Selasa, 05 Maret 2019

ASAL USUL KERAJAAN BERAU

Kenangan Tulisan 1986 : Saprudin Ithur


                                                  ASAL USUL KERAJAAN BERAU


A.    PERKAMPUNGAN DI TEPI SUNGAI


Sungai Berau yang panjangnya 292 Km, kemudian terbelah menjadi dua di Tanjung Redeb. Sungai yang mengarah kekiri dengan nama sungai Kelai, panjangnya 254 Km dan yang kekanan namanya sungai Segah, yang panjangnya tidak kurang dari 152 Km. maka dengan demikian sungai Berau keseluruhan panjangnya kurang lebih 546 Km.
Sungai itu meliuk-liuk, berkelok-kelok, ada yang mengecil ada yang melebar luas, alurnya indah bagaikan se ekor ular naga jantan yang menanntang segala zaman. Tepian sungai itu ditumbuhi oleh berbagai tumbuhan liar, seperti nipah yang dapat dijadikan atap dan dinding rumah, pohon jingah, pohon buah sawan, buah ara, dan pohon rambai parangat, rutun, singkil, pakis dan masih banyak tumbuhan lain yang tidak mungkin dapat disebut semuanya disini. Sungai berau berbeda dengan sungai-sungai dinegeri lain. Sungai Berau memiliki ribuan anak sungai kecil dan besar. Monyet dan bekantan penghias sungai, melompat lompat dipohon rambai parangat. Yang setiap pukul tujuh pagi, pukul lima sore monyet dan bekantan itu ramai melompat kesana kemari sambil memakan pucuk-pucuk muda pohon parangat itu, anaknya yang masih kecil lepas dari gendongan induknya, melatih  kekuatan, lompatan dan pegangan tangannya yang masih kecil, melompat dari ranting satu keranting lainnya, gerak geriknyanya terus diikuti dan diawasi oleh induknya. Sedang malam hari binatang yang suka ditonton orang itu tidur disana sampai esok pagi.
Begitu pula burung kalibarau yang sering disebut orang cocokrowo, dengan suaranya yang merdu dan nyaring itu selalu berteriak gembira ketika senja akan datang menutup siang dan mandi-mandi dianak-anak sungai yang airnya bening, sedang di pohon tinggi menjulang, burung tiung (beo) bernyanyi menyambut pagi dan malam hari. Ditepi sungai berau itu juga tumbuh bergerombol pohon rumbia nan subur, dan didekatnya ada pohon rambutan hutan yang merah ranum, rasanya manis, sedang disantap oleh burung rangkai dan gagak yang rakus. Buaya dan biawak berenang mecari mangsa, sedangkan buaya lainnya yang sudah kenyang berjemur di bibir sungai dan diatas batang kayu yang tidak terlalu besar.
Pada zaman dahulu kurang lebih pada tahun 1.400 masehi sudah ada tujuh banua dan rantau yang sudah berdiri baik dipesisir pantai dan dipinggiran alur sungai berau. Rantau atau kampung dan banua itu adalah sebagai berikut :

  1. Banua Marancang
  2. Banua Pantai
  3. Banua Kuran
  4. Banua Bulalung
  5. Banua Suwakung
  6. Rantau Bunyut  dan
  7. Rantau Ullak

Ketujuh banua dan rantau itu masing-masing mempunyai seorang pemimpin yang dipilih oleh masyarakat di kampung dan banua itu sendiri sebagai ketua atau pemangku adat yang sangat dipercaya dan menjadi  panutan semua orang yang ada di banua dan rantau itu. Aturan-aturan adat masih diatur dengan sederhana dan menurut aturan mereka bersama dimasing-masing tempat.
Ketujuh banua dan rantau itu masih serumpun, yaitu rumpun melayu tua dan sudah sejak lama saling kenal mengenal, namun kepemimpinannya masih terpisah belum bersatu. Kalau ada upacara adat tahunan disalah satu kampung atau banua, ketujuh kampung akan datang beramai-ramai berkumpul dengan membawa makanan masing-masing dan tidak ketinggalan rombongan kesenian dan olah raga.
Kesenian ditampilkan pada malam hari, seperti Bakarang-karangan, Badiwa, Gamdam Barras, dan Putar Alam, serta Bajappin, Bajiak dan Mamanda, sedangkan olah raga seperti adu betis yang dikenal dengan nama Babinti oleh para pemuda dan main galah, logo, dan gasing dilaksanakan pada siang hari, serta yang paling meriah adalah adu ayam. Acara tahunan seperti itu pastilah ramai sekali dan dilaksanakan sampai seminggu lamanya.
Sedangkan para pemangku adat duduk berdampingan sembari menikmati hidangan yang enak-enak yang disediakan. Kata orang tua-tua dulu, kalau sudah minum air sungai berau, maka orang itu pasti akan datang lagi kenegeri berau dan tidak akan dapat melupakannya biar dimanapun ia berada.




B.   PUAN DIPANTAI RANGGA BATARA


Maka tersebutlah seorang tokoh yang cukup terkenal dirantau-rantau dan kampung-kampung, banua di bumi berau, dan tak patut kalau kita melupakannya begitu saja, dia adalah pemimpin Banua Pantai. Ia manusia biasa yang cukup berpengaruh disegani dan dihormati oleh segenap rakyat negeri Pantai. Derajatnya hampir sama dengan raja, namun sayangnya pada waktu itu belum terbentuk sebuah kerajaan,  maka ia belum mendapat kedudukan sebagaimana layaknya seorang raja yang memiliki tahta.
Orang itu suka bekerja keras tidak mengenal lelah, pikirannya maju jauh kedepan selain memikirkan dirinya juga selalu memikirkan orang banyak agar tidak kekurangan apabila datang musim paceklik. Kebunnya luas ditanaminya kelapa, buah-buahan, umbi-umbian dan sayur mayur. Orang kampungnya selalu membicarakannya sebagai orang yang patut menjadi contoh dalam menanam penganan dan buah-buahan. Disamping itu orang itu juga suka membantu orang lain yang lagi kesusahan atau yang sangat membutuhkan tanpa pamrih, membantu orang lain dalam kesusahan atau orang yang bersenang-senang, seperti pesta perkawinan dan pesta lainnya dalam lingkungan masyarakatnya. Dan bila perlu ia akan bantu sampai dengan harta bendanya yang ia miliki pada waktu itu. Itulah kelebihan yang sulit dapat di ikuti oleh siapapun, kecuali orang-orang yang iklas dan berbudi luhur.
            Orang itu adalah Rangga Batara yang dikenal pula dengan nama Puan Dipantai yang artinya pemimpin yang mendiami negeri di tepi pantai. Puan Rangga Batara selalu mewakili rakyatnya dalam setiap ada pertemuan sesama pemangku adat dan juga selalu tampil apabila ada sesuatu permasalahan yang tidak mudah dicerna dipecahkan oleh rakyatnya. Itulah Puan Rangga Batara, Puan Dipantai.
            Dirumah panggung yang cukup besar berlantai kayu budar dan batang nibung yang telah dihaluskan berdinding kulit kayu, daun rumbia dan kajang yang telah dianyam dengan halus serta beratapkan daun nipah milik Puan Rangga Batara yang berdiri kokoh ditepi sungai. Dihuni oleh Puan Rangga Batara bersama tujuh orang putrinya. Nama ketujuh putrinya itu diawali dengan gelar Kannik. Yang sulung namanya Kannik Saludai, sedangkan yang bungsu namanya Kannik Barrau Sanifah.
            Kannik Barrau Saifah inilah yang kemudian hari sangat terkenal karena kecantikannya, serta kepandaiannya yang dapat mengalahkan kepandaian berpikir kaum laki-laki dizaman itu. Dan kemudian sempat dibuang kelautan dengan menggunakan rakit, dan kemudian ditolong oleh seorang saudagar muda dari negeri kerajaan Berunai. Bersama dengan saudagar itu Putri kannik Barrau Sanifah dibawa kembali ke Banua Pantai yang menjadi suaminya.
            Ketujuh putri cantik itulah yang selalu mendampingi dengan setia ayahandanya Puan Dipantai dikala senang ataupun dikala duka. Ketujuh Putri itu masing-masing memiliki kelebihan dan kepandaian sendiri-sendiri, dan ketujuhnya pandai membuat masakan buat ayahnya dan para tetamu yang datang ke Banua Pantai.
            “Ayah”…. Ujar Kannik Barrau Sanifah di sela-sela kesepian diruang tamu ketika ayahnya sendirian. “ Ayah semakin tua, ayah terlalu lelah….janganlah kami anak ayah yang semua perempuan ini dianggap tidak mampu membantu ayah, kami semua siap membantu ayah, walaupun pekerjaan itu seharusnya dikerjakan oleh laki-laki” hening sejenak, ayahnya menatap wajah anaknya yang luar biasa itu.
“… yah…yah… ayah tahu anakku Sanifah, tapi biar bagaimanapun kalian perempuan tetaplah sebagai perempuan anakku” ucap Puan Rangga Batara kepada Sanifah anak bungsu kesayangannya itu. Dan lanjutnya meyakinkan putrinya “ Ayahmu ini masih gagah, masih mampu, masih kuat, kalian tidak perlu menghawatirkannya…” Puan Rangga Batara menghambur senyum, yang disambut pula dengan senyum putrinya.
Kini putrinya sudah yakin, bahwa ayahnya itu masih mampu mengurusi masyarakat kampung Banua Pantai dengan bijaksana dan adil. Walaupun raut wajah beliau telah nampak termakan usia.
            Puan Dipantai lalu pergi meninggalkan putrinya yang asyik bersendau gurau, pergi berkeliling kampung. Dijalan yang ia lewati banyak handai taulan, kawan, dan masyarakat yang ia temui, masing-masing menceriterakan kebun dan hasil panen padi yang telah selesai.
Hasil kebun dan ladang mereka tahun ini sangat bagus, dapat menutupi keperluan mereka sehari-hari dalam setahun.
Berjalan keliling kampung semacan ini biasa dan sering dilakukan oleh Puan Dipantai Rangga Batara, sebagai wujud kepeduliannya kepada masyarakat kampungnya.




C.   INNI BARITU DAN INNI KABAYAN


Jauh di ujung Rantau Ullak, jauh dari keramaian, dekat sebuah bukit kecil berdirilah sebuah rumah sederhana ditepi sungai. Rumah itu tinggi, dengan menggunakan tongkat dan tiang kayu ulin bundar, berdinding dau nipah dan kulit kayu tua, atapnya terbuat dari daun nipah, sudah lusuh dan banyak lubang-lubang, sedangkan tangga untuk naik kerumah itu terbuat dari kayu bundar yang sedang-sedang besarnya ditatah ber tingkat-tingkat sedemikian rupa agar mudah diinjak untuk naik kerumah itu.
            Rumah itu milik Inni Baritu yang tinggal bersama istrinya Inni Kabayan. Inni artinya Nenek atau kakek. Keduanya sudah berusia lanjut, tetapi tenaganya masih kuat untuk bekerja dan masih sehat. Kedua suami istri ini adalah pasangan yang sangat serasi dan kukuh, sampai usianya sekarang yang sudah tua itu, masih bersemangat untuk kekebun yang hasilnya untuk menghidupi mereka berdua. Kalau ada kelebihan dari hasil panen mereka, disedekahkanya kepada orang lain, atau siapa saja yang datang kerumahnya akan selalu mendapatkan oleh-oleh dari kedua Inni apabila  tamunya pulang, apakah pisang, nenas, jambu atau singkong. Walaupun sedikit pastilah ada yang diberikannya kepada orang lain. Bahkan beras yang baru ditumbuknyapun kalau ada yang memerlukan, Inni Kabayan akan mengalah, beras itu diberikannya kepada yang sangat membutuhkan dan untuk mereka, yah tentu harus menumbuk padi kering lagi yang selalu siap dan ada dibawah kolong rumahnya yang tinggi itu.
            Inni Baritu dan Inni Kabayan yang sudah dimakan usia itu sampai saat ini belum mempunyai keturunan. Anak yang selalu diharapkannya hadir sejak dulu mereka masih muda sampai sekarang belum juga hadir menemani mereka berdua. Sampai sekarang mereka masih selalu berdoa kepada Tuhan agar mereka dikaruniai seorang anak. Walaupun mereka tahu orang seusia mereka berdua tidak mungkin lagi dapat melahirkan seorang anak, setidaknya Tuhan sang Pencipta Alam Smesta Raya ini mendengar permintaan mereka untuk mendapatkan anak yang baik, berbudi, gagah perkasa, pemberani, berwibawa, dapat mempersatukan rakyat selalu menjadi contoh dan tauladan orang banyak, pandai pekerjakeras dan memiliki kemauan dan pemikiran jauh kedepan serta pembela dan pelindung keluarga dan orang lain. Harapan semacam itu kedua Inni sampaikan setiap mereka berdoa kepada Tuhan Sang Pemberi.
            Inni Baritu turun ketepian sungai membersihkan perahunya yang lama tidak terpakai, air didalam perahu yang hampir setengah itu ditimbanya sampai kering, kemudian ikan-iakn kecil yang sudah busuk dilemparkanya ketengah sungai dan ikan busuk itu langsung disambar ikan lain yang kelaparan. Perahupun  menjadi bersih dan nyaman dilihat. Inni Baritu berencana pergi menjala ikan, Inni kepingin makan udang galah yang sepitnya biru panjang dan segar.
Maka pergilah Inni Baritu dengan perahunya menuju kehulu sungai Lati Rantau Ullak, dimana disana banyak udang besarnya. Jalapun dilemparkan. Dengan terbuka lebar dan bundar. Tak lama kemudian udang galah segar menggelepar masih hidup dan sudah banyak diperahunya.
            Begitulah kehidupan mereka dialam yang kaya nan permai ini, alam yang penuh limpahan rejeki dari sang pencipta. Semua sudah ada tersedia baik di air, didaratan maupun di udara, tinggal kita saja lagi yang mau mengais mengambil dan mencarinya. Tentu harus selalu menjaga dan melestarikan alam yang kita gunakan, agar semua yang telah tersedia dimuka bumi ini tidak sia-sia menjadi habis dan langka atau porak poranda.
            Sungai Berau yang kaya dengan berbagai ikan-ikanan, sedang dipinggirnya penuh dengan tumbuhan yang hijau ranau dan subur. Lain lagi dengan daratannya, hutan belantara lebat bagai hamparan jamrut dikatulistiwa. Pohon-pohon kayu besar dililit oleh rotan yang panjang dan tua. Sedangkan damar berhamburan dibawah pohon dan sebagian lagi masih melekat dikulit pohon kayu kapur, dihiasi lagi dengan kayu hitam dan ulin yang mahal, dan semerbak harum dibawa angin berkeliling dunia yang berasal dari kayu gaharu yang sudah tua. Digunung-gunung batu yang tinggi banyak gua-gua sarang burung yang menyehatkan, dialah sarang burung wallet. Sedangkan dihulu-hulu sungai emas masih bertaburan.
Alangkah indah dan bagusnya alam semesta raya yang diciptakan oleh sang Pencipta alam Semesta Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia tinggal memanfaat dan memelihara keseimbangannya.
            Inni Kabayan telah selesai menanak nasi dan merebus  serta membakar udang galah hasil tangkapan suaminya tercinta Inni Baritu. Dengan nasi masih berasap dan mengepul itu, kedua suami istri itu lahap menikmati hidangan yang ada, serta sebagai penarik dan menambah nikmatnya makan mereka, dibuatnya irisan buah pelam muda dicampur dengan udang bakar dan tidak lupa sebagai tambahan yang selalu tidak ketinggalan adalah sambal belacan. Ach…..nikmatnya.




D.   TITISAN DEWA TELAH DATANG


Dipagi yang cerah, ketika matahari mulai mengintip melalui upuk timur, ternyata harus dikalahkan oleh embun pagi yang tebal dan dingin menutupi kehadirannya untuk menerangi alam semesta raya. Ayam sejak pukul lima pagi sudah ribut ingin keluar dari kandangnya, sedangkan yang tidur bebas dipohon rambai dan jambu air dibelakang dan samping rumah, kepalanya tengak-tengok kekiri kanan dan kebawah memperhatikan tanah yang masih samara-samar. Begitu sedikit terang ayam itupun terbang turun berhamburan dengan suara ributnya dan kejar-kejaran. Berkejaran, yang lebih besar mematuk yang lebih kecil, sang jantan juga tidak ketinggalan ribut mengejar sang betina yang malas-malasan dan terpaksa harus lari untuk berolah raga pagi atau pasrah diam  menunggu sang jantan mengawininya. Ketika si pemilik ayam itu membawa makanan, nasi dingin bercampur kerak nasi dan diaduk dengan dedak lalu dihamburkan menjadi beberapa tumpukan, ayam-ayam itu lalu memakannya dengan lahap bergerombol-gerombol. Ketika makanan yang tersedia sudah tinggal sedikit mulailah ayam yang merasa lebih besar mematuki yang lebih kecil dengan harapan makanan itu untuknya sendiri. Serakahnya.
            Dilain tempat Inni Baritu dihalaman dekat sumur asyik dengan parangnya, Inni mengasah mandau diatas batu padas keras yang diambilnya dari sebuah gunung yang cukup jauh. Batu padas itu memang bagus untuk dijadikan batu asahan, karena keras dan kuat, parang, pisau, mandau cepat menjadi tajam. Setelah mandau dipegang bagian matanya yang tajam, dan sudah tajam, mandau itu dikeringkan lalu dimasukkan kedalam sarungnya. Sedangkan inni Kabayan istrinya sibuk didapur merebus air dan merebus ubi untuk sarapan. Dapur atau atangnya terbuat dari kayu dilapisi dengan batang pisang yang sudah dihaluskan dan diatasnya diberi tanah yang cukup itu. Sudah banyak abunya bekas kayu yang dibakar ketika memasak diatasnya.
            Kedua suami istri itu tak lama kemudian sambil mengobrol kesana kemari sudah menikmati air kopi hangat dan ubi rebus yang dibuat dengan cekatan Inni Kabayan. Alangkah nikmatnya  ubi Rebus dinikmati pada pagi hari ketika perut masih kosong, memang minta diisi, ditambah lagi dengan kopi asli dari pekarangan rumah Inni sendiri.
“ Inni “ ujar Inni Baritu memecah suasana pagi yang cerah
“ ya…ada apa “ sahut istrinya yang setia
“ aku hari ini akan pergi kekebun, rencanaku membersihkan kebun dan sepulangnya nanti aku akan membawa bambu Pattung” ( bambu besar ) sambil menghirup kopi dicangkirnya yang semakin sedikit.
  eeee….ia..ya..ya, tapi untuk apa pattung itu…Inni… dan Inni kan baru sembuh dari sakit…tak usah mengangkat yang berat-berat dululah..” Tanya dan pinta Inni Kabayan kepada suaminya.
Inni Baritu dalam beberapa hari belakangan memang sering sakit-sakitan, walaupun sakitnya tidak sampai lama dan berat, barangkali karena dipengaruhi oleh usia yang semakin lanjut. Inni Baritu sering diserang flu dan kadang batuk-batuk, sesekali malarianya juga kambuh mewarnai sakit tuanya itu.
“ ach Inni…Inni, bambu itu, yang untuk dibuat dinding dapur kita yang sudah rusak itu” tunjuk Inni Baritu sambil tersenyum…lanjutnya “ masa Inni sudah lupa, kan baru kemarin kita bincangkan dan kita rencanakan…..”
Inni Kabayan tersipu-sipu oleh karena kealpaan dan ingatan yang sudah berkurang banyak.
“ yah..yah …aku baru ingat……” sembari tertawa kecil “ tapi Inni baru sembuh” tambahnya meyakinkan.
“…..lihat aku ….”   Bergaya seperti orang yang kuat dan masih muda “ tidak sakit lagi dan sehat-sehat saja “ ujar Baritu menambah.
Keduanya tertawa bahagia dipagi ceria, Inni Kabayan pergi sejenak kebelakang dan kemudian datang lagi dengan sepiring ubi rebus tambahan, asap pada ubi yang masih panas itu masih mengepul.
“ bakayanya Inni “ melihat istrinya membawa ubi rebus itu.
“ mangka….”  Sambar Inni Kabayan
“ ndada jua…”
            Sampai dengan pukul tujuh pagi embun masih tebal, dinginnya masih menusuk tulang dan persendian, Inni Baritu bersiap-sipa pergi kekebun. Dengan terselip mandau dipinggangnya dan air putih ala kadarnya, berangkatlah Inni Baritu kekebun bersama dua ekor anjing kesayangannnya, yaitu si Langsat yang berbulu merah dan si Beruang yang berbulu hitam. Kedua anjing itulah yang selalu dengan setia dan rajin membantu majikannya untuk menghalau pemangsa tanaman seperti babi hutan dimalam hari dan monyet, bangkui disiang hari.
Babi dan bangkui akan lari terbirit-birit karena ketakutan oleh keberanian si langsat dan si beruang. Langsat dan beruang tidak akan memberi ampun terhadap babi yang coba-coba mendekati kebun majikannya itu. Bila perlu kalau babi berani melawan akan digigitnya sampai luka parah dan mati, begitu pula dengan monyet dan bangkui.
Pada suatu hari adalah datang se ekor bangkui yang cukup besar dan sangat pemberani, bangkui itu pandai main silat untuk melepaskan serangan lawan dari arah manapun, kepekaannya terhadap gerakan, pukulan yang akan menyerangnya cukup bagus, maka  tak heran monyet besar yang bernama bangkui itu menjadi pemberani dan ditakuti oleh bangkui lainnya. Ia seekor bangkui jantan dan terpaksa harus berhadapan dengan si langsat dan si beruang, karena tidak mau pergi saat di salak/digonggong kedua anjing itu. Masing-masing mencoba memperlihatkan keberaniannya. Akhirnya harus saling serang menyerang. Kedua anjing kesayangan Inni Baritu tak sabar melihat keberanian bangkui jantan itu, bahkan dengan kegagahannya bangkui turun ketanah menghadapi lawan yang sedari tadi sibuk menggonggongnya. Telinga si bangkui menjadi panas dan wajahnya geram melihat tingkah kedua anjing yang selalu datang dan mengganggu ketenanganya berusaha menghalau pergi. Dasar anjing pengabdi yang baik.
Tak  lama kemudian mereka sudah terlibat saling serang, terkaman langsat dan si beruang berkali-kali tak mengena, dapat dihindari oleh bangkui yang pintar. Bahkan sebaliknya sempat beberapa kali tangannya memukul bagian belakang anjing yang berang. Kedua anjing itu semakin menggila. Untung saat mereka berdua menyerang bersamaan, si beruang dapat menggigit bagian belakang bangkui, si bangkui berteriak keras kesakitan dan balas menggigit pula, saat itulah si langsat juga punya kesempatan untuk menggigit si bangkui yang lengah. Ketiga binatang yang saling serang itu bergumul bergulingan dilerang bukit. Tidak tahan merasakan sakit yang luar biasa sang bangkui melompat sekuatnya keatas pohon dan kedua anjing itu terpental menjadi dua. Bangkui berlumuran darah, si beruang pun berlumuran darah dirobek dengan taring bangkui. Sejak kejadian itu bangkui yang pemberani itu tidak berani lagi mencoba-coba datang kekebun Inni Baritu, setelah merasakan sakitnya gigitan si langsat dan si beruang.
            Matahari sudah mulai sampai kepertengahan langit diatas sana, menandakan para pekerja sebaiknya beristirahat saat itu, Inni mendengar anjingnya menggonggong tiada henti. “ ada apa si langsat dan si beruang menyalak tak henti-hentinya itu………” tegur Inni dalam hati, sambil telinganya dipasang kuat-kuat, barangkali ada suara makhluk lain selain kedua anjingnya.
“ langsat…..beruang…..!!!” panggil Inni dari dekat pohon pisang. Kedua anjing itu masih juga tidak berhenti dan tidak juga datang kepadanya setelah dipanggil beberapa kali.
“ ada apa…?” Tanya Inn Baritu
Inni lalu bergegas mendatangi dimana suara anjing menggonggong itu, anjingnya menggonggong di arah rumpun bambu pattung dipinggir sungai kecil, tapi anehnya kedua anjing itu menggonggong sambil tengkurap ditanah seperti tidak bisa berdiri, seperti ada yang aneh, seperti ada yang diberitahukannya.
“…aneh….kenapa kedua anjingku itu….” Inni heran. Matanya tajam memeriksa setiap sudut dekat pohon bambu yang subur dan besar-besar itu. Tak lama kemudian Inni terkejut bukan main, terdengar suara tangisan bayi.
Merinding bulu kuduk Inni Baritu mendengarnya, tapi ia kuatkan perasaannya yang tadi sedikit keder itu. Inni mencoba mendekat dan meyakinkan suara tangisan itu.
“ Bayi manusiakah…..tega-teganya…perempuan mana yang menyia-nyiakan anaknya sampai ada dalam hutan seperti ini…..atau anak jin…..atau syetan yang gentayangan…..akh sudahlah….atau barangkali titisan dewa dari kayangan…”
Kedua anjing si langsat dan si beruang tetap tidak mau diam terus menggonggong bersahutan. Inni baru terus mendekati rumpun bambu yang lebat itu……..” hah……..bayi manusia……” matanya terbelalak kaget, heran, kagum dan bercampur aduk.
Bayi itu terbaring didalam pecahan bambu pattung yang terbuka lebar sedemikian rupa, bercahaya berderang, tapi mengambang tidak menyentuh apa-apa, baik kekiri, kenanan, atas, maupun bawahnya, gelapnya rimbun bambu semakin mengagumkan Inni Baritu, bayi itu luar biasa, berada didalam pecahan bambu, tapi tidak menyentuh bagian bambu, seolah terletak diudara dalam keindahan bambu pattung. Kulit sang bayi yang keluar dari bambu itu tidak tergores sedikitpun oleh bambu yang tajam.
Inni Baritu membuka matanya lebar-lebar, yang dilihatnya memang bayi, kemudian diusapnya matanya beberapa kali, kemudian dibukanya lagi untuk meyakinkan, tetap yang dilihatnya adalah bayi itu-itu juga. Memang bayi….sejak tadi ya bayi itu tidak kemana-mana.
Dengan kekuatan hati, bayi itu diambilnya dan digendongnya, merasa disentuh bayi itu lansung diam dan hebatnya lagi bayi itu tersenyum, menandakan kesukaan setelah disentuh manusia. Begitu pula dengan kedua anjing kesayangan Inni, setelah bayi berada dalam gendongan tuannya, keduanya serentak diam dan mencium-cium kaki tuannya.
Dan dengan tergopoh-gopoh, bayi yang masih mungil itu dibawa Inni Baritu pulang menuju kerumahnya dengan diiringi oleh teman setianya si langsat dan si beruang.
Diperjalanan pulang Inni Baritu teringat akan dirinya yang sudah tua, namun belum juga mempunyai keturunan. Biarlah bayi siapapun ini aku tak perduli aku akan memeliharanya, yah memelihara semampuku, akan aku jadikan sebagai anakku…..Inni baritu tersenyum. Berkali-kali bayi itu ditatapnya tak jua puas.
Sesampainya dihalaman depan rumahnya “ Inni….Inni….” Inni Baritu berteriak memanggil istrinya         “Inni Kabayan….Inni…Inni ambilkan kain…Inni…ambil kain…”
Inni Kabayan yang terkejut langsung keluar dari dalam rumah, celingukan dari pintu rumah memperhatikan suaminya yang baru datang dan membawa sesuatu yang menurutnya sangat aneh dan mustahil…..dapat dari mana….
“ kain…..kain…untuk apa…dimana kainnya  “ bertanya kebingungan
Lagi Inni Kabayan lupa
“ kain Inni…kain…bayi kita ini kedinginan, masuk angina Inni…”
Sahut Inni Baritu asal bicara, membuat istrinya semakin tegang dan heran
“ kain…” pikir Inni Kabayan “ yang dimana…akh….okh….yah…yaah…”
Inni Kabayan berlari masuk dan mengambil kurindan ( keranjang terbuat dari anyaman rotan ) yang digantungnya agak tinggi dekat dapur. Didalam kurindan itu disimpannya kain yang dibuatnya dari benang serat daun buah malaka atau nenas beberapa hari lalu. Namun akh….kenapa kurindanku terasa berat seperti ini, lalu diturunkannya dengan hati-hati agar jangan tumpah. Inni Kabayan tersentak, terperangah kaget ketika dilihatnya, ketika ia melihat di dalam kurindan itu, tempat ia menyimpang kain dan benang, tiba-tiba entah datang dari mana sudah ada bayi perempuan yang molek rupanya dan bercahaya pula didalamnya. Inni serta merta mengangkat dan menggendong serta membawanya keluar. Kedua suami istri itu saling tatap keheranan, kagum bercampur baur dan tidak mampu lagi dibayangkanya.
“… Inilah kebenaran dan kenyataan dari doa-doa kita selama ini….”
Ujar inni Baritu kepada istrinya yang tawakkal
  Benar Inni, tanpa pirasat apa-apa tiba-tiba kedua bayi ini datang entah dari mana asalnya”
“ Titian Dewa Inni….ini pasti titisan dewa istriku…” Ini Baritu meyakinkan istrinya dan dirinya sendiri.
“ Titisan Dewa….okh …alangkah molek parasnya Inni Baritu….”
            Kedua bayi mungil itu dibawa keduanya masuk kedalam rumah yang sudah agak miring karena tuanya, lalu kedua bayi itu dibaringkan diatas kain yang belum selesai sepenuhnya dibuat oleh Inni Kabayan. Kedua bayi itu seperti datang dari jauh kelelahan, lalu tidur dengan pulasnya. Tidur pulas dihadapan Inni Baritu dan Inni Kabayan yang masih terkagum-kagum atas kejadian keduanya. Inni Baritu dan Inni Kabayan mengusap wajahnya mensyukuri kehadiran bayi laki-laki dan bayi permpuan kerumahnya hari ini. Yang mereka tahu ini adalah anugrah sang pencipta semesta alam yang luas ini kepada mereka dan kepada semua penduduk dimuka bumi. Dalam tidur kedua bayi, mereka berdua saling berceritera pengalaman bagaimana mereka menemukan bayi itu masing-masing, berkali-kali mereka berdecak kagum dan heran atas kejadian dan kehadiran kedua bayi.  
   









E.    KANNIK BARRAU SANIFAH


Kabar dari mulut kemulut terus sambung menyambung, akhirnya kabar itupun sampai juga ketelinga Puan Dipantai Rangga Batara dan ketujuh putrinya di Banua Pantai. Mendengar hal ihwal Inni Baritu dan Inni Kabayan yang tinggal jauh diujung kampung Rantau Ullak menemukan bayi yang konon katanya adalah titisan dewa dari kayangan. Alangkah moleknya kedua bayi itu kalau benar-benar ia bukan anak manusia biasa, tetapi titisan dewa pikir Kannik Sanifah keheranan. Dan banyak pula diantara orang kampung yang sudah datang kerumah Inni Baritu untuk melihat bayi titisan dewa itu. Dan memang benar adanya, bukan sekedar kabar burung.
Di Banua Pantai Kannik Barrau Sanifah bermusyawarah dengan ketujuh saudara dan ayahnya Puan Dipantai Rangga Batara untuk berencana melihat bayi yang dikabarkan titisan dewa yang telah menjadi buah bibir dimana-mana, bahkan sampai kekampung, rantau dan banua lain.
Pagi sekali, atas ijin Puan Dipantai ketujuh putri sudah berangkat menuju rumah Inni Baritu di Rantau Ullak. Perjalanan cukup jauh, dan perjalanan  hanya dapat ditempuh dengan  menggunakan perahu menyusuri sungai Berau. Perahu yang digukan cukup besar, karena disamping ketujuh putri yang naik ditambah lagi dengan beberapa orang lelaki pendayung perahu dan penjaga keamanan. Tidak kurang dari empat jam perahu didayung barulah sampai kerantau Ullak.
Inni Baritu dan istrinya sangat kaget atas kedatangan tamunya yang tak diundang itu, tapi mereka berdua juga sangat gembira mendapat kehormatan kunjungan ketujuh putrid Banua Pantai. Ketujuh Putri dipersilahkan masuk untuk melihat bayi yang dipelihara kedua Inni. Ketujuh Putri secara bergantian bertanya tentang hal ikhwal  kedua bayi itu sampai berada dirumah Inni Baritu dan istri, kedua Inni menjelaskan panjang lebar dengan terang dan berurutan.
            Setelah mendapatkan penjelasan sedemikian rupa, ketujuh putri sudah yakin dan percaya sepenuhnya, bahwa kedua bayi tersebut adalah bukan bayi sembarangan yang dicuri atau diculik oleh Inni suami istri, atau bayi pemberian orang lain karena kasihan melihat Inni berdua sampai tua masih belum mempunyai keturunan, tapi kedua bayi itu benar-benar anugrah dari sang Pencipta kepada rakyat rantau Ullak, Banua Pantai dan semua makhluk dimuka bumi. Dia adalah TITISAN DEWA.
Setelah percakapan cukup lama :
“ Inni jangan terkejut dan jangan marah kepada kami tujuh bersaudara “
Kannik Sanifah ingin menyampaikan sesuatu dari lubuk hatinya yang paling dalam, namun sejenak berhenti.
“ Tak akan marah….untuk apa kami harus marah kepada putri, kalau tidak mengerti ujung pangkalnya Putri Kannik” sahut Inni Baritu lugu, menentramkan suasana.
“ Begini Inni….” Timpal Kannik Saludai kakak tertua ketujuh putri
“ maksud kedatangan kami kemari………disamping ingin melihat kebenaran berita yang sampai kepada kami……..kami mohon kepada Inni, kiranya kedua titisan dewa yang telah turun dinegeri kita ini, kami bawa kerumah ayahanda Puan Dipantai untuk dirawat disana Inni.”
“ Aduuuh… Putri Kannik Saludai….kami sampai setua ini belum pernah menimang anak, karena kami tidak beranak Putri……berat rasanya Putri…kami harus memenuhi permintaan Putri..” Inni Kabayan berkeluh menjelaskan keberatanya untuk melepaskan bayi yang beberapa bulan sudah dirawatnya.
“ Benar Putri…” timpal Inni Baritu “…kami sampai setua ini belum memiliki anak…Putri…..kedua bayi ini kami yakin adalah pemberian yang kuasa kepada kami, setelah bertahun-tahun mendengar doa-doa kami yang telah mulai renta “
Inni Baritu dan Inni Kabayan sangat menghormati pimpinan Banua Pantai yaitu Puan Rangga Batara, sedang yang datang saat ini kerumahnya adalah tujuh putri Puan Dipantai itu, oleh karena itu keduanya harus memilih dua pilihan. Dan merekapun menyadari keadaan mereka saat ini sebenarnya. Dari keadaan rumahnya yang serba sederhana, perabot rumah untuk keperluan sang bayipun boleh dikatakan tidak dimilikinya, tambah lagi dengan keadaan mereka yang sudah tua, tidak sekuat dulu lagi semasa masih muda. Walaupun memang berat harus melepaskan kedua bayi yang sudah terlanjur disayangi dan telah merasuk kedalam sukma yang paling dalam dari keduanya. Bayi yang memiliki pamor dan cahaya itu benar-benar telah merasuk kedalam hati Inni Baritu dan Inni Kabayan. Akh………
            Inni Kabayan menangis melihat kedua bayi yang molek, ia tidak mampu menahan rasa dukanya ketika mendengar keinginan tuan putri yang sangat dihormatinya itu tiba-tiba meminta kedua bayi yang ditemukan mereka dibelahan bambu dan kurindan itu harus dibawa kerantau Ullak.
“ …Inni…..tak perlu bersedih…..kedua bayi ini adalah titipan yang maha kuasa kepada kita…..maka sepatutnyalah kita memeliharanya dengan sebaik-baiknya, dan kami yakin kedua bayi ini kelak kemudian hari akan menjadi orang yang terpandang serta dipandang orang lain”. Kannik Barrau Sanifah yang pintar mencoba menghalau kesedihan Inni berdua.
Kannik Si Panjang Rumah ikut bersuara dengan suaranya yang bulat besar dan nyaring.
“ kami tidak akan menyia-nyiakan titisan dewa Inni…rencana kami selain kedua bayi ini yang kami bawa, Inni berduapun kami sertakan untuk bersama-sama merawatnya di Banua Pantai….”
Kannik Saludai dengan menghambur senyum turut meyakinkan
“ benar Inni percayalah….siapa lagi kalau bukan kita yang bersama-sama menjaga dan merawatnya”
“ kami mengerti Putri…tapi kedua bayi ini anak kami putri….”
Isak tangis Inni Kabayan yang rambutnya telah memutih itu semakin keras, air matanya mengucur deras dipipinya yang sudah keriput.
“ kalau memang demikian tak apa juga Inni….kami  hanya ingin berbagi gembira, karena sudah mengetahui sebenarnya kedua bayi ini….dan ternyata memang benar adalah titisan dewa dari kayangan untuk kemakmuran dan kejayaan negeri kita tercinta…” ujar Kannik Sanifah tidak mau memaksakan kehendak mereka.
“ oh….anu…anu putri “ Inni Baritu mencoba berbicara namun terputus-putus, sedangkan Inni Kabayan menatapnya dengan tajam dan iba.
“ begini Putri…maaf  kami…. kami bukan bermaksud apa-apa….kami sangat menyayangi bayi ini….kami juga sangat menghormati pimpinan Banua Pantai Puan Dipantai….kami juga sangat mencintai negeri ini….maksud saya…” Inni Baritu tidak sanggup meneruskan ucapannya, ketika menatap pada istrinya yang diam dengan tatapan kosong.
“ sudahlah Inni…tidak apa-apa “ sahut Kannik Sanifah datar berwibawa.
“ bukan itu…. maksud saya….kami berdua menyadari keadaan kami yang serba terbatas putri…kamipun sudah tua seperti ini, rasanya sudah tidak mampu juga untuk merawat sebaik mungkin kepada kedua bayi ini putri…” kemudian Inni Baritu menatap istrinya yang masih diam agar mengerti dengan maksudnya.
“ Maafkan aku Istriku….kita sudah tua Inni…” 
Inni Kabayan mengiyakan dengan isyarat menganggukkan kepala…dan tangisnya semakin melemah namun sesenggukan.
“…Yah aku mengerti Inni….memang setelah aku pikir sesaat tadi, kita sudah lemah dan tidak sekuat dulu waktu kita masih muda…” Inni Kabayan tersenyum tersipu-sipu.
“…Jadi maksud Inni bagaimana?” Tanya Kannik
“ Kedua bayi ini kami serahkan pada kalian untuk merawat dan menjaganya “ jelas Inni Baritu kepada ketujuh putri yang berada dihadapannya menghadapi bayi yang sudah bangun dari nyenyak tidurnya.
“ Syukurlah kalau demikian…..keiklasan jua yang menyambungkan rasa….kepedihan Inni berdua adalah kebahagiaan semua masyarakat Banua Pantai tercinta, dikemudian hari pastilah Inni sangat bersuka cita” Kannik Sanifah menyambung dengan kegembiraan.
Inni Baritu dan istrinya mulai tersenyum iklas.
“…Terima kasih Inni…..terima kasih…” ujar ketujuh putri Kannik bersamaan, dan kemudian saling tatap risih lalu tertawa kecil bersama-sama.
            Setelah ijin dan berpamitan kepada kedua Inni, kedua bayi yang gagah dan cantik itu kemudian dibawa oleh ketujuh Putri menuju kekediaman di Banua Pantai. Bayi itupun tidak menolak dan tidak sedikitpun meronta, diam saja dan menatap siapa yang menggendongnya dengan nanar, tangisan tidak terdengar. Sedang Inni tidak mengatar, dan mereka tidak turut bersama bayi untuk tinggal dirumah Puan Dipantai Rangga Batara. Mereka sudah berjanji kalau merasa rindu, mereka datang berkunjung ke Banua Pantai untuk menjenguknya.
            Ketika rombongan putri sudah jauh dari rumah Inni suami istri, tiba-tiba Inni Baritu dan Inni Kabayan mengejar dari belakang dan memanggil rombongan putrid.
“ Putri…Putri tunggu sebentar…!!
Rombongan berhenti menunggu kehadiran orang yang memanggilnya dari arah belakang. Sembari tersengal-sengal Inni Baritu berkata lebih dahulu
” Putri…bayi yang laki-laki beri ia nama Baddit Dipattung
“ Bayi perempuan beri ia nama Baddit Dikurindan “ sambung Inni Kabayan
Ketujuh Putri  saling tatap dan setuju dengan manggut-manggut…sedangkan Inni berdua tersenyum puas mendapat sambutan yang begitu hangat dan suka cita.
“ Baddit Dipattung, Baddit Dikurindan…..nama yang tepat, sesuai dengan kehadirannya”.ujur ketujuh putri haru, bangga dan lalu tersenyum sumringah semua.
            Sejak itu Baddit Dipattung dan Baddit Dikurindan sudah mendiami rumah Puan Dipantai, dirawat oleh ketujuh putri dengan baik selama bertahun-tahun.
Inni Kabayan dan Inni Baritu selalu berdoa agar kedua anak titisan dewa itu kelak menjadi manusia yang berguna bagi negerinya yang tercinta, agar menjadi orang yang pemberani, berwibawa dan terkenal akan kepemimpinannya keseluruh pelosok dunia. Apabila mereka berdua merasa rindu, mereka datang menjenguk kerumah Puan Dipantai dan bermalam disana beberapa hari untuk melepaskan rasa rindu kepada anak angkatnya Baddit Dipattung dan Baddi Dikurindan.



F.    DIANGKAT MENJADI RAJA


Sejak masih kecil Baddit Dipattung sudah memiliki perangai yang luar biasa dan bagus, yang belum dimiliki oleh anak seusia dia pada waktu itu. Pembawaannya dan pergaulannya terhadap sesama selalu disenangi oleh teman-teman sebayanya. Dalam hampir setiap bermain ia selalu dijadikan pemimpin dalam permainan, mengapa demikian? Karena teman-temannya percaya , Baddit Dipattung selalu bijaksana dalam membagi tugas dalam bermain dan selalu saja tampil sebagai penengah dalam setiap persoalan, baik sesama teman dalam satu permainan maupun dengan kelompok lain. Baddit Dipattung apabila memiliki makanan, walaupun sedikit, teman-temannya selalu diberi dan dapat bagian , walau hanya secuil sekalipun. Kalau ada teman yang jatuh ia selalu datang dan cepat menolong. Apabila ada temannya lagi sakit, ia selalu datang berkunjung  dan mendoakan agar temannya cepat sembuh. Kalau ada temannya yang berkelahi ia selalu melerainya dan sekaligus tampil sebagai penengah dan memberi nasihat agar jangan berkelahi lagi, karena berkelahi itu tidak ada manfaatnya, hanya meninbulkan kesengsaraan saja, apalagi kalau sampai luka dan benjol-benjol kena bogem, kena jotos. Yang menderita kita juga.
            Begitu indah kehidupan mereka semasa kanak-kanak.
Waktu terus berjalan hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahunpun berganti tahun, Baddit Dipattung kini telah menjadi pemuda yang tampan, pemuda yang selalu dikagumi oleh para gadis di tujuh banua dan rantau. Sedangkan para pemudanya sangat dekat dengan Baddit Dipattung, karena dia suka berteman dan selalu mejaga perasaan orang lain agar jangan sampai tersinggung. Baddit Dipattung tidak banyak bicara, ia pandai menahan diri. Ia berbicara secukupnya, selain itu dia diam, karena ada pepatah mengatakan “diam itu emas”. Tapi yang mengagumkan apabila ia ditantang tanpa salah, ia dalam posisi benar, maka ia akan melawan habis-habisan.
            Pada tahun 1363 para pemimpin lima banua dan dua rantau yaitu Banua Marancang, Banua Pantai, Banua Kuran, Banua Bulalung dan Banua Suwakung, serta Rantau Bunyut dan Rantau Ullak, berkumpul dirumah Puan Dipantai Rangga Batara di Banua Pantai. Diantara yang hadir adalah ketujuh putri kannik. Kannik Saludai mewakili Banua Marancang, Jaya Pati dari Rantau Bunyut, Kahar janggi dan Kahar Pahlawan dari banua Suwakung sedangkan Banua pantai langsung dipimpin oleh Puan Dipantai Rangga  Batara. Inni Baritu dan Inni Kabayan sudah sangat tua, hadir sebagai orang pertama yang membawa Baddit Dipttung dan Baddit Dikurindan, dan mewakili Rantau Ullak serta beberapa pemimpin banua dan rantau lainya bermusayawarah dan mupakkat. Sepakat mengangkat Baddit Dipattung menjadi Raja Pertama Kerajaan Berau atau Berayu. Raja pertama tersebut dinobatkan dan dianugerahkan gelar raja dengan nama ADJI RADEN SURYANATA KESUMA berkedudukan di Rantau Ullak sungai Lati. Tempat itu dipilih karena dianggap tempat yang paling aman, dan tanah datar untuk lahan pertanian sangat luas serta tanahnya sangat subur. Rantau Ullak juga dikenal dengan Ratau Pattung.
Sejak dinobatkannya Baddit Dipattung menjadi Raja Pertama Berau dengan gelar Adji Suryanata Kesuma, maka sejak itu kerajaan Berau telah berdiri dan merdeka.
Awalnya kerajaan Berau hanya terdiri dari lima banua dan dua rantau, namun kemudian hari dibawah kepemimpinan Adji Raden Suryanata Kesuma kerajaan Berau berkembang semakin luas. Wilayah kerajaan Berau sampai Bulungan, Tidung, Tungku dan sebagian Sabah Malaysia Timur      ( sejarawan nasional Prof. Muhammad Yamin ), sedangkan kewilayah selatan berbatasan dengan kerajaan Kutai.
Perdagangan makin ramai, para pedagang ada yang sampai menetap dikerajaan yang dipusatkan di muara sungai Lati itu, Rantau Ullak menjadi ramai, pertaniannya sangat maju. Persahabatan antar kerajaan terus dikembangkan dan diperluas oleh Raja sampai ke kerajaan Berunai, Makassar, dan pulau-pulau lain di Nusantara. Dengan pesatnya perkembangan tersebut, rajapun perlu tenaga untuk mempertahankan kerajaan, maka dibentuklah pasukan kerajaan yang diambil dari para pemuda yang gagah berani untuk membela Negara. Laskar yang cukup kuat dilatih untuk mempertahankan kerajaan Berau, apabila mendapat serangan dari luar. Laskar laut diperkuat untuk menjaga wilayah pantai dan lautan yang luas, sedangkan laskar darat untuk menjaga keamanan darat. Keamanan kerajaan, keamanan hutan, dan keamanan pelabuhan saat para pedagang akan membawa hasil-hasil hutan harus terjamin, aman, kalau perlu aman sampai ketempat tujuan.  
Keamanan seluruh wilayah kerajaan berjalan dengan baik, aman dan tentram. Raja-raja Negara sahabat sudah sering datang berkunjung kekerajaan Berau, dengan tujuan menjalin persahabatan dan sekaligus memperluas usaha perdagangan. Begitu pula dengan Raja Berau, sering berkunjung kekerajaan sahabat, disana Raja Berau banyak belajar, kemudian yang sesuai dengan keadaan dan budaya Berau diterapkan di kerajaannya. Oleh  karena itu kerajaan Berau semakin tahun semakin maju dan mapan, baik dibidang pertahanan maupun perdagangan, begitu juga dengan pertaniannya.
Pendek ceritera Kerajaan Berau sejak awal berdirinya yang dipimpin oleh Titisan Dewa Badditi Dipttung sudah kelihatan greget dan kiprah ditanah Borneo yang kaya dan luas ini. Dan raja pertama ini pulalah yang kemudian hari menurunkan para pemimpin dan raj-raja berikut sampai nusantara menjadi satu Negara Besar Republik Indonesia tercinta.








G.   PAMATANG AMMAS


Pamatang Ammas atau yang lebih dikenal dengan Hukum Adat Kerajaan Berau bermula dengan diangkatnya Raja Berau yang pertama Baddit Dipattung yang kemudian diberi gelar Adji Suryanata Kesuma.

Saat naik tahta pertama maka raja berkatalah :
“ Adapun aku ini telah dangkita ( kalian ) jadikan Raja, maka dari itu kuminta supaya diadakan perbedaan dengan ini, Banua atau saganap rakyatku “
Maka sahut si kannik Barrau Sanifah, Kannik Saludai, orang-orang tua yang hadir dan para wakil-wakil dari lima banua dan dua rantau :
“ akan menjadi perbedaan Patik ( saya ) dan Andika ( tuan ) yaitu daratan, pinggir laut, ulu dan laut, semua menjadi hak tuanku”
Maka berkata lagi Adji Raden Suryanata Kesuma
“…..Apa lagi…?
Sahut orang-orang tua sekalin
“…Adapun pakaian Andika dan kebesaran Tuanku samasekali tidak dapat patik pakai, apa lagi isi negeri tuanku “
Maka berkata lagi Raja Adji Suryanata Kesuma kepada yang hadir mengangkatnya sebagai raja
“….Apa lagi….?
Sahut orang-orang tua sekalian
“ lamun patik mungkir tuanku perintah, andika boleh mendenda patik sekalian yang bersalah, karena tiada siapa-siapa yang dapat mendenda kecuali dari raja, selesainya dari raja.”

Apa-apa bicara semupakat dengan kepala-kepala adat dinamai  PAMATANG AMMAS, sedang keputusan musyawarah raja, kepala-kepala adat dengan persetujuan isi banua ( rakyat ) dinamai PEMUPAKATAN TANAH AIR.


Selesai *


Ditulis tahun 1986
Penulis Belum memilik buku referensi
Informan antara Lain :
1. Putri Kannik (Putri Keraton Gunung Tabbur)
2. Adji Bangsawan (Jl. P. Tendean Tanjung Redeb)
3. H. Usman Ayoef ( Jl. PD. Guna Tanjung Redeb)
4. H. Abdurachman (Sambaliung)
5. Pangian Asal (Gunung Tabbur)
    Banyak lagi yang lainnya, tidak tercatat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar