI SEMUA DIDALAM KANDUNGAN
SYURGAWINYA BAYI
DIA DIMULAI DENGAN CERITERA KEBAIKAN
DENGAN CERITERA PUJI-PUJIAN
NYANYIAN DAN HARMONI MEMBENTUK KEPALA
KITAB-KITAB JADI HATI
KEJUJURAN, KEBAHAGIAAN JADI DAMBAAN

PERUT IBUMU BESAR
SEMBILAN BULAN SEMBILAN HARI UKURANNYA
LAHIR MENEROBOS DINDING
DIANTARA HIDUP DAN MATI
KEPALA MENDAHULUI



IBU KEJANG MEMOMPA
AGAR TERDORONG KELUAR
DAN MENANGIS SEBAGAI MENYAPA DUNIA
KEHALIRAN TELAH DATANG
KEHIDUPAN TELAH MENEMUI

DUNIA BERDAO
MENYAMBUT SEORANG BAYI
MENANGIS DENGAN KERAS
TANDA PERTENTANGAN DAHSYAT

MELANGKAHI SATU KEJADIAN
PADA KEJADIAN BARU
DUNIA YANG MENGHARU

MANUSIA JADI SEBAGAI MAKHLUK YANG DISEMPURNAKAN
PUNYA KEPALA SEBAGAI PIKIRAN
PUNYA HATI SEBAGAI PERTIMBANGAN
PUNYA NAFSU SEBAGAI KEINGINAN

KETIKA PIKIRANNYA JADI UKURAN
JADILAH DIA SEBAGAI ORANG SOMBONG
KETIKA PERTIMBANGANNYA MENDOMINASI
JADILAH SEBAGAI MANUSIA DUNGU
KETIKA KEINGINANNYA MERAJAI
JADILAH SEBAGAI MANUSIA SERAKAH

Tanjung Redeb, 12 Januari 2005















ULANG TAHUN


DILAHIRKAN SEBAGAI LELAKI SEJATI
DISEMPURNAKAN DALAM DAMAI
KEABADIAN DALAM CITRA DAN CERITERA
LAHIR SEBAGAI PENGABDI
DISEKAP DALAM KERINDUAN MALAM
DALAM NYANYIAN SEMILIR
DALAM NADA-NADA ALAM
DALAM PESONA BUAIAN EMBUN
BARINGKAN DI ATAS PERMADANI MUNGIL
HIJAUNYA BELANTARA
SUBURNYA BUNGA-BUNGA
RIUHNYA BURUNG BERSENANDUNG

DEWASA DATANG BERSAMA PERJALANAN MATAHARI
DUNIA TELAH DIPANGKUAN
KETIKA MATA NANAR MENELUSURI
DINDING-DINDING KEGAMANGAN
BERAU TEMPO DULU

BERPIKIR SEBAGAI PENGABDI
RELALAH JIWA RAGA SEBAGAI PENGORBANAN
SEBAGAI ORANG DIGUGU DAN DITIRU
DI AWALI DENGAN PEGAWAI LEPAS
MENJADI PEGAWAI NEGERI SIPIL
BERADU ARGUMEN SEBAGAI STAF BP 7
DELAPAN TAHUN DI HUKUM
SEBAGAI KEPALA BAGIAN
BAHASA INGGRIS MENGHIASI SMU DAN SMP SATU
BAHASA JERMAN MENGUMANDANG JUA
SEKARANG MASIH KEPALA DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN
HARI INI AKHIR BULAN DIAWAL TAHUN
31 JANUARI 2005
HARI INI USIA 56 TAHUN
MASIH CERIA
MASIH MEMPESONA
MASIH ANGGUN
MASIH GELAK TERTAWA
MASIH SERIBU ANGAN DIRENGKUH








SENYUM MENGHIASI BIBIR
MERUBUHKAN AMARAH YANG DATANG
MENEKUK LUTUTKAN KEKUATAN
MENGHAMBARKAN KECONGKAKAN
HATI MENJADI DINGIN


RAUT BEKU MEMBELAH MERAH CERAH
SELAMAT ULANG TAHUN
PANJANG UMUR
SEMOGA SEHAT SENTOSA
SEJAHTERA DALAM GEMBIRA
BIARKAN KAKI MELANGKAH
MENITI KEBEBASAN
SELAMAT ULANG TAHUN
HAPPY BIRTHDAY TO YOU

Tanjung Redeb, 31 Januari 2005
Saprudin Ithur


























PELANGGARAN DAN KEDAULATAN


PIKIRAN DAN NURANI
DISENTAK JIWA KE-AKUAN INDONESIA
TUJUKAN PADA KAWASAN KECIL AMBALAT
GARIS BATAS PENGAKUAN
MENJADI MOMOK KENTAL
MEMANAS DENGAN PROPAGANDA DAN MANUFER
KEDUANYA PALING BERHAK
YANG SATU SEBAGAI KORUPTOR
YANG LAIN SEBAGAI PENGERUK DOLAR
SEDANGKAN RUPIAH DIBIARKAN TERTINGGAL DI BELAKANG

KAWASAN AMBALAT JADI MOMOK
SISIPAN PIHAK KETIGA YANG SINTAL
MENERKAM JANTUNG NEGERI SERUMPUN
KEKUASAAN
KEKUATAN
KECONGKAKAN
BUKAN SEJARAH JADI PEDOMAN
GARIS BATAS BERPINDAH DENGAN KESOMBONGAN

UANG MERAJAI
PEREMPUAN DINIKMATI
SEKEDAR PELAMPIASAN DAN PENUMPAHAN AIR MANI

BIARKAN BATAS MENJOROK JAUH KE DALAM
SAMPAI DUA PULUH KILOMETER
DIANGKUT DUA BAHU SEJOLI
DUA SERUMPUN
SEMUA BISA DIATUR
TUAN DATANGLAH KE NEGERI KAMI NEGERI JIRAN
SEKEDAR BERPOYA SEJENAK DI RUMAH TINGGI
MENGADU ALKOHOL BERCAMPUR PEREMPUAN
DENGAN KABUT ASAP ROKOK DITEMBUS LAMPU WARNA-WARNI

GARIS BATAS
NEGARA PUNYA URUSAN
KAYU BESAR MASIH RATUSAN RIBU POHON
IKAN JUTAAN MASIH BERSELIWERAN








PENJAGA BATAS RUNYAM
SEDIKIT TERSENYUM
AGAMA DAN KITAB SUCI ADA DI KEPALA
HASIL BELUM SEBERA[A
AMBIL SEDIKIT DARI YANG BANYAK
AMBIL YANG BANYAK DARI YANG SEDIKIT
KEDUANYA PILIHAN PRIBADI
ANAK BINI PUNYA RUMAH
ANAK BINI PUNYA SELERA MEWAH
BIARKAN AKU TUTUP MATA
AMBIL SEDIKIT UANG DI PERBATASAN
YANG BESAR AMBILLAH LEBIH BANYAK

NELAYAN MEREKA LEBIH CANGGIH
BOLDOUSER MEREKA LEBIH KUAT
UANG RINGGIT MASIH DIPUJA
KEDAULATAN URUSAN NEGARA
KENAPA HARUS PUSING-PUSING

DI PERBATASAN TIDAK KORUPSI
YANG DIAMBIL SEKEDAR REZEKI
UANG ROKOKLAH BEGITU JADI
SEBAGAI SERUMPUN ALASAN PASTI
KEDAULATAN DI INJAK-INJAK NEGERI SIMPATI
KERAMAHAN TETANGGA SEMAKIN JADI

DASAR MANUSIA GAMPANG DICEKOKI
APARAT NEGERI DIGADAI SEBAGAI API
PULUHAN TAHUN DIAM BIAR DIKETAHUI
PEMERINTAH PUSAT MELEMPAR KERITIK SAPI
PEMERINTAH DAERAH TIDAK PERNAH PEDULI
BATAS KEDAULATAN SEBAGAI PERAWAN DIGAULI

AMBALAT MEMANAS LAGI
PROPAGANDA DILEMPAR SAMPAI KELAUTAN
RAKYAT BEREAKSI SENDIRI
MENYUSUN KEKUATAN DAN STRATEGI

SELESAIKAN DENGAN PERUNDINGAN








INDONESIA DICORENG LAGI
SIPADAN DAN LIGITAN SUDAH MENJADI BUKTI

LAIN RAKYAT
LAIN ANGGOTA TERHORMAT
DPR MENJADI WADAH ADU ARGUMEN
ADU NGOTOT DAN ADU OTOT
SELAYAKNYA PERHELATAN AKBAR
UNTUK BERJUANG DENGAN ADU JOTOS
ADALAH NALURI KEBANGGAAN
MATA SEJUTA MENATAP
DIALAH PILIHANKU
YANG TERHORMAT SEBULAN TERIMA LIMA PULUH JUTA
MASIH MENCONGKEL KEINGINAN MENGGUNUNG
SEDANG,
DI PERBATASAN DAN LORONG-LORONG
JELATA TERUS MENGAIS MISKIN

AMBALAT ADALAH JERITAN PANJANG
DIBIAR BERLALU DENGAN CONGKAK
AMBALAT ADALAH JERITAN HENGKANG
LEBIH MAKMUR DI NEGERI COMBLANG
AMBALAT ADALAH KEANGKUHAN PEMBANGKANG
ATAS NAMA RAKYAT DASAR DRAKULA MEMANG
AMBALAT SEBAGAI JERITAN KUKANG
DIA DUNGU PERGI SEJAUH BURUNG TERBANG
TERBANG……….
HENGKANG……….
PEMBANGKANG……….
DI NEGERI COMBLANG

Tanjung Redeb, 18 Maret 2005













KHARISMA DUNIA


SEORANG ANAK KELAHIRAN POLANDIA
NEGARA BELAHAN EROFAH TIMUR BERBASIS KOMUNIS
GEMAR SEPAK BOLA DAN RENANG
BESAR DAN DEWASA DALAM KESUCIAN
VATIKAN IMPIAN DAN HARAPAN
SEBENARNYA ADALAH WAHYU MENJADI KENYATAAN
DIPILIH SEBAGAI ORANG NOMOR SATU
SEBAGAI PAUS JOHANES PAULUS II

SEORANG LELAKI PERJAKA
TUA RENTA PEMIMPIN DOA
DENGAN TUBUH LEMAH
KEPALA TUNDUK LUNGLAI
MEMIMPIN MISA SUCI
MEMIMPIN PERTEMUAN KRISTEN DUNIA
KOLABORASI ORTIDOK DAN ALIRAN KERAS DAN LENTUR
SERATUS EMPAT PULUH SEMBILAN KALI PERJALANAN
BERTEMU DENGAN TOKOH DUNIA
BERTEMU DENGAN TERESSA
BERTEMU DENGAN TOKOH ISLAM YASER ARAFAT

LELAKI TUA PENDAMBA PERDAMAIAN DUNIA
MENGHAMBA DIRI DAN SUJUD PADA BUMI
MENGAKU DIRINYA SERENDAH TELAPAK KAKI
DIA DIPUJA DUNIA
SEBAGAI UTUSAN TUHAN

JUTAAN UMAT HENING MENGIKUTI DOA
PAUS MEMIMPIN DENGAN SUARA YANG DALAM
SERAK-SERAK
PUTUS-PUTUS

ORANG TERKENAL DI CIUMNYA
ORANG TERKEMUKA DI CIUMNYA
ORANG JALANAN DI CIUMNYA
ORANG MISKIN DI CIUMNYA
ORANG PUTIH DI CIUMNYA
ORANG KUNING DI CIUMNYA
ORANG HITAM DI CIUMNYA
MATA SIPIT DI CIUMNYA
HIDUNG MANCUNG DI CIUMNYA
ANAK-ANAK DIPELUK DAN DI CIUMNYA
PAUS JOHANES PAULUS II MENCIUM SEMUA BAU MANUSIA
DIA ADALAH PENCINTA DAMAI DUNIA



DIA ADALAH PENDAMBA DAMAI DUNIA
DIA BERDOA UNTUK PERDAMAIAN DUNIA

SANG KHARISMA DUNIA
SANG PENDOA DUNIA
SANG PENDAMBA DAMAI DUNIA
PERGI UNTUK SELAMANYA
UNTUK DIAM DAN SENDIRI
MENINGGALKAN KEHARUMAN DALAM DOA
DUNIA TUNDUK DAN BERSIMPUH
PERHATIAN HANYA UNTUK VATIKAN
KEHILANGAN SANG PENCIUM BUMI
UMAT DIAM, HENING
DAMAILAH KAU SANG PENDOA
ROH KUDUSMU HAMPIRI KAMI
UMAT PENDAMBA SURGA
SEBAGAI MERAJUT DAMAI DUNIA



Tanjung Redeb, 4 April 2005
Paus Johanes Paulus II wafat Minggu malam, 3 April 2005























PERGULATAN


BIARKAN BIBIR BERKUASA SENDIRI
BIARKAN BIBIR BERUJAR SENDIRI
LIDAH MENARI MENYAPU LANGIT
MENUAI BAIK BURUK UNTUK NURANI

KESOMBONGAN
KECONGKAKAN
BERGUMUL DALAM SERIBU RASA
MENDAKI DAN MEMATAH BIRAHI
NAFSU AMARAH
NAFSU KECONGKAKAN MELANGIT
SANG OTORITER PIDATO LANTANG
MENYAPU SEKAT-SEKAT KEAKUAN
TENTANG KEJUJURAN
TENTANG KEARIFAN
TENTANG KEAJAIBAN
TENTANG KORUPSI
TENTANG KOLUSI
TENTANG SUAP MENYUAP
TENTANG DISIPLIN
TENTANG TANGGUNG JAWAB
TUMPAHAN KEYAKINAN SENDIRI
DALAM KETIPISAN SATIN
YANG MENGEKOR GANDA

KAMI MILIKI PIJAKAN
KOKOH BERAKAR KE BUMI
KAMI MEMILIKI TANGGUNGAN MORAL
WALAU SPORADIS DAN HITAM
MEMANAH DAKI
MENGHAMBUR BASI
MENGADUK CAMPURAN NODA-NODA

PERTENTANG BARA SAMPAI KE DUNIA LAIN
SIKUT MNYIKUT DENGAN CACI MAKI
MAIN SERUDUK KATANYAN
MAIN JILAT UJARNYA
MAIN BIDIK
MAIN MISTIK
AJIAN KADA LUARSA
MANTRA-MANTRA
JADIKAN ADONAN SINOPSIS PERGULATAN






ADU JOTOS
ADU PREMAN
JADIKAN BENTENG KEDAULATAN

NISCAYA PERGUMULAN
NISCAYA PERGULATAN
WADAH KARANGAN BUNGA MASA DEPAN
BAGIAN TOPENG KEANGANAN
DALAM DUNIA NYATA

ANCAM MENGANCAM
ADALAH BAGIAN PROPAGANDA
HINA DAN FITNAH
BAGIAN ALUR KEHIDUPAN
CEMOOH DAN MERENDAHKAN BAGIAN DARI INTERTAINMENT

PERTARUNGAN MAHA BINTANG SUDAH DIMULAI
SATU LAWAN SATU
 SATU LAWAN SERIBU
GEMURUH DERAP MEMBABI BUTA
ATAS NAMA RAKYAT
ATAS NAMA HUTAN
ATAS NAMA LAUT BIRU
ATAS NAMA PELANGI
ATAS NAMA BURUNG-BURUNG
ATAS NAMA BINTANG GEMINTANG
ATAS NAMA RUMPUT

PEMENANGNYA PROPOKATOR

SANG OTORITER TERSENYUM
DUDUK DALAM PERGULATANNYA SENDIRI
SANG BIDADARI
MENGIRIS RASA MALUNYA
MEMBELAI KASIH BIRAHI
DUNIA MENJADI HITAM
SELESAIKAN
ATAU HABISI SAJA SEKALIAN


Tanjung Redeb, 28 April 2005
Selasa Pukul 15:30


SRI – ON

GELAP GULITA MENGHEMPAS MALAM
DINGIN MENYELIMUTI DINI HARI
AWAN MENUMPUK SATU DUA
LOLONGAN ANJING HUTAN MASIH DI TELINGA
BAJIAK DENGAN SENTUHAN ANGIN MALAM
MENARI BERPUTAR-PUTAR DI RUMAH ADAT SUNTA
MENEMBUS HUTAN
DAN MENGHANTAM SINGKAPAN SEPI

SUNGAI MENGALIR PERUMPAMAAN SUSU
BERKELOK-KELOK
TUMBIT DAYAK DIA DATANG
MEMBEDAKI BAKUDUNG BATIUNG
BERSOLEK PERPADUAN LANGIT DAN SEMAK

DAUN-DAUN MASIH MELAMBAI
GULITANYA MALAM MENCIUM AROMA
DARI KAMPUNG SEBERANG IMPIAN
LONG LA AI TANAH PIJAKAN

BIRAHI AWAN GEMAWAN SAMPAI KE DADA
BIBIR SUNGAI ITU TERLALU INDAH
GURATANNYA BAK PALAWA
PASIR BASAH MELEMPAR RASA
AIR MENYEMBUR SAMPAI KE MATA
BIBIR SUNGAI KULUMAT DENGAN DAHAGA

AKU TERLANJUR SUKA DENGAN KEINDAHAN
AKU TERLANJUR SUKA DENGAN KEELOKAN
AKU TERLANJUR SUKA DENGAN HEMBUSAN ANGIN
PESTA ADAT DAYAK MENGULITI KETUAAN
MENARI TUNGGAL JALAN PERTAMA
MENILAI SATU PERSATU

SRI ON
BIARKAN MATAHARI DATANG
MEMBUKA CAKRAWALA MELINGKAR
DUDUK DEKAPLAH BOKONGKU
DALAM PERJALANAN HENING
USIA SENJA DAN KEGILAAN
MENARIKI MUDA BELIA

SRI ON
BINTANG ITU CEMBURU
MELIHAT BULAN MEREKAH DI WAJAHMU
SETARA BIDADARI
DEMI MATAHARI PAGI
SAMPAI KINI
KOTAKU DALAM KERUNDUNGAN
Tanjung Redeb, 3 Mei 2005
B I B I R


BASAH DISIRAM AIR
BERGULUNG MENGHEMPASI SERATA DATANG
MENGIBAS TIPIS HILANG
MENINGGALKAN BULIR-BULIR GELEMBUNG
PECAH DI SAPU ANGIN
HABIS DIHISAP PORI-PORI
KEMUDIAN JAUH PERGI

DATANG BERGULINGAN MENATA ALUR
BERBARIS
BERKEJARAN
BERLOMBA
MENDAKI
MENGHEMPAS KE BIBIR
YANG DI IKAT DENGAN CENGKRAMAN AKAR
ATAU CENGKRAMAN BIRAHI
MENODAI SEMILIR ANGIN

LAGI MENINGGALKAN
KERIANGAN DENGAN SEMBURAN
BUIH DITINGGAL MELANCONG SENDIRI
MATA NANAR
KEPALA PUSING MENATAP KILAUAN
PASIR PUTIH BIBIR PANTAI

MENGEJAR BIRAHI DENGAN KEGALAUAN
SERIBU KATA MENGHIASI KE ELOKAN
MENGHAMBUR DAKI
DENGAN DEKAPAN KE ALPAAN
MERAH MEREKAH MENGHIASI KATA
GURATAN SEBERKAS KALIGRAFI
BASAH KILAU GEMILAU
MENDEKAT MENJAUH
MENAMPAR DINDING
POLESAN TIPIS
MEREKAH MERAH
MENANDAI KEGILAAN
LELAKI TUA MENJADI MUDA
REMAJA BERDECAK
MENELAN LUDAH
MENABRAK MOTOR
MENEBANG BATU
TERPEROSOK DALAM PARIT TUA







BIBIR MEREKAH
SENYUM MERAMBAH
PESONA MENYIRAM BASAH
DISEKELILING BUNGA–BUNGA

BURUNG MENGHISAPNYA
LEBAHMENGHIRUPNYA
KUMBANG MENGECUPNYA
KUPU–KUPU MENYENTUHNYA
JEMARI NAKAL MEMBELAINYA

BIBIR MEREKAH
PESONA ALAM
DITELAN DAN
DILUMATKAN NAGA PELANGI
DILANGIT BIRU

Tanjung Redeb, Kamis 30 Juni 2005























FATA MORGANA


SEMILIR TIUPAN ANGIN
MENGHENTAK BIBIR TELINGA
AH…
HUTAN MASIH SEDIA KALA
POHON-POHON KECIL BEREBUT MENCARI MATAHARI
PETAI HUTAN TINGGI MENJULANG
CEMPEDAK MASIH BERBUAH LEBAT

ORANG UTAN MENGINTIP CURIGA
BERUANG MADU MEMATAH DAHAN
BEKANTAN TERIAK HISTERIS
SORAK SORAI UNGGAS BERCENGKRAMA

TEPI DANAU KELADI BERKELOMPOK
MENAHAN HUJAN SAMPAI PATAH
BULIR AIR SEBAGAI MUTIARA
DIGUSUR ANGIN JATUH SATU-SATU

TUMPUKAN EMBUN MENEBAR KEPUTIHAN
SERAYA MEMBAWA KESEJUKAN PAGI
KARANG AMBUN KONON DIKATA
MENUTUPI DAUN HIJAU
SAMPAI MATAHARI MENEMBUS
KEMALASAN BURUNG-BURUNG KECIL

KAYU JINGAH MENGHIASI TEPI SUNGAI
AIR MELAJU MENYUSURI HILIR
KELOKNYA MEMBENTUK TANJUNG
MEMBANGUN TELUK
IKAN BERSENDA GURAU
SEEKOR DUA MEMAKAN KAIL

HUJAN
PANAS
KERING
BANJIR
ADALAH SAHABAT ALAM
GUNUNG-GUNUNG
DANAU-DANAU MENGERTI
DAN SALING MENGERTI









AWAN GEMAWAN MENUTUPI MATAHARI
WARNA KEMERAHAN SEDIKIT PEKAT
MENIMPALI SETIAP SENJA DATANG

LUPAKAH AKU TENTANG KEJADIAN ?
PICINGKAN MATA TANPA SINAR
MENINGGALKAN HITAM PEKAT
TINGGALKAN NYANYIAN
SERAYA MENANGIS DALAM KE ALPAAN


Tanjung Redeb, 24 Agustus 2005
Rabu Pukul 10:00























BICARA ALAM
(LONG OKENG)

SERAUT WAJAH KEGADISAN ALAM
HEMBUSAN ANGIN KECIL MENEMBUS DAUN RANTING DAN DAHAN
HUTAN MEMANG CINTA DAMAI
BUNGA- BUNGA MENGHIAS
ANGREK MENYIMPAN RAHASIA
BURUNG BERTENGGER
MONYET MEMETIKI PUCUK–PUCUK MUDA
HUTAN BELUM PERNAH GUSAR

KETIKA AIR GIRAM TUMPAH
 DAN MENGHEMPAS BATU BABI
RANTING DAN DAUN MENGGELAYUTI MENYISIR AIR
GARIS BERIAK SEBAGAI GARIS SIMFONI
SEDANG BATU KORAL SEBESAR KEPALAN MENGHAMPAR
MENGHIASI PULAU KECIL BIBIR SUNGAI
USIANYA SEBAYA HUTAN DAN GUNUNG-GUNUNG

BIARKAN AKU LARI SECEPAT KANCIL
BERBELOK KELOK
MENUKIK
MENERJANG LIAR
GANAS MENAMPAR BATU HITAM
MERAMBAS SELA KAYU
MENGHANTAM DINDING TEBING
BERPUTAR MEMBANGUN ULAK
AKU SAMPAI KE KOTA ASIN

BIBIR SUNGAI DIGINCUI DEDAUNAN
GURATANNYA MENGUKIR AKAR
BERSIMBAH, MENGAIS, MENJARING
BERGELAYUTAN BERJUNTAI-JUNTAI
IRAMA GIRAM TERUS MENGOYAK KESUNYIAN
DITINGKAHI LAGU TRADISI MENGENAI
MEMBELAH MALAM
BIARKAN IKAN BERENANG DENGAN KESUKAANNYA
MEMUNGUTI LUMUT BATU
NYARU, SAPPAN, MUNJUK
BERLAYAR KE HULU
MENGHEMPAS KE TEBING BATU
MELAWAN ARUS GIRAM BU ALONG
DIBIARKAN TERUS BERSERAKAN






LONG OKENG PEMIKAT WAKTU
MENANTANG PAGI
MENANTANG MALAM
BIARLAH KAMPUNG MENYENDIRI

WAHAI GEGAP GEMPITA
WAHAI SUNGAI YANG DAMAI
AKU MENYUSURI KE ELOKANMU
UJAR BERIAK TERSENYUM

Long Okeng, Jum’at, 30 September 2005








MARHABAN YA RAMADHAN


BULAN MAGFIRAH
BULAN PENUH PENGAMPUNAN
BULAN SUCI
BULAN PENUH RAHMAT
BULAN RAMADHAN BULAN DIPENUHI NIKMAT
DALAM DAHAGA
MENYIMPAN RAHASIANYA DI TENGGOROKAN
DALAM LAPAR
TELAH DIBUKA HIJAB RAHMAN RAHIMNYA

LIHATLAH DUNIAMU
LIHATLAH LANGITMU
LIHATLAH MATAHARIMU
LIHATLAH RUMPUT DAN ILALANG
LIHATLAH BARISAN BANGSA SEMUT
LIHATLAH  JAGAD SEMESTA RAYA
BIMA SAKTI LUAS TANPA BATAS
LIHATLAH MANUSIA DENGAN SEGALA TINGKAHNYA
CONGKAK DAN PONGAH BERJALAN DI TANAH
YANG SEMESTINYA BUKAN MILIKNYA



MARHABAN YA RAMADHAN
SINGKIRKAN KESOMBONGAN DAN KEAKUAN
PELUKLAH MAHLIGAI CINTA
RAIHLAH REMBULAN DUA SEMBILAN
LAILATUL QADAR DATANG MALAM SEMBILAN BELAS

LAPAR DAN HAUSKAN
MATA DARI MEMANDANG KENISTAAN
MULUT DARI KATA-KATA MENUDING
DAN PRASANGKA BURUK
HISAP DAN HEMBUS LULUH DALAM WANGI SURGA
PENDENGARAN DARI LANGIT YANG BERNAPAS

HAPUS DUKA
HAPUS NESTAPA
HAPUS MISKIN
DENGAN NAPAS CINTA KASIH
MENEBARKAN RASA DI BUMI
SUARAKAN PERDAMAIAN
SUARAKAN KESUCIAN
SUARAKAN KEIKHLASAN
SUARAKAN KEHALUSAN BUDI

DIA TELAH DATANG
SYURGA DI MATAMU
MENGAPA MASIH KHILAF
SYURGA ADA DI HATIMU
JANGAN SINGKIRKAN LAGI
DIA BERSAMA ORANG LAPAR DAN HAUS
IKHLAS PENGABDI TUHAN



Ramadhan 1426 H, Mnggu
Tanjung Redeb, 16 Oktober 2005










PENCARIAN


AKU DALAM PENGEMBARAAN
BELUM BERAKHIR
MENCARI RAJA DIRAJA
RAJA DI ATAS RAJA
SANG PENABUR KEABADIAN
SANG PENCIPTA LANGIT DAN BUMI
PENCIPTA MANUSIA BERKETURUNAN
PENCIPTA TUMBUHAN DAN HEWAN
PENCIPTA GAIB DAN INDRA ENAM
DIALAH NAFAS
HISAP DAN HEMBUSKAN JUTAAN SUDAH
ATAU DIA RUH
MASUK DALAM RAGA
ATAU AKU BIARKAN CAHAYA MATAHARI MENEROBOS DADA
ENERGI VITAL MEMBANGUN AURA
BENTUK BOLA CAHAYA
MELINGKARI FISIK DENGAN NUR
MENJARING SATU INSAN PENGEMBARA
SEMBILAN PULUH SEMBILAN RUNTUTAN NAMA TUHAN
KEBENARAN HADIR MENEMAKBUS CAKRA MAHKOTA
MERASUK DALAM SIRNYA
MENYATU DALAM RASA
CINTA DAN BERCINTA DALAM DEKAPAN
AKU MENGHADAP DIRIKU
AKU SATU DALAM DIA
DIA DALAM RONGGAKU
DIA DALAM RAGAKU
INSAN DALAM PENCARIAN PANJANG
TELAH DATANG BERSAMA MIMPI
MALAM DALAM AMPUN
DEKAPAN KESEHARIAN
SELIMUT SUTRA MENUTUP TABIR
SATIN MENUTUP KELOPAK MATA
TIPIS TIADA BATAS
DEKAT TIADA JARAK
DIRAIH SUDAH DALAM GENGGAMAN
MERASUK DALAM SUKMA
ADA DI JANTUNG
ADA DI TENGGOROKAN
ADA DI DARAH
ADA DI NAFAS
ADA DI DAGING
MELIPUTI SEKALIAN BADAN
RUHMU ADALAH MILIK DIA
ALLAHU AKBAR
CAHAYA PENCARIAN TELAH DATANG

RAMADHAN 1426 H
RABU, 19 OKTOBER 2005
DERITA AKHIR TAHUN
TANGISAN AWAL TAHUN


LIHATLAH PAPUA DENGAN HUTAN HIJAUNYA
SUNGAI-SUNGAI DIAPIT BUKIT DAN GUNUNG-GUNUNG
MANUSIA MASIH BERSAHAJA DENGAN ALAM
JAUH DARI KERICUHAN DAN PEREBUTAN HARTA
MASIH BERSEMBUNYI DI RUMAH TRADISI
SIMBOL-SIMBOL KEBUDAYAAN MASIH MEMBAJA
KOTEKA PENUTUP AURAT LAKI-LAKI

LIHATLAH
TUBUH MEREKA KURUS KERING
PAHA
KAKI
PERGELANGAN TANGAN
SAMA BESARNYA

PERUTNYA BUNCIT
MATANYA DALAM
KULIT YANG MELINDUNGI TUBUHNYA
TELAH KERIPUT
TUBUHNYA LUNGLAI DAN LEMAH
SEDANGKA BIBIRNYA BERGETAR

YA TUHAN MEREKA KELAPARAN
YA TUHAN MEREKA TIDAK MAKAN
YA TUHAN MEREKA DI HIMPIT KESENGSARAAN

UMBI-UMBIAN TIDAK LAGI MAU SUBUR
UMBI-UMBIAN TUMBUH DENGAN MERAJUK
ISINYA SEBESAR JEMPOL KAKI
PUCUKNYA MALAS MENJULUR

KELAPARAN BERTERIAK KESELURUH DUNIA
KELAPARAN MENAMPAR MUKA
KELAPARAN MEMPERTARUHKAN NAMA BANGSA
KELAPARAN MENYEOK-NYEOKKAN NEGERI TERCINTA
SELURUH MATA ANAK BANGSA
SELURUH PERHATIAN ANAK BANGSA
TERTUJU PADA PAPUA

NISTA MEMANG
TAPI ITULAH KENYATAAN



]LAIN LAGI DENGAN BUSUNG LAPAR
BUSUNG LAPAR JADI BUNGA KEHIDUPAN
TERJADI DI SELURUH ANAK NEGERI
BERSIMBURAN DENGAN SEGALA PROPAGANDA
KURANG GIZI
KURANG PERHATIAN
PEMERINTAH TERLAMBAT MENGANTISIFASI
KENAIKAN BBM
KENAIKAN HARGA BAHAN POKOK
GAGAL PANEN
RENDAHNYA PENDIDIKAN
DAN MASIH BANYAK LAGI
PERTANDA KEMISKINAN TERUS MENGHIMPIT
MENJERAT LEHER SAMPAI MATI

FLU BURUNG TURUT MENGHIASI
DIMANA-MANA MENJANGKITI
PENYEBARAN VIRUS MENEMBUS DINDING DAN TIRAI
ORANG SAKI DAN MATI
JADI KONSUMSI BERITA MEDIA TERKINI
RIBUAN UNGGAS DAN BABI
MEROBEK BATAS DAN TIRANI
TERUS MERANGSEK DAN MENYERANG
BENTENG-BENTENG RAPUH
SANGAT
SANGAT MENGERIKAN

FORMALIN MENGHANTAM JANTUNG DAN PARU-PARU
MENYEBAR DAN MERATA
MENGHIASI PASAR DAN PARA PEDAGANG
SUDAH PULUHAN TAHUN MENGKONSUMSI
DI ADON DALAM MAKANAN
AGAR TAHU TAHAN LAMA
AGAR IKAN ASIN TIDAK MUDAH BUSUK

SEDANGKAN PERHATIAN BARU TERGUGAH
ADA APA DENGAN FORMALIN ?

BOM TURUT MENAMBAH LEMBARAN AKHIR TAHUN
PASAR BABI DI KOTA PALU JADI SASARAN
JANGAN SALING TUDING
PELAKU ADALAH TERORIS
PENJAHAT BANGSA
JARINGAN TERORIS DUNIA
HABISI MEREKA



HUJAN DERAS AKHIR TAHUN TERUS MENGGUYUR
HUJAN DERAS AWAL TAHUN MASIH MENGGUYUR
BANJIR SILIH BERGANTI
TANGISAN BAYI KEDINGINAN
MENGIRIS JANTUNG DAN DAHI
SUNGAI-SUNGAI BEGITU MARAH
DANGKAL DAN KOTOR
MEMUNTAHKAN AIR MELUAP-LUAP
MEMBAWA POHON-POHON BESAR
MENGGULUNG BATU
MEMBAWA LUMPUR
MENEROBOS RUMAH

BANJIR BANDANG MENGHANTAM KABUPATEN JEMBER
BANJIR LUMPUR DAN KOTOR
MENYERET MANUSIA
MENYERET HEWAN
MENYERET RUMAH-RUMAH
DI BAWA HANYUT BERSAMA POHON DAN LUMPUR
PERHATIAN SELURUHNYA BERALIH
JEMBER JADI TOLOK UKUR
PULUHAN ORANG MENINGGAL
RATUSAN ORANG KEHILANGAN TEMPAT TINGGAL
TANGISAN MEMBELAH JAWA TIMUR

BELUM SEMPAT TUNTAS DALAM EVAKUASI
MEMBERIKAN BANTUAN PARA KORBAN
BANJARNEGARA RIUH DAN MENYENTAK
TANAH LONGSOR MENELAN RATUSAN ORANG
TANAH LONGSOR MEMAKAN KORBAN
TANAH LONGSOR MENEBAR KENISTAAN
TANAH LONGSOR MENENGGELAMKAN RUMAH
MENENGGELAMKAN MASJID
MELULUH LANTAKKAN SEKOLAH

SUBUH YANG MENGHENYAK DAN MEMILUKAN
TANGISAN DAN TERIAKAN HISTERIS
MEMBELAH PAGI BUTA









PULUHAN ORANG BERSUJUT DALAM MASJID
HILANG SEKEJAP
DI KUBUR BERSAMAAN
BERSAMA TASBIH
BERSAMA TEROMPAH
DAN BERSAMA SAJADAH

YA TUHAN INIKAH COBAAN AWAL TAHUN
YA TUHAN INIKAH PUNCAK PENDERITAAN
YA TUHAN MEREKA MEMELAS DALAM SEPI
YA TUHAN MEREKA MENANGIS DALAM HIMPITAN
YA TUHAN MEREKA TIDUR BERGELUT DUKA
YA TUHAN MEREKA HISTERIS DAN TRAUMA
YA TUHAN MEREKA BERSELIMUT KEPERIHAN





Tanjung Redeb, 7 Januari  2006






















INDONESIA BERDUKA LAGI


MINGGU PAGI 26 DESEMBER 2004
 GEMPA DAN TSUNAMI MENGHANTAM ACEH
KOTA SERAMBI MEKAH ITU LULUH LANTAK
AIR SETINGGI GUNUNG MERAMBAH KOTA
PULAU NIAS JUGA DILIBAS
DITAMBAH DENGAN GEMPA BERIKUTNYA
BANGSA BERDUKA PALING DALAM

ACEH DAN NIAS BELUM LAGI TUNTAS
BANJIR BANDANG DATANG BERTUBI-TUBI
MENGUPAS GUNUNG
MEMBAWA POHON DENGAN ADONAN LUMPUR
MENGIKIS BIBIR SUNGAI
MELABRAK RUMAH SEBAGAI PERAHU
BAH DAN BADAI TURUT MENIMPALI

SABTU PUKUL LIMA EMPAT PULUH LIMA
MENTARI BARU MULAI MENJENGUNG DI UFUK TIMUR
INGIN MENGHIASI KITA SEJARAH
INGIN MEMBEDAKI KOTA WISATA
INGIN MEMBUMBUI KOTA GUDEG

TIBA-TIBA
TIBA-TIBA TERSENTAK
TIBI-TIBA TERPERANGAH
TANAH BERGERAK RUMAH-RUMAH BERGOYANG
POHON, TIANG LISTRIK, MENARA TV, MENARA TELKOM BERGOYANG
MANUSIA TERKESIAP
SEMUA KAGET
LARI KE SANA KEMARI
BERTERIAK SEJADI-JADINYA

TEPI JALAN
PEMATANG SAWAH
HALAMAN RUMAH
TANAH LAPANG
JADIKAN PERLINDUNGAN
GEMPA BERKEKUATAN 5,9 SKALA RISTER
SELAMA LIMA PULUH TUJUH DETIK
MENGGUNCANG JOGJAKARTA DAN JAWA TENGAH
DAN PULUHAN KALI GEMPA SUSULAN





RIBUAN RUMAH LULUH LANTAK
RATUSAN HOTEL DAN TEMPAT HIBURAN AMBRUK
GEUNG-GEDUNG BERSEJARAH RUNTUH
KERATON JOGJA RUNTUH
BANDARA RUNTUH
RUMAH IBADAH RUNTUH

BANTUL SERATA TANAH
JOGJA, KLATEN, SLEMAN DAN SOLO JUGA DILIBAS

MALIOBORO TINGGALKAN CERITERA
SEDANGKAN STASIUN KERETA API PATAH DAN PUTUS
MEMUPUSKAN KENANGAN DAN HARAPAN

PULUHAN RIBU MANUSIA KORBAN TEWAS
RIBUAN ORANG LUKA-LUKA
RATUSAN RIBU ORANG KEHILANGAN TEMPAT TINGGAL
RATUSAN RIBU ORANG MEMBUTUHKAN ULURAN TANGAN

DI SANA SINI TERDENGAR TERIAKAN MENGIRIS
DI SANA-SINI TERDENGAR TANGISAN MEMILUKAN

DI HALAMAN RUMAH SAKIT, TERDENGAR TERIAKAN KESAKITAN
MANUSIA BERDESAKAN
MANANTI ANTRIAN PERAWATAN
ADA YANG TERSENGAL-SENGAL
ADA YANG PINGSAN
ADA YANG BERTERIAK
ADA YANG PATAH KAKI
ADA YANG PATAH TANGAN
ADA YANG PATAH LEHER
ADA YANG PATAH PUNGGUNG
ADA YANG ROBEK PAHA
ADA YANG ROBEK KULIT BELAKANGNYA
ADA JUGA YANG PECAH KEPALANYA
DARAH MENGALIR DI JOGJAKARTA

MEREKA DIHANTAM OLEH BANGUNAN RUMAH SENDIRI
MEREKA DIHANTAM OLEH BANGUNAN TETANGGA
MEREKA DIHANTAM OLEH GEDUNG TUA
MEREKA TERJEPIT BATU
MEREKA DIHIMPIT BETON
MEREKA RUBUH BERSAMA MILIKNYA


GEMPA BUMI ITU MEMANG MENGGILA
TIADA YANG MAMPU MENANGKALNYA
DAN MENJADIKAN ORANG-ORANG TIDAK BERDAYA

HARI INI MULAI KEKURANGAN MAKANAN
KEKURANGAN AIR BERSIH
KEKURANGAN TENDA TENDA
KEKURANGAN OBAT-OBATAN
KEKURANGAN SELIMUT
KEKURANGAN TIKAR DAN KARPET PENGGANTI LANTAI
MEREKA KEKURANGAN SEGALANYA
MEREKA MEMBUTUHKAN BANTUAN

ORANG-ORANG DUDUK DI SISI RERUNTUHAN
ORANG-ORANG BERBARING BERLANTAI TANAH
ORANG-ORANG MENANGIS DI GUNDUKAN BANGUNAN
ORANG-ORANG BERDUKA DI RUMAH RETAK
ANAK, CUCU DAN NENEKNYA MASIH TERHMPIT
SEDANGKAN BAYI-BAYI MUNGIL DALAM PELUKAN
SANG IBU YANG SUDAH TRAUMA
MEREKA BENAR-BENAR TERHEMPAS DALAM KESEDIHAN

YA TUHAN……….
PENGUASA ALAM JAGAT RAYA INI
YANG MENENTUKAN BAIK DAN BURUK
YANG MENGGERAKKAN BUMI, LANGIT DAN SEISINYA
PENGUASA DI ATAS SEGALA PENGUASA
NEGERIKU MENANGIS LAGI
BANGSAKU BERKABUNG LAGI
INDONESIAKU BERDUKA LAGI
LIHATLAH PUING-PUING BERSERAKAN
LIHATLAH MAYAT-MAYAT RIBUAN
LIHATLAH MANUSIA LARI BERHAMBURAN
LIHATLAH MANUSIA TIDUR KETAKUTAN
TINGGALKAN IRISAN KEHARUAN
KEHARUAN YANG MENCENGKRAM HARAPAN

Tanjung Redeb, Minggu 28 Mei 2006
Gempa Bumi Tektonik Jogjakarta
Sabtu Pagi, Pukul 05:45 WIB Selama 57 Detik












SADDAM HUSEN


PULUHAN TAHUN  MENJADI PEMIMPIN
DI NEGERI SANG ABU NAWAS
DI NEGERI SERIBU SATU MALAM
DENGAN BAGDAD YANG LEGENDARIS
DENGAN RATUSAN SANG PENYAIR
DENGA RIBUAN AHLI FILSAFAT DAN PENGETAHUAN ISLAM
DENGAN KARBALA YANG MENGIRIS DAN MEMUKUL DADA
DENGAN HASAN HUSEN YANG FENOMENAL
DENGAN KAUM SUNI
 DENGAN KAUM SYIAH
DAN KRISTEN ORTODOK YANG MINORITAS

SEORANG MAESTRO DUNIA YANG TAK TERGOYAHKAN

AKU TERKESIAP MENDENGAR KEPUTUSAN
ATAS NAMA DUNIA
 ATAS NAMA RAKYAT
ATAS NAMA KEJAHATAN PERANG
 ATAS NAMA KEADILAN
ATAS NAMA KAUM-KAUM
ATAS NAMA ZAZIRAH
ATAS NAMA GURUN PASIR
ATAS NAMA PERDAMAIAN
ATAS NAMA TERORIS
ATAS NAMA BANGSA ARAB
ATAS NAMA YANG TERTINGGI
ATASA NAMA YANG TERTINDAS

SADDAM HUSEN DIBAWA KETIANG GANTUNGA
DENGAN KEPALA TERBUKA
DENGAN DUA ORANG ALGOJO
DENGAN MATA NANAR
DENGAN DISAKSIKAN RIBUAN PASANG MATA
DI TENGAH TANAH LAPANG

SADDAM HUSEN MATI DITIANGNYA SENDIRI
DENGAR TERLONJOR HENTAKAN BERAT BADANNYA SENDIRI







IA BELUM DIHANTAR DENGAN KESEDIHAN
BELUM DIHANTAR DENGAN DERAI AIR MATA
BELUM DIHANTAR DENGAN ISAK TANGIS

DIHANTAR DENGAN SORAK SORAI
DIHANTAR DENGAN TEMBAKAN MEMBABI BUTA]
DIHANTAR DENGAN TAWA
DIHANTAR DENGAN KEPALAN TANGAN
DIHANTAR DENGAN SUMPAH SERAPAH

KEMENANGAN KAUM SYIAH
KEMENANGAN ATAS NAMA BANGSA DUNIA
KEMENANGAN PRESIDEN AMERIKA
KEMENANGAN BANGSA ISRAEL

SADDAM RUBUH BERSAMA DENGAN ANAK-ANAKNYA
SADDAM RUBUH BERSAMA SANAK SUDARANYA
SADDAM RUBUH BERSAMA DENGAN TUGU DAN PATUNGNYA
 SADDAM RUBUH DALAM TONTONAN SERIBU MALAM
SADDAM RUBUH UNTUK SELAMANYA

HAI NEGERI ABU NAWAS
PAGI ITU MATAHARI BERSINAR DENGAN TERANGNYA
TIANG GANTUNGAN MERAMPAS NYAWA SADDM


Digantung tanggal, 30 Desember 2006
Jam 7 Bagdad, jam 10 wib

















SUNGAI ITU MILIKKU
Untuk anakku
Fitria Ramadhani Saprudin

SUNGAI- SUNGAI MELIUK DAN PATAH-PATAH
AIRNYA MENGALIR  BENING DARI HULU
DITEPINYA TUMBUH POHON-POHON
DAUN DAN RANTINGNYA MENUTUPI SUNGAI
MEMBENTUK GUA
INDAH MEMPESONA
DINDINGNYA BERGELANTUNGAN AKAR
ATASNYA DIHIASI DENGAN BUNGA-BUNGA
WARNA MERAH
WARNA PUTIH
WARNA KUNING
INDAH SEKALI

BURUNG-BURUNG BERTENGGER
BERKICAU DAN BERNYANYI
MACAN DAN ORANG UTAN
BERTERIAK JAUH DITENGAH HUTAN

SUNGAI  ITU MILIKKU
AIR BENING ITU MILIKKU
BUNGA WARNA-WARNI ITU MILIKKU
BURUNG BERKICAU ITU MILIKKU
POHON-POHON ITU JUGA MILIKKU

BIARKAN MEREKA DISANA
MENUNGGUI ALAM RAYA
BIARKAN TETAP DISANA
SEPERTI APA ADANYA



AIRKU BENING
DENGAN IKAN-IKAN YANG ASIK BERENANG
MENANTI HUJAN
MENANTI CAHAYA MATAHARI
MENEMBUS SELA DEDAUNAN

SUNGAI ITU MILIKKU


Tanjung Redeb, 28 Mei 2007

TENTANG PULAU DAN LAUTKU

Untuk anakku
Fitria Ramadhani Saprudin

KETIKA MATAHARI MENGINTIP DISUDUT TIMUR
CAHAYA KEMERAHAN BERCAMPUR KABUT TIPIS
MENUTUPI BENTUKNYA SAMAR-SAMAR
LALU MATAHARI ITU MELEPAS
MENINGGALKAN PULAU KAKABAN
NAIK TERUS MENINGGI

MENYINARI SELURUH PULAU-PULAU
YANG  INDAH TIADA TARA
TIADA BANDING DIDUNIA

ITU PULAU SANGALAKI
ITU PULAU MARATUA
ITU YANG TIPIS PULAU SEMAMA
DAN YANG ITU LAGI PULAU DERAWAN

MATAHARI MENERANGI SELURUH LAUTAN
YANG MENYAMBUT DENGAN PECAHAN OMBAK
KILAUANNYA MENUSUK JARING MATAKU

IKAN TERBANG BERLARI DIKEJAR HIU
SEPERTI  PESAWAT YANG MELUNCUR
DISUDUT LAIN PULUHAN  LUMBA-LUMBA
SALING BERLOMBA TIMBUL DAN TENGGELAM
PAMER DENGAN TUBUHNYA YANG BESAR
PAMER DENGAN KEINDAHAN DAN KEMANJAAN
SETIA MENEMANI LAUT BIRU YANG BERSIH DAN ASRI

DIKAPAL KECIL ITU AKU TERMANGU
MENDENGARKAN CERITERA PAMANKU
TENTANG KEINDAHAN DIBAWAH LAUT
ADA BUNGA KARANG
ADA POHON-POHON DAN BATU TAJAM
TEMPAT BERSEMBUNYI IKAN-IKAN KECIL

ADA PENYU YANG BERENANG
MELIUK-LIUK DAN GESIT
SEDANG MALAM HARI NAIK KEATAS PULAU
BERMAIN DAN BERTELUR






ADA RATUSAN JENIS  IKAN YANG BEREBUT MAKANAN
ADA RIBUAN IKAN YANG BERKUMPUL
ADA MANTA BERENANG SEPERTI BURUNG
LELUASA DENGAN PONGAHNYA

BIARKAN PULAU ITU DENGAN KE ELOKANNYA
BIARKAN LAUT ITU DENGAN KEBIRUANNYA
BILA BESAR NANTI AKU BERENANG
INGIN MENYELAM  SEJAUH MUNGKIN
KUBAWA TEMAN SEBANYAK MUNGKIN


Tanjung Redeb, 30 Mei 2007


















INGIN JADI BINTANG
Untuk anakku
Fitria Ramadhani Saprudin
SETIAP PAGI AKU BANGUN
SINAR TERANG SUDAH MENYAMBUT
DARI SUDUT JENDELA KAMARKU
KADANG ADA RASA MALAS UNTUK BANGKIT
DAN MATAKU MASIH INGIN TERTUTUP LAGI

DENGAN SENYUM MAMA BERKATA
“ AYO CEPAT BANGUN
NANTI KESIANGAN BERANGKAT KESEKOLAHNYA “

DENGAN CEPAT
AKU BANGKIT MENINGGALKAN BANTAL DAN GULING
BERLARI KECIL LANGSUNG MANDI
SIKAT GIGI
KU GOSOKI SEMUA DAKI
PAKAI SABUN MANDI MILIK KAMI

BADANKU HARUS SEHAT
SELURUH TUBUHKU HARUS BERSIH
AKU HARUS JADI  ANAK YANG PINTAR
RAJIN MEMBACA
RAJIN MENULIS
RAJIN MENGHITUNG
POKOKNYA HARUS RAJIN BELAJAR

JUGA
AKU RAJIN MEMBANTU MAMA
MANYAPU LANTAI
MENCUCI PIRING
MELIPAT BAJU DAN CELANA

AKU INGIN JADI BINTANG YANG TERKENAL
DIKENAL TEMAN-TEMANKU
DIKENAL KELUARGAKU
DIKENAL DI SEKOLAHKU
DIKENAL DI KOTAKU
DIKENAL DI INDONESIA
DIKENAL DI DUNIA

INGATLAH
INGAT SEMUA
DAN AKU SELALU INGAT
CITA-CITAKU
AKU INGIN JADI BINTANG
YANG TERKENAL SELURUH DUNIA

Tanjung Redeb, 24 Juli 2007


KEMERDEKAAN


RIBUAN JIWA TELAH GUGUR
RIBUAN JIWA TELAH TERKAPAR
DITEMBUS PELURU PENJAJAH
RATUSAN TAHUN DALAM BELENGGU

KEBODOHAN TERUS MERAJAI
KEMISKINAN TERUS BERSAHABAT
KEMELARATAN TERUS MENYATU
PENYAKIT MEMATIKAN TERUS MENGGODAI
RUMAH-RUMAH REOT
BADAN-BADAN KURUS KERING
ADALAH PEMANDANGAN ABADI

AGUSTUS TELAH DATANG
BULAN YANG DINANTI-NANTIKAN
BULAN AKHIR PENDERITAAN

JAM SEPULUH PAGI
DI PEGANGSAAN TIMUR JAKARTA
BERKUMANDANG LANTANG
SANG PROKLAMATOR
MEMBACAKAN PERNYATAAN SINGKAT
PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
DISAKSIKAN OLEH PARA PEMUDA DAN PEJUANG
DISAMBUT DENGAN TERIAKAN
MERDEKA
MERDEKA
MERDEKA ATAU MATI

MERDEKA DARI BELENGGU PENJAJAHAN
MERDEKA DARI KEBODOHAN
MERDEKA DARI PENDERITAAN
MERDEKA DARI KEMISKINAN
MERDEKA DARI BELENGGU KENISTAAN
MERDEKA DENGAN SEGALA KEMERDEKAAN

MARI SONGSONG NEGERI INI
DENGAN DERAP-DERAP LANGKAH PEMBANGUNAN
DENGAN DERAP-DERAP LANGKAH PERDAMAIAN

MARI BERGANDENG TANGAN
BERSATU KITA TEGUH
BERCERAI KITA RUNTUH
Tanjung Redeb, Minggu 19 Agustus 2007
KARTINI MASA DEPAN

WANITA MEMANG BERBEDA DENGAN PRIA
SUDAH DICIPTAKAN DEMIKIAN ADANYA
DENGAN KELEMBUTAN
DENGAN KETULUSAN
DENGAN KASIH SAYANG
DENGAN KESABARAN
DENGAN KEPOLOSAN
DENGAN KEIBUAN
DAN RENDAH HATI

WANITA DICIPTAKAN
DENGAN KESEMPURNAAN DAN KELEMAHAN
DENGAN KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

AMBILLAH KESEMPURNAAN ITU
RANGKULLAH KELEBIHAN ITU
SISIHKAN KELEMAHANMU
SINGKIRKAN KEKURANGANMU

RAIHLAH KODRATMU SEBAGAI WANITA
YANG MENGHAMBA DALAM DOA

WANITA MEMANG
WANITA BUKAN SIMBOL KEBERANIAN
WANITA BUKAN FOTO PAJANGAN
WANITA BUKAN MODEL JUALAN
WANITA BUKAN BARANG DAGANGAN

WANITA ADALAH MAKHKOTA DUNIA
WANITA ADALAH PENYANGGA DUNIA

HANCUR WANITA
MAKA HANCURLAH NEGARA

WANITA JADILAH SEBAGAI WANITA
PUNYA CITA-CITA
PUNYA ANGAN-ANGAN
PUNYA MIMPI-MIMPI

MAMPU BERKARYA
PEKERJA KERAS
MERANGKUL DUNIA
MENGGAPAI LANGIT BIRU

SEBAGAI
KARTINI MASA DEPAN

 Tanjung Redeb 3 April 2008
Puisi ini kupersembahkan tuk anakku sayang Fitria Ramadhani Saprudin


JATUH CINTA


JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG PERTAMA
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG TERINDAH
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG MENGIKAT JIWA
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG MEMPESONA
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG MEMBATIN
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG MENGGUGAH KALBU
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG MENGGAIRAHKAN
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG PENUH KASIH SAYANG
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG DAMAI
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG PENUH PERTIMBANGAN

JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG MELELAHKAN
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG MELULUHKAN
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG MELUNAKKAN
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG MEMBABI BUTA
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG CIKAL MALAPETAKA
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG PENUH NAFSU
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG GEGABAH
DAN
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN YANG TERAKHIR

JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN ALAM SADAR
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN ALAM BAWAH SADAR
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN ALAM LAIN
JATUH CINTA ITU JUGA PANDANGAN ALAM NYATA
JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN ALAM YANG TERTINGGI

JATUH CINTA ITU DIPANDANG DARI KECANTIKAN
JATUH CINTA ITU DIPANDANG DARI KETAMPANAN
JATUH CINTA KARENA KELUGUAN
JATUH CINTA ITU DATANG DARI KETULUSAN
JATUH CINTA ITU DATANG DARI KEIKLASAN
JATUH CINTA ITU BERAWAL DARI KETABAHAN
JATUH CINTA ITU SEMANGAT DARI KEBERANIAN
JATUH CINTA ITU DARI LUAPAN KEMARAHAN
JATUH CINTA BUTA DIDALAM KECEMBURUAN
JATUH CINTA ITU TIBA DALAM KETAKUTAN
JATUH CINTA ITU MELIHAT BESARNYA PENGORBANAN
JATUH CINTA ITU MEMBERANGUS SEGALANYA








JATUH CINTA ITU ADALAH PANDANGAN MATA
JATUH CINTA ITU ADALAH KEINDAHAN  KATA-KATA
JATUH CINTA ITU ADALAH PERASAAN YANG MEMIKAT
JATUH CINTA ITU ADALAH RASA YANG TERDALAM
JATUH CINTA ITU ADALAH KEHIDUPAN
JATUH CINTA ITU ADALAH KEMATIAN
DAN
JATUH CINTA ITU ADALAH SEGALANYA

HEEEEIII CINTA
 JATUH CINTALAH AKU
KEPADA TUHAN
KEPADA MANUSIA
KEPADA HEWAN
KEPADA TUMBUH-TUMBUHAN
KEPADA ALAM SEMESTA
KEPADA ALAM JAGAT RAYA

HEEEEIII CINTA
JATUH CINTALAH AKU
KEPADA……….

Tanjung Redeb, 16 Mei 2009
















DATANG


SEBUAH KAMPUNG  KECIL
RATUSAN KILOMETER DARI IBU KOTA
MENUJU KESANA MELALUI JALAN PANJANG
JALANNYA TERJAL BERKELOK-KELOK
NAIK TURUN MENGIKUTI BUKIT
DIDALAM MOBIL SEPERTI NAIK KUDA
KADANG SEPERTI NAIK KAPAL
YANG DIOMBANG AMBINGKAN GELOMBANG MENGGUNUNG
JALAN TANAH BERCAMPUR BATU
BANYAK LUBANG MENGANGNGA

SEPI MEMANG
TAPI POHON-POHON MASIH RINDANG
KEBUN PISANG MASIH SUBUR
POHON RAMBUTAN TINGGI BESAR TUMBUH JARANG
JAMBU BATU MENGGANGGU TEPI SUNGAI KECIL
BUAH LANGSAT DAN CEMPEDAK DIGANTUNG DIPONDOK TEPI JALAN
DANAU KECIL SERING KULALUI
ILALANG TUMBUH BERKELOMPOK DIBUKIT-BUKIT DAN TANAH DATAR
PADI DITANAM MASIH DITANAH KERING DAN LERENG BUKIT
MONYET HITAM RAMAI  MEMETIK DAUN MUDA
SEKELOMPOK BABI MENYEBERANG JALAN

JALAN KECIL ITU PANJANG BERBELOK-BELOK
DTUMBUHI SEMAK DAN MENYEMPIT
SATU KALI  BERTEMU MOBIL LAWAN ARAH

KAMPUNG KECIL MASIH ASRI
RUMAH-RUMAH MASIH DIBUAT DARI KAYU
ATAPNYA DARI SIRAP KAYU ULIN
ADA JUGA DARI DAUN NIPAH
DINDINGNYA DARI PAPAN YANG DISUSUN BERLAPIS-LAPIS
KOLONG RUMAHNYA TINGGI




PIKIRANKU MENGEMBARA KEBELAKANG
ITU….ITU……
KOLONG RUMAH ITU
TEMPAT BERMAIN WAKTU AKU MASIH KECIL

MEREKA MENYAMBUTKU DENGAN SENYUM
SEBAGIAN LAGI MENYAPAKU DENGAN MALU-MALU
ADA YANG BERDIRI DIDEPAN PINTU
ADA YANG MENGINTIP DIJENDELA
ADA YANG PURA-PURA TIDAK TAHU MENAHU
SEDANGKAN ANAK-ANAK BERLARI-LARI
RIBUT……
RIANG
PAK GURU…PAK GURU BARU…PAK GURU BARU
TERIAK ANAK-ANAK
MENDEKAT
MENGITARI AKU

AKU MENJADI BESAR
DAN AKU BANGGA
…..LANGIT CERAH ITU MENJADI SAKSI

Tanjung Redeb, Jumat, 30 Juli 2010























DUKA OKTOBER

WASIOR BELUM PERNAH AKU DENGAR
TIBA-TIBA NAMA ITU MELESAT
MATAKU NANAR MENYAKSIKAN
TAYANGAN MEMENUHI MUKA MEDIA
WASIOR MENJADI BUAH BIBIR
WASIOR MENJADI TERKENAL

WASIOR DILANDA BANJIR BANDANG
AIR BAH ITU…..
MEMBAWA BATU-BATU BESAR
MEMBAWA TANAH
MEMBAWA PASIR
MENGHANYUTKAN POHON KECIL
MENGHANYUTKAN POHON BESAR
AIR DERAS SEBAGAI ADONAN LUMPUR
MENYAPU
MELINDAS
MENYERET  SEMUA
AIR BAH DAN ITU MENENGGELAMKAN KOTA WASIOR
SAMPAI KETEPI PANTAI
RATUSAN ORANG MENINGGAL DAN HILANG
RATUSAN ORANG LUKA-LUKA
RATUSAN RUMAH HANCUR
HARTA BENDA HILANG DIBAWA LUMPUR
RIBUAN ORANG MENGUNGSI
TANGISAN MEREKA SAMPAI KETELINGA KAMI
DUKA MEREKA SAMPAI KEKOTA KAMI
KAMI BERDOA……….

BELUM SELESAI MENANGANI KORBAN WASIOR
GUNUNG MERAPI BERULAH TINGKAH
RATUSAN KALI GEMPA TEKTONIK
RATUSAN KALI GEMPA LOKAL
RATUSAN KALI MENYEMBURKAN API
PULUHAN KALI MENYEMBURKAN AWAN PANAS
PULUHAN KALI MEMUNTAHKAN PASIR DAN BATU
SEDANG….
WEDHUS GEMBEL BERLOMBA TURUN GUNUNG
SAMPAI SEJAUH EMPAT KILOMETER
PANASNYA RIBUAN DERAJAT CELCIUS
MELIBAS APA SAJA
MEMBUNUH APA SAJA
MEMBAKAR APA SAJA
DAN KERING KERONTANG
SEDANGKAN DEBU MELAPISI BUMI SAMPAI DUA INCI

PULUHAN JIWA MELAYANG
SEHARUSNYA TAK PERLU TERJADI

PULUHAN RIBU PENGUNGSI
DI SLEMAN
DI KELATEN
DI MAGELANG

RATUSAN RELAWAN MENUMPAHKAN TENEGA
AKU TERHENYAK
KAMI BERDOA……

DILAIN TEMPAT
DIMETAWAI
GEMPA BUMI BERKEKUATAN TINGGI
TUJUH KOMA DUA SKALA RITTER
MENGGUNCANG SUMATRA BARAT
DUA PULUH LIMA MENIT KEMUDIAN
GELOMBANG BESAR BERGULUNG
BERIRINGAN DATANG
PULUHAN METER TINGGINYA
SUARA GEMURUH BAGAI ANGIN TOPAN

TSUNAMI…….
TSUNAMI…….
TSUNAMI…….

