Sabtu, 05 September 2015

LEGENDA PANGERAN ULOK



PANGERAN ULOK

DARI

TELUK ALU-ALU







SAPRUDIN ITHUR

Tersebutlah sebuah pulau yang indah dan permai, pulau indah itu jauh sekali dari daratan. Pesisir pantainya terdiri dari hamparan pasir putih dan sebagian lagi terdiri dari hamparan batu karang yang kuat dan kokoh. Pulau itu sudah dikenal diseluruh dunia, namanya Pulau Maratua.
Bentuk Pulau Maratua hampir mirip dengan hurup “U”. Daratannya berbukit-bukit oleh batu karang yang ditumbuhi pohon-pohon besar yang kokoh. Bukit-bukit itu banyak lubang yang membentuk gua-gua yang curam dan terjal. Didalam gua-gua itu menjadi tempat tinggal kalong, kelelawar dan burung wallet.
            Maka  tersebutlah pada zaman dahulu ribuan tahun yang lalu di Pulau Maratua sebuah kerajaan yang sangat terkenal yaitu kerajaan Teluk Alu-Alu. Kerajaan Teluk Alu-Alu ini sangat kaya, banyak memiliki  emas permata yang menjadi perhiasan. Tak kurang pula yang disimpan oleh raja dan permaisuri. Didalam istana kerajaan Telu Alu-Alu gemerlapan oleh emas, intan, berlian dan zamrut. Istananya indah, seindah dan secantik permaisuri yang mendampingi raja Teluk Alu-Alu. Sedangkan untuk menghibur baginda raja, raja didamping dengan puluhan selir yang juga cantik-cantik. Selir-selir itu adalah wanita pilihan baginda raja dan ada juga hantaran persahabatan dari kerajaan sahabat. Selir-selir itu selalu menyenangkan dan menghibur raja dikala santai dan senggang. Sedangkan makhkota raja berkilauan terbuat dari emas bertatahkan  intan dan berlian, sedangkan depan tengah terlihat batu giok yang sangat mewah. Kalau dikenakan oleh baginda raja silau mata melihatnya oleh cahaya yang dikeluarkan oleh permata yang tertanam di makhkota itu. Kalau sudah dikenakan, raja menjadi sangat berwibawa. Bukan main gagahnya ketika baginda raja mengenakan makhkotanya.
            Hanya sayang gemerlapnya emas permata itu hanya ada dalam istana, sedang diluar sana rakyat dalam keadaan menderita, miskin papa tidak punya apa-apa.
Mengapa demikian ?
Rakyat kecil ditindas dan diperas tenaganya seperti sapi perahan oleh para pembesar kerajaan yang harus mengikuti perintah rajanya. Raja serakah, raja monopoli segala-galanya. Semua penghasilan rakyat ditarik kekerajaan untuk kemewahan istana, raja bersenang-senang dengan kekayaannya bersama dengan selir selir yang cantik-cantik itu. Sedangkan dimalam hari raja seringkali mengundang orang-orang kaya untuk bermain judi dan minum-minum sampai mabok.
Begitulah keadaan istana dan kerajaan Teluk Alu-Alu, yang nampak dari luar mewah dan megah, ternyata didalamnya sangat buruk dan bejat moralnya, tidak pernah perduli dengan keadaan rakyat disekelilingnya yang miskin tidak punya apa-apa dan tidak berdaya.
            Raja Teluk Alu-Alu mempunyai seorang anak laki-laki si Ulok namanya, bergelar Pangeran Ulok. Pangeran Ulok sangat jauh perangainya dengan ayahnya baginda raja Teluk Alu-Alu, ia sangat baik, rendah hati, mudah mengerti keadaan, perasaan dan selalu iba melihat ketidak adilan, suka menolong rakyatnya yang lemah dan tidak mampu. Sedikitpun Pangeran Ulok tidak berkeinginan berbuat semena-mena menyakiti rakyatnya.
Namun segala gerak geriknya selalu diawasi dengan ketat oleh para pengawalnya, ruang lingkup pergaulannya juga sangat dibatasi. Pangeran Ulok tidak boleh keluar dengan bebas bergaul dengan rakyatnya, apalagi bergaul dengan rakyat jelata yang miskin tidak berdaya. Yah….begitulah namanya juga anak raja, seorang Pangeran yang sejak kecil sudah dipersiapkan untuk menjadi orang terhormat di kerajaan. Dan pada saatnya nanti menggantikan ayahandanya menjadi raja Teluk Alu-Alu.
Pangeran keluar dari istana, dapat bebas kesana kemari tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya, ia keluar dengan mencuri-curi. Barulah Pangeran bisa bergaul bebas dengan rakyatnya yang dikunjunginya. Semua rakyat yang ditemui suka padanya, Pangeran Ulok seolah-olah jadi pengobat kekesalan dan kebencian rakyat kepada raja dan para pembesar kerajaan. Untuk kalian ketahui kebencian rakyat kepada raja sudah sangat lama, semenjak raja mereka berubah menjadi rakus, tamak, serakah, kejam dan semena-mena kepada rakyatnya. Namun kebencian itu hanya dipendam dalam-dalam, tidak ada lagi tempat mengadu, tidak ada lagi tempat mencurahkan segala macam persoalan. Semua menjadi buntu, hubungan rakyat dengan istana semakin jauh……kemewahan istana dengan keadaan rakyatnya sangat jauh berbeda, seperti bumi dan langit.
Pangeran Ulok dikenal sangat pandai, selain itu orangnya tampan, pandai berbicara dan setiap kata-kata mengandung makna yang dalam, berwibawa pula. Walaupun perangainya sebaik itu, Pangeran Ulok belum pernah mendapat kepercayaan dari baginda raja, padahal ingin sekali mendapat tugas kepercayaan dari ayahnya untuk pergi dan berhadapan langsung dengan rakyatnya. Agar ia lebih banyak tahu keadaan rakyat yang sebenarnya, tidak seperti sekarang ini hanya sembunyi-sembunyi untuk melihat dan bergaul dengan rakyatnya. Kalau ketahuan atau ada yang sirik dan melaporkan, Pangeran Ulok pasti mendapat hukuman dari baginda raja.
Pada suatu hari terjadi suatu kejutan yang luar biasa dan sangat menarik perhatian seluruh rakyat kerajaan Teluk Alu-Alu. Sedangkan para pembesar kerajaan saja ikut terheran-heran atas keputusan raja, keputusan yang tidak masuk akal. yaitu perihal yang dulu telah diikrarkan bersama sebagai rahasia negara, rahasia kerajaan, ternyata dengan tidak diduga-duga meledak dan terbongkar.

Ketika matahari telah terik memanasi bumi tercinta, muncullah beberapa hulu balang kerajaan bersama dua orang algojo, menyeret seorang terhukum yang sudah babak belur wajahnya dipukuli, sekujur tubuh dan wajahnya lebam-lebam sedang dimulut dan beberapa bagian kepalanya mengeluarkan darah segar. Lelaki itu melangkah dengan berat, sudah hampir tidak mampu lagi mengangkat kaki, badan remuk, lemas tak berdaya. Diseret paksa oleh beberapa hulubalang. Sedangkan kesalahannya belum bisa dibuktikan kebenarannya. Betapa malang nasib orang itu, kesalahan yang tak setimpal harus menyeretnya kedalam jerat hukum yang sadis dan kejam. Tidak setimpal kesalahannya dengan hukuman yang bakal diterimanya. Melihat kejadian itu Pangeran Ulok merasa harus berbuat sesuatu, ia tidak tega melihat orang yang disiksa dan dihukum dengan kesalahan yang tidak setimpal. Pangeran Ulok merasa keberatan atas keputusan ayahnya baginda raja Teluk Alu-Alu.
Saat-saat yang sangat menegangkan, ketika menjelang terhukum dihukum gantung pada tiang gantungan, saat kepala lelaki yang tidak berdaya itu hendak dijerat dengan tali yang tersedia ditiang gantungan. Pangeran Ulok dengan gagah berani muncul dari keramaian penonton yang sedang menyaksikan hukuman gantung itu. Pangeran Ulok tahu persis kesalahan orang yang akan dihukum gantung itu, kesalahan memang tidak sepantasnya harus dihukum gantung. Tapi karena baginda raja ingin memperlihatkan kewibawaan dan kekuasaannya, maka hukuman harus dilaksanakan agar rakyatnya tidak ada lagi yang berani berbuat macam-macam dikerajaannya. Pangeran Ulok lansung ketengah alun-alun menghadap baginda raja. Terlihat dari kejauhan terjadi perdebatan antara pangeran dan baginda raja. Kedua bersitegang saling mempertahankan pendapatnya, pertengkaran didengar dengan jelas oleh semua yang hadir ditengah alu-alun itu. Semua yang hadir diam, tegang mendengarkan pertengkaran itu kedua beranak itu “ algojo hentikan, jangan digantung orang itu !!!“ teriak Pangeran Ulok memerintah algojo yang sudah siap menggantung terpidana. Mata semua orang mengarah ketiang gantungan, kemudian beralih kembali kepertengakaran antara anak dan ayah itu. Semua yang hadir ingi tahu siapa sebagai pemenang dalam adu argumentasi itu. Ulok tetap pada pendiriannya meminta raja untuk tidak menghukum gantung lelaki itu. Sedangkan raja ingin segera melaksanakan hukuman itu, agar rakyatnya tida berani lagi berbuat kesalahan sekecil apapun.
Dengan bukti-bukti yang terang benderang, jelas dan nyata yang melemahkan hukuman gantung itu, akhirnya Pangeran Ulok tampil sebagai pemenangnya. Dan lelaki yang sudah siap digantung itu terlepas dan bersih dari jerat hukum, bebas tanpa syarat. Mendengar lelaki itu dibebaskan ramailah suara penonton yang hadir mengelilingi tiang gantungan. Mereka bersorak sorai dan mengelu-elukan Pangeran Ulok “ hidup Pangeran Ulok…..hidup Pangeran Ulok….hidup Pangeran Ulok” teriak penonton gegap gempita.
Putusan sudah berakhir, sedangkan lelaki itu sudah dibebaskan. Lelaki yang dibebaskan itu langsung lari dengan kencang meninggalkan tempat ia berada, lari dengan bahagia, namun membawa ketakutan dan trauma yang mendalam. Orang itu lari sejauh mungkin entah sudah sampai dimana. Rakyat  Teluk Alu-Alu sedari tadi masih enggan meninggalkan tempatnya masing-masing, menunggu keputusan raja berikutnya. Tidak lama berselang, baginda raja yang sempat dipermalukan oleh anaknya itu, berdiri dan sangat marah. Seorang raja dipermalukkan dihadapan rakyatnya, wajahnya merah padam menahan  amarah.
“ Hei Pangeran busuk !!!”  ucap raja dengan marah dan berkacak pinggang, matanya liar melotot seperti mau keluar…sembari menghentakkan kakinya kelantai dengan kuat. Suasana ditempat itu kembali menjadi tegang dan senyap. Apakah yang akan terjadi berikutnya….semua masih menunggu episot lanjutan. “ kalau kau mau tahu, aku ini bukanlah ayahmu sebenarnya….kamu hanyalah seorang yang aku dapatkan ditengah hutan….sebab aku kasihan kepadamu, kamu aku angkat menjadi anakku seperti sekarang ini”
Semua yang mendengar kaget\, matanya semua terbelalak, semuanya terkejut, baru mengetahui siapa sebenarnya Pangeran Ulok yang mereka sayangi dan kagumi itu. Rahasiapun terbongkar yang sudah sekian lama disimpan dengan rapi dan aman. Hanya karena amarah  seorang manusia yang akhirnya semakin membuka kekurangan dan kelemahannya sendiri. Berbagai tanggapan yang muncul dari hadirin yang hadir. Ada  yang mencibirkan bibir kepada si Ulok yang mereka anggap orang yang tidak tahu diuntung, orang yang tidak tahu membalas budi. Ada juga yang sebaliknya memuji keberanian Pangeran Ulok yang berani membela rakyatnya, walaupun akkhirnya dirinya sendiri yang harus menjadi korban. “ pantas saja perangainya tidak sama dengan perangai raja kita” bisik beberapa orang kepada yang lain. “Hei hati-hati kau bicara…… “ tegur seorang tua kepada yang lainnya.
“ mangkanya Pangeran gagah dan tampan serta baik hati…..sebab bukan putra baginda siiiih” sambung yang lainnya.
“Hei kalian tahukah…….mungkin saja Pangeran Ulok itu titisan Dewa dari langit” bisik seorang nenek kepada orang disekitar itu.
“ nyaman-nyamanya talla jadi Pangiran….mangka digawainya lakunya damitu….” Ucap seorang perempuan dengan bahasa Barrau. Orang disekitarnya cekikikan tertawa mendengar perempuan yang berbahasa Barrau itu. “huuuu” gumam orang disekelilingnya.
“ Hei hulubalang, tangkap si Ulok yang tak tahu diuntung itu….buang dia ketengah lautan…biar dia rasakan……” perintah baginda raja kepada beberapa hulubalang yang ada didekatnya.
“ siap laksanakan baginda raja “ ucap hulubalng bersamaan. Dan langsung melaksanakan perintah rajanya.
Para pembesar kerajaan yang biasa juga kejam, saat ini kaget saling pandang, masing-masing keheranan, ada yang mengusap-usap muka, ada yang mengelus-elus dada, mereka prihatin dan iba, kalau salah-salah mereka bisa jadi korban seperti Pangeran Ulok. Anak raja sendiri saja jadi korban apalagi kita-kita. Harus hati-hati, harus pandai-pandai mencuri perhatian baginda raja.
Apa hendak dikata ucapan raja adalah sama dengan perintah raja, perintah adalah keputusan raja. Tidak dapat diulur atau dirubah lagi, apa lagi perintah raja didengar oleh semua orang yang hadir, didengar rakyat banyak. Tidak mungkin raja mau dipermalukan yang kedua kali dalam waktu yang sama. Pangeran langsung ditangkap dan dibawa keruang tahanan sebelum dibuang ketengah lautan.
“ Keputusan gila-gilaan baginda raja saja itu…karena merasa dipermalukan oleh si Ulok” salah satu pemuda lajang berucap lalu memalingkan muka seolah menjadi pembela pemuda….tidak setuju atas penangkapan Pangeran Ulok. Walaupun suaranya hanya terbatas disekitar mereka saja.
“ Husss !! jangan bicara macam-macam….jaga mulutmu, kalau kedengaran…bisa-bisa kamu jadi pengganti ditiang gantungan itu…..” seseorang dari arah belakang mengingatkan si Ali yang dianggapnya terlalu berani berkata-kata seperti itu sembari menunjuk tiang gantungan. Amarah si Ali langsung kendor setelah mendengar kata tiang gantungan. Dan badannya langsung jadi panas dingin.
“ Kasihan nasib Pangeran……..sungguh malang sekali dia “
Semua yang hadir ditengah lapang itu iba melihat nasib Pangeran yang mereka cintai. Pangeran pula yang sering datang menolong mereka yang lemah dan dalam kesulitan. Pangeran Ulok banyak sekali mengetahui penderitaan rakyatnya, oleh karena itu ia sering datang memberi motivasi dan semangat, agar terus berjuang melawan kesulitan dan kesengsaraan hidup.
Melihat Pangeran diseret beberapa orang hulubalang, beberapa orang gadis dan ibu-ibu menangis terisak-isak, mereka turut bersedih.
            Dilain tempat, permaisuri tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya bisa beberapa kali mengelus dada, jantungnya berdetak cepat, jari-jari tangan bergetaran, badannya jadi lemas, sedang matanya berkunang-kunang, setelah mendengar putusan dan sekaligus perintah raja. Ia tidak mampu berbuat apa-apa, ingin menyampaikan sesuatu agar putra diringankan hukumannya itu tidak mungkin. Matanya saja yang nanar menatap putra yang sangat disayanginya itu dibawa pergi. Air mata ibu suri tidak terasa meleleh dan jatuh satu persatu. Ketika menangis seperti itu nampak sudah kelihatan raut mukanya yang sudah dimakan tua. Ibu-ibu pejabat negeri dan ibu-ibu yang lain melihat permaisuri menangis, air mata mereka juga jatuh berderai membasahi pipi mereka yang selalu terawat. Mereka sedih semua, namun tidak ada yang berani menyampaikan apapun kepada baginda raja yang sedang kesal dan sangat marah itu.
            Ibu suri dan baginda raja sebenarnya sudah berusia lima puluhan, rambut keduanya sudah berwarna, lebih banyak putihnya dari yang hitam, tapi perangai baginda raja belum juga berubah, masih seperti waktu dia muda dulu. Padahal yang sering jadi pikiran mereka berdua, terutama permaisuri adalah mengenai anak, sebab sampai setua itu belum juga mempunyai anak kandung sendiri, sekarang raja sudah tua dan nanti pasti harus diganti oleh keturunannya, namu apa daya Tuhan Yang Maha Esa belum memberikannya. Artinya sebagai penyambung keturunan putuslah sampai disitu. Tambah lagi si Ulok satu-satunya tumpahan jiwa belahan hati, sebagai harapan masa depan mereka telah pudar dari hadapan permaisuri. Habislah sudah angan dan harapan sampai disitu saja. Seharusnya Pangeran Ulok itulah sebagai pengganti dan sekaligus penerus, namun baginda raja sudah membuka rahasia yang selama ini tertutup dengan rapat.
“ apa boleh buat…..sudah suratan seperti ini “
Desah permaisuri dalam dan panjang.
Permaisuri dengan dipapah oleh dayang-dayang lansung dibawa ketempat peristirahan, dibaringkan disana. Mata lebam, matanya mengambang, pikirannya melayang-layang jauh keangkasa membayangkan yang bukan-bukan. Sedang air matanya semakin deras mengalir, membasahi bantal diperaduan yang harum bunga mawar. Entahlah……kesedihan dan kesedihan semakin menekan dan menghunjam dalam-dalam dilubuk hatinya yang paling dalam.
           
Dilain tempat ditengah lautan sana, setelah beberapa jam mereka berlayar, sudah tidak kelihatan lagi daratan atau pulau-pulau. Para hulubalang yang mendapat tugas penting dari baginda raja sudah bersiap-siap untuk menurunkan dan melepas pemuda tampan Pangeran Ulok. Sejak diusir oleh baginda raja Pangeran Ulok sudah dicabut haknya sebagai Pangeran, sekarang namanya ya si Ulok saja.
Apa yang mereka lakukan terhadap si Ulok, mereka bercakap-cakap seperti biasa, solah-olah tidak terjadi masalah yang begitu besar. Hulubalang yang bertugas, anak buah kapal layar yang membawanya ketengah laut berdiskusi seperti biasa yang dilakukan si Ulok apabila bertemu dengan pel;aut-pelaut ulung itu. Mereka sangat akrab. Rakit kecil terbuat dari bambu yang sudah disiapkan oleh anak buah kapal diturunkan lengkap dengan persediaan makanan untuk beberapa hari. Rakit itu dilengkapi dengan dayung dan tanggar. Apa yang disiapkan mereka itu jelas tidak diketahui oleh raja, itu inisiatif mereka sendiri. Mereka berpikir tidak mungkin orang yang mereka hormati seperti si Ulok dilepas atau dilarung begitu saja dilaut. Itu namanya penyiksaan dan pembunuhan yang tidak bisa dimaafkan. Apapun yang terjadi si Ulok adalah manusia juga dan pernah menjadi Pangeran si Kerajaan Teluk Alu-Alu di pulau Maratua yang indah itu.
Diperkiran rakit yang disiapkan itu tahan untuk beberapa minggu di laut dan mampu menahan terjangan ombak dan tidak akan tenggelam serta mampu membawa si Ulok kemanapun bahkan sampai ketepi pantai manapun.
            Sang Pangeran turun kerakit. Eh..ternyata mereka saling bersalaman dan berpelukan melepaskan kepergian Sang Pangeran untuk selama-lamanya. Mereka semua yang melepaskan si Ulok ditengah lautan yang tanpa ujung itu sudah yakin Pangeran mereka tidak akan mampu bertahan walaupun dengan persiapan makanan yang mereka beri, dan mereka semua yakin mereka tidak akan bertemu lagi dengan seorang pemuda tampan dan baik hatinya itu. Mereka sangat haru dan sedih. Yaaaahhhh…..muka-muka garang para hulubalang itu tidak seganas hatinya. Perasaannya mereka juga sama seperti kita-kita lembut dan penyayang. Beberapa hulubalang menangis terisak-isak, bahkan air matanya sampai membasahi kumis-kumis mereka yang tebal. Perasaan mereka luluh melihat Pangeran mereka yang hanya karena membela rakyatnya yang tidak bersalah, dia harus menjadi korban dibuang ditengah laut seperti ini. Hati mereka luluh terbawa perasaan masing-masing.
“ Pangeran…Pangeran…memang sudah suratan takdir, semua ini harus kau terima dengan iklas dan sabar” kata terakhir dan sebagai perpisahan dari kapten kapal. Si Ulok menganggukkan kepala dan katanya sambil melambaikan tangan
“Terima kasih kapten…..terima kasih semua…selamat jalan…selamat berpisah….semoga kita masih dipertemukan….” Senyum Pangeran Ulok masih terlihat dari kejauhan, sedangkan kapal layar itu bergerak cepat meninggalkanya ditengah lautan biru yang tanpa batas itu. Senyum si Ulok itu sebagai senyum terakhir yang mereka lihat….dan tidak akan melihatnya lagi. Selamat tinggal Pangeran…semoga kau mampu bertahan……

            Dua hari sudah si Ulok terapung-apung ditengah lautan nan maha luas itu, entah berapa jauh rakitnya bergerak meninggalkan tempatnya semula. Rakit itu seperti tidak bergerak kemana-mana, hanya arus air laut yang kencang membawanya. Pada penghujung hari kedua langit berubah secara tiba-tiba dan ekstrim. Cuaca yang tadi terang itu kemudian menjadi gelap, awan hitam dengan sempurna sudah menutupi semua langit diatas si Ulok. Kilat yang awalnya jauh dan pendek-pendek, kini kilat itu mendekat menyambar-nyambar seperti ingin menelan si Ulok. Suara petir yang menyambar-nyambar keras sekali, memekakkan dinding telinga. Beberapa kali si Ulok harus menutup telinganya untuk menahan kerasnya hantaman suara petir itu. “ apa yang bakal terjadi….aku harus bersiap-siap…apapun yang terjadi aku harus kuat….aku harus tetap bertahan di rakit ini”
Haluan rakit yang sulit diatur itu coba dikendalikan dengan dayung seadanya. Tidak lama  kemudia angin kencang datang, ombak besarpun mulai bergulung-gulung. Awalnya rakit si Ulok masih bisa dikendalikan. Si Ulok masih bisa tersenyum, namun lama-lama tenaga mudanya mulai terkuras. Disamping ia harus mengatur rakitnya agar tidak pecah berhamburan dihantam obak besar, ia juga menahan badannya agar tidak terpental dari atas rakitnya, ia juga menahan angin yang sangat kencang yang menampar tubuhnya yang sudah basah kuyup itu. Sudah anginnya kencang yang tidak bersahabat, ombak bergulung-gulung menghantam rakitnya juga, ditambah lagi hujan lebat dengan bulirnya yang besar-besar. Bulir-bulir hujan menyakitkan wajah dan mata si Ulok, mash ada lagi yang menakutkan yaitu kilat dan petir yang sambar menyambar dengan suaranya yang sangat keras menakutkan dan memekakkan telinga itu.
Cuaca ekstrim itu dari sore sampai tengah malam masih juga belum reda. Sekian jam lamanya si Ulok berjuang untuk mengimbangi keadaan yang sangat menguras tenaganya, dengan semampunya untuk mempertahankan dirinya agar tetap kuat. Aku harus bertahan….aku harus kuat…aku harus tetap hidup…
Sehebat dan sekuat apapun tenaganya, tenaga manusia pasti ada batasnya. Akhir tenaga si ulok semakin habis dan lemah, sedangkan perutnya semakin sakit dan semakin mual, kepalanya pening dan matanya berkunang-kunang dan limbung. Gelap gulita masih juga tak kunjung hilang. Perahu rakit itu tidak menentu arahnya, tidak ada lagi yang mengendalikan. Ombak, angin kencang, hujan deras yang bercampur dengan suara petir tidak juga kunjung berhenti. Ombak besar masih menghantam rakit itu.
Menjelang pagi Pangeran Ulok rubuh, kekuatannya sudah habis…habis sekali…ia sudah tidak berdaya lagi….ia pingsan…ia lupa segalanya. Yang terjadi kemudian biarlah terjadi dengan sendirinya, biarlah alam yang bicara, biarlah langit dan lautan sebagai saksinya. Sang Pangeran yang selalu tegar itu sudah pingsan dan tak berdaya lagi, badannya basah kuyup oleh siraman air laut yang masin, dayung ditangannya sudah terlempar jauh dari rakitnya, makanan yang masih ada habis disapu oleh ganasnya ombak laut. Ombak itu masih belum mau reda, ombak dan hujan deras itu masih belum mau berhenti. Ombak, angin kencang, dan hujan deras itu tidak mau dikalahkan oleh seorang pemuda yang berasal dari Pulau Maratua.
Dan akkkkhhhhh………..
Oleh hantaman ombak yang memecah itu, tali-tali pengikat rakit yang terbuat dari kumpulan bambu besar itu putus. Bambu yang tadinya menyatu dengan kuat terpisah dan berhamburan. Si Ulok terlempar oleh kerasnya hantaman gelombang….dan…………..hilang ditelan laut, pergi jauh mengikuti geraknya gelombang.
Dihimpit pekat hitam, diseret ombak bergulung, diterjang angin yang kencang, dihunjam derasnya hujan, dan entahlah………
Ketika matahari baru mulai muncul diupuk timur, cahaya kemerahan membias kelangit menembus awan yang malas pergi. Sedangkan air laut yang sudah tenang itu menyambut hadirnya matahari, membiarkan kilaunya disinari matahari, membuat mata menjadi perih memandangnya, tapi tidak apa-apa, itu adalah pemandangan yang harus dinikmati sebagai penyembuh sakit yang bertahun, sebagai penghibur lara dan kebosanan. Nikmatilah suasana matahari terbit itu, ia adalah pengobat kerinduan yang paling mutahir. Sekali lagi….nikmatilah dengan rilek dan nyaman……
Tidak jauh dari tempat itu, terlihat sekelompok penyu hijau dan lumba-lumba yang bersahabat, mereka sudah lama saling menghormati dan saling menghargai satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kelompok penyu dan kelompok lumba-lumba adalah binatang laut kesayangan. Penyu hidup dilaut bebas, tapi setiap bertelur dia naik kedarat. Dipasrr pantai itu dia bertelur dan mebiarkan telurnya sampai menetas, dan anak-anaknya yang dikenal dengan nama tukik itu keluar dan berhamburan turun kelaut dan langsung berenang. Anak-anak penyu itu langsung pandai berenang. Sedangkan lumba-lumba suka menghibur. Ditengah lautan yang maha luas itu lumba-lumba melompat-lompat keudara, menari-nari memperlihatkan ke-elokan tubuhnya…waw laut jadi ceria bersama kelompok lumba-lumba yang indah dan lucu-lucu.  
Kelompok penyu dan kelompok lumba-lumba sepakat untuk hidup selalu berdampingan dan perinsip bersatu kita teguh bercerai kita runtuh menjadi pegangan hidup kelompok makhluk yang hidup sudah jutaan tahun dilaut itu. Kalau ada yang berbuat salah mereka hukum dengan dikucilkan dari kelompoknya, kalau sudah berubah diterima kembali dalam kelompok itu. Tujuanya adalah agar yang berbuat salah menjadi baik dan tidak mengulangi lagi, sedangkan yang selalu bebuat baik dijadikan contoh dan tauladan. Keputusan-keputusan penting mereka serahkan kepada yang cerdik dan pandai, mereka mampu berpikir lebih arif, bijaksana agar membawa kebaikan kesemua dalam kelompok mereka.
            Dahulu kebuasan ikan hiu tidak kepalang hebatnya. Hiu tidak pandang kawan atau lawan, apabila hiu sudah lapar, apabila hiu ingin memangsanya apa saja yang didapat langsung dijadikan santapannya. Tidak perduli itu anak siapa, keturunan dari mana yang penting perutnya kenyang. Oleh karena itu penyu dan lumba-lumba sepakat untuk membasmi kejahatan dimuka bumi dan menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Sejak itulah hiu tidak semena-mena lagi memangsa anak lumba-lumba dan anak penyu. Anaknya sejak kecil sudah dilatih agar pandai bersembunyi disela-sela batu atau masuk kedalam terumbu karang, dengan demikian ia aman dari predator yang ganas dan selalu merasa lapar. Begitulah kehidupan bangsa penyu dan lumba-lumba dilautan dan pesisir pantai.
            Menjelang matahari terbit itu, sekumpulan penyu dan lumba-lumba ribut dan sibuk. Mereka menemukan sesuatu ditengah laut. Dan langsung mengangkatnya kepermukaan laut. Beberapa ekor penyu yang besar itu bergantian mengangkat dan mengapungkan benda yang mereka tolong. Yang mereka tolong sekarang adalah seorang manusia yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba sudah ada dan tenggelam ditengah lautan yang sangat dalam. Penyu dan lumba-lumba tahu manusia tidak mampu bertahan lama dalam air, maka dengan cara yang mereka lakukan itulah cara yang paling benar.  Penyu yang besar bergantian mengangkat tubuh manusia itu agar tetap terapung, sedangkan di kaki kiri kanan penyu besar bersiaga lumba-lumba dan penyu lainya. Mereka mejaga agar manusia diatas punggung penyu besar itu tetap seimbang dan apabila manusia itu terguling dari punggung penyu raksasa, mereka siap menyangganya. Kejadian yang sangat menakjubkan dan luar biasa itu tidak terlalu lama. Gotong  royong yang mereka lakukan berjalan dengan mulus. Akhirnya mereka sampai ketepi pantai, namun pesisir tepi pantai itu penuh dengan batu karang yang tajam dan terjal. Mereka harus bergerak lebih jauh ke utara memilih bibir pantai yang berpasir. Agar manusia yang masih tidak berdaya itu tidak tertusuk dan dilukai oleh karang dan tiram yang tajam. Daratan itu kemudian dikenal dengan nama Tanjung Mangkaliat adalah salah satu tanjung yang sangat jauh menjorok kelaut. Tanjung Mangkaliat adalah tangan kucing di Borneo.
            Air yang pasang, mulai surut. Lumba-lumba sudah lebih dahulu menyingkir lebih kelaut, memilih tempat yang lebih dalam, sedangkan penya besar diam disana menunggu air sampai kering. Ketika air laut sudah kering dan seluruh tubuh penyu besar itu terlihat semua, maka badannya yang besar itu sedikit digerakkannya dan…….tubuh manusia yang ada diatas  punggung terguling. Penyu besar itu lalu bergerak meninggalkan pantai dan kemabali kelaut berenang dengan bebasnya.
Siapa manusia yang mereka tolong itu ? manusia yang ditolong oleh lumba-lumba dan penyu yang baik hati itu adalah Pangeran Ulok.
Sinar matahari siang yang sangat terik, membuat Pangeran muda itu tersadar dari pingsannya yang panjang. Ia ingin teriak sekeras-kerasnya, agar secepatnya ada orang yang mengetahui dirinya, tapi tidak bisa ia lakukan. Sekujur tubuhnya lunglai tidak berdaya, badannya belum bisa digerakkan. Tubuh si Ulok masih kaku, urat dan ototnya belum berpungsi sedia kala. Sekali, dua kali ia mencoba membuka mata…..matanyapun belum terbuka, tapi ia sudah sadar dan ia sadar dengan keadaannya sekarang. Matanya masih rapat. Dan datang ombak kecil yang sampai membasahi kembali tubuhnya……biuuuurrrrr. Tubuhnya sedikit bergeser kekiri. Ia tersentak dan langsung sepontan duduk diatas pasir putih Tanjung Mangkaliat itu. Dikedalaman air laut yang tidak seberapa jauh dari tempatnya, rombongan penolong masih belum pergi, masih menunggu sampai yang ditolongnya sadar. Melihat penyu dan lumba-lumba yang timbul tenggelam itu sang Pangeran tanpa sadar mengangkat tangannya…dan melambai-lambai “ terima kasih kawan …..terima kasih atas pertolongan kalian” teriaknya kepada lumba-lumba dan penyu. Binatang laut yang baik itu seperti mengerti, dengan menyemburkan air keudara lumba-lumba dan penyupun pergi meninggalkan tempat itu.
Sedangkan si Ulok yang sendirian matanya berkunang-kunang, limbung dan rubuh pingsan  kembali. Kelelahan yang luar biasa. Lapar sudah melilit perutnya, dahaga yang mencengkeram tenggorokannya, membuat Pangeran dari kerajaan Teluk Alu-Alu kembali tidak sadarkan diri. Dalam mimpinya si Ulok melihat keindahan alam yang begitu moleknya. Awalnya cahaya hitam, kemudian kemerahan dan lanjut warna putih dan selanjutnya nampaklah keindahan yang luar biasa menakjubkan. Ia tidak mampu membayangkan keindahan alam semesta itu. Pohon-pohon tertata rapi, bunga-bunga berkembang dengan puluhan warna-warni menghampar sejauh mata memandang, rumput hijau bergelombang gelombang di injak lembut seperti permadani, sungai-sungai dengan airnya yang bening mengalir dengan segala keteraturannya, langit seperti pelangi yang berlapis-lapis, ketika malam bulan datang menghampiri Ulok kemudian membawanya pergi berkeliling dunia, ketika siang matahari dengan sinarnya yang memancar menerangi si Ulok yang selalu berbahagia, orang-orang datang bernyanyi dan kemudian mengangkat tinggi-tinggi si Ulok. Dan…..akh indah sekali….bahagia sekali……………
           
Entah malam atau siang si ulok tidak tahu persis ia lupa kejadian itu sampai sekarang. Muka coreng moreng mengerikan tampil dihadapannya dan sembari bergumam membaca mantera-mantera ……. Hea….hea…..hea……biu…..biu…..biu…..wuu…..wuu…..wuu….. begitu sebagian bisikan itu terdengar tidak jelas kalimatnya…yah hanya seperti bergumam saja. Matanya tajam, bibir komat-kamit, sedang jari jemarinya bergeridik bergetar seperti menarik hawa dingin yang tinggal dalam tubuh Pangeran Ulok. Sekali, dua kali, pelupuk mata si Ulok mulai dapat dibukanya dan suara orang itu semakin keras pula membaca mantera-manteranya. Tidak lama kemudian si ulok siuman, dia benar-benar sadar, matanya sudah dapat dibuka sampai habis, ia sudah dapat melihat sekitarnya, namun tubuhnya masih terasa lemah, lunglai tidak berdaya. Dengan matanya yang sudah terbuka, ia perhatikan orang-orang yang ada disekelilingnya, ia perhatikan seluruh penjuru ruang tempat ia terbaring, “aku tidak mengenal tempat ini “…bisiknya dalam hati. Ia coba gerakkan tangannya yang masih terkulai lemas, bisa….dan ia usap matanya agar melihat lebih jelas….”yah aku tidak mengenal tempat ini”. Kemudian ia coba sadari dirinya….aku sedang bermimpikah ? atau aku sudah berada didalam syurga ditemani oleh manusia-manusia ini sebagai pendamping dan teman-teman penghiburku…..kalau begitu, aku sudah mati. Jasadku berada ditempat ini….tapi tidak, mataku dapat ku-usap-usap seperti sekarang ini….aku tidak melayang diudara….aku tetap berada ditempat ini bersama ragaku yang sempurna…..hanya badanku masih lemah.
Masih wajah dan rupa tadi-tadi juga, muka-muka mengerikan, seperti ingin mencabik-cabik orang yang ada didepannya. Tapi…….benarkah demikian……biarlah aku siap menerima apa saja yang bakal terjadi. Badanku mulai dapat digerak-gerak, yang tadinya lemah terkulai dan kaku tidak bisa bergerak, sekarang sudah bisa. Badan terasa lebih ringan dan otot-ototku sudah mulai kuat mengangkat tangan….menggerakkan kaki, menggerakkan leher, menggeser badan kekiri dan kekanan. Waw aku senang sekali, ternyata benar….benar aku masih hidup….yah aku masih hidup.
“ suku Dayak…….. Punan Basaf….Punan Basaf” pikir Ulok mengenali orang-orang yang ada disekelilingnya.
            Orang itu nampak memanggil-manggil seseorang yang berada dibelakang. Dan tidak lama berselang muncul mendekat seorang wanita cantik dengan senyum tersungging dibibirnya membawa secangkir air, lalu diberikannya kepada orang yang komat-kamit membaca mantra disamping Ulok. Lelaki setengah baya dengan muka coreng-moreng itu kembali menggerakkan bibirnya membaca mantra-mantra. Si Ulok didudukkan dan diberi minum. Ulok, tidak ada sedikitpun berusaha untuk  menolaknya, langsung meminumnya dengan lahap. Air segelas langsung habis. Rasa segar datang menjalar bersamaan dengan masuknya air kedalam perut. Tenggorokannya yang tadi terasa kering, kini menjadi basah dan longgar, dadanya yang sesak menjadi ringan terbuka, nafasnya berangsur-angsur menjadi nyaman dan bebas. Orang yang ada dihadapannya itu tersenyum…..si Ulok membalas senyum itu dengan senyuman pula. Mereka tahu orang yang mereka tolong sudah sehat dan mampu merespon apa yang terjadi disekitarnya. Riuh redahlah suara percakapan orang-orang yang menunggu sejak tadi disekeliling tempat Ulok berada. Mereka masing-masing memperbincangkan seorang pemuda gagah yang ditolong mereka dan sekarang sudah siuman, sudah sadar, sekarang sudah bangun dan sehat kembali. Sekali-sekali mereka menatap wajah Ulok dan mengacung-acungkan jarinya serta menunjuk-nunjuk kearah si Ulok. Lagi-lagi si Ulok hanya tersenyum. Ibu-ibu tua yang asyik bercakap-cakap sembari memakan daun sirih tersipu malu menyambut senyuman dan tatapan tamunya. Mereka sangat gembira, karena sudah mampu merawat, menjaga sampai orang yang ditolong mereka bisa bangun dan sehat.
Ibu-ibu dan bapak-bapak masih belum beranjak dari tempatnya. Mereka masih asyik bercakap-cakap dengan ceriteranya masing-masing. Bibir mereka rata-rata merah karena makan sirih.
            Beberapa orang wanita menyiapkan makanan untuk Pangeran Ulok. Kepala suku yang masih berada didekat pemuda itu mengangguk-anggukkan kepala mempersilahkan mencicipi makanan yang telah siap disertai dengan gerakan tangannya. Tanpa basa-basi lagi sang pemuda langsung melahapnya dengan rakus, seolah perutnya sudah tidak sabar untuk segera diisi. Ia makan lahap sekali. Beberapa umbi-umbian seperti ubi jalar dan umbi keladi rebus, singkong bakar dan beberapa iris lempengan daging bakar segar ia lahap dengan sungguh-sungguh.
Orang-orang yang ada disekelilingnya menatap dan tersenyum suka cita. Perutnya lapar sekali dan makanlah sekenyang kenyangnya.
Hampir semua orang-orang yang hadir ditempat itu bertelinga panjang dengan diganduli anting-anting yang besar dan berat. Anting-anting sebesar gelang tangan itu perak berwana putih. Lubang telingan tempat menggandul atau menggantung anting-anting itu lebar dengan memanjang kebawah. Percakapan mereka dari awal ia siuman sampai sekarang tidak dimengerti oleh Ulok. Maka bahasa isarat menjadi alat atau bahasa komunikasi mereka yang terbaik.
            Setelah beberapa hari kemudian pisik si Ulok sudah benar-benar pulih, segar bugar seperti sedia kala. Ulok sudah dapat berjalan kesana kemari menghirup udara segar. Ulok senang sekali, ternyata masih ada manusia dibumi ini yang baik, padahal mereka tidak tahu aku berasal dari mana, apakah aku orang baik atau orang jahat, kenapa aku sampai terdampar dipantai dan seterusnya. Dengan tidak ada rasa kawatir dengan niat tulus dan bersih, mereka menolongku. Mereka sudah berbuat baik padaku, maka aku juga harus membalasnya dengan berbuat yang terbaik dengan mereka. Walaupun mereka tidak mengharapkan apa-apa, tapi apapun alasannya aku harus membalas budi baik mereka. Yah aku harus menjadi yang terbaik…..agar mereka semua senang dan bangga. Melihat gaya dan tingkah laku si Ulok yang berbudi pekerti itu, mereka semakin hari semakin manaruh hormat.
            Rumah tempat mereka tinggal tinggi, tiang-tiangnya terbuat dari kayu ulin yang masih utuh bundar tidak lebih dari sepaha besarnya. Lantai rumahnya dari batang nibung yang dibelah-belah dan dihaluskan, sebagian lainnya dari kulit kayu. Sedangkan dinding rumahnya terdiri dari kulit kayu dan sebagian lagi dari daun palm yang lebar, daun palm itu dikenal juga dengan nama daun wos atau daun biru. Daun palm tersebut biasa dibuat tutup kepala atau seraung. Sedangkan atap rumahnya terbuat dari daun palm yang disusun sedemikian rupa, diikat dengan rotan dan rumput-rumput liar yang panjang menjalar dihutan sekitar rumah besar  dan tinggi itu. Tangga untuk naik dan turun rumah terbuat dari kayu bundar yang ditatah sedemikan rupa. Dengan tangga itu mereka menjadi mudah naik dan turun untuk beraktifitas. Rumah besar dan tinggi itu dikenal dengan nama “Lamin”. Peralatan kerja dan berburu yang ada antara lain mandau, sumpit, tumbak, dan beliung atau kapak. Dikolong rumah tinggi itu berkeliaran babi peliharaan, anjing penjaga kebun dan anjing berburu, serta ayam hutan yang jinak.
            Lamin dihuni oleh beberapa keluarga, masing-masing keluarga cukup dibatasi dengan dinding bilik yang terbuat dari kulit kayu. Mereka menyatu dalam satu kelompok keluarga besar yang akrab, saling membantu, tolong menolong dan gotong royong. Anak-anak bermain dengan riang, berlarian diatas-atas batang kayu yang besar-besar disekitar lamin, bahkan mereka sering bermain sampai masuk kedalam hutan. Dihutan mereka bermain sambil mencari umbi-umbian. Kehidupan mereka damai dan bersahaja bersatu dengan kuat, rela berkorban demi mempertahankan kelompoknya apabila diganggu kelompok lain. Setiap pagi, siang dan sore selalu tercium bau sedap dari lamin itu, sebab mereka selalu membakar daging hasil buruan. Daging-daging buruan yang belum habis termakan, daging-daging itu dikeringkan atau mereka buat dendeng agar awet dan tahan lama. Selain daging buruan , mereka juga piawai mencari ikan disungai atau didanau.
            Untunglah sampai hari ini pakaian satu-satu yang dimiliki si Ulok masih dalam keadaan bagus-bagus saja, kalau tidak waaaahhhh…bisa gawat. Sedangkan suku pedalaman tidak berpakaian seperti layaknya orang-orang sekarang. Mereka masih memakai cawat sekedar pelindung sedikit dibagian-bagian tertentu saja. Cawat atau pelindung itu terbuat dari kulit kayu yang sudah diolah dan haluskan, sebagian lagi dengan menggunakan kulit-kulit binatang. Buah dada ibi-ibu dan gadis-gadis disana sini terlihat bebas ranum, dan ada pula yang sudah kusut masai turun jauh kebawah. Wah pemandangan ini berbeda sekali dengan negeri si Ulok dibesarkan.
“ Mungkinkan aku ditemukan mereka ditepi pantai, lalu dibawa mereka kesini…..atau…..tapi dimana lautan yang ganas itu, suara ombak besar tidak kedengaran….mungkinkah tempat ini jauh sekali dari pantai, ditengah hutan belantara” piker si Ulok sembari duduk bersantai diujung tangga dengan kaki berjuntai. Beberapa hari kemudian pertanyaan-pertanyaan itu baru mulai terjawab, dan memang benar temapt ini sangat jauh dari tepi pantai laut bebas dan jalan menuju kepantaipun sangat sulit dilewati. Banyak gunung-gunung tinggi, banyak jurang yang sangat dalam, batu-batu tajam, dan harus menembus hutan belantara yang lebat dengan duri-duri rotan yang tajam. Dihutan itu terlihat banyak sekali rotan besar dan kecil yang menumpuk melingkar-lingkar dan merayap memanjat pohon-pohon raksasa. Jauh dibawah gunung didalam jurang terdengar gemericik air dengan aluna irama yang rapi, air itu menetes dari celah-celah batu, bertautan dengan suara gesekan daun yang melambai-lambai dihembus angin sepoi-sepoi. Dan sesekali burung rangkai atau burung enggang, elang, beo, dan cocokrowo bernyanyi bergantian dengan suara yang indah dan merdu menyapu kesunyian hutan yang maha luas. Begitu pula teriak banteng, rusa, kijang, beruang, dan macan dahan sering terdengar sayup-sayup membelah kesunyian. Juga teriakan orang utan, bangkui, uat-uat, bekantan berebut nyaring dengan berpasang-pasangan. Lain lagi dengan burung kecil warna merah bercampur kuning bermain sampai keanak tangga lamin. Tupai yang pintar membuat sarang lagi mencari makan berkejar-kejaran sampai masuk kedalam rumah lamin.
Anak-anak yang lincah berlari diatas batang-batang kayu besar, pintar menjerat kancil dan burung punai. Semilir angin sepoi-sepoi terus bertiup menggerakkan ranting-ranting dan daun-daun kayu. Semua masih lestari dan terbebas dari polusi.
            Didepan pintu bagian atas dan samping bersusun beberapa tengkorak kepala manusia dan beberapa tengkoran kepala besar seperti kepala banteng, kepala orang utan, kepala macan dahan dan beberapa buah cula badak. Si ulok sering terkesiap ketika melewati pintu itu, mengelus-elus dada merasa iba dan ngeri. Tapi entahlah….memang sudah adanya demikian.
Dilai tempat dibawah lamin dan disekitar lamin beberapa ekor binatang buruan seperti babi, rusa dan banteng mulai dikumpulkan dan ada pula yang sudah dikupas kulitnya. Mereka semua dalam suasana yang sibuk dengan berbagai pekerjaan masing-masing. Jauh didepan lamin sana sebua tanah lapang dibersihkan sampai licin. Ditengah lapang itu didirikan sebatang kayu sepaha besarnya. Kayu yang ditancapkan itu sudah dikupas kulitnya. Beberapa babi dibakar bulat-bulat, lalu diatur sedemikian rupa oleh beberapa orang wanita, anak-anak juga ikut sibuk membantu. Mereka  ramai-ramai mencari kayu yang sudah kering keluar masuk hutan disekitar tanah lapang itu. Menjelang matahari terbenam lampu-lampu obor mulai dinyalakan. Disekeliling tanah lapang itu lampu-lampu obor sudah disiapkan. Si Ulok sejak tadi memperhatikan kesibukan mereka.
“ pasti ada acara meriah….” Pikir si Ulok tidak mengerti
            Pangeran Ulok sering terganggu pikirannya, gelisah seperti ada yang memberitahukan padanya, tapi apa itu……
Yang lebih mengherankan, bukan pikiran yang terganggu atau gelisahnya, tapi ada yang lebih mengherankan yaitu orang-orang yang biasanya memandangnya dengan bersahabat, tersenyum, tapi berubah memandangnya dengan tajam dan seolah menakutkan. Apalagi gadis-gadisnya sangat berubah, lirikan mata dan senyum itu hilang. Atau barangkali begitu cara mereka senang melihat orang yang sudah ditolongnya dan sudah sehat……akh aku semakin tidak mengerti.
            Segala persiapan nampaknya sudah lengkap, semua kaum pria dewasa memakai mandau dipingggangnya dan yang lebih lengkap dengan menggenggam sumpit dan tumbak. Mereka masing-masing mengenakan pakaian adapt dengan segala sksesorisnya, bajunya yang paling gagah adalah baju kulit macan. Baju kulit acan adalah simbul kelelakian, karena ialah orang yang mampu menangkap dan mengalahkan macan dahan yang lincah dan kuat. Tidak semua orang memakai baju kulit macan. Mereka seperti hendak persiapan berangkat perang. Kaum ibunya juga berpakain adat yang unik, buah dada mereka masih seperti biasa kelihatan molor dan sebagian masih sintal.
Saat si Ulok berdiri ditengah-tengah rumah lamin itu, berpikir semakin kencang dan semakin tidak terjawab apa yang bakal terjadi. Setelah cukup gelap, hanya ditengah lapang yang terang oleh lampu-lampu obor dari lilin madu, datang tiga orang lelaki yang berbadan kuat dan tegap bersama kepala adat mendekati si Ulok. Ketiganya sudah berpakaian lengkap. Muka dan tubuhnya coreng moreng dan penuh tato. Nampak diwajahnya sangat garang, ganas, dan sadis. Seolah-olah apa saja yang ditemui atau menghalanginya pasti ditebas dan dicincangnya dengan mandau yang mengkilap dan tajam. Si Ulok memperkirakan mereka datang dan mengundangnya untuk berpesta bersama ditanah lapang yang terang itu. Dengan muka sinis dan geram, mereka mendekati, Ulok diam seribu basa. Tidak mengerti apa yang akan terjadi. Tangan kiri dan kanan si Ulok dipegang kuat-kuat, masing-masing seorang memegang satu tangan, lalu bergerak maju. Didepan mereka kepala suku membuka jalan lebih dahulu, lalu dibelakangnya seorang lelaki yang kuat itu dengan mandau terhunus.
“ huh…huh..huh…” perintah mereka dengan kasar. Sedangka si Ulok semakin bingun dengan apa yang sekarang mereka lakukan terhadapnya…..”ada apa ini” tanyanya. Semuanya diluar dugaan si Ulok. Sebelumnya tidak ada sedikitpun terbersit dipikiran Ulok apa yang sekarang terjadi.
Para wanita hanya sedikit yang berada didepan, istri kepala adat dan beberapa istri tokoh lainnya, sedang wanita yang lain jauh dibelakang bersama dengan anak-anak untuk menyaksikan acara adat itu. Bau  makanan menghambur sampai jauh, babi guling diletakkan diatas meja-meja.
Kaum laki-laki sebagian besar berada didepan dan membentuk lingkaran sembari berguman , seperti berpantun-pantun. Entah apa yang mereka ucapkan Ulok tidak mengeti, ditengah lingkara itu api menyala dengan seonggokan kayu yang sudah dipersiapkan. Kemudian beberapa orang yang tadi menggiring si Ulok mundur dengan hormat setelah mengikat Ulok dengan kuat ditiang ditengah lapang. Yang tinggal didekat itu tinggal sang kepala adat atau dikenal juga dengan kepala suku. Lalu ia duduk dan bergumam bersama orang-orang yang melingkar, menyembah-nyembah beberapa kali.
“ aku baru tahu….ternyata aku dijadikan tumbal dalam upacara adat ini” Ulok baru sadar dan sudah terlambat untuk bertindak, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali sabar manunggu apa kejadian berikut. “Aku harus siap untuk mati” pikir Ulok buruk tentang dirinya.
Lelaki-lelaki yang melingkar itu semakin asyik dengan nyanyian dan tariannya, kemudian beberapa wanita tua yang didepan juga masuk kedalam lingkaran dan turut menyanyi dan menari…semakin larut malam semakin keras nyanyian yang mereka bawakan.
Si ulok berupaya mencoba menggerak-gerakkan tangan yang terikat kuat ditiang kayu bundar, namun tidak bisa, tali yang menjerat tangan itu sangat kuat. Bawah tangan sampai ke pergelangan tangannya yang terikat kuat itu terasa sakit. Semakin ia berupaya menggerakkan tangan, semakin sakit dan perih bagian yang terikat. Ia berupaya seperti itu, mana tahu jeratan tali yang mengikat kedua tangannya jadi longgar dan bisa terlepas, tapi ternyata tidak, ikatnya sangat kuat. Ulok sangat tersiksa. Ditambah lagi hawa panas api unggun didekatnya dan asap api itu dibawa angin kearahnya, Ulok sampai tersengal-sengal menarik nafas udara bercampur dengan asap. Akhirnya ia hanya pasrah menunggu kematiannya, nafasnya sesak bercampur dengan asap itu membuat sekujur tubuhnya menjadi lemah. Napasnya mulai putus-putus, saat asap api itu menyerang kearahnya, Ulok harus menahan nafas beberapa lama. Apabila angin membawa asap itu menjauh darinya, baru ia dapat bernafas dengan lega dan kencang-kencang.
            Semua orang yang berada disekeliling tiang itu semakin ramai, menjongkok …berdiri…menjongkok….berdiri….lalu menari-nari lagi sudah mulai kemasukan roh-roh nenek moyang. Dengan diiringi musik perpaduan dua jenis alat musik yaitu dua buah gendang dan satu buah gong tarian dan nyanyian semaki asyik, tapi semakin menegangkan. Gerakan-gerakan tarian itu semakin keras, hentakan kaki juga semakin keras, irama musik juga dibuat keras dan nyaring, keringat mengucur. Tubuh-tubuh mereka yang tidak mengenakan pakaian terlihat basah oleh keringat. Tarian semakin menggila ditingkahi pula dengan teriakan yang melengking, teriakan itu bergantian bersahut-sahutan.
Si Ulok dengan sisa-sisa tenaganya, berupaya untuk melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya. Mana tahu dengan cara seperti itu tali menjadi longgar dan ia bisa terbebas dari mara bahaya ini. Upaya hanya sia-sia, tali-tali yang mengikat itu sangat kuat, jangankan putus atau lepas, sedikit longgar saja tidak. “Wah ikatan tali ditanganku ini sangat kuat…tidak longgar sedikitpun”
            Dalam keadaan sekritis ini, Ulok ingat tiap hari diberi makan dengan makanan yang enak-enak, supaya badannya sehat dan berisi. Apabila ia mau turun dari lamin selalu dihalang-halangi, agar tidak turun dan tidak pergi kemana-mana. Ulok juga teringat dengan apa yang dilihatnya beberapa waktu lalu diatas pintu lamin, ada beberapa pajangan tengkorak kepala manusia. Berarti pajangan itu kepala manusia betulan, bukan sekedar pajangan imitasi belaka. Berarti tengkorak kepala berikutnya adalah kepala si Ulok. Leher Ulok dipenggal dengan madau yang tajam mengkilap. Atau disumpit dan ditumbaki dulu sampai terluka-luka dan akhirnya mati, namanya juga kurban atau tumbal yang harus berdarah-darah. Kalau seperti itu….wah mengerikan sekali yang bakal terjadi berikutnya pada diri pumuda gagah dari kerajaan Teluk Alu-Alu pulau Maratua ini. Nasibya teragis sekali, dari kerajaan dibuang kelaut dengan segala penderitaan. Sudah selamat seperti sekarang ini…malah jadi tumbal terluka-luka dan berdarah-darah….sangat mengerikan…yah memang sangat mengerikan. Semua ini cobaan berat bertubi-tubi yang dialami seorang pemuda yang berhati bersih dan suka menolong orang lain. Ia masih tetap berusaha untuk melepaskan tali yang mengikatnya, namun upaya keras itu belum juga menuai hasil. Akhirnya……….
“ aaaaaakkkhhhhhhhh !!!!!!!.......aaaaaakkkkkhhhhhh!!!!!.....aaaaakkkkkkhhhhh!!!!!!......” tiba-tiba si Ulok berteriak sekeras-kerasnya, teriakan itu ia ulangi puluhan kali. Teriakan keras itu terdengar sampai kelangit, teriakan itu sampai masuk kedalam sungai, teriakan itu menusuk menembus hutan belantara Kalimantan.
Orang-orang yang menari mendengar teriakan itu tidak bergeming, membuat mereka semakin bersemangat lagi untuk menari. Teriakan semakin kencang, hentakan kaki juga semakin kencang, musik juga dikeraskan. Suara nyaring dan keras itu saling berlomba, beradu diudara sampai kelangit yang paling tinggi. Lingkaran tetap utuh, tapi tarian dan nyanyian pantun-pantun mereka sudah tidak enak lagi didengar. Tarian dan nyanyian itu tidak beraturan lagi, tangan naik turun kesamping kiri dan kanan sekenanya saja. Mereka sudah mabuk dan kerasukan roh-roh nenek moyang. Yah mereka sudah kerasukan roh-roh gaib. Badan mereka laki-laki dan perempuan yang menari basah kuyup oleh keringatnya  sendiri.

            Dilain tempat……tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan…..bayangan itu beberapa kali melintas diantara pohon-pohon besar dibelakang tanah lapang, bayangan yang masih belum jelas itu seperti mengintai dari kejauhan. Mungkinkah bayangan itu adalah roh-roh gaib yang akan mengambil tumbal atau persembahan orang-orang yang tinggal ditengah hutan belantara.
Bayangan yang berkelebat cepat itu lalu turun ketanah diluar area tanah lapang, dan mengendap-endap mendekati si Ulok yang masih terikat. Ulok diam saja….Ulok sudah siap menerima apa saja….iapun telah siap menerima kematiannya. Ulok diam saja, Ulok pasrah saja. Orang yang datang itu lalu membuka tali yang mengikat tangannya. Setelah terbuka tangan Ulok ditariknya kelain tempat dengan hati-hati. Dan akhirnya tempat penderitaan yang menyakitkan itu semakin jauh  ia tinggalkan. Setelah beberapa tindak dan cukup jauh dari tanah lapang orang aneh yang menolong Ulok memegangnya erat-erat dan keduanya langsung mengudara. Seperti…yah….terbang…..
Ulok awalnya sangat kaget, tapi akhirnya ia kagum dengan orang yang membawanya pergi jauh dari lamin. Ia dan penolongnya terbang diudara pada malam hari seperti burung garuda. Terbang dengan meliuk-liuk menhindari pohon besar. Matanya sangat tajam, mampu melihat dengan baik pada malam hari. Badan ulok ringan melayang diudara, seperti mimpi yang terbang dibawa burung raksasa. Tapi si Ulok yakin ia tidak bermimpi, ini kejadian sebenarnya, kejadian yang pertama kali. Ia benar-benar terbang diudara dengan kecepatang tinggi. Waw…..hampir saja menabrak pohon besar.
Berkali-kali si Ulok menarik nafas panjang, mereka meninggi kemudian tiba-tiba merendah seperti jatuh dari udara kemudian  naik lagi dan mendatar masih dalam kecepatan tinggi. Pohon-pohon dan gunung-gunung selintas terlihat menghampar seperti gelombang laut luas, seluas mata memandang.
Mereka yang menari-nari masih asyik dengan tariannya, tidak mengetahui kemana perginya tumbal persembahan mereka. Selama ini persembahan yang mereka ikat ditengah tanah lapang tidak pernah lepas, bahkan banyak yang sudah mati sebelum upacara selesai. Mati kelelahan, mati menghirup asap tebal, atau mati karena ketakutan yang luar biasa, selain itu mati setelah dipenggal kepalanya. makanya begitu diikat persembahan itu tidak ada yang menjaga, mereka semua bersuka cita dan tengkorak kepalanya dipajang sebagi kebanggaan dan tinggi derajat mereka sebagai suku ditengah hutan belantara.
“ bakal jadi apa lagi aku berikutnya…” pikir Ulok, mereka berdua masih mengudara. Sepertinya episode ceritera ini hanya berganti judul, masih belum selesai. Pertunjukannya masih panjang.
Tanpa berontak, tanpa ada perlawanan, kesekian kalinya Ulok diam terpaku, pasrah dengan keadaan yang selalu menimpanya. Kenyataan demi kenyataan sudah dilalui. Si Ulok merasakan keanehan dan kejadian luar biasa. Beberapa kali sudah dalam keadaan yang sangat genting ia selalu selamat, namun pertolongan itu menjadikan kesengsaraan baru lagi baginya. Aku yakin semua ini adalah bagian dari perjalanan hidup yang panjang. Bagian dari pengalaman jiwa yang membaikkan hatiku agar aku selalu berbuat kebaikan dimuka bumi ini, terutama berbuat baik terhadapa sesama. Menjaga alam agar tetap seimbang juga perbuatan yang sangat mulia, tidak merusaknya. Aku tahu apabila aku merusaknya pasti akibatnya akan menimpa manusia itu lagi. Aku yakin kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan, sedangkan keburukan pasti dibalas dengan keburukan juga. Oleh karena itu aku tidak perlu berpikir macam-macam, tapi jalani saja kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.
            Setelah jauh perjalanan yang dirasakan, si Ulok dibuatnya terkesima oleh orang yang membawanya, sampai-sampai bulu-bulu ditubuhnya berderik. keduanya menukik turun dan terus semakin merendah. Malam masih ditengahnya, hanya disinari jutaan bintang-bintang yang indah. Bintang-bintang itu ada yang lebih terang, ada yang berbentuk segi tiga, ada yag berbentuk segi lima, ada pula bintang tujuh, ada yang berbentuk seperti bunga mawar dan macam-macam lagi. Angina sangat kencang, air mata si Ulok sampai meleleh. Saat ini mereka menyusuri naik turunnya bukit-bukit dan pucuk-pucuk pohon. Keduanya menikmati perjalanan itu. Pakaian kedua orang yang terbang dengan kencang itu mengibas-ngibas, mengepak-kepak, melambai-lambai kebumi. Keduanya melesat tidak tinggi lagi, naik turun seperti diayun-ayun gelombang.
Bunga-bunga kayu terlihat selintas ada yang merah, ada yang kuning, ada yang berwarna putih bagur dan bergerombol-gerombol, harumnya mengudara.
Dan keduanya langsung mendarat diantara sela-sela pohon besar, nafas Ulok terengah-engah seperti setelah berlari begitu jauh. Setelah mendarat pelan-pelan rasa takut dan hawatir tadi hilang, sekarang sedikit tenang mengikuti perintah orang yang membawanya. Berjalan tidak seberapa jauh dari tempat mereka mendarat tadi sudah sampai kemulut gua. Mereka langsung masuk kedalam gua itu. Keduanya masih membisu. Kemana saja perintah orang itu si Ulok mengikutinya. Didepan pintu gua sang penolong tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“ Kamu ini siapa sebenarnya ?”
Tanya orang yang menolongnya membelah kesunyian malam. Ulok terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia usahakan seolah-olah dalam keadaan biasa-biasa saja. Tutur bahasa orang tampan yang bertanya itu sangat baik, senyumnya menyejukkan hati, maka Ulok yakin orang yang menolongnya itu pasti orang baik-baik dan iklas menolongnya. Dan lalu ia menjawab pertanyaan itu dengan tenang, setenang air sungai, setenang bintang-bintang dilangit.
“ Aku dulu adalah seorang Pangeran dikerajaan Teluk Alu-Alu….tetapi setelah ada persoalan aku dengan ayahnda raja…aku menantang atas kelaliman beliau….yang sudah terlewat batas dan semena-mena……ayahnda baginda raja dengan bangga membongkar semua rahasia tentang diriku di hadapan rakyat yang hadir…..aku bukanlah putranya melainkan anak yang mereka temukan dan beliau pungut ditengah hutan belantara pulau Maratua”.
Pemuda yang ada dihadapannya mendengarkan dengan santun, sesekali matanya dan raut wajahnya sedih mendengar dan mengikuti alur ceritera orang yang baru ditolongnya.
“ lalu mengapa andika sampai dijadikan tumbal oleh orang-orang itu” tanyanya lagi dengan serius.
“ disebabkan luapan amarah baginda raja tidak tertahankan lagi, beliau mengusirku. Aku dibuang ketengah lautan….tujuannya adalah agar aku mendapat sengsara dan mati dengan tersiksa dihantam ombak dan dimangsa ikan-ikan pemakan daging”.  
“lalu apa yang terjadi selanjutnya” Tanya pemuda itu lagi sembari menatap beberapa kali wajah si Ulok.
“ aku diselamatkan lumba-lumba dan penyu…dan aku terdampar di pantai…setelah itu aku tidak tahu lagi, tiba-tiba aku sudah berada di tempat laknat itu yang hampir saja mengambil nyawaku” Ulok berhenti sejenak sambil berpikir dan manggut-manggut, kemudian lanjutnya “ setelah sadar aku sudah dalam perawatan mereka……mereka membantu dan memberi makan, minum dengan baik, aku kira aku sudah dalam keadaan selamat…ternyata sebaliknya, aku diberi makan dengan enak itu akan dijadikan tumbal oleh mereka…..aku benar-benar keliru menilai kebaikan mereka….aku pasrah menerima apapun yang akan terjadi….aku telah berserah diri dengan kebaikan yang telah mereka berikan padaku…..aku tahu leherku akan dipenggal….dan kepalaku dijadikan pajangan dirumah panjang mereka….pikiranku buyar menimbang antara kebaikan dan keburukan yang akan berlaku…aku tidak berdaya melawan kebaikan yang sudah mereka berikan padaku” pemuda itu mendengarkan semua yang diceriterakan Ulok dengan penuh perhatian.
“ Beruntung sekali patik bisa menolong tuan, ternyata andika orang terhormat” Puji pemuda itu dengan hormat “ tuan dalah manusia sempurna, bijaksana dan patut menjadi orang yang ditauladani…tuan telah berjuang membela yang benar dengan berani mengatakan yang benar adalah benar sedang salah tuan katakan salah…..walaupun tuan tahu akibatnya sangat patal bagi diri tuan sendiri” puji pemuda itu pada si Ulok dengan sopan, dengan hormat dengan tutur bahasa yang beretika.
Si Ulok memberanikan diri lebih dahulu bertanya “ nama anda siapa dan lalu mengapa tiba-tiba sudah berada ditempat aku terikat” Si Ulok menatap tajam, dan memastikan kesempurnaan dan ketampanan lelaki yang menolongnya.
“ patik adalah Putra Dewi Sarang yang tinggal didalam gua ini” sembari menunjuk kemuara gua yang ada dihadapan mereka. Si Ulok sedikit tercenang mendengar Putra Dewi Sarang dan tinggal di gua itu, di gua sarang burung seperti ini.
“ dan perlu andika ketahui ibunda kami jarang sekali terlihat ditempat ini, beliau hanya sesekali dapat tertangkap oleh mata.”
Dengan keheranan yang bertambah-tambah, si Ulok semakin cengang dan bingung…hahhhh….
“Patik mendengar suara musik gong, suara itu sampai kelangit. Patik jadi terusik, mengapa suara musik gong sampai larut malam dan terdengar jauh sekali. Patik sambil mengawasi wilayah burung wallet berkelana dan bersendau gurau mencari makan, akhirnya patik putuskan melihat dari mana asalnya suara musik gong itu berasal. Ternyata andika sedang diikat dan dikelilingi orang-orang pedalaman yang menari dengan mabok kerasukan jin dan hantu nenek moyang mereka, begitulah. Lalu patik putuskan untuk menolong andika”. Ceritera Putra Dewi Sarang menjelaskan mengapa ia sampai menolong Ulok.
Setelah pemuda yang menolongnya mengetahui nama dan asal usul si Ulok, pemuda itu semakin bertambah hormatnya, ia bangga sekali sudah menolong si Ulok. Lalu keduanya saling berjabat tangan dengan erat penuh persahabatan, kemudian mereka berpelukan dengan suka cita dan kemudian mereka masuk kedalam gua. Ditengah perjalanan si Ulok beberapa kali mengucapkan terima kasih kepada Putra Dewi Sarang. Ucapan terima kasih itu disambutnya dengan senyum.
Keduanya jadi sangat akrab, padahal mereka baru saja saling mengenal.
“ Biar bagaimanapun yang terjadi pada tuan,  tuan tetap saja sebagai seorang Pangeran “ putra Sarang burung mengakui dengan sungguh-sungguh.
“ terima kasih atas penghargaan Putra Dewi Sarang” ujar si Ulok dengan sunguh-sungguh pula. “ bagi saya tidak ada masalah……dipanggil dengan sebutan nama atau apapun  terserah saja…itu hanya sebuah nama….terima kasih kalau Putra Dewi berkenan menyebut nama saya demikian “
Lampu-lampu obor disana sini menyala dengan mengepulkan asap menerangi ruang gua itu. Gua itu dihiasi dengan batu-batu yang menjorok kebawah tajam-tajam, ujungnya seperti mengeluarkan air. Air itu menetes kebawah suara nyaring menggema dalam gua itu. Stalaknit-stalaksit itu indah sekali aku jadi terperangah dibuatnya. Apakah ini hasil ukiran manusia atau terjadinya oleh proses alam yang selama ratusan tahun. Suara gemericik air yang jatuh dari ratusan ujung-ujnng batu menjadi musik alam yang serasi dan indah, seperti menyambut kedatangan kami. Aku sulit membayangkan  bagaimana indahnya irama air-air yang menetes itu, suaranya bertautan dan menggema-gema….akh telingaku semakin rindu dengan musik kulintang di Teluk Alu-Alu.
            Kepak sayap burung wallet dan kelelawar bertautan, mereka sibuk keluar masuk dan terbang berpindah-pindah tempat. Suaranya riuh, seperti terusik oleh kedatangan makhluk baru. Mereka membaui manusia baru yang berbeda dengan biasanya. Yah baunya berbeda dengan biasa yang mereka cium. Melihat keadaan sedemikian rupa, Pangeran Ulok tercenang dan kagum sekali. Gua ini tidak ada yang mengusik, tidak ada yang mengganggu, tidak ada yang menggores-gores dindingnya, tidak ada yang merusak atau mematah stalaktit stalakmitnya. “Terpelihara dan terawat gua ini” pikir Ulok. Bau kotoran kelelawar dan kotoran burung wallet masih tercium. Diatap gua penuh sesak sarang burung wallet, burung-burung itu ada yang masih mengeram ada yang sudah beranak dan ada juga yang masih membuat sarang. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
“Luar biasa tempat ini terawat dengan baik” lagi pikir Ulok memuji.
Mereka masuk dalam sebuah ruangan yang indah dan megah. Ruangan itu tertata dengan rapi. Tidak lama mereka bercakap-cakap dalam ruangan yang megah itu hidangan telah tersedia. Hidangan yang berbau sedap itu mengganggu pikiran Ulok. Penciuman hidungnya yang tajam itu mampu membedakan mana masakan yang enak atau yang kurang enak. Kalau bau yang sekarang ini pasti masakannya enak. Perutnya yang sudah lapar itu lalu…..akh rasanya sudah tidak sabar untuk segera melahapnya.
Seorang wanita cantik sibuk masuk keluar masuk lagi menyiapkan hidangan itu. Wanita itu mengenakan gaun putih panjang, wanita itu anggun dan berwibawa. Baju panjang yang dikenakan itu sebagian terseret dilantai. Seolah kain gaunya itu cepat-cepat mengejarnya dari belakang. Pabila tangan diangkat gaunnya besayap. Dilehernya bergulung-gulung dan bersusun bunga-bunga warna warni menghiasi bagian lehernya agar menjadi lebih cantik dan anggun.
Saat si Ulok menatap wanita itu tanpa berkedip, Putra Dewi Sarang berujar “ Dia adik saya Pangeran” menjelaskan kepada Ulok yang lagi…………
Si Ulok baru tersadar dengan apa yang sedang dilihatnya, dia terkejut mendengar ucapan Putra Dewi Sarang. “ dia sering dipanggil dengan nama Putri……Putri Dewi Sarang” lanjut Putra Dewi Sarang itu menjelaskan kepada Ulok. Ulok tersipu malu-malu sadar akan kelakuannya.
“ Oooo….yah…yah…” sahut Ulok gagap sejadinya saja, lalu manggut-manggut dengan pasti.
Putra Dewi Sarang itu tersenyum melihat tingkah temannya yang sedikit kaku dan seperti kebingungan itu. Pemuda itu juga masih jejaka seperti si Ulok, makanya dia tidak heran melihat tingkah Ulok seperti itu, Putra Dewi Sarang memaklumi keadaan si Ulok. Siapa yang tidak terpesona melihat kecantikan Putri Dewi itu, perawakannya sedang, rambutnya panjang terurai, parasnya cantik, senyumnya manis dengan lesung pipi menghiasi senyumnya. Anggun lagi sopan. Dengan kecantikannya itu sulit untuk dilukiskan dalam sebuah gambaran tulisan. Sulit sekali untuk menjelaskan kecantikan Putri Dewi Sarang itu dalam sebuah puisi. Pokoknya cantik, molek tak terlukiskan…..pokoknya cantik sekali habislah sudah penjelasannya.
“ Bukan main “ ucap Ulok kagum…tanpa sadar
“ Apanya yang bukan main Pangeran” Tanya Putra Dewi Sarang berpura-pura, seolah dia tidak tahu apa-apa dengan keadaan orang muda yang sekarang berada dihadapannya.
“Oh….tidak…tidak “
Tangkis si Ulok tersipu-sipu lagi.
Ternyata si Ulok memang benar-benar terpesona dengan kecantikan Putri Dewi Sarang itu. Dadanya berdebar-debar seolah ada yang memukul-mukul dari dalam atau menakutinya, matanya nanar sulit untuk melepaskan pandangannya dari Putri Dewi Sarang yang cantik jelita.
            Keduanya manikmati hidangan yang sudah disiapkan. Duduk dikursi batu yang berukir dan meja batu yang keras dan kaku, meja dan kursi itu menyatu dengan lantai gua.

            Kita tinggalkan dahulu tentang Pangeran Ulok dan temannya Putra Dwi Sarang, kita beralih kisah kekerajaan Teluk Alu-Alu di Pulau Maratua. Setelah beberapa tahun kemudian Baginda Raja yang kejam dan selalu berbuat semaunya dan semena-mena itu sudah meninggal dunia. Meninggalnya raja Teluk Alu-Alu membuat gempar keseluruh penjuru kerajaan, bahkan orang-orang yang tinggal dilaut dengan perahunya, orang yang ada didaratan Boneo juga sangat kaget atas wafatnya raja Teluk Alu-Alu itu. Sebab yang utama sangat disayangkan adalah raja tersebut tidak mempunyai anak sebagai penerus di kerajaannya. Dengan demikian maka kosonglah untuk sementara pemimpin kerajaan itu. Semua orang cerdik pandai dan seluruh pemuka-pemuka masyarakat berkumpul membicarakan hal tersebut. Pemimpin kerajaan agarsegera dipilih, raja harus segera ada. Kalau tidak maka kerajaan berjalan pincang, rakyat tidak ada yang mengatur, hubungan dengan negeri-negeri lain juga dihawatirkan terganggu.
            Tapi apa yang terjadi, orang-orang yang merasa banyak berjasa kepada kerajaan, tokoh-tokoh dikerajaan Teluk Alu-Alu yang pernah dekat dengan raja dan memahami bagaimana menjadi raja berkeinginan menduduki jabatan itu. Mereka semua merasa andil dan merasa berhak untuk menjadi raja. Akhirnya pergolakan mulai muncul dimana-mana. Masing-masing mengatur dan menyusun kekuatan secara diam-diam. Kelompok satu dengan kelompok lainnya yang sama-sama merasa kuat dan mendapat dukungan orang banyak mulai saling tuding dan saling menyalahkan. Dalam pertemuan-pertemuan saling adu argumentasi dan tidak ada yang mau mengalah. Mereka tidak lagi memikirkan rakyatnya, tapi lebih memilih dan memikirkan kedudukan dan jabatannya. Akhirnya mereka itu saling tikam dan saling bunuh, baik secara perorangan ataupun secara berkleompok-kelompok. Kerajaan Teluk Alu-Alu sepeninggal rajanya semakin lemah dan tidak berdaya.
Akhirnya kelompok yang kuat, kelompok yang menang, pemimpinnya menjadi raja yang baru di Teluk Alu-Alu. Semua jabatan penting diserahkan kepada orang-orang yang menang dan paling kuat itu. Maka kerajaan Teluk Alu-Alu menjadi milik satu kelompok saja, sedangkan orang cerdik pandai yang tidak sejalan atau yang tidak mau ikut-ikutan persoalan itu tidak mendapat tempat dan kesempatan dalam pemerintahan kerajaan Teluk Alu-Alu.
Kejadian perebutan kepemimpinan itu sudak terjadi berkali-kali, mereka saling serang dan saling bunuh, darah mengalir dimana-mana dan siapa yang kuat dan menang kelompok itu lagi yang menjadi raja dan mengisi semua jabatan penting dikerajaan itu. Apa bila ada lagi yang sudah meresa kuat mereka memberontak dan membunuh  orang-orang yang lebih dahulu.
            Keserakahan dan keangkuhan para pemimpinnya membuat kerajaan Teluk Alu-Alu semakin terpuruk dan diambang kehancuran. Kekuasaan raja-raja baru itu melebihi kejamnya raja terdahulu yang pernah membuang anak angkatnya Pangeran Ulok
Rakyat kecil menjadi korban, rakyat semakin melarat. Harta benda rakyat sering menjadi rampasan para pembesar kerajaan. Rakyat semakin tersiksa dan tertindas. Suara mereka tidak lagi didengar, keluh kesah mereka tidak sampai kemana-mana. Penguasa kerajaan tidak sempat lagi memikirkan rakyatnya, mereka baru saja memulai menyusun perangkat kerajaan, harus turun lagi dari jabatannya. Karena sudah dikuasai oleh pemenang baru dan mengusir yang terdahulu. Sedangkan istri raja yang telah meninggal yaitu ibu angkat si Ulok dipenjarakan. Ibu angkat Ulok dipenjarakan dibawah tanah, penjara yang sangat rahasia, penjara itu hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui tempatnya. Kejaman terus berjalan, istana menjadi ajang perkelahian dan pembunuhan, darah dimana-mana berserakan. Rumusnya adalah siapa yang kuat dialah yang menang. Semua merasa berhak menduduki tahta kerajaan, semua berhak untuk menjadi raja……begitulah menurut mereka yang bersitegang. Memang semua orang yang mampu dan pandai berhak untuk menjadi raja, tapi caranya bukan saling tuding, saling menyalahkan dan saling bunuh seperti itu. Sebaiknya orang yang punya kemampuan dan diakui kemampuannya oleh semua rakyat dikerajaan itu, diputuskan melalui musyawarah. Selain itu orangnya bijaksana, disiplin, berwibawa, mampu mengatasi berbagai permasalahan, mengayomi semua rakyat, dan memajukan ekonomi rakyat, bukan hanya sekedar boleh dan memaksakan kehendaknya saja. Pilihan itu seharusnya adalah pilihan yang tepat, yang terbaik dari yang baik-baik dan atas persetujuan semua rakyat. Kenapa demikian ? karena yang merasakan maju dan mundurnya, enak dan kurang nyamannya adalah rakyat semua.
            Roda pemerintahan terombang ambing tidak menentu arah, roda pemerintahan jadi semrawut dan orangnya selalu berganti-ganti. Ekonomi kerajaan juga sudah payah. Biaya yang keluar tidak terarah dan tidak terawasi. Ada pula yang sekedar mencari keuntungan dalam suasana kekeruhan itu…wah benar-benar payah, pejabat kerajaan tidak dipercaya lagi. Mereka dianggap sebagai pembuat malapetaka kebangkrutan.  Rakyat kecil banyak yang harus angkat kaki dari kampung halamannya mencari penghidupan baru ditempat lain dan bercocok tanam didaerah baru yang lebih menjanjikan.

            Burung-burung wallet rakyat Dewi Sarang yang gesit dan lincah sering mengadakan perjalan yang jauh, mereka banyak yang sampai bahkan melewati kerajaan Teluk Alu-Alu. Sebagian lagi diantara burung-burung walet itu singgah disana dan mengetahui banyak hal ihwal kerajaan Teluk Alu-Alu di Pulau Maratua.
Dari burung-burung wallet rakyat Dewi Sarang itu menyampaikan kabar kepada Dewi Sarang ibunda Putra Dwi Sarang. Atas semua laporan itu disampaikan kepada Pangeran Ulok yang masih tinggal ditengah belantara hutan Borneo yang sekarang lebih dikenal dengan nama Kalimantan itu. Pangeran ulok mendengar kabar itu sangat sedih dan masgul. Dan pada suatu hari Pangeran Ulok memutuskan harus segera kembali dan menyelamatkan Kerajaan Teluk Alu-Alu. Aku harus kembali dan segera memperbaiki kerajaan Teluk Alu-Alu yang hampir hilang dalam sejarah itu. Selama beberapa hari si Ulok mengadakan persiapan-persiapan untuk berangkat menuju kerajaannya. Putra dan Putri Dewi Sarang juga sibuk membantu persiapan itu. Persiapan yang utama adalah persiapan mental sedangkan yang kedua adalah persiapan apa yang harus dilakukannya ketika ia sampai disana. Dan yang ketiga ia juga berlatih kanuragan, dengan melatih fisiknya agar mampu melawan dan bertahan apabila terjadi perlawanan dari penguasa yang ada sekarang. Jadi persiapan fisik dan mental itu yang lebih diutamakan Ulok menjelang kepulangannya. Kemudian ia harus berjalan kaki menembus hutan sampai kepantai, kemudian dari pantai itu ia harus membuat perahu untuk menempuh perjalanan lautnya untuk sampaik Pulau Maratua.
Pada waktu yang telah ditetapkan, maka berangkatlah Pangeran Ulok menuju kerajaan dimana ia dibesarkan dulu. Keberangkatannya berbeda dengan rencananya semula. Ulok diantar oleh Putra Dewi Sarang. Mereka tidak berjalan kaki menembus hutan dan mereka juga tidak naik perahu dan menempuh badai dilautan luas, tapi mereka, keduanya terbang diudara dengan melesat gesit dan ringan.
Pertama yang mereka lampaui adalah hamparan hijau hutan belantara Kalimantan, hamparan hijau itu seperti permadani yang indah dan lembut, dan kemudian mereka sudah berada diatas lautan yang maha luas. Mereka menyeberangi lautan menuju pulau Maratua. Dibawah sana biru berbuih-buih putih, sedangkan ombak bergulu-gulung berkejaran.
Burung-burung putih berkelompok asyik menyambar ikan-ikan kecil. Sedang dari dalam laut berlompatan ikan-ikan besar menyambar ikan-ikan kecil dari bawah, meriah  dan sangat menyenangkan sekali. Ikan-iakn kecil itu menjadi mangsa ikan yang lebih besar dan menjadi mangsa burung-burung putih dari udara. Kasihan ya ikan-ikan kecil itu. Tapi jangan heran itulah alam yang menyediakan semuanya dengan seimbang.

            Pangeran bersama Putra Dewi Sarang tiba di Pulau Maratua, mereka tidak lansung turun dipusat kota. Mereka turn mendarat dipinggiran kota yang tidak jauh dari pesisir pantai. Dengan harapan agar tidak terlalu menjadi perhatian orang banyak kehadiran mereka berdua. Apalagi dengan kedatangannya terbang seperti burung itu. Disamping itu Ulok ingin tahu lebih dahulu keadaan rakyatnya. Dengan cara demikian mereka berdua tentu lebih mudah nanti menyusup kedalam kota. Ternyata banyak rakyatnya yang masih mengenali Pangerannya itu. Dan bahkan mereka mendukung Pangeran. rakyatpun saling dukung dan saling bahu membahu untuk membantu Pangerannya menumpas kejaliman yang berlaku di negerinya. Rakyat selama ini merasa tertindas. Merekalah secara sembunyi-sembunya saling menghabarkan mengenai keinginan Pangeran Ulok. Dengan demikian maka kabar kedatangan Pangeran Ulok semakin meluas dan hampir semua penduduk yang mendiami bibir pantai pulau Maratua sudah mendengar kabar tersebut dan mereka semua siap membantu perjuangan Pangerannya. Kelompok-kelompok yang dahulu berseberangan diarahkan dan disatukan kembali, akhirnya menjadi besar dan kuat. Setelah dianggap kuat, serangan segera dilancarkan. Serangan itu tidak dilakukan dengan saling menghunus pedang, namun dengan cara serangan bawah tanah. Mereka menyusup secara diam-diam kesemua penjuru kerajaan. Yang dianggap wilayah strategis disusupkan lebih banyak kekuatan. Setelah penyusupan disemua lini dan kekuatan sudah dianggap cukup dan kuat. Maka mulailah serangan dilancarkan sekaligus dan secara mendadak agar tidak benyak memakan korban. Pangeran Ulok dan Putra Dewi Sarang berada paling depan. Mereka berdualah yang mengatur strategi untuk segera melumpuhkan pusat kerajaan yang memerintah secara semena-mena itu.  Semua yang ada dalam istana kaget mendengar berita adanya serangan mendadak itu. Salah seorang melaporkan kepada raja.
“Baginda raja, ampun baginda raja…rakyat berduyun-duyun datang ke istana bersama dengan Pangeran Muda dan temannya yang siap tempur” lapor seorang penjaga tergesa-gesa.
Raja yang menerima laporan terkesiap, apabila ia mendengar nama pangeran ulok disebutkan. “Pangeran Ulok” bisik raja, yang dulu sudah dibuang ketengah lautan sekarang datang lagi bersama rakyat yang sangat mencintainya. Bersama rakyat yang ingin menikmati perubahan yang lebih baik.
Raja sedikit linglung, raja masih bingung atas pertanyaannya sendiri. Rakyat semua mendukungnya, hanya segelintir orang saja lagi yang masih setia dan mendukungnya.
“Pangeran Ulok masih hidup ?” Tanya raja masih belum percaya dengan kabar yang disampaikan. Raja tahu sudah bertahun-tahun si Ulok tidak ada kabarnya dan semua rakyat yakin dan percaya bahwa Pangeran mereka sudah ditelan lautan luas itu.
“ ya..ya…Pangeran…hamba masih ingat dengan rupanya” terang penjaga itu lebih lanjut.
            Diluar disekitar istana, rakyat sudah berkumpul dan menunggu, berteriak –teriak dengan kata-kata yang tidak mengenakan telinga. Raja yang saat ini masih memerintah marah atau tidak marah, itu bukan urusan rakyat lagi, itu urusan raja sendiri. Rakyat sudah muak, rakyat sudah lama menanti pemimpin baru yang selalu mengayomi rakyatnya. Suara rakyat Teluk Alu-Alu tidak pernah didengar, baru sekarang ini mereka berani dan baru sekarang ini mereka dapat menumpahkan segala kekesalan dan kemurkaannya. Baru saat ini suara mereka didengar. Didengar oleh Pangerannya yang lama sudah hilang ditelan laut yang ganas. Baru saat ini mereka bisa berteriak-teriak memarahi pemimpinya. Dan baru saat ini…………… “ kelau kau raja…kelaur kau….turun dari kursi kerajaan itu….kami sekarang telah membawa Pangeran muda yang mampu menjadi raja yang adil dan bijaksana” teriak mereka sekeras-kerasnya.
“ jangan beraninya sembunyi-sembunyi saja hooooiiii” teriak yang lain keras dan riuh.
“ Hui urang anu didalam attu…kaluar dangkita kaparais” ujar salah satu tokoh suku Barrau yang ada dalam gerombolan orang ramai.
“ raja pemeras rakyat….hayo keluaaarrrr….cepaaattttt” teriak yang lainnya
“amun kau gagga..kaluar kau gai” sambung orang barrau itu lagi menantang dari luar
Suara ribuan rakyat yang menggema diluar istana meminta rajanya segera keluar dan turun dari tahta, termasuk orang-orang dekatnya.
            Orang didalam istana tidak sempat membuat persiapan apa-apa untuk menyambut kedatangan rakyatnya bersama Pangeran Ulok. Rakyat sudah membuat pagar betis mengelilingi istana. Tidak ada jarak yang kosong dari pengawasan rakyatnya. Tidak ada tempat atau ruang kosong untuk  mereka yang didalam melarikan diri. Semua dipagar oleh rakyat. Ditambah lagi dengan kekuatan dan sekaligus pengawasan dari udara yang dilakukan oleh Putra Dewi Sarang, ia terbang mengitari sekitar istana kerajaan, Putra Dewi menjaga kemungkinan ada yang lolos dari pengawasan dan penjagaan rakyat Teluk Alu-Alu dan menjaga kemungkin yang akan terjadi berikutnya. Teriakan rakyat masih menggema memukul nyali orang-orang yang masih ada didalam istana. Nyali mereka menjadi ciut tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak lama kemudia dari sebuah jendela memberikan isyarat kepada semua yang hadir disekeliling istana. Diacungkannya bendera putih tanda menyerah tanpa syarat dan tanpa perlawanan. Tanpa dinyana dan tanpa disangka itu mereka lakukan. Pergolakan dan keinginan rakyat terpenuhi, strategi Pangeran dan Putra Dewi Sarang berhasil. Penyerbuan itu tidak menelan korban. Orang yang berada dalam istana tidak ingin menjadi korban amarah rakyatnya sendiri. Pangeran Ulok dan Putra Dewi Sarang bersyukur kepada Tuhan, penyerangan yang menggunakan kekuatan rakyat yang mereka lakukan tidak sampai terjadi pertumpahan darah dan semuanya selamat. Yang didalam istana selamat yang diluar istanapun tidak terjadi apa-apa. Setelah semua orang dalam istana ditangkap dan semua  istana diamankan, sorak sorai rakyat beralih mengelu-elukan si Ulok.
“Hidup Pangeran…hidup Pangeran….hidup pangeran kita”
Raja ditangkap, orang-orang setianya juga ditangkap. Semua rakyat mendekat dan melihat rajanya yang lalim itu ditangkap. Setelah mereka melihat dengan mata kepala sendiri baru merasa puas, kalau belum melihat sendiri masih merasa belum puas. Dengan selesainya penyerangan yang berhati dingin itu, lalu rakyat berkumpul didekat tiang gantungan. Raja yang kejam terhadap rakyatnya diadili oleh rakyatnya sendiri dengan digantung ditiang gantungan disaksikan langsung olaeh rakyatnya sendiri. Pengikutnya yang meminta ampun dan bertaubat hanya dihukum dalam penjara, sedangkan yang tetap setia pada raja juga harus mati ditiang gantungan. Dengan demikian puaslah rakyat, habislah sudah amarah yang selama ini dipendam dan tidak berdaya. Rakyat puas. Setelah itu rakyat harus bangkit untuk membangun negerinya yang lama lumpuh.
Tamatlah sudah riwayat para pemimpin yang lalim itu. Ibu angkat Pangeran Ulok dikeluarkan dari penjara bawah tanah. Ibu Ulok menangis mengenang hidupnya selama ini yang penuh dengan sengsara. Ibu yang kurus dan lemah itu memeluk anaknya yang sangat disayanginya, ia menangis sejadi-jadinya. Dipeluknya erat-erat anaknya. “Anakku maaf ibu yang lemah tak berdaya….maafkan ayahmu nak, yang sudah menyakitimu…semua itu sudah perjalanan nasib manusia masing-masing. Tapi Tuhan itu adil nak, maka sekarang sudah dibuktikannya semua itu. Yang benar tetap benar yang salah pasti mendapat balasan yang setimpal dengan kesalahannya”.orang-orang yang ada disekitar itu tidak tahan melihat adegan yang sangat menyedihkan itu. Mereka semua menangis….menangis terisak-isak. Istana banjir air mata bahagia…diistana banjir air mata kemenangan.
Sesampainya didepan istana rakyat langsung mengangkat Pangeran Ulok mejadi raja di Kerajaan Teluk Alu-Alu.
            Sejak diangkatnya Ulok menjadi raja atas pilihan rakyatnya sendiri, roda pemerintahan mulai berjalan dengan baik. Disana sini dilakukan perbaikan dan pembenahan. Setelah roda pemerintahan berjalan, ekonomi rakyat semakin menggeliat maju, maka berangkatlah Raja Ulok menjemput orang yang sangat dicintainya yaitu Putri Dewi Sarang ditengah hutan belantara Kalimantan. Lalu Putri Dewi dijadikan sebagai permaisuri yang mendampinginya menjalankan pemerintahan kerajaan Teluk Alu-Alu di Pulau Maratua.
Pulau Maratuapun kemudian hari sangat dikenal, pulau Maratua itu dikenal diseluruh dunia.




S E L E S A I

Tidak ada komentar:

Posting Komentar