Selasa, 22 November 2016

GUA PESAI SENGUK



GUA PESAI SENGUK DI GUNUNG LONG DEM

Batu karts (pegunungan batu kapur) di pegunungan Nyapa sangat eksotis, luar biasa dan menakjubkan. Ketinggian gunungnya juga boleh bersaing, sampai 1.500 meter diatas permukaan laut. Ditambah dengan berbagai tantangan yang harus dilintasi, dengan terengan gunung sangat terjal, curam dengan batu-batu yang sangat tajam dan putus-putus. Tetapi ini adalah sebuah tantangan bagi penyuka daerah ketinggian dan ekstrim, yang harus didaki dan harus di capai. Begitu mencapai tujuan lelah, capek ketika mendaki hilang seketika.
Salah satu gunung dipegunungan Nyapa Kampung Long Lanuk Kecamatan Sambaliung Kabupaten Berau adalah gunung Long Dem. Menuju Gunung Long Dem dari kota Tanjung Redeb ditempuh selama 1 jam dengan menggunakan mobil, dari kampung Long Lanuk menuju gunung Long Dem dtempuh selama 45 menit dengan menggunakan perahu bermesin ketinting. Gunung Long Dem berada masih dihilir gunung Batu Belah yang menjorok kesungai Kelay, 20 menit lagi baru sampai disana. Kaki gunung Long Dem tidak jauh dari tepi sungai Kelay. Waw ketika mendaki, mulai dari tepi sungai Kelay samap kepuncak hutannya benar-benar masih perawan. Hutannya masih lebat, rapat dengan hiasan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, tanpa basa basi langsung mendaki. Daerah itu sangat bagus untuk obyek pengambilan gambar dan berfoto di alam terbuka bagi fotografer profesional.
Memanjat digunung Long Dem selama 1 jam 15 menit sudah sampai di muara gua PESAI SENGUK. gua tempat pemakaman manusia tempo dulu sekisar 100 sampai 400 tahun yang lalu. Di gua Pesai Senguk masih meninggalkan rumah-rumah tempat meletakkan peti mati yang disebut orang Dayak Ga'ai dengan Bleah, dan masih meninggalkan peti mati atau peti mayat yang dikenal dengan nama Kuung, serta banyak meninggalkn perkakas pertukangan, dayung atau Pesai, dan banyak peralatan lain seperti pecahan guci, pecahan botol, peralatan tempat penginangan, beberapa jenis kuningan, dan yang paling seram masih ada beberapa tengkorak kepala dan tulang paha manusia tersisa yang belum hancur dimakan waktu.
Bleah dan Kuung yang terbuat dari kayu ulin masih terlihat utuh, sedangkan Kuung yang terbuat dari kayu biasa sebagian besar sudah lapuk dimakan usia. Pada ujung Kuung ada ukiran seperti manusia menempel menyatu dengan Kuung bermotif binatang seperti monyet, uat-uat, dan naga, namanya Tiang Keeh. Tiang Keeh berfungsi untuk membawa roh mereka naik keatas. Itu semua adalah lambang atau symbol orang yang berpengaruh dan punya jabatan dikampung pada masa itu. Setelah roh sampai diatas menyatu dengan para Dewa sang pencipta.
Nama Gua Pesai Senguk berasal dari kata Pesai artinya Dayung, dan Senguk artinya Ukiran. Jadi Pesai Senguk dimaknai sebagai Dayung Ber-ukir. Dayung berukir itu diletakkan di muara gua, sebagai penunggu muara gua. Oleh karena itu nama Guanya adalah Gua Pesai Senguk.
Muara Gua Pesai Senguk tidak lebar, masuk harus merunduk, bagi yang berbadan sedikit besar harus merangkak seperti bayi dan harus hati-hati. Dilangit-langit muara gua ada stalaknid yang menjuntai menjulur seperti lidah, menutup gua. Sedikit masuk kedalam kita harus merangkak dibawah Bleah yang terbuat dari ulin, diatas bleah itu diletakkan Kuung atau peti mayat. Setelah masuk sepuluh meter kedalam gua, gua lebih luas, ruang gua lebih lebar, beberapa orang ditempat itu bisa berdiri tegak. Didalam gua itu tidak kurang ada 10 makam lungun, sebelum rusak makam lungun tersebut tersusun dengan rapi dari dalam sampai dimuara gua.
Gua Pesai Senguk adalah salah satu gua yang sempit dan kecil. Muara gua tidak tampak dari kejauhan, hanya sebongkah batu besar yang terlihat dengan jelas dari kejauhan. Dibawah bongkahan batu besar itulah muara gua Pesai Senguk berada. Yang mengagumkan dan diluar nalar manusia biasa adalah waktu mereka melakukan pemakaman diketinggian lebih 500 meter, didalam gua yang sempit, jauh, berada digunung, batu tajam, terjal, dan hutan belantara itu. Membawa balok ulin ukuran 5 x 10 centi meter panjang 1 sampai 2 meter dan papan ulin 3 x 23 centi meter panjang 2 meter yang dijadikan bahan untuk membuat rumah-rumah untuk meletakkan Kuung, kemudian mengangkut Kuung yang terbuat dari batang ulin yang ditatah dan dilubangi seperti membuat perahu kano, beratnya mencapai seratus sampai dua ratus  kilogram, dilanjutkan dengan mengangkut mayat yang sudah terbujur kaku kedalam gua, pasti dilakukan oleh orang-orang ahli dan berpengalaman, dilakukan  banyak orang dan ber hari-hari.   
Selama ratusan tahun masyarakat Dayak tidak berani masuk kedalam gua makam Lungun, menurut kepercayaan mereka sangat tabu, tidak boleh sembarangan. Karena makam lungun adalah makam para Raja, para tokoh, para orang kaya, dan orang terhormat. Makam lungun adalah makam para leluhur suku Dayak yang sangat dihormati. Orang biasa tidak dimakamkan disana, di gua, digunung yang sangat tinggi dan sulit dicapai, tetapi ditempat-tempat biasa atau ditanah.
Yang sangat menyedihkan adalah banyaknya tangan jahil dan pencuri barang antik pada decade tahun 80-an sampai tahun 90-an, mereka merusak, membalik Kuung, merobohkan bangunan Bleah,  mengambil barang para leluhur didalam Kuung, mengambil tengkorat manusia, rambut dan lain-lain. Untunglah masih ada yang tersisa, walaupun tidak banyak lagi. Kita doakan saja mereka para pencuri tersebut semoga dilaknak oleh Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah merusak dan mencuri barang peninggalan, dan tengkorak mayat didalam Lungun tersebut. Para pencuri itu tidak sedikitpun ada rasa hormat atau  menghormati makam para leluhur yang ada di liang, gua dan lain-lain. Kalau mereka tidak mencurinya, tentu sampai saat ini masih dapat kita saksikan seluruh isi gua Makam Lungun beserta barang-barang antiknya. Para penjarah dan pencuri itu adalah orang dari luar kampung, untuk kepentingan sesaat, untuk mendapatkan uang yang tidak seberapa rela mengambil dan merusak makam Lungun yang seharusnya diabadikan sepanjang jaman. Tempat itu (Makam Lungun) bisa dijadikan tempat penelitian, penelusuran sejarah, pembuktian kemajuan dunia pertukangan, kemajuan ekonomi, ilmu pengetahuan  yang didukung dengan gunung karts yang eksotik, dan hutan yang tumbuh di batu-batu karts.
Peninggalan yang tersisa harus kita jaga bersama, kita rawat bersama, kita populerkan bersama. Kita juga bangga memiliki Makam Lungun atau makam dalam gua nenek moyang tempo dulu. Apabila ada pencurian lagi segera laporkan kepada yang berwajib dalam hal ini Polisi Republik Indonesia, agar pelakunya dihukum seberat-beratnya karena sudah melanggar Undang-Undang Republik Indonesia No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Kampung Long Lanuk sebagai pemilik wilayah terdekat berkewajiban menjaga dan melestarikan wilayah Pegunungan Nyapa sebaik mungkin dengan didukung oleh seluruh masyarakat Kabupaten Berua.
Sejarah Berau membuktikn bahwa manusia yang tinggal dan mendiami wilayah Berau sudah memiliki peradaban yang sangat maju. Mendiami wilayah ini dengan peradaban yang sudah maju sejak 500 tahun yang lalu, dibuktikan dengan penggunaan alat perkakas pertukangan yang mereka miliki untuk membelah dan menatah (menarah) kayu ulin yang sangat kuat dan keras. Dan melubangi balok-balok ulin itu untuk menyatukan rangkaian bentuk rumah didalam gua yang sempit dan tinggi diatas gunung batu tajam dan terjal. Belum ada bukti ditempat itu mereka menggunakan paku atau sejenisnya untuk menyatukan rangkaian rumah Bleah tempat Kuung diletakkan.
Sebelum berdirinya kerajaan Berau pada tahun 1400 atau sekitar 600 ratus tahun lalu dapat dipastikan ditepi-tepi sungai Kelay dan tepi sungai Segah dan anak-anak sungainya sudah didiami manusia yang kita kenal dengan suku Dayak, kemudian pada masa pemerintahan kerajaan Sriwijaya (Melayu) menyebarkan orang-orangnya diseluruh wilayah kekuasaan, termasuk diwilayah Berayu. Setelah Kerajaan Sriwijaya runtuh, Orang-orang Melayu tersebut dikemudian hari mendirikan pemerintahan sendiri yang merdeka dan berdaulat, termasuk mendirikan Kerajaan Berayu atau Kerajaan Berau di sungai Lati dengan raja pertamanya Adji Soerya Natakesoema.
Sedangkan peninggalan sejarah lainnya yg lebih tua adalah Gambar Cadas, gambar telapak tangan dan gambar binatang yang ditinggalkan manusia lebih 10.000 tahun yang lalu di gua Beloyot dan gua Abu di Kampung Merabu Kecamatan Kelay Kabupaten Berau dan beberapa gua di wilayah Bengalon Kabupaten Kutai Timur. Aku terus terang semakin mengenal Kabupaten Berau lebih dalam, aku semakin cinta dengan daerah ini. Mari kita berdoa dengan dibukanya Destinasi Wisata Sejarah Makam Lungun dipegunungan Nyapa ini menjadikan masyarakat Berau semakin Bangga terhadap daerahnya dan mampu mensejahterakan masyarakat sekitarnya. Amin…..
Ayo Tamasya Ke Kampung Long Lanuk, menelusuri sungai Kelay sampai ke Gua Lungun di Gua Petau dan Gua Pesai Senguk di Pegunungan Nyapa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar