Jumat, 16 Februari 2024

ADAT TRADISI PERKAWINAN SUKU BAJAU TANJUNG BATU KEC. PULAU DERAWAN. BERAU KALTIM

 

ADAT DAN TRADISI PERKAWINAN SUKU BAJAU

 

PAGELARAN ADAT PERKAWINAN SUKU BAJAU

DI TANJUNG BATU KECAMATAN PULAU DERAWAN

KABUPATEN BERAU PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Sabtu Tanggal 14 Desember 2013

 

Oleh : Saprudin Ithur

 

Suku Bajau yang mendiami wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau di Kabupaten Berau seperti di Tanjung Batu, Pulau Derawan, Pulau Maratua, Pulau Balikukup, Pantai Harapan, Tanjung Perepat, Batu Putih, dan Teluk Sulaiman memiliki budaya yang sangat beragam dan unik. Ada  upacara adat yang kita kenal dengan Bag Jamu atau Bag Pakan Lahat yang artinya memberi makan bumi atau menjamu dengan mempersembah berbagai makanan yang dimasukkan dalam miniatur perahu layar kemudian dilarungng kelaut sebagai persembahan laut. Mengapa demikian, karena suku Bajau adalah pelaut handal sebagai suku laut yang mendiami pulau-pulau dan pesisir pantai.

Ada lagi yang namanya upacara Bag Jin, upara pengobatan tradisional suku Bajau yang sangat luar biasa dan menakjubkan. Upacara pengobatan Bag Jin dilakukan setiap saat apabila ada yang sakit untuk diobati atau ada wabah penyakit yang harus segera diusir dari kampung suku Bajau.

Kemudian ada upacara Tolak Bala atau Buang Naas. Buang Naas dilakukan pada pertengahan bulan Safar sesuai dengan penanggalan arab. Suku Bajau beragama Islam, oleh karena itu mereka mengadakan acara Buang Naas dipertengahan bulan Safar yang diawali dengan membaca surah Yasin di Mesjid, kemudian menulis doa-doa di daun kelapa muda atau janur. Lalu semua masyarakat beramai-ramai berangkat menuju sebuah pulau kecil gundukan pasir yang dikenal dengan nama Sapa Gusungan, disana mereka makan buras, sokko dan lain-lain, dilanjutkan dengan mandi-mandi dengan niat membuang sial, selesai mandi-mandi mereka pulang dengan membawa harapan baru ditahun depan mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Esa dengan kehidupan yang lebih baik, sehat, dan rezki yang melimpah. Amin.

Upacara adat perkawinan suku Bajau. Pada zaman dahulu mereka adalah suku laut yang tinggal di perahu atau kapal-kapal kecil dengan berpindah-pindah dari satu wilayah kewilayah lain atau dari satu pulau ke pulau yang lain ditengah lautan, oleh karena itu penyebaran suku Bajau semakin lama semakin meluas diseluruh dunia yang memiliki pantai dan pulau-pulau, terutama dipulau atau pesisir pantai yang ada sumber air tawarnya. Suku Bajau di Indonesia tersebar hampir diseluruh pulau-pulau kecil yang ada di utara Indonesia seperti di kepulauan Raja Ampat di Papua, Waka Tobi Sulawesi Tenggara, kepulauan Komodo Nusa Tenggara Timur, di kepulauan Sangir Talaut Sulawesi Utara, pulau-pulau kecil di Sulawesi Selatan, di Kepulauan Derawan Kabupaten Berau, di Kepulaua Riau dan terus menyebar sampai diujung barat Sumatra. Diluar negeri ada di Filipina, Malaysia, Brunai Darussalam, Australia, Papua New Gini, Selendia Baru, pesisir Thailan, terus menyebar sampai ke Afrka. Presiden suku Bajau atau Baju, atau Bajo ada di Waka Tobi.

Upacara adat perkawinan suku Bajau yang unik itu saya ceriterakan lebih detail saat ini kita mulai dari :

1.     

            Bag Haka

Bag Haka artinya memberi tahu atau yang lebih dikenal dengan mengudang keluarga, kaum kerabat dan handai taulan seluruh kampung dengan datang langsung rumah kerumah, istilah ini dalam Bahasa Berau dikenal dengan “Mamadai”,  dalam bahasa Banjar dikenal dengan istilah “Bapadahan”. Bag Haka dipercayakan kepada seseorang yang terpilih berpengalaman dan pandai bertutur kata untuk menyampaikan hajat dari tuan rumah yang akan melaksanakan pesta perkawinan. Sangat dihindari berbahasa yang kasar, tidak sopan, atau sering salah ucap, hal ini bisa mengakibatkan tersebarnya fitnah keseluruh kampung. Bag Haka di dilakukan oleh utusan tersebut dengan naik rumah kerumah sampai tuntas, setelah tuntas petugas bag haka melapor kepada pemilik hajat, bahwa tugas sudah selesai dilaksanakan, apabila masih ada rumah yang belum diundang karena rumahnya kosong atau sedang bepergian keluar kampung. Yang belum diundang akan diundang kembali. Apabila keluarga mengundang warga Kampung lain atau pulau lain yang jauh, maka diutus orang yang dipercaya di kampung atau pulau tersebut untuk melaksanakan Bag Haka sesuai dengan keinginan yang punya hajat. Bag Haka dilakukan tiga hari sampai satu hari sebelum pesta perkawinan dilaksanakan.          

 

2. Mandi-Mandi

    Mandi-mandi pengatin mempelai wanita dilaksanakan pada pukul lima subuh. Upacara mandi-mandi biasanya dilakukan oleh seorang tokoh wanita tua yang berpengalaman dan berpengaruh dikampung. Selain mandi ada mantera-matera atau doa-doa yang dibacakan oleh yang memandikan. Air yang dimandikan telah ditaburi bunga tujuh rupa atau bunga yang memang ada dan tersedia di kampung mempelai. Saat dimandikan Mandi-mandi dimulai dengan siraman dari kepala dan dilanjutkan sampai dengan ujung kaki. Ketika dimadikan semacam itu pengantin wanita merasa kedinginan dan sampai menggigil. Pengantin wanita yang dimandikan duduk diatas bangku-bangku kecil atau dadampar dengan ketinggian sepuluh sampai lima belas senti meter dengan kaki melonjor lurus kedepan, dibawah bangku kecil diletakkan besi atai pisau terbuat dari besi sebagai pengganti. Saat mandi biasanya pengantin memakai kain sampai dada warna kuning menutup paha sampai dekat lutut. Tujuan mandi-mandi pengantin wanita adalah : pertama, pengatin saat bersanding terhindar dari gangguan roh jahat, jin, atau orang yang ditidak suka; kedua, terlihat segar dan cantik, menawan, dan menyenangkan dengan senyum simpul yang membuat lebih cantik; ketiga, pisiknya kuat karena sejak pagi sudah mulai didandani memakai pakaian pengatin adat Bajau; keempat dilanjutkan dengan bersanding didepan para tamu dan undangan dengan mempelai laki-laki. Saat dilangsungkan mandi-mandi diringi dengan music tradisional suku Bajau Titik Pagmandi

 

   3.  Mag Pelengan


Rombongan Pengantin Laki-laki berangkat menuju rumah mempelai wanita dengan meriah diiringi dengan musik terbang dan kaum kerabat baik wanita maupun laki-laki. Pengantin diangkat oleh dua orang laki-laki yang kuat, tangan kedua orang mengangkat perpegangan berhadapan disitu pengantin duduk dan terlihat pengantin lebih tinggi dari seluruh rombongan, selama perjalanan pengantin laki-laki tidak menginjakkan kaki ketanah, disamping itu ada seorang perempuan setengah baya yang punya keahlian berbicara. Disamping kiri dan kanan pengantin ada tarian sasayau yang bermakna sebagai penjaga keamanan perjalanan pengantin dari rumah sampai ketempat tujuan. Sasayau sambil menari-nari mengikuti irama musik terbangan membawa pelepah daun kelapa muda atau janur yang ujungnya ditajamkam seolah sebuah tombak untuk menghalau orang jahat yang ingin mengganggu upacara yang penuh hikmat, sakral dan meriah itu, sedang ditangan kirinya memegang alat penangkis dari saraping (nyiru untuk menampi beras). Sepanjang perjalanan yang diiringan banyak orang tersebut menjadi tontonan disepanjang jalan yang dilintasi. Sedangkan dirumah pengantin wanita memainkan musik kulintang yang berbaur dengan suara tabuhan tiga buah gong dan sebuah tambur dengan irama “ Titik Pelengan” namanya. Begitu rombongan pengantin laki-laki semakin dekat kerumah pengantin wanita maka terdengarlah perpaduan musik yang berbeda yaitu musik Terbang dan musik Titik Pelengan. Kedua musik yang berbeda itu dipukul dengan penuh semangat menjadikan suasana menjadi meriah. Sesampai dihalaman rumah pengantin laki-laki diturunkan, karena dimuka pintu dihalangi kain jarik atau ampik bahalai oleh dua orang wanita yang tidak memberikan ijin masuk sebelum terjadi dialoh berbahasa Bajau namanya lawa-lawa.

 

4. Lawa-lawa


Lawa adalah menghalangi rombongan pengantin didepan pintu yang mau masuk kerumah mempelai wanita dengan kain sarung wanita (sarung bahalai/tapih/ampik bahalai) yang dipegang oleh dua orang wanita. Rombongan tidak boleh masuk apabila tidak bisa membuka ampik bahalai yang menutup pintu tersebut. Untuk membuka ampik bahalai yang menutup sebagian pintu masuk yang dipegang oleh dua orang wanita tidak boleh sembarangan. Dimulai dengan salam dari yang mewakili rombongan mempelai laki-laki. Yang mewakili dan memberikan salam tersebut adalah seorang wanita yang telah ditunjuk. Setelah salam diucapkan dilanjutkan dengan mengatakan “kami datang kemari dengan niat baik”. Jawab yang memegang ampik bahalai “maksud baik apa yang kalian semua maksudkan”. Dijelaskan oleh wanita rombongan pengantin laki-laki “membawa kebaikan dengan mengantar pengantin laki-laki, kanapa kami dihalangi dengan ampik bahalai seperti ini”. Dijawab oleh yang memegang ampik bahalai “boleh kalian masuk, tetapi ada syaratnya”. Dijawab oleh wakil rombongan laki-laki “apa syarat yang kalian minta”. Jaman dahulu biasanya dengan uang recehan. Yang kami minta uang sebesar……..baru kalian boleh masuk. “baik kalau begitu ini uang yang kalian minta”. Uang ditaruh diampik bahalai, lalu ampik bahalai dilipat oleh kedua wanita didepan pintu, baru rombongan pengantin laki-laki dipersilahkan masuk, pengantin laki-laki langsung menuju tempat duduk yang telah disiapkan, tempat duduk itu berlapis beberapa buah ampik dan sarung yang masih baru-baru, dilipat-lipat sedemikian rupa seperti berbentuk bintang.

 

5.  Ijab Kobul

   Sebagai seorang muslim mempelai laki-laki dinikahkan oleh penghulu kampung dengan disaksikan kedua belah pihak laki-laki dan pihak perempuan. Disamping kiri kanan penghulu ada dua orang saksi yang mendengarkan dengan saksama proses pernikahan itu dan apabila sudah cocok dan benar jawaban pengantin laki-laki kepada penghulu sebagai wakil putri tuan rumah dalam pernikahan itu, kedua saksi mengiyakan ijab kobul  tersebut dengan kata “syah”, maka syahlah sudah pernikahan kedua mempelai. Dalam pernikahan suku Bajau pengantin wanita tidak hadir bersama-sama mempelai laki-laki dihadapan penghulu, pengantin wanita mendengarkan dari balik tirai apa yang terjadi diluar, apabila sudah dikatakan syah maka tersenyumlah pengantin wanita dan bersiap dijemput sang kekasih pujaan hatinya kepelaminan. Acara sakral itu selesai, dilanjutkan dengan acara ngambatal.

 

6.  Ngambatal

    Ngambatal sama dengan istilah suku Berau Mambatalli. Acara ngambatal pengantin laki-laki masuk kedalam kamar atau bilik dimana sang pujaan hati istrinya berada, begitu keduanya bertemu pengantin laki-laki mengeluarkan sapu tangan. Sapu tangan itu dipegang ujungnya kemudian diputar mengelilingi  kepala pengantin wanita sebanyak tiga kali, dihadapan pengantin wanita saputangan tersebut dilepaskan dan jatuh kelantai. Makna filosofi memutar sapu tangan tiga kali tersebut adalah: putaran pertama, kelahiran aku dan dia artinya mereka berdua sebagai keduanya yang baru dilahirkan dan menyatu dalam sebuah pernikahan; putaran kedua bermakna sebagai jodoh yang telah dipertemukan dalam pernikahan yang sakral; putaran ketiga semoga abadi, dalam menjalani kehidupan selalu rukun damai dan saling memahami kedua terpisahkan hanya oleh kematian, tuntung pandang abadi selamanya sampai tua dan menjadi nenek-nenek dan kakek-kakek.

 

7. Mag Pahandang

Mag Pahandang artinya Basanding atau bersanding. Selesai ngambatal dilanjutkan dengan mag pahandang, pengantin duduk berdua didepan ranjang disaksikan semua undangan dan handai taulan. Kedua mempelai duduk bersanding didepan ranjang besi yang ditutup dengan kelambu warna merah muda dihiasi dengan pernik-pernik yang ada tumbuh disekitar perkampungan suku Bajau. Adapula mag pahandang dengan duduk diranjang. Kelambu yang masih baru dihiasi dengan bunga kantong semar yang ditata sedemikian ruma lengkap dengan batang dan daunnya seolah melayap dari bawah keatas, didepan ranjang dihiasi dengan kembang payau dan kembang batu yang didapat dari hutan sekitar kampung ditambah dengan hiasan lain yang semuanya dari tetumbuhan yang masih segar dan cantik. Kembang payau adalah setangkai daun kayu yang bentuk daunnya panjang melebar bagian tengahnya. Hiasan alami tersebut memperindah ranjang besi yang ditutup dengan kelambu dan dihiasi dengan tumbuhan hidup membuat suasana terasa alami.

 

8.  Mag Labot

   Mag Labot adalah mengantar makanan kepada semua undangan yang hadir dalam acara pesta perkawinan,  mengantar makanan dilakukan oleh panitia dengan berbaris memanjang sampai ketempat undangan berada. Barisan itu berhadapan, tetapi tidak berhadapan pas satu dengan lainnya, berhadapan selisih sekitar satu meter. Makanan dalam piring yang terdiri dari berbagai macam jenis kueh dilakukan dengan riang gembira dioper dari tangan ketangan yang berbaris tersebut dengan nestapet sampai masuk dalam ruangan dimana undangan berada. Didalam ruangan tempat undangan panitia menyambut piring kueh dengan estapet itu menjongkok menghormati para undangan yang duduk saling berhadap-hadapan, sedangkan yang diluar menyambut piring secara estapet berisi kueh itu berdiri sambung-menyambung. Setiap tamu mendapat satu piring kueh terdiri dari kueh cucur, sarang semut, koleng-koleng, gareget, jaja ketop, dan ulat-ulat. Setelah undangan semua mendapat satu piring kueh dan satu gelas air dipersilahkan dimakan. Yang tidak habis, kuehnya dibungkus untuk dibawa pulang. Makan kueh sembari bercakap-cakap dengan kawan handai taulan menyaksikan pengantin yang duduk bersanding adalah sebuah atraksi yang sangat sulit ditemukan dikota-kota. Datang memenuhi undangan adalah sebuah kewajiban untuk menghargai tuan rumah yang mengundang, didalamnya ada silaturahmi, pertemuan antar undangan yang jauh-jauh, menyaksikan kedua mempelai yang bersanding, mendengarkan musik tradional, menonton tarian igal, menari igal bersama-sama dan bergantian, dan bergembira menjadi satu adonan sosial yang sangat mulia bernilai adiluhung patut dipertahankan dan dilestarikan.

 

9.  Sulug sulugan Ampik

Pada malam ketiga diadakan acara sulug-sulugan ampik. Dua buah Ampik bahalai diikat jadi satu sudut-sudutnya, lalu digulung-gulung menjadi sedikit bundar menjadi lingkaran. Kedua mempelai masuk ketengah lingkaran kain ampik bahalai tersebut. Seorang tokoh wanita memegang piring yang ditengahnya ada lilin atau talu dalam bahasa Bajau. Talu terbuat dari lilin lebah yang digulung dan dipanjangkan sedemikian rupa, ditengahnya diisi benang besar untuk pembakar. Dalam bahasa Berau disebutnya dengan dian. Talu dipiring yang sudah dinyalakan diputar tiga kali mengelilingi kepala kedua mempelai, begitu hitungan ketiga keduanya berlomba meniup lilin dalam bahasa Bajau Niup Talu dan langsung melompat dengan cepat keluar lingkaran ampik bahalai. Hal yang sama dilakukan tiga kali berturut-turut niup talu dan melompat keluar lingkaran ampik bahalai dengan cepat. filosofi dari acara tersebut adalah apabila tiga kali meniup lilin dan melompat lebih cepat keluar adalah pemenangnya. Yang menang dimaknai dengan pemimpin yang mengatur rumah tangga. Kalau dimenangkan oleh pengantin laki-laki, maka suaminya menjadi pemimpin rumah tangga, apabila yang menang pengantin wanita, maka suami dalam rumah tangga selalu dibawah perintah istrinya dan tidak bisa berbuat macam-macam, kalah dengan istri. Istilahnya Suami takut istri. Acara tersebut dinantikan warga dan sanak handai taulan namanya sulug-sulugan ampik.

 

10. Padeo Ni Tahik

Padeo Ni Tahik artinya turun kepantai atau turun ketanah. Selama tiga hari tiga malam kedua mempelai tidak boleh turun ketanah. Malam ketiga diadakan acara sulug-sulugan ampik, paginya diadakan acara padeo ni tahik atau turun ketanah. Turun ketanah, pengantin dibawa kepantai sampai kelaut airnya sedalam dibawah lutut. Disana kedua mempelai dimandikan dengan air laut yang asin oleh seorang tokoh wanita tua yang berpengaruh dikampung. Dengan membaca berbagai matera-matera, air yang mau dimandikan diiris dengan pisau, irisannya berbentuk angka tambah (plus) lanjut keduanya dimandikan mulai dari bunbunan sampai keduanya basah kuyup dan menggigil kedinginan. Mandi-mandi kelaut ini dilaksanakan pagi hari atau subuh pada jam 05.00 waktu setempat. Dalam gelar budaya adat perkawinan suku Bajau dilakukan tidak ditepi laut seperti yang sebenarnya, tapi dilaksanakan dekat tarup dilapangan parkir Tanjung Batu untuk disaksikan semua pengunjung.

                                                                                                                                

 

Informan :

1.      Kaharuddin, Ketua Adat Bajau Tanjung Batu

2.      Handou, sekretaris panitia penyelenggara Tanjung Batu

3.      Welly, pemusik tradisional Bajau Tanjung Batu

4.      Jurnalis, guru SD Tanjung Batu

MAKAM LUNGUN LIANG BATU LIBAS DESA SUWARAN BERAU KALTIM

 

LIANG BATU LIBAS

Oleh : Saprudin, M. Si

Pegunungan karts yang lebih dikenal masyarakat dengan pegunungan batu kapur, memanjang dari Tanjung Mangkaliat sampai di pedalaman sungai Lesan Kampung Merabu, luasannya dari wilayah Bengalon Kabupaten Kutai Timur sampai di wilayah Biatan, Tabalar, Suwaran, Nyapa, Merasa, Merapun, Merabu, Mapulu dan Panaan di wilayah Kabupaten Berau. Secara terpisah, pegunungan kapur itu ada di hulu sungai Lati, hulu sungai Birang kecamatan Gunung Tabur dan pedalaman sungai Segah. Pegunungan yang ada di kecamatan Gunung Tabur, kecamatan Segah serta pegunungan kapur Suwaran dan Pegunungan Nyapa di kecamatan Sambaliung semuanya masuk wilayah Kabupaten Berau. Hamparan pegunungan Kapur itu semuanya tidak kurang dari 250 ribu hektar persegi. Didalamnya kaya dengan batu kapur, kaya dengan flora dan fauna, kaya dengan air tawar, kaya dengan sejarah kehidupan dan peradaban manusia yang sudah berusia ratusan ribu tahun, dibuktikan dengan berbagai peninggalan yang ada di gua-gua gambar cadas dan peninggalan makam dalam gua.

Liang artinya lubang atau bahasa Berau luang. Kalau lubang itu jauh masuk kedalam gunung dinamakan Goa. Bahasa Dayak Ga’ai, goa disebutnya dengan Guang, apabila tidak dalam disebutnya Liang. Jadi Liang adalah lubang diatas gunung yang sulit dijangkau, di Liang itu dijadikan tempat menyimpan mayat (orang sudah meninggal/mati). Makam atau tempat meletakkan mayat di Liang itu disebut Lungun atau makam Lungun, ada pula yang menyebutnya kuburan Lungun.

Di dalam sungai Suwaran atau lebih tepatnya dihulu Sungai Suwaran ada sebuah Goa yang disebut oleh Bapak Ajab (Tokoh suku Dayak Basaf Kampung Suwaran) Liang Batu Libas. Di  Liang Batu Libas itu, jaman dahulu tempat meletakkan mayat manusia laki-laki dan Perempuan  yang sudah mati. Sdbelum dibawa ke Liang, khusus mayat laki-laki dibungkus dengan kulit kayu, diikat dengaan kuat dan kencang, baru diangkut bergotong royong dan diletakkan di Liang Batu Libas. Sedang mayat Bini-bini (wanita), mayat perempuan diberi pakaian dengan lengkap, baru diangkut ke Liang Batu Libas, dengan membawa sebuah Tempayan.  Sesampainya disana di Liang Batu Libas, mayat perempuan didudukkan seperti orang jongkok. sedangkan lututnya rapat sampai menyentuh dada. Mayat itu dimasukkan dalam Tempayan yang sudah dipotong separo bagian atasnya. Setelah didudukkan dengan pas dan rapi, mayat yang duduk didalam tempayan itu diletakkan dengan baik agar tidak jatuh atau terguling. Tempayan yang sudah dimasukkan mayat menjongkok tersebut, diletakkan di Liang Batu Libas. Oleh karena itu, apabila ditemukan Tempayan yang sudah dipotong bagian atasnya didalam goa atau liang dimanapun, berarti Tempayan tersebut adalah makam Lungun tempat meletakkan mayat Bini-bini (Wanita/Perempuan) di dalam Liang. Didalam Liang Batu Libas, menurut keterangan Bapak Ajab, mayat yang dimakamkan disana tidak kurang dari 20 (dua puluh) mayat baik laki-laki maupun bini-bini. Kemungkinan besar katanya, selain makam Lungun di Liang Batu Libas masih ada pemakaman yang lain lebih unik dan lebih tua. Hanya belum pernah dicari.

Memperhatikan keterangan Bapak Ajab tersebut diatas, ada keterputusan informasi dari generasi sebelumnya sampai kegenerasi sepantaran Pak Ajab (pak Ajab berusia 60 tahun lebih) pada masa itu. Hasil pertemuan penulis dengan pa Ajab dirumahnya di desa Suwaran pada tahun 2014. Keterputusan informasi tersebut tidak kurang dari 400 (empat ratun) tahun. Generasi masa lalu yang memakamkan keluarganya di goa atau liang diatas gunung atau ditempat yang tinggi memutus informasi kepada generasi berikutnya. Atau memang sengaja diputus agar tidak diketahui lagi oleh generasi mendatang. Seharusnya kisah-kisah itu tetap berlanjut dari generasi kegenerasi berikutnya sebagai Tradisi Lisan yang melekat dan menyatu dengan masyarakatnya.  Akhirnya mereka tidak mengetahui siapa, keturunan siapa dan apakah yang dimakamkan di liang/goa itu nenek moyang mereka. Mereka tahu dan menemukan makam dalam goa itu karena kegiatan mencari nafkah, mencari sarang burung walet. Jadi semua goa dan liang itu dimasuki para pencari sarang burung walet. Mereka menemukan jejak Prasejarah dan jejak Sejarah. Akhirnya dengan temuan-temuan tersebut, diceritakan kepada sanak keluarga. Sampai sekarang ada beberapa orang yang mengetahui arah dan letak dimana makam lungun itu berada. Mereka menemukan makam Liang itu tidak terlalu menghiraukan, hanya sekedar tau saja, sudah.

Mengapa terjadi hal seperti diatas, penulis berkeyakinan memang dirancang dan dipersiapkan oleh penjajahan Belanda semacam itu. Sebelum mereka menjejakkan kaki seutuhnya dibumi Nusantara. Mereka terlebih dahulu melakukan survei dan risert di walayah Nusantara. Yang menjadi kajian utama mereka adalah Kubudayaan serta Kekuatan dan titik Kelemahan suku bangsa yang mendiami wilayah Nusantara, termasuk kebudayaan, kekuatan Kerajaan dan rakyatnya. Apa kekuatan dan kelemahan orang-orang Nusantara dari Sabang sampai Maraoke. Terutama Kerajaan-kerajaan yang menguasai perdagangan rempah-rempah yang ada di Nusantara secara bertahap sambil berdagang membeli rempah-rempah dan kebutuhan lainnya untuk dibawa ke negeri Belanda dan Eropah. Tentulah yang diutamakan Pulau Jawa, Pulau Sumatra, Sulawesi, Maluku, Bali dan seterusnya pulau-pulau lain termasuk Kalimantan. Hasil kajian dan riset itu menjadi Pelajaran dan pedoman terbaik para pedagang yang kemudian sampai menguasai wilayah perdagangan tersebut. Salah satu upaya penjajahan Belanda adalah  memutuskan informasi itu dari generasi ke generasi. Upaya menghilangkan dan memutus pakta Sejarah. Agar generasi berikutnya kehilangan jatidiri dan kebanggaan dengan Sejarah kehebatan suku bangsanya sendiri. Selama 350 (tiga ratus lima puluh) tahun Indonesia dijajah. Suku Basaf, suku Ga’ai, suku Punan, dan suku Lebo yang ada di wilayah Berau dan suku-suku lain yang ada di Borneo diputus sejarahnya, diputus kebanggaan terhadap kehebatan suku bangsanya sendiri. Menjadi suku bangsa yang lemah dan tidak berdaya. Bayangkan saja, generasi sekarang yang ada yaitu suku Basaf di desa Suwaran, suku Ga’ai di desa Tumbit Dayak, suku Ga’ai di desa Long Lanuk, suku Ga’ai di desa Lesan Dayak, suku Lebo di desa Merabu, semua tidak tahu kuburan Lungun, makam Lungun, makam Liang itu milik siapa, dari keturunan siapa, dan sejak kapan kuburan yang masuk kata gori Cagar Budaya itu ada. Seharusnya, paling tidak ada kisah, ceritera, susuran yang menceritakan kuburan yang sangat langka itu.

Pelarangan menceritakan, menuturkan kisah kemajuan kebudayaan mereka masa lalu, menceritakan Sejarah dan kepahlawan mereka, menceritakan teknologi tradisional, menceritakan pengetahuan tradisional sangat masif dan terstruktur dilakukan oleh penjajahan Belandan, termasuk didalamnya pembodohan ilmu dan pengetahuan. Akhirnya sampai sekarang sangat sulit bahkan tidak ada informasi dari mulut kemulut tentang kapan dan siapa yang dimakamkan di Liang atau Goa-goa tersebut. Beruntungnya masih ada tokoh dan tetua adat yang bercerita dimana lokasi dan tempatnya. Seperti salah satunya yang diceritakan oleh Pak Ajab dari desa Suwaran Kecamatan Sambaliung Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2014 kepada penulis.     

Bagaimana dengan Lungun (makam di Goa) yang ada di Desa Merasa, di Pegunungan Nyapa, di Desa Merabu. Sama, mereka penduduk disana tidak tahu sejak kapan Lungun itu ada, siapa yang dikuburkan disana. Penulis berkeyakinan makam Lungun yang ada di pegunungan karst tepi Sungai Kelai dekat desa Merasa dan di Pegunungan Nyapa dekat desa Long Lanuk itu adalah makam leluhur suku Ga’ai yang sekarang mendiami desa Tumbit Dayak, Long Lanuk dan Lesan  Dayak. Makam Liang Batu Libas yang dituturkan oleh Pak Ajab, dipastikan makam Liang nenek moyang suku Basaf, sedangkan makam Liang yang ada disekitaran pegunungan karst desa Merabu adalah makam Liang suku Lebo. Suku Lebo sekarang tersebar di Desa Merabu, Desa Merapun, Desa Mapulu, Desa Panaan dan Desa Inaran. Desa Inaran sebelum dipindahkan ditempat yang sekarang ini, dulu tinggal di dalam Sungai Inaran, anak Sungai Kelai. Tetapi untuk memastikan kebenaran yang saya utarakan disini perlu dilakukan penilitian dan riset yang lebih mendalam, agar kebenaran sejatinya terungkap dengan jelas dan terang. Semoga saja segera ada peneliti yang mencari tahu fakta Makam Lungun.

Orang dulu cada (tidak) makan apa-apa, makanannya dicarinya, ujar pak Ajab bercerita. Sarang burung wallet ditunggunya sampai anaknya bakutapak (siap mau terbang) baru diambilnya. Sarangnya ditinggalkan, yang diambil anaknya untuk dimakan.

Di Gunung Pa Umbak juga ada Liang. Disana, di Liang itu di simpan mayat si Gumintir. Orang sakti dan pemberani. Waktu meninggal diceritakan terjadi panas selama 7 (tujuh) bulan. Lajut kisah Pk Ajab.

Sempat penulis tanyakan. Apakah ada pernah melihat gambar telapak tangan di goa-goa yang ada disekitaran hulu sugai Suwaran. Pak Ajab menjawab tidak pernah melihat yang seperti itu. Gambar (pra sejarah) telapak tangan dan binatang di dinding dan langit-langit gua seperti ada di gua Beloyot Merabu tidak terlihat, tetapi ujar pak Ajab “ada gambar yang digambar orang pintar seperti sekarang ini”. Gambar yang dijelaskan Pak Ajab tidak terlalu jelas, gambar apa. Apakah gambar baru, atau gambar orang dulu seperti bentuk gambar baru.

Gua Liang Batu Libas, Liang Pa Umbak dan gua-gua lainnya yang ada di hulu Sungai Suwaran perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui sejak kapan manusia sudah ada disekitar gua pegunungan karts Suwaran, sejakkapan manusia dimakamkan di goa Lungun dan gambar apa yang ada  goa sebagaimana yang dijelaskan pak Ajab.

Goa atau Liang yang ada disekitar wilayah pegunungan karst Suwaran antara lain :

1.     Liang Batu libas

2.     Liang Pa Umbak

3.     Goa Petalak

4.     Goa Kenangka

5.     Goa Baliun

6.     Goa Kebayat

7.     Goa Tungkat Bahau

8.     Goa Kepaya

9.     Goa Melawang Atas

10.  Goa Melawang Bawah

11.  Goa Sallung

12.  Goa Kabulu Tutung

13.  Goa Dimpuk Tias

14.  Goa Kayak An

15.  Goa Kitata

16.  Goa Marua’

Goa Petalak adalah salah satu goa yang tembus cahaya matahari, ada lubang yang tembus pertikal didalam goa yang membuat cahaya matahari tembus dan masuk kedalam goa.

Sungai Suwaran cukup panjang, berliku-liku, dan berkelok-kelok, sepanjang sungai Suwaran tersebut ada beberapa Kiam. Kiam adalah Giram, Jeram atau air yang turunnya sangat deras, antara lain :

1.     Kiam Gudam

2.     Kiam Tugak

3.     Kiam Pantai

4.     Kiam Mangimut

5.     Kiam Panjang

6.     Kiam Samalang

7.     Kiam Batang Masin

8.     Kiam Bassar

9.     Kiam Ludek

10.  Kiam Batu Ampar

 

Keterangan Pak Ajab di Suwaran tanggal 16 Desember 2014

Hari Jumat tanggal 16 Januari 2015

Di edit dan diperbaiki ulang pada hari Sabtu, 17 Pebruari 2024