GELOMBANG SETINGGI POHON KELAPA ITU
MENGHANTAM
MELIBAS
MENYAPU
MENENGGELAMKAN BIBIR PANTAI
MASUK JAUH KEDARATAN
MENENGGELAMKAN RUMAH
MEMATAHKAN POHON-POHON
MEMBAWA KAPAL JAUH DARI PANTAI
TSUNAMI ITU MENEWASKAN
EMPAT RATUS DUA PULUH SATU JIWA  MELAYANG
RATUSAN ORANG HILANG
RIBUAN ORANG KEHILANGAN TEMPAT TINGGAL
RIBUAN ORANG KEHILANGAN SANAK SAUDARA

AKU MENANGIS

KAMI BERDOA


AKU TAHU MASIH RIBUAN BENCANA DIHADAPAN KAMI

DERITA MEREKA ADALAH DERITA KAMI
PERIHNYA MEREKA ADALAH PERIHNYA KAMI
SEDIHNYA MEREKA ADALAH SEDIHNYA KAMI
DUKANYA MEREKA ADALAH DUKANYA KAMI
TANGISAN MEREKA ADALAH TANGISAN KAMI
SAKITNYA MEREKA ADALAH SAKITNYA KAMI
KEHILANGAN MEREKA ADALAH KEHILANGANNYA KAMI

SOLIDARITAS SATU TANAH AIR
KESETIAKAWANAN NASIONAL
SATU  NUSA SATU BANGSA
SEKARANG BUKTIKAN
SEKECIL-KECILNYA BANTUAN ADALAH DOA

DOA KAMI….
TUHAN YANG MAHA KUASA
TERIMALAH DISISMU MEREKA YANG MENGHADAPMU
TABAHKAN BAGI YANG DITINGGALKAN
BERILAH CEPAT KESEMBUHAN BAGI YANG TERLUKA
AMIN

Tanjung Redeb, 31 Oktober 2010
Pukul  23.25 Wita

















MALAM  SERIBU BULAN


KETIKA MALAM GANJIL
AKU ASYIK DENGAN KEHENINGAN KU
DUDUK DISUDUT RUANG TANPA WAKTU
KUBIARKAN ANGANKU MENERAWANG JAUH MELINTASI BATAS
MENEMBUS DINDING BERLAPIS CAHAYA
SENYUM KULEMPAR SAMPAI MENGISI SUDUT-SUDUT TERANG

ALAM BEBAS
ALAM LUAS SELUAS LUASNYA
DENGAN SEJUTA MATAHARI
SATU MATAHARI JUTAAN  BINTANG GEMINTANG
HENING MENYELINAP SANUBARI
AKU TEGAR DENGAN SERIBU PERTANYAAN

DADAKU DIBELAH
SEISI DADA DIBASUH DENGAN AIR SEBENING KACA
KEMUDIAN AKU DIANGKAT DAN
DIPERJALANKAN DENGAN KECEPATAN SERIBU CAHAYA
AKU TERSENYUM
MELIHAT KEESAAN SANG PENCIPTA
SEMUA YANG KULALUI TERLIHAT DENGAN JELAS
DAN PENJELASANNYA SUDAH MASUK DALAM PIKIRAN
DARI SATU KOMA LIMA MILYAR
SYARAF TERKECIL DIOTAKKU

MALAM KESUCIAN JIWA
MALAM TERANG BENDERANG
MALAM YANG HENING
MALAM YANG TAK MAMPU KUBAYANGKAN
MALAM KETIKA POHON-POHON MEREBAH SUJUD
MALAM MENURUNKAN RAHMAT
MALAM YANG DITUNGGU PARA SYUFI
DIMALAM SERIBU BULAN
SUBHANALLAH…..AKU MASIH MENGHAMBUR SENYUM
KEMBALI DUDUK DITEMPATKU

KEMUDIAN AKU BERKATA DALAM HATI
KALAU TUHAN MENHENDAKI
APAPUN BISA TERJADI……





YA SANG PENCIPTA ALAM SEMESTA
AKU SELALU MERINDUKANMU
AKU SELALU BERSAMAMU


Tanjung Redeb, 28 Januari 2011

Puisi yang sempat tidak selesai sejak Ramadhan tahun 2009
Baru diselesaikan pada hari ini Jumat pagi 28 Januari 2011





























B A H A G I A


KONON KISAH LAMA
BERCERITERA DENGAN JUTAAN BAIT
SUDAH MENGKOTAKKAN MANUSIA
SUDAH DIUKUR KEHIDUPANNYA
SUDAH DITENTUKAN PERJALANANNYA
SUDAH DITULIS NASIB DAN BAIK BURUKNYA
DUKA SUDAH DIGARISKAN
BAHAGIA SUDAH DITENTUKAN
KAYA SUDAH DITURUNKAN ADALAH COBAAN
MISKIN SUDAH NASIBNYA HIDUP DIDUNIA

AKU JADI BERTANYA SELUAS BUMI DAN LANGIT
AKU JUGA BERTANYA SELUAS BIMA SAKTI

BENARKAH SANG PENENTU MEMBATASI ?
BENARKAH SANG PEMBERI MENUTUPNYA ?
BENARKAH SANG PENERIMA PERMOHONAN MENEPIS PERMINTAAN ?
BENARKAH SANG MAHA PENDENGAR
SANG MAHA MELIHAT
SANG MAHA KAYA
SANG MAHA SEGALANYA TELAH PERGI
DAN MEMBIAYARKAN CIPTAANNYA.

DIA KATAKAN TIDAK
SANG MAHA ITU MASIH MELIHAT
SANG MAHA ITU MASIH MENDENGAR
SANG MAHA ITU TERUS MEMBERI
SANG MAHA ITU MASIH MENCITAI
SANG MAHA ITU TERUS MEMBERI BAHAGIA

KATANYA
MAKA HIJRAHLAH KAMU
MAKA PINDAHLAH KAMU
HIJRAHLAH DAN PINDAHLAH DARI CARA BERPIKIR
DARI PIKIRAN YANG KOTOR
DARI KATA-KATA YANG SELALU MENJELEKKAN
DARI SOROTAN MATA YANG MERENDAHKAN
DARI PENDENGARAN YANG TULI DARI KEBAIKAN
DARI PERASAAN YANG SOMBONG
DARI HIRI DENGKI YANG TIDAK DISADARI
ADALAH SANGAT MENYAKITKAN DAN MENYUDUTKAN
DARI PERILAKU YANG CONGKAK
DARI HATI YANG SAKIT MELIHAT KEBAHAGIAAN ORANG



DARI TUDINGAN
DARI PRASANGKA BURUK
KEPADA  SESAMA MAHLUK
DAN KEPADA TUHANMU

DIA YANG MAHA PEMBERI DAN MAHA KAYA ITU……
TIDAK MERUBAH NASIB SUATU KAUM
KALAU MEREKA SENDIRI TIDAK MERUBAHNYA
DIA TIDAK AKAN MERUBAH NASIB SESEORANG
KALAU DIRINYA SENDIRI TIDAK BERUSAHA MERUBAHNYA
MENJADI LEBIH BAIK DARI APA YANG ADA DIDIRINYA SEKARANG
HARI INI HARUS LEBIH BAIK DARI KEMARIN
SEDANGKAN HARI ESOK HARUS LEBIH BAIK DARI HARI INI
KALAU TIDAK
MAKA KAMU BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG TERGILAS
DAN KEMUDIAN HANYA JADI PENGEMIS
DAN PENGAMBIL HAK ORANG LAIN

SECEPATNYA
DAN MULAI HARI INI
BERSIHKAN KOTORAN DI PAKAIAN
BERSIHKAN KOTORAN DAN DAKI DIBADAN
BERSIHKAN KOTORAN DAN SAMPAH DIPIKIRAN
BERSIHKAN KOTORAN DAN DURI DIHATI

PAKAIAN TELAH BERSIH
BADAN TELAH BERSIH
PIKIRAN TELAH BERSIH
HATI TELAH BERSIH
SEBERSIH KETIKA DILAHIRKAN

DIA MAHA PEMBERI
MAKA MINTALAH BERSUNGGUH-SUNGGUH
DIA MAHA SEGALANYA
MAKA BERSYUKUR, IKHLAS, DAN BERPASRAH DIRI SEMATA
HANYA KEPADA SANG MAHA ITU……….

BAHAGIA DATANG DIPIKIRAN
BAHAGIA MENGHAMPIRI PERASAAN
BAHAGIA MENAMPAK DIPRILAKU
BAHAGIA MENJALARI PANDANGAN
BAHAGIA MENEROBOS PENDENGARAN
BAHAGIA MENGHIASI SENYUMAN
BAHAGIA MENYUBURKAN TANAMAN
BAHAGIA MEMBANTU SESAMA
BAHAGIA BERBAGI UNTUK SEMUA
BAHAGIA ADALAH KEKAYAAN
KEKAYAAN MELIMPAH DENGAN SEGALA……….

APA YANG TERJADI HARI INI ADALAH HASIL KARYA KEMARIN
APA YANG TERJADI HARI ESOK ADALAH HASIL KARYA HARI INI
MAKA JADILAH MANUSIA HARI INI
BUKAN JADI MANUSIA KEMARIN
SEBAB KITA HIDUP HARI INI
 DAN HIDUP HARI ESOK
Tanjung Redeb, Sabtu 18 Juni 2011
Pukul 13.46 Wite

 

























SAJADAH


AKU SEJAK USIA MUDA
MALAS MENCARI ILMU
PADAHAL AKHIRAT ITU JELAS
PADAHAL KEMATIAN ITU PASTI

AKU SUKA BERNYANYI
AKU SUKA BERDENDANG
AKU SUKA BERSENANDUNG
BERNYANYI LAGU CINTA
BERDENDANG LAGU RINDU
BERSENANDUNG LAGU GAIRAH MUDA

TIGA PULUH TAHUN SUDAH USIAKU

MENGERJAKAN PERINTAH SANG MAHA
MASIH MALU
MASIH MENGINTIP
MASIH MENGINTAI
MASIH  MERABA
MASIH ENGGAN
MASIH RAGU
MASIH MEMELAS
MASIH PAMRIH

SESEKALI AKU PERGI MENCARI KE-SUFI-AN
MENUTUPI KERAGUAN MELIHAT SANG MAHA
AKU TEMUKAN DIA
DIA YANG MENGGERAKKAN
DIA YANG MELIHAT
DIA YANG MENDENGAR
DIA PEMILIK SANG PENCIUMAN
DIA YANG MENGATUR MILYARAN BINTANG

AKU TAHU JADI SOMBONG

AKU TIDAK MENGERJAKAN PERINTAH
AKU MELAKUKAN LARANGAN
DAN SEMUANYA DATANG DARI DIA

AKU TAHU, SEMAKIN SOMBONG
PADAHAL SINAR CAHAYA ITU TELAH  DATANG
CAHAYA ITU MENEMBUS UBUN-UBUNKU
MENYINARI SAJADAHKU
AKU MASIH KEHILANGAN

EMPAT PULUH TAHUN USIAKU
UKURAN DEWASA AKU SUDAH MENGAKU
PERTUMBUHAN TUBUHKU SUDAH DIPUNCAK GUNUNG
SIAP MENURUN
DENGAN KEKUATAN SEADANYA
DENGAN KECEPATAN LAMBAN
DENGAN KELEMAHAN OTOT
DENGAN KEKERASAN HATI
DENGAN KEKAKUAN OLEH RASA SAKIT
DENGAN SEGALA UPAYA MEMAKSA

SINAR DAN CAHAYA ITU
BARU KUAKUI
AKU BERJUANG MERUBAH PARADIGMA
AKU BERJUANG MERUBAH POLA PIKIR
AKU BERJUANG MEMOTIVASI JIWA
AKU BERJUANG MEMBANGUN PONDASI BARU
AKU BERJUANG MENINGKATKAN ENERGI
AKU BERJUANG MEMBANGKITKAN RAGA
AKU HARUS MEMBANGUNKAN TIDURKU

AKU HADIRKAN MIMPI BARU
AKU MULAKAN CITA-CITA MENANGKAP SEJUTA BINTANG
AKU SEGERA TERBANG DAN MELAYANG
SEMANGATKU HARUS MELANGIT
AKU HARUS MULAI DARI SEKARANG
SEKALI LAGI
AKU HARUS MULAI DARI SEKARANG
MENYAPAMU SETIAP SIANG DAN MALAM
MENGAKUIMU SETIAP TIDUR DAN BANGUN
DOAKU MASIH DISELAPUT MATA
DOAKU MASIH DIBIBIR SAJA

USIAKU KINI BARU LIMA  TAHUN
AKU BARU PULANG DARI KEMATIAN
MATI DALAM KESOMBONGAN
MATI DALAM KECONGKAKAN
MATI DAL;AM CACI MAKI
MATI DALAM FITNAH KEJI
MATI DALAM PALING PINTAR
MATI DALAM PALING TAHU
MATI DALAM MELAKUKAN JINAH
MATI DALAM KENAKALAN LELAKI
MATI DALAM CIUMAN PESONA
MATI DALAM KEJANTANAN
MATI DALAM RAYUAN BIRAHI

AKU SUDAH MATI
DALAM WAKTU YANG MEMELAS
EMPAT PULUH ENAM TAHUN

AYOLAH RAGA DAN JIWAKU
KAMU HARUS HIDUP KEMBALI
DENGAN SEMANGAT MUDA BELIA
WALAU DALAM USIA MASUK SENJA

KESEMPATAN MERAIH SERIBU BINTANG
DENGAN LANGKAH LEBIH PASTI
BERSAMA TUHANKU AKU TERBANG
DAN……….
BUKALAH HATIKU
JANGAN TUTUP LAGI DENGAN PIKIRAN
DAN KATA-KATA YANG MEMBUATKU
KEHILANGAN SEGALANYA

HAI CAHAYA DARI LANGIT
KUCIUMI SAJADAH DENGAN SUJUD
KUBASAHI LIDAH DENGAN INGAT
HANYA TUHANKU TEMPAT MEMINTA

DUNIA
AKU RAIH DENGAN SENYUM
SYURGA
SUDAH DALAM GENGGAMAN

JANGAN PERGI LAGI
JANGAN PERGI LAGI
JANGAN PERGI LAGI
JANGAN PERGI LAGI
JANGAN PERGI LAGI


Tanjung Redeb, 8 Agustus 2011
Senin, pukul  15.45 Wite
Ruangku Dinas Sosial Kab. Berau







HAKIKAT MANUSIA



TUHAN MENCIPTAKAN MANUSIA
DENGAN KELUARBIASAANNYA
DENGAN KE-ESA-ANNYA
DENGAN KEKUASAANNYA
DENGAN HAK SEPENUHNYA
DENGAN ZAT YANG MAHA TINGGI
DENGAN SEMULIA-MULIA PENCIPTAAN
DENGAN SEBAIK-BAIK PENCIPTAAN
DENGAN SEHEBAT-HEBATNYA PENCIPTAAN

LEBIH HEBAT DARI PENCIPTAAN KAUM-KAUM BINATANG
LEBIH HEBAT DARI PENCIPTAAN RUMPUT DAN POHON-POHON
LEBIH HEBAT DARI PENCIPTAAN BINTANG GEMINTANG
LEBIH HEBAT DARI PENCIPTAAN SUNGAI DAN LAUTAN
YANG ADA DI JAGAT RAYA ALAM SEMESTA
YANG TIDAK DAPAT DIUKUR DENGAN KATA-KATA
YANG TIDAK DAPAT DIHITUNG DENGAN ANGKA-ANGKA
SELUAS MUKA BUMIPUN TIADA SANGGUP
TERHUNJAM SUDAH DALAM HAK KETUHANANNYA

MANUSIA
LIHATLAH RAGAMU
KEINDAHAN SUARA
KESANTUNAN KATA-KATA
KEELOKAN MENAWAN RUPA
KECANTIKAN PARAS MENATA
KELURUSAN PENDENGARAN TELINGA
KEMURNIAN PENCIUMAN SEMATA
KEHANGATAN PERASAAN JIWA
KESAHDUAN TATAPAN MATA
KEMUDAHAN REZEKY MENGAURA
KECINTAAN HATI BERCAHAYA

MANUSIA ADALAH SANG PENYAIR
YANG MENGADON SEJUTA KEINDAHAN
YANG MENYUSUN KALIMAT SERIBU BULAN
YANG MENUTURKAN KE ELOKAN KATA-KATA
YANG MENAFSIRKAN KALIMAT DALAM UNTAIAN NYATA

MANUSIA ADALAH SANG PENDENDANG
YANG MENDEDANGKAN KERINDUAN
YANG MENGGUBAH LAGU-LAGU CINTA
YANG MENULIS LAGU-LAGU MENYAYAT KALBU
YANG MENYANYIKAN LAGU-LAGU SEINDAH UNTAIAN PERMATA
YANG MENDENDANGKAN LAGU-LAGU SUKA CITA

MANUSIA ADALAH SANG HAMBA
HAMBA TUHAN SANG PENCIPTA
HAMBA YANG SELALU MEMUJANYA
HAMBA YANG HANYA MEMUJINYA
HAMBA YANG SELALU  DEKAT DENGANNYA
HAMBA YANG SELALU MERINDUKANNYA
HAMBA YANG SELALU DALAM GENGGAMANNYA
HAMBA YANG MENGERJAKAN PERINTAH-PERINTAHNYA
HAMBA YANG MENINGGALKAN LARANGAN-LARANGANNYA
HAMBA YANG MEMOHON HANYA PADA TUHANNYA
HAMBA YANG SELALU DILIHATNYA
HAMBA YANG SELALU DALAM PANTAUANNYA
HAMBA YANG MENGABDI HANYA KEPADANYA
HAMBA YANG LEMAH MENGHARAPKANNYA
HAMBA YANG BERPASRAH DIRI HANYA KEPADANYA

LIHATLAH DIA YANG MAHA AGUNG
MANUSIA YANG DIBERI DENGAN KELIMPAHANNYA
MANUSIA DIKARUNIAI DENGAN SEGALA KEKAYAANNYA
MANUSIA DALAM PELIHARAANNYA
MANUSIA DALAM DEKAPANNYA
MANUSIA ADALAH KHALIFAH DIMUKA BUMI

MANUSIA DILIPUTI OLEH SANG PENCIPTA
TIADA LEPAS DARI KASIH SAYANG
DAN……………...
MANUSIA……….
MANUSIA………
MANUSIA………
ADALAH BAGIAN DARI TUHANNYA


Tanjung Redeb, 12 Agustus 2011
Di tulis mulai hari Kamis 11 Agustus selesai Jumat 12 Agustus 2011








 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 





 

 

 

 

 

 

 

 



DAFTAR ISI


  1. CERITERA TENTANG SUNGAI
  2. HAKIKAT DAMAI
  3. DAYAK DAN PEDALAMAN
  4. MASIH KADA PARCAYA (BHS BANJAR)
  5. MATAHARI
  6. NENERI PERMAI
  7. SELAMAT JALAN MATAHARI
  8. UNTUK AYAH
  9. KEMBANG-KEMBANG BERKEMBANG
  10. K A M I
  11. MANYARUYUK
  12. T E M A N
  13. TANGISAN POHON TUA DAN JERITAN ORANG UTAN
  14. KOTAKU 79
  15. BUNGA CUMA SEKUNTUM
  16. DERAWAN
  17. UDIN UTUH DAN GALUH
  18. KUWITAN LAWAN ANAK
  19. BERAU DULU
  20. MARET DAN LMD
  21. G U R U
  22. BUAH SI MALAKAMA
  23. MALAM PERTAMA KUNIKMATI ENGKAU
  24. BANUANGKU
  25. GUGUR
  26. KAMU PILIH DIANTARA DUA
  27. GURU
  28. PULAU SYURGA
  29. BANUANGKU II
  30. SURAKARTAKU SAYANG SOLOKU BERSERI
  31. PALU TEMAN GERGAJI
  32. S A Y A N G
  33. P E C I
  34. T E G U R
  35. B U L A N
  36. H E B R O N
  37. G E G E R
  38. A D U H
  39. W A W…….
  40. AKU DAN KAMU SAMA-SAMA
  41. PANTAI SENGGIGI
  42. RAJA ALAM
  43. A P I
  44. SEMOGA
  45. GARIS
  46. GEJOLAK JIWA
  47. HALAL BI HALAL
  48. DI AWANG-AWANG
  49. CERITERA TENTANG BOHONG
  50. H  A  I
  51. MELENIUM
  52. PRAHARA BALIKUKUP (1957)
  53. K U S U T
  54. KAMPANYE
  55. SURAT BUAT KASMAWATI ( 1978)
  56. B E L A N G
  57. BONGKAR PASANG DAN CERMIN REFORMASI
  58. P O L E M I K
  59. K E T A K U T A N
  60. L . A . R
  61. KETIKA BUDAYA DI INJAK
  62. SAMBAS SAMPIT
  63. 11 SEPTEMBER 2001
  64. G U S A R
  65. BOM MELEDAK LAGI
  66. M A L I N G
  67. RAMADHAN
  68. YASER ARAFAT
  69. T  K  I
  70. C I N T A
  71. TRAGEDI BOJONG
  72. ANTARA NABIRE DAN SOLO
  73. T O P E N G
  74. W A J A H
  75. DONGENG TENTANG NUSANTARA
  76. PETAKA AKHIR TAHUN
  77. T U H A N
  78. MANUSIA DAN KEJADIANNYA
  79. ULANG TAHUN
  80. PELANGGARAN DAN KEDAULATAN
  81. KHARISMA DUNIA
  82. PERGULATAN
  83. SRI ON
  84. B I B I R
  85. FATAMORGANA
  86. BICARA ALAM ( Long Okeng )
  87. MARHABAN YA RAMADHAN
  88. P E N C A R I A N
  89. CERITERA TENTANG SUNGAI
  90. MASIH KADA PARCAYA ( Bahasa Banjar )
  91. DERITA AKHIR TAHUN TANGISAN AWAL TAHUN
  92. HAKIKAT DAMAI
  93. INDONESIA BERDUKA LAGI
  94. PERCIKAN CINTA SANG WANITA
  95. SADDAM HUSEN
  96. SUNGAI ITU MILIKKU
  97. TENTANG PULAU DAN LAUTKU
  98. INGIN JADI BINTANG
  99. KEMERDEKAAN
  100. KARTINI MASA DEPAN
  101. JATUH CINTA
  102. DATANG
  103. DUKA OKTOBER
  104. MALAM SERIBU BULAN
  105. BAHAGIA
  106. SAJADAH
  107. HAKIKAT MANUSIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